Musik

Kisah Radio, Kisah Masa Lalu


Radio menemani masa muda saya, masa ketika pilihan media informasi belum seperti sekarang.


“Yak! Lagu berikut ini adalah pesanan dari Anjas Asmara, pemuda pengelana pencari cinta sejati yang beralamat di Antariksa, antara rindu dan kasih sayang. Katanya, dia mengirim lagu ini untuk Putri Jelita di Gubuk Derita. Ucapannya, semoga selalu hangat didekap rindu meski dari jauh.”

Rangkaian kalimat di atas sangat lazim didengarkan lewat satu radio bernama Gamasi. Gamasi adalah singkatan dari Gaya Makassar Ada di Sini dan mengudara di saluran 105,9 FM. Gamasi memang menyasar pasar kelas menengah ke bawah di lingkungan sub urban. Mereka akrab dengan lagu-lagu dangdut atau lagu-lagu daerah Makassar, sesuai dengan pasar utama mereka.

Kehadiran Gamasi juga menciptakan kultur tersendiri di kalangan penggemarnya. Salah satunya adalah kultur menggunakan nama-nama samaran yang terdengar puitis seperti Anjas Asmara, Pemuda Pengelana Pencari Cinta Sejati, atau Gadis Jelita di Gubuk Derita. Selain nama itu, ada juga singkatan-singkatan yang juga terdengar puitis seperti Antariksa, singkatan dari antara rindu dan kasih sayang. Komunitas-komunitas yang tumbuh dan terpengaruh dari kultur itu juga menyesuaikan. Ada yang bernama Ansa Kucin, singkatan dari anak samping kuburan cina. Ada juga Astaga, aku sengsara tanpa gadis.

Kultur seperti itu tentu saja tidak hanya tumbuh di Makassar, tapi juga di kota-kota lain di Indonesia. Kesamaannya adalah mereka tumbuh dengan radio sebagai pusat orbitnya.

Radio di Tahun 90an.

Tahun 1990an mungkin jadi dekade terakhir radio mencicipi ketenarannya. Jenis media belum seperti sekarang, setidaknya hanya ada tiga jenis media. Media cetak dikuasai majalah, tabloid, dan koran. Media audio dan visual dikuasai televisi, dan media audio tentu saja dikuasai radio. Belum ada media sosial seperti sekarang, dan karenanya warga belum punya kuasa untuk memilih jenis informasi yang akan mereka dengar. Semua masih disetel oleh ketiga media arus utama tersebut.

Ketiganya pun punya porsi yang sama besar. Stasiun televisi belum sebanyak sekarang, sehingga dominasinya belum terlalu kuat. Radio dan majalah atau koran masih sama kuatnya dengan televisi.

Saya menikmati remaja di masa itu, dan tentu saja radio masih jadi salah satu sahabat karib. Di kamar ada sebuah radio kecil yang lengkap dengan pemutar kasetnya. Saya lupa mereknya, tapi radio inilah kawan karib saya. Tiap malam mendengarkan siaran-siaran dari berbagai stasiun radio. Sebagai penggemar musik saya menikmati siaran dari Radio Madama dan Sonata, dua radio yang paling akrab dengan anak-anak muda Makassar kala itu. Lewat tengah malam saya biasanya pindah ke radio EBS, sebuah radio milik anak-anak jurusan elektro UNHAS.

Radio benar-benar jadi sumber informasi musik. Radio punya kelebihan dari sisi kecepatan bila dibanding majalah atau koran. Tapi, majalah atau koran punya kelebihan di kedalaman informasi. Sementara televisi waktu itu belum jadi pilihan utama mencari informasi tentang musik. Belum banyak acara khusus tentang musik sehingga kami lebih memilih mencari informasi musik dari radio atau majalah dan koran.

Radio juga jadi pilihan untuk merekam lagu-lagu baru. Berbekal kaset kosong, atau kaset tua yang siap untuk ditimpa, saya biasanya menantikan lagu favorit saya tayang di radio. Begitu tayang, saya akan menekan tombol record. Ini pilihan pertama ketika kantung tidak cukup untuk membeli sebuah kaset.

Sayangnya, proses ini kadang tidak mudah karena biasanya di tengah lagu atau ¾ lagu bisa saja tiba-tiba suara sang penyiar masuk. Kalau sudah begitu, tidak ada  pilihan lain selain memaki dan mengulangi prosesnya di lain waktu.

Kenangan lain adalah ketika mengirim salam lewat radio. Karena di rumah tidak ada telepon, maka tentu saja telepon umum yang jadi pilihan. Kita bisa ke telepon umum, menelepon ke radio dan memesan lagu sambil mengirim pesan. Ketika mendengarkan lagu pilihan kita diputar, nama kita dan nama si incaran disebut, rasanya sudah luar biasa senang. Apalagi kalau si incaran membalas dengan memesan lagu dan mengirim salam ke kita. Itu sudah luar biasa sekali rasanya. Kayaknya ya, karena saya tidak pernah merasakan salam balasan seperti itu. Lebih sering mengirim saran saja tanpa pernah berbalas.

Merosotnya Pamor Radio.

Mendekati akhir dekade 90an, televisi semakin berjaya. Apalagi ketika MTV masuk ke Indonesia melalui – awalnya – stasiun televisi Antv. Para penggemar musik mulai merasa mendapatkan jalur baru yang lebih segar. Bukan hanya mendengar lagunya tapi juga bisa melihat langsung penyanyinya lewat visual. Selain MTV, stasiun televisi lokal pun mulai membuat acara-acara khusus untuk musik termasuk mengapresiasi video klip lokal yang kualitasnya semakin bagus.

Tahun 1997, band The Presidents of The United States of America merilis ulang lagu yang berjudul “Video Killed The Radio Star”, sebuah lagu lama milik kelompok musik The Buggles yang dirilis di tahun 1980. Lagu ini seolah menggambarkan kecanggihan teknologi video yang dianggap mengalahkan radio dan bahkan mematikannya.

Ada asumsi bahwa radio akan mati karena perkembangan teknologi audio visual. Dan banyak yang mengamini asumsi ini.

Tapi, waktu membuktikan bahwa asumsi ini tidak sepenuhnya benar. Radio memang mulai kehilangan pamornya, tidak seperti dekade sebelumnya. Tapi, radio tidak pernah benar-benar mati. Radio akan selalu ada bahkan ketika media sosial muncul belakangan. Pernah juga ada asumsi bahwa media sosial akan mematikan radio, apalagi ketika podcast semakin menjamur di beberapa tahun belakangan ini. Podcast dianggap akan mengalahkan radio karena sama-sama bermain di ranah audio tanpa visual. Tapi, benarkah akan seperti itu?

“Selama jalanan masih macet, maka radio masih akan terus ada,” kata seorang penyiar radio Indonesia. Saya lupa siapa yang mengeluarkan pernyataan ini, tapi bisa jadi itu benar. Orang masih mendengarkan radio di jalanan, di mobilnya.

Selain mereka sebenarnya masih banyak juga orang yang benar-benar mendengarkan radio setiap hari, bukan hanya ketika bermobil. Jumlahnya mungkin tidak sebanyak dekade 90an ketika belum ada media sosial. Tapi, masih tetap ada dan masih akan tetap menjaga hidupnya radio.

*****

Tanggal 11 September kemarin diperingati sebagai Hari Radio Nasional sesuai dengan tanggal pertama kalinya Radio Republik Indonesia didirikan. Masa keemasan radio memang sudah lewat. Masa ketika penyiar radio menempati kasta yang sama tingginya dengan para selebritas televisi mungkin akan sulit kembali. Tapi, bagaimanapun radio akan tetap hidup entah nanti dengan frekuensi analog maupun dalam versi digital.

Radio telah menemani perjalanan masa muda saya dengan sejuta kenangan yang ditinggalkannya. Sekarang, saya bukan lagi pendengar radio dan hanya sesekali mendengarkan radio. Masa berganti, tapi kenangan dengan radio akan tetap ada.[dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (2)

  1. Dulu kalau ada saoudara di Jepara yang mau menyeberang ke Karimunjawa, bakal ada kabar dari radio lokal di Jepara. Semacam titip salam sekaligus menginformasikan saudara jauh bakal datang ahahhahhaha

  2. Tiap hari Minggu, radio gaul di kota saya ada program pemutaran lagu-lagu Top 40 mancanegara, Daeng. Itu acara yang paling saya tunggu-tunggu. Waktu jadi pengurus mading pas SMP, setiap pekan ada kawan yang mampir ke radio itu buat minta rilis Top 40 buat kami pajang di mading. 😀

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.