Catatan Seminggu #3


Setelah lama tidak menulis di blog ini, saya coba menuliskan beberapa hal yang jadi perbincangan publik beberapa waktu belakangan ini.


Hai blog! Astaga, ternya sudah lama sekali saya tidak menulis di sini. Sudah tiga bulan! Dan sepertinya ini rekor terlama saya tidak mengisi blog ini. Sungguh sebuah rekor yang tidak bagus. Saya tidak perlu sebutkan alasannya ya, karena alasan apapun yang saya sebutkan sebenarnya alasan utamanya cuma satu: malas!

Lalu, karena sekarang sudah ada keinginan untuk menulis, apa yang akan saya tulis? Saya coba buat beberapa catatan saja tentang hal-hal yang sedang ramai belakangan ini. Biasanya saya sebut catatan seminggu, walaupun terus terang kejadian yang akan saya tulis ini bukan kejadian dalam seminggu terakhir.

Pandji Pragiwaksono

Pandji Kena Hukum Adat

Pandji Pragiwaksono, komika yang juga founder Standup Indo itu kena sandung lagi. Beberapa tahun lalu dia pernah dihujat komunitas pecinta kucing karena salah satu materi stand up-nya. Lalu kerap kali juga dihujat orang karena pilihan politiknya saat Pilkada Jakarta beberapa tahun lalu.

Sekarang, dia kena sandung lagi. Kali ini kena sandung karena materi tentang adat suku Toraja di Sulawesi Selatan.

Semua berawal dari salah satu materi stand up comedy Pandji 12 tahun lalu. Di materi itu dia menyinggung tentang salah satu tradisi orang Toraja yang menyimpan jenazah keluarga di ruang tamu sampai punya dana yang cukup untuk dimakamkan dengan adat Rambu Solok.

Dalam cerita itu -seperti layaknya seorang komika- Pandji juga menyelipkan candaan yang mengundang tawa penonton. Namanya stand up comedian iya kan? Tentu saja dia tidak hanya bercerita lurus-lurus saja, selalu ada joke yang membuat ceritanya jadi lebih lucu. Namun, candaan itu ternyata membuat beberapa orang Toraja tidak nyaman. Walaupun sudah lewat 12 tahun, tapi candaan itu tetap menjadi bahan bagi mereka untuk melaporkan Pandji ke polisi, diwakili oleh Aliansi Pemuda Toraja. Ketersinggungan itu kemudian bergulir menjadi denda adat yang dikeluarkan oleh Lembaga Adat Tongkonan Adat Sang Torayan (TAST) senilai 96 ekor kerbau dan babi serta uang Rp.2 miliar. Bukan jumlah yang sedikit dong? Apalagi buat perantau di New York seperti Pandji.

Apakah candaan Pandji memang menyinggung adat orang Toraja? Ini tentu sangat subjektif. Saya sebagai bukan orang Toraja bisa bilang kalau candaan itu biasa saja, tidak sampai menyinggung. Tapi, teman-teman orang Toraja tentu punya perasaan berbeda karena seringkali adat istiadat dan semua hal yang menyangkut identitas seseorang atau kelompok menjadi sangat sensifit untuk disinggung, termasuk dibuat bahan bercandaan.

Saat ini menurut Pandji, prosesnya masih berjalan. Pandji sudah meminta maaf dan mengakui kalau materi stand up-nya itu memang ignorant. Proses mediasi juga sudah berjalan dengan difasilitasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) yang diwakili oleh Sekjen AMAN, Rukka Sombolinggi-yang kebetulan orang Toraja juga. Apapun hasilnya nanti, semoga membawa kebaikan untuk semua orang dan tentu jadi pelajaran buat Pandji kalau di zaman seperti sekarang, bercanda yang menyangkut adat istiadat apalagi SARA memang sangat berisiko.

Ketika Bilqis kembali

Penculikan Bilqis

Berita ini cukup heboh di Makassar. Seorang anak berusia 3,5 tahun diculik ketika menemani bapaknya berolahraga di Taman Pakui, Makassar. Keluarga yang panik melapor ke polisi dan butuh beberapa waktu lamanya sebelum akhirnya sang anak ditemukan di Jambi.

Si penculik, SY yang juga seorang ibu itu mengaku menculik Bilqis dan menjualnya ke seseorang di Jakarta lewat Facebook seharga Rp.3 juta. Si pembeli itu kemudian menjualnya lagi ke seseorang di Jambi seharga Rp.30 juta. Si pembeli di Jambi kemudian menjualnya lagi ke seseorang yang juga adalah bagian dari Suku Anak Dalam seharga Rp.80 juta. Di penjualan terakhir, si penjual mengaku sebagai orang tua kandung si anak dan tidak bisa lagi membesarkannya sehingga terpaksa menjualnya.

Benar-benar sebuah perbuatan keji! Terbayang oleh saya bagaimana perasaan si anak yang masih kecil itu harus direnggut dari keluarganya, dibawa ke tempat yang jauh bersama orang-orang asing, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Pasti dia sangat kalut dan ketakutan. Sungguh tidak punya hati mereka yang melakukan ini!

Awalnya saya mengira penculikan ini berhubungan dengan pencurian organ karena kebetulan di masa yang hampir berdekatan, kejadian penculikan orang untuk diambil organ tubuhnya sedang marak di Thailand dan Kamboja. Ternyata sejauh ini sepertinya memang murni pencurian anak untuk diasuh. Mungkin mereka juga sudah jadi bagian dari sebuah sindikat, entahlah.

Syukurnya karena Bilqis bisa kembali ke keluarganya dengan sehat wal afiat. Tentu dia dan keluarganya bahagia luar biasa meski mungkin masih ada trauma yang tersimpan di anak kecil yang manis itu. Semoga ini juga bisa jadi pelajaran untuk semua orang tua agar lebih berhati-hati menjaga anak. Orang jahat ada saja di luar sana, dan kita tidak tahu kapan kita yang akan jadi targetnya.

Soeharto bukan pahlawan

Soeharto (bukan) Pahlawan

Tanggal 10 November kemarin, pemerintah menetapkan presiden kedua Indonesia HM. Soeharto sebagai pahlawan nasional. Soeharto ditetapkan sebagai pahlawan nasional bersama beberapa tokoh lainnya seperti Sarwo Edhi, Gus Dur, dan Marsinah. Sungguh sebuah ironi, seorang diktator seperti dia dijadikan pahlawan dan disandingkan dengan Gus Dur dan Marsinah.

Semasa hidupnya, Gus Dur terus menerus menjadi lawan politik Soeharto. Berjuang melawan kesewang-wenangan pemerintahan Soeharto. Marsinah, dia seorang pejuang buruh yang menjadi korban sistem di zaman Soeharto. Lalu mereka berdua disandingkan dengan Soeharto – dan Sarwo Edhi- yang tangannya penuh dengan darah.

Benar bahwa Soeharto membawa banyak perubahan pada Indonesia. Memperbaiki ekonomi Indonesia pasca runtuhnya Orde Baru. Tapi jangan lupa bahwa untuk naik ke tahta presiden, dia harus menginjak jasad jutaan orang yang dituduh komunis tanpa pengadilan. Pun dia terus menerus menjalankan tipu muslihat lewat orang-orang kepercayaannya untuk menjaga stabilitas politik dan bisa terus menjadi presiden.

Apa yang kita rasakan sekarang sedikit banyaknya adalah peninggalan Soeharto. Korupsi, kolusi, dan nepotisme adalah praktik yang dibiarkan subur di zaman Soeharto. Bedanya dulu KKN ini hanya dilakukan orang-orang tertentu, utamanya yang ada di lingkaran Soeharto. Sekarang, hal yang diajarkan selama 32 tahun itu bisa dilakukan siapa saja karena memang tidak pernah benar-benar dipadamkan saat Soeharto jadi presiden.

Benar bahwa dia memang membawa perubahan untuk Indonesia. Tapi, kalau memang dia bekerja dengan sebaik-baiknya untuk Indonesia maka tidak akan marak itu yang namanya korupsi, kolusi, dan nepotisme. Supremasi hukum tentu akan semakin kuat, ekonomi kita juga menguat, dan kesejahteraan akan merata. Itu kalau dia benar-benar bekerja seperti layaknya presiden yang bekerja untuk rakyat, bukan untuk keluarga dan lingkarannya sendiri.

Kalau memang Soeharto adalah presiden yang baik, kenapa dulu dia dipaksa diturunkan?  Tentu rasanya janggal bila orang-orang menurunkan presiden yang baik.

Buat saya, Soeharto bukan pahlawan dan tidak akan pernah jadi pahlawan. Terserah pemerintah sekarang mau mengangkatnya jadi pahlawan atau apapun itu, tapi buat saya dia tetap bukan pahlawan.

Saat tahu kalau Prabowo terpilih jadi presiden, saya sudah siap dengan berita-berita buruk. Tapi ketika berita itu benar-benar datang, rasanya tetap menyesakkan juga. Buat apa susah-susah turun ke jalan di tahun 1998 kalau akhirnya hantu-hantu Orde Baru itu datang juga? [dG]