Musik

Raport Musik Saya di 2020


Sebuah catatan tentang perilaku musik saya di tahun 2020 menurut aplikasi Spotify. Dari lagu terbanyak sampai podcast yang saya dengar.


Siapa yang tidak suka musik? Mungkin ada, tapi yang suka jelas lebih banyak. Walaupun ada juga yang mengharamkan, tapi ada juga yang justru kecanduan. Tidak bisa hidup tanpa musik, atau bahkan hidup dari musik. Saya bagian yang mana ya? Mungkin tidak sampai kecanduan, tapi minimal tidak bisa melewatkan hari tanpa musik. Menemani kerja, menemani saat bengong apalagi ketika saat perjalanan. Musik selalu ada.

Sejak beberapa tahun lalu, kebiasaan saya menikmati musik dari materi bajakan sudah berakhir. Hadirnya aplikasi musik streaming memang benar-benar mengubah cara saya menikmati musik. Tidak perlu mengunduh (yang sebagian besar tentu saja ilegal) dan tidak perlu memenuh-menuhi kapasitas penyimpan. Selain itu, rasanya juga lebih ringan dan tanpa dosa karena tahu kalau musik yang saya dengarkan bukan musik ilegal, alias ada efek materinya ke para pencipta dan pendendangnya.

Salah satu – dan satu-satunya hingga sat ini –  aplikasi musik streming yang saya gunakan adalah Spotify. Tidak ada alasan spesifik, selain karena aplikasi ini sudah terlanjur populer dan paling banyak digunakan orang di sekitar saya, jadi ya saya juga ikut memakai tanpa berpikir untuk mencoba aplikasi yang lain.

Menjelang akhir tahun 2020, Spotify memberi laporan tentang perilaku saya mendengarkan musik di tahun 2020. Tentunya musik yang saya dengarkan dari Spotify. Ada beberapa hal menarik dari data musik yang saya dengarkan selama tahun 2020.


Jumlah artis baru yang saya dengar di 2020

Artis Baru

Artis baru ini maksudnya artis-artis yang baru saya dengarkan di tahun ini. Jumlahnya menurut Spotify adalah 329 artis. Lumayan banyak menurut saya. Sepertinya salah satu penyebabnya adalah karena pandemi COVID-19 yang memaksa banyak orang untuk diam di rumah, dan momen diam di rumah ini yang membuat saya mulai mengeksplor artis-artis atau musisi baru. Nama-nama mereka biasanya saya dapatkan dari tontonan wawancara di YouTube yang saya tonton juga di masa pandemi. Selepas menonton satu video saya biasanya akan penasaran untuk mencari tahu artis yang disebut di video tersebut. Dari satu artis kemudian pindah ke artis lainnya.

Salah satu musisi yang paling intens saya dengarkan karyanya tahun ini adalah Seringai. Saya sudah mengenal nama Seringai sebelumnya, tapi mendengar lagunya hanya sepintas lalu sebelum tahun ini mulai benar-benar intens mendengar lagu-lagu mereka.

Selain Seringai, musisi lain yang paling sering saya dengarkan di tahun ini adalah Stars and Rabbit, Deadsquad, Barasuara, Ras Muhammad, .Feast, Fourtwnty, Kelompok Penerbang Roket, The Sigit, Goodnight Electric, Efek Rumah Kaca, The Panturas, Danilla, dan banyak lagi. Sebagian besar memang musisi Indonesia. Tahun 2020 ini memang seperti tahun perkenalan saya dengan musisi Indonesia, utamanya yang berkembang lewat jalur indi.

Mungkin biar saya kayak anak-anak senja yang banyak bertebaran di media sosial itu.


Genre yang saya dengar di tahun 2020

Genre Baru

Dari sisi genre atau jenis musik yang saya dengarkan, seperti biasa pemegang tahta masih genre rock. Maklumlah, saya itu anaknya rocker banget, ke mana-mana selalu pakai rok eh rock. Tapi ada satu yang unik, dari sekian genre yang biasa saya dengarkan muncul satu genre berbeda di urutan kelima yaitu genre musik opera.

Jadi ternyata selain anaknya rock banget, saya juga bisa menikmati musik opera. Sebenarnya saya hanya kenal satu penyanyi opera saja yaitu Luciano Pavarotti. Saya memang membuat sebuah playlist berisi lagu-lagu opera yang sebagian besar diisi oleh Luciano Pavarotti. Untuk apa? Untuk apalagi kalau bukan untuk menemani tidur, ha-ha-ha-ha.

Serius! Playlist ini awalnya saya putar setiap kali menjalani penerbangan dengan pesawat udara, utamanya bila terbang di jam tidak manusiawi seperti tengah malam atau dini hari. Awalnya karena itu, dan ternyata memang sangat efektif untuk membuat saya tertidur nyenyak di perjalanan. Lalu berikutnya saya juga menggunakan playlist itu setiap kali saya kesulitan untuk tidur di kamar. Dan sekali lagi, itu cukup efektif untuk membuat saya tertidur.

Jadi, alasannya cuma itu saudara-saudara! Bukan alasan karena benar-benar suka atau karena kepingin dikira orang berselera tinggi ha-ha-ha-ha.


Lagu dan artis yang paling sering saya dengar di 2020

Lagu yang Paling Sering Diputar

Spotify juga memberikan daftar lagu-lagu yang paling sering saya dengarkan di tahun 2020. Dan pemegang tahtanya adalah: Adrenalin Merusuh dari Seringai. Menyusul kemudian Farmerman dari Ras Muhammad, lalu Worth It dari Stars and Rabbit, lalu Kisah Dari Selatan Jakarta dari The White Shoes dan Couples Company dan ditutup dengan Gali Gongli dari Iwan Fals.

Dari lagu itu jelas terlihat kalau daftarnya dikuasai oleh “anak-anak baru” alias musisi yang lahir di dekade 2000an. Iwan Fals nyempil sebagai senior. Bahkan, kalau di kategori artis yang paling sering saya dengarkan maka Iwan Fals menjadi jawaranya. Mengalahkan Metallica, Pearl Jam, Seringai, dan Navicula.

Seingat saya memang ada masa di tahun ini ketika saya benar-benar ingin mendengarkan lagu-lagu lama Iwan Fals.


Podcast yang paling sering saya dengar di tahun 2020

Mendengarkan Podcast

Ada satu kebiasaan baru yang saya lakukan di tahun 2020 ini, yaitu mendengarkan podcast lewat layanan Spotify. Saya lupa awalnya bagaimana, tapi kemudian tahu-tahu sudah mulai mendengarkan beragam podcast yang ada di Spotify sampai akhirnya menjadi pendengar setia beberapa podcast.

Dari beragam podcast yang saya dengarkan, satu yang paling sering saya dengarkan adalah podcast milik Lawless Jakarta, disusul dengan podcast dari rombongan Podkesmas, dan High Octane Podcast dari band Seringai.

Ada alasan kenapa saya menyukai ketiga podcast tersebut. Hal pertama adalah karena obrolan mereka menarik, kadang terasa begitu dekat dengan kehidupan saya sehari-hari. Kedua, tentu saja karena obrolan mereka lucu. Selalu ada anekdot atau bahkan cerita-cerita yang menggelikan. Terakhir, karena obrolan mereka mengalir seperti obrolan santai anak-anak nongkrong. Ada makian, ada celoteh, dan tentu saja ada tawa lepas yang tidak tertahan.

Ketiga podcast (atau dalam bahasa Indonesia disebut siniar) ini kadang saya dengarkan berulang-ulang, utamanya ketika sedang merasa butuh alternatif hiburan lain selain musik dan film.

*****

Kira-kira begitulah raport musik saya di tahun 2020 menurut Spotify. Ada perbedaan yang cukup siginifikan bila dibanding dengan raport di tahun-tahun sebelumnya, utamanya di jumlah artis baru yang saya dengarkan. Pandemi memang menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru termasuk mendengarkan musik. Setelah pandemi lewat, entah apakah saya masih akan mengeksplor artis-artis baru atau tidak, atau kembali seperti dulu: mendengarkan artis-artis yang sama sepanjang tahun? Entahlah. [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (2)

  1. Wuih, anak rocker apa anak senja ini, hehehe

  2. wah, sama nih.. akhir-akhir ini saya juga suka dengeri podcast.. dan baru tahu istilah bahasa Indonesianya: siniar!

    sepertinya ku juga mo sharing raport Spotify-ku juga aah~

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.