Cerita Ringan

Yang Berubah Setelah Menikah

Pernikahan itu tidak pernah datang sendirian. Di belakangnya ada yang namanya kompromi, dan ada perubahan.

“Setelah menikah, saya jadi tahu bagaimana rasanya minum kopi tanpa merokok atau tidak merokok sehabis makan,” kata Anchu alias Lelaki Bugis. Kalimat itu dia ucapkan bukan tanpa alasan. Dia yang baru saja meminang seorang gadis tanggal 12 Juli kemarin telah resmi memasuki kehidupan baru, kehidupan pernikahan. Istrinya, seorang dokter muda yang tentu saja punya alasan untuk tidak menyukai rokok sementara Anchu adalah perokok idealis.

“Sebenarnya saya tidak dilarang merokok, cuma diminta mengurangi,” kata Anchu lagi. Dan itulah kompromi pertamanya setelah menikah.

Kompromi Demi Kompromi

Menikah memang sebuah kegiatan penuh kompromi. Menyatukan dua orang dengan latar belakang berbeda tentu butuh banyak sekali kompromi. Ada perbedaan kebiasaan, ada perbedaan latar sosial, lingkungan, keluarga, sampai kadang suku dan ras. Perbedaan yang butuh kompromi bila tidak ingin terjadi perpecahan.

Seberapa lamapun dua orang itu berpacaran, pasti akan ada saja hal-hal yang mengejutkan ketika mereka menikah. Akan ada hal-hal yang memaksa mereka berkompromi.

Ini mungkin tidak terjadi pada pasangan yang sudah lama tinggal serumah sebelum menikah. Tapi, ini kan bukan kebiasaan kita orang Indonesia. Ha-ha-ha-ha.

Dalam kasus Anchu, kompromi pertamanya adalah soal rokok. Dia perokok idealis sementara istrinya dokter yang meski tidak melarang, tapi setidaknya meminta dia mengurangi. Ada banyak pasangan lain yang juga melalui kompromi yang sama.

Almarhum bapak saya juga seperti itu. Dia yang seorang perokok rela untuk tidak merokok di rumah, atau di tempat manapun yang ada ibu saya. Sebaliknya, ibu saya juga rela untuk melepaskan mimpinya menjadi guru setelah menikah karena bapak meminta dia sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga. Dua kompromi yang berjalan dengan sangat baik sampai maut memisahkan mereka.

Saya juga pastinya punya kompromi sendiri setelah menikah. Salah satunya yang paling saya ingat adalah kompromi dengan pekerjaan rumah tangga.

Sejak kecil saya bisa dibilang raja kecil di rumah. Saya satu-satunya anak laki-laki dengan  dua adik perempuan dalam lingkungan keluarga yang patriarkis. Pekerjaan rumah tangga bukan hal yang lazim bagi pria di rumah kami. Jadilah saya tidak pernah sama sekali mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mencuci pakaian, mencuci piring, sampai hal kecil seperti membuat teh.

Semua berubah ketika saya menikah. Saya berkompromi dengan mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Menyapu dan mengepel, mencuci pakaian, mencuci piring, sampai memasak. Almarhumah Ibu sampai kaget ketika melihat saya mengerjakan semua pekerjaan itu. Sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Hal yang Berubah

Selain kompromi, pernikahan juga tentu saja mengubah banyak hal. Salah satu yang paling bisa terlihat adalah kebiasaan nongkrong. Seorang anak muda lajang bisa nongkrong semaunya, kapan saja dan sampai kapan pun dia mau. Tapi tidak dengan seseorang yang sudah menikah.

Setidaknya orang yang normal, karena ada juga orang di atas normal yang tetap membiasakan diri nongkrong selama yang dia mau meski dia telah menikah.

Orang yang normal, akan selalu punya dua alasan yang membuat dia tidak betah nongkrong lama. Pertama, dia harus meminta izin dulu kepada pasangannya. Tidak bisa keluar begitu saja setiap kali ada ajakan nongkrong. Kedua, dia harus tahu waktu. Meski izin telah dikantongi bukan berarti dia bisa nongkrong sepuas hati dari malam sampai pagi, misalnya.

Sekali lagi, ini hal yang normal meski ada juga orang-orang yang di atas normal.

Perubahan-perubahan ini bagi orang lajang mungkin terlihat menakutkan. Mereka merasa kehilangan kebebasan seperti yang biasa mereka rasakan ketika masih lajang. Tapi, benarkah begitu? Tentu saja tidak.

Mereka yang sudah menikah akan melihat ini sebagai sebuah perubahan positif. Perubahan yang justru menunjukkan kedewasaan mereka dalam konteks hubungan. Mereka akan merasa memiliki pasangan yang harus dihargai dan mereka rela menukar kebebasan itu dengan sesuatu yang lebih membahagiakan.

Pernikahan bukan penjara yang mengekang kebebasan, tapi pernikahan adalah institusi yang mengajarkan banyak hal kepada pelakunya. Satu kebebasan mungkin terenggut, tapi itu tidak terenggut dengan sia-sia. Selalu ada balasan yang setimpal atau bahkan lebih.

Begitulah pernikahan.

*****

Itulah dua tema yang kami bicarakan dalam salah satu episode Podcast Cerita Makassar. Tentang bagaimana pernikahan mengubah kami, dua orang Bugis-Makassar ini. Bukan cuma kami berdua sebenarnya, karena ada satu lagi yang kami undang untuk ikut memeriahkan perbincangan ini. Pada akhirnya kami sepakat bahwa pernikahan memang mengubah kami. Tidak seperti dulu lagi. [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (1)

  1. Sepertinya saya bakal merasakan ini. Tapi saya antusias untuk menyambutnya ahhahahahah

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.