Musik

Kaos Band: Identitas, Hobi, dan Investasi


Kaos band awalnya hanya sebagai alat identitas untuk merekatkan diri dengan idola. Tapi ternyata kaos band juga bisa jadi investasi.


Di salah satu episode Pawn Star, seorang pria datang dengan dua lembar kaos band. Dia bermaksud menjual kaos itu ke Rick, sang pemilik Pawn Star. Dua lembar kaos yang dia bawa itu bukan kaos biasa. Keduanya berwarna dominan putih, satu kaos bergambar personel band Who, lengkap dengan latar belakang bendera Inggris, dan satu lagi yang spesial adalah kaos bergambar ilustrasi seekor naga di atas sebuah stadion lengkap dengan tulisan The Rolling Stones. Kedua kaos itu datang dari awal tahun 1980-an dan merupakan kaos konser kedua band tersebut.

Oleh seorang appraiser kaos Who ditaksir bernilai sekitar USD 100, sedangkan kaos The Rolling Stones dinilai lebih mahal, USD 500. Kaos The Rolling Stones dinilai lebih mahal karena nama The Rolling Stones memang lebih populer dan benda-benda memorabilianya memang banyak dicari orang. Harga yang cukup lumayan untuk sebuah kaos tua kan?

Asal Mula Kaos

Semua bermula dari awal abad 19 ketika pakaian berbahan kaos mulai diperkenalkan. Semua dimulai oleh Angkatan Laut Amerika Serikat di tahun 1913 ketika memperkenalkan kaos sebagai pakaian untuk personel mereka. Kaos digunakan di bawah kemeja kerja mereka karena dianggap sangat nyaman dan bisa menyerap keringat dengan baik.

Sampai tahun 1940-an, kaos mulai banyak diadopsi oleh pabrik-pabrik di Amerika Serikat untuk dijadikan seragam bagi para pekerjanya. Kaos baru benar-benar populer di dekade 1950-an ketika aktor Marlon Brando menggunakannya di film A Street Car Named Desired. Dengan cepat popularitas kaos melejit, tidak lagi sebagai pakaian kelas pekerja seperti di masa sebelumnya.

Kaos Band Mulai Lahir

Masuk ke dekade 1960-an, popularitas kaos yang semakin melejit mulai masuk juga ke dunia musik. Beberapa band yang saat itu sedang naik daun seperti The Grateful Dead, The Rolling Stones, dan Pink Floyd mulai memunculkan kaos-kaos bergambar dengan nama band mereka, bukan lagi kaos polos atau kaos sekedar tulisan saja.

Sebelumnya kehadiran kaos yang lekat dengan musisi idola sudah mulai tumbuh ketika sekelompok fans Elvis Presley membuat pakaian dengan tulisan nama si idola. Ide ini kemudian diambil alih oleh manajemen Elvis Presley yang kemudian memproduksi secara massal pakaian dengan nama sang idola. Era lahirnya official merchandise dimulai.

Musisi rock kemudian semakin memaksimalkan potensi pendapatan uang dari official merchandise tersebut. Mereka mulai memproduksi kaos-kaos resmi dari band atau musisi rock termasuk kaos resmi dari konser-konser mereka. Usaha yang ternyata terbukti sangat potensial menambah pundi-pundi para musisi dan manajemennya.


Kaos konser Led Zeppelin 1977 punya saya

Identitas

Memasuki dekade 1970-an, kebiasaan menggunakan kaos band mulai menjadi sebuah kultur baru. Khususnya di skena musik rock. Para penggemar mengidentifikasi diri mereka salah satunya lewat kaos band yang mereka pakai. Kultur ini bukan hanya ada di kalangan penggemar, tapi juga para musisi. Ketika berada di atas panggung, mereka tidak segan-segan untuk mengenakan kaos band dengan gambar band lain.

James Hetfield dari Metallica berkali-kali menggunakan kaos band lain seperti Venom, almarhum Chris Cornell dari Soundgarden juga pernah manggung menggunakan kaos bertuliskan Nirvana, dan Mike McCready gitaris Pearl Jam pernah menggunakan kaos Social Distorsion. Bukan hal yang aneh.

Para personil band Seringai bahkan mengakui mereka kadang penasaran dengan nama band yang kaosnya digunakan oleh idola mereka. Jadi, selain sebagai identitas kaos band juga ternyata bisa jadi alat promosi.


James Hetfield dengan kaos Sex Pistols

Hobi Para Penggemar

Mungkin awalnya cuma satu lembar, lalu semakin lama berubah menjadi sebuah hobi sampai tidak sadar sudah ada puluhan atau bahkan ratusan lembar kaos band di lemari. Di Indonesia ada beberapa orang yang dianggap sebagai kolektor kaos band. Sebut saja nama Arian dari band Seringai, Soleh Solihun, atau Daniel dari band Deadsquad. Mereka mengaku punya ratusan lembar kaos band. Sebagian besar adalah kaos asli, karena memang mereka punya uang lebih untuk membeli kaos band asli.

Tapi untuk orang biasa yang tidak punya uang berlebih tapi juga suka menggunakan kaos band, biasanya kaos band palsu atau kadang disebut bootleg tentu jadi pilihan. Sayangnya, kaos bootleg seperti ini cuma jadi koleksi pribadi dan tidak punya nilai jual kembali.


Kaos Seringai yang saya punya

Investasi

Bagi para pemilik kaos band asli, kaos-kaos yang mereka punya itu bisa bernilai investasi. Kaos yang waktu dibeli mungkin hanya berharga ratusan ribu rupiah, bisa jadi harganya naik berkali-kali lipat beberapa tahu kemudian. Apalagi bila kaos tersebut adalah kaos yang tergolong langka. Biasanya kaos yang dijual terbatas, termasuk kaos konser yang jumlahnya memang tidak seberapa.

Jadi memang punya kaos band asli lebih mahal dibandingkan membeli kaos bootleg saat dibeli, tapi pada akhirnya akan bernilai tinggi suatu saat nanti.

*****

Saya sendiri termasuk orang yang senang mengoleksi kaos band, meski terus terang tidak semuanya kaos asli. Utamanya kaos band-band luar negeri. Alasan utamanya karena harga, tentu saja. Kaos asli untuk band luar negeri biasanya bisa sampai harga Rp.500.000,- untuk satu kaos. Bukan harga yang murah, bukan?

Kaos band terakhir yang saya beli adalah kaos band Seringai yang tentu saja asli. Saya membelinya di Milisi Merch, sebuah toko baru yang khusus menjual merchandise asli band-band dalam negeri. Kehadirannya sangat membantu karena saya tidak perlu lagi repot-repot memikirkan ongkos kirim. Plus, harganya yang Rp.175.000,- itu cuma lebih mahal Rp.25.000,- dibanding kaos bootleg band yang sama yang pernah saya beli. Lumayan kan?


Akun Instagram Milisi Merch

Selain kaos yang saya beli dalam kondisi baru, beberapa lagi ada kaos band tua yang saya dapat dari pedagang pakaian bekas. Salah satunya adalah kaos konser Led Zeppelin tahun 1977. Entah apakah ini kaos asli atau bukan, tapi setidaknya kainnya enak dipakai. Siapa tahu suatu hari nanti kaos itu ada yang menawar sampai Rp.8 juta, yaa siapa tahu kan? [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (6)

  1. Aku pernah dibeliin om di Jogja kaus asli zaman dewa 19 hehehhehe. Kegedean, kayake tak pake sekarang masih bisa. Pas SMP pakainya hampir selutut hahahhhahhah

  2. Saya jaman-2 90-an saat masih SMA dan kemudian kuliah juga mengoleksi kaos band. Tapi tidak banyak sih karena saat itu model kaos band itu model cowok semua, sementara saat kuliah kan udah mau pakai baju yg lebih cewek. Dan susah juga mencari yang ukurannya pas (kecil) di badan cewek. Yang asli juga susah carinya saat di Medan.

    Bahkan dulu dengan gaya rambut saya dulu yang gondrong, trs pakai flanel pink, karena waktu itu saya main band juga kan, eh ada adik kelas kuliah bilang saya ganteng. Lha dia kira saya cowok hahahaa… begitu dibilang teman saya itu kakak-kakak, dia langsung tengsin.

  3. cari kaos John Mayer yang bagus susah betul 🙁

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.