Cerita Ringan

Tren Wawancara di YouTube


Tren video-video wawancara sedang marak di YouTube. Banyak content creator yang kemudian banting stir membuat konten wawancara.


YouTube ini benar-benar jadi media sosial yang paling saya minati. Setiap hari saya pasti menikmati beragam isi dari media sosial ini. Dan sedikitnya saya melihat ada tren baru yang sedang berkembang di YouTube, yaitu tren video wawancara. Kalau sebelumnya tren video yang paling banyak dibuat orang adalah video tutorial, video prank, atau video kegiatan sehari-hari (kerap disebut daily vlog) maka sekarang tren video wawancara sepertinya sedang menjadi sangat laku.

Pelakunya bukan hanya para pesohor yang sekarang juga jadi youtuber, tapi juga orang biasa yang memang sudah lama menjadi youtuber. Genrenya pun beragam, dari wawancara tentang pengalaman kehidupan, tentang profesi, atau tentang isu yang sedang hangat dibicarakan saat ini.

Ada pesohor yang sepertinya mulai banting estir membuat konten wawancara seperti Ferry Maryadi atau Denny Cagur. Sebelumnya, isi kanal YouTube mereka lebih banyak berisi vlog kegiatan sehari-hari, lalu sekarang mulai ramai diisi konten wawancara. Abdel Achrian juga bisa termasuk ke kategori ini. Sebelumnya dia sibuk dengan konten daily vlog dan komedi sebelum kemudian membuat segmen Wawancanda yang berisi wawancara dengan para pesohor lainnya.

Beberapa pesohor lain memang sejak awal sudah fokus pada konten wawancara seperti Soleh Solihun atau Deddy Corbuzier. Deddy – dan Raditya Dika – malah mempopulerkan konten podcast bergambar, bukan hanya suara. Belakangan gaya podcast Deddy Corbuzier ini ditiru juga oleh yang lainnya. Wawancara di ruangan tertutup dengan alat rekam yang canggih.

Selain para pesohor itu, ada juga penyiar radio yang memang sejak dulu rajin membuat konten wawancara di kanal YouTube-nya. Sebut saja Gofar Hilman. Dia sejak dulu memang termasuk salah satu youtuber yang kerap mewawancarai para musisi dalam segmen yang dia beri nama Ngobam singkatan dari ngobrol bareng musisi. Belakangan dia semakin serius dengan konten wawancara sampai membuat studio khusus. Segmen Ngobam di kanal Gofar untuk sementara memang tidak aktif, tapi diganti dengan segmen Ngobrak, akronim dari ngobrol ngacak. Bintang tamunya tidak lagi spesifik musisi, tapi bisa siapa saja.


Ngobrak bareng Komeng di kanal Gofar Hilman

Kepopuleran tren wawancara ini juga kemudian diikuti oleh beberapa jenama atau brand. Mereka juga kemudian membuat konten-konten khusus untuk wawancara. Sebut saja nama 3Second, Clas Mild, atau Rock Nation. Ketiga jenama ini hanya sedikit dari beberapa jenama yang aktif membuat konten wawancara di YouTube.

Kenapa Pindah ke Konten Wawancara?

Seperti sebuah tren, kadang kita tidak menyadari betul apa yang memantik tren tersebut hingga tahu-tahu sudah begitu ramai dan diikuti banyak orang. Begitu juga dengan tren wawancara di YouTube.

Awalnya saya hanya mengikuti wawancara di kanal Soleh Solihun, Gofar Hilman, dan sesekali Deddy Corbuzier sebelum tahu-tahu sadar kalau ada banyak pekerja konten YouTube lainnya yang juga membuat video wawancara.

Salah satu penyebabnya, menurut saya adalah karena masa pandemi Covid-19. Pandemi benar-benar membatasi orang untuk melakukan kegiatan luar ruang apalagi berkumpul. Para conten creator yang biasanya senang membuat konten video yang menggambarkan keseharian mereka di luar ruang sekarang jadi terbatasi geraknya. Daily vlog pun jadi membosankan bila hanya diisi rekaman kegiatan di dalam rumah seharian. Mungkin karena itu akhirnya beberapa pembuat konten banting setir ke tema wawancara.

Di sisi lain, tema wawancara ini memang potensial menarik kunjungan yang besar. Rata-rata pewawancara di YouTube yang berasal dari kalangan pesohor mengundang tamu yang juga sudah tersohor. Itu artinya dia mengundang calon penonton baru, fans di pesohor. Salah satu buktinya adalah wawancara Soleh Solihun dengan Vincent Rompies. Kebetulan Vincent memang punya banyak penggemar dan bukan sosok yang mudah diwawancarai, jadi ketika ada yang berhasil mewawancarainya dengan mendalam maka tentu saja banyak orang yang penasaran. Sampai sekarang videonya ditonton sebanyak lebih dari 5 juta kali meski Soleh tidak memasang adsense pada kanal youtubenya.


Wawancara Soleh dengan Vincent Rompies

Ada juga yang membuat konten wawancara dengan topik yang sedang panas dibahas, ini juga tentu potensial sekali mengundang penonton. Meski tidak ada jaminan kalau topik yang dibahas akan menemukan solusi atau kesimpulan yang menenangkan, tapi yang penting penonton banyak dulu.

Karena alasan itulah maka banyak yang menuduh kalau konten wawancara itu adalah cara untuk pansos alias panjat sosial. Cara cepat mendulang penonton dan popularitas. Mungkin ada benarnya pada sebagian orang, tapi buat saya tidak masalah selama konten wawancaranya memang berkualitas. Mau itu cara pansos atau murni karena ingin berbagi, yang penting buat saya apakah alur dan cara mewawancarainya memang bagus.

Wawancara Mana yang Bagus?

Kalau buat saya, salah satu pewawancara yang paling saya suka adalah Soleh Solihun. Saya sudah pernah membuat tulisan tentang itu. Alasan paling utama buat saya menyukai caranya mewawancara adalah karena dia benar-benar menjadi pewawancara. Membiarkan narasumbernya berbicara selepas mungkin tanpa berusaha nimbrung atau memotong pembicaraan si narasumber. Dia juga pintar mencari pertanyaan yang dikembangkan dari jawaban narasumber. Inilah yang membuat wawancaranya berjalan dengan sangat lancar.

Agak berbeda dengan Helmy Yahya. Saya pernah menonton beberapa video wawancaranya tapi kemudian memutuskan untuk berhenti. Helmi Yahya dengan segala raihan positif dari kehidupannya terkadang lupa kalau dia sedang mewawancarai orang, dan bukan narasumber. Seringkali dia tanpa sadar memotong pembicaraan si narasumber dan menyebutkan hal yang sama yang terjadi pada dirinya.

“Nah benar! Gue dulu juga gitu,” ucapan seperti itu kerap terlontar dari mulutnya ketika si narasumber menceritakan sesuatu yang dulu juga pernah dia rasakan. Setelah itu terkadang Helmi Yahya akan bercerita panjang lebar tentang dirinya, padahal posisinya adalah pewawancara dan bukan narasumber.


Wawancara di kanal Helmi Yahya

Mungkin ini hanya soal kebiasaan saja. Selama bertahun-tahun dia telah menjadi orang yang sukses dan terbiasa diwawancarai sehingga dia lupa kalau dia ada dalam posisi mewawancarai.

Atau, bisa jadi konten yang dia buat bukan konten wawancara tapi konten ngobrol. Wawancara dan ngobrol memang berbeda.

“Kalau wawancara, kita tidak boleh mengeluarkan opini. Sedangkah kalau ngobrol ya wajar kalau kita juga nimbrung dan mengeluarkan opini,” kata Soleh Solihun ketika menjadi tamu di Ngobrak-nya Gofar Hilman.

Jadi mungkin karena itulah kenapa Helmi Yahya suka nimbrung ketika mewawancarai narasumbernya. Dia tidak menganggap itu sebagai wawancara tapi mengobrol biasa, dan itu berarti dia punya hak untuk ikut nimbrung dan memamerkan opini serta kesuksesannya. Tidak masalah sih, meski bagi saya itu adalah not my style.

Salah satu kanal YouTube lain yang juga saya sedang gandrungi adalah kanal milik Buluk, vokalis Superglad. Buluk memberi nama kanalnya, Catatan si Buluk dan kerap mengundang musisi atau pesohor untuk hadir sebagai tamu. Saya suka kanal ini karena Buluk tampil apa adanya. Tidak berusaha terlihat keren. Pertanyaan-pertanyaan yang keluar memang berdasarkan skrip, tidak seperti yang dilakukan Soleh Solihun, dan itu cukup membantu terbangunnya alur yang menarik mengingat Buluk tidak punya latar belakang jurnalis. Hal lain yang menarik adalah karena Buluk kerap mengundang tamu yang akrab dengannya sehingga terlihat seperti mengobrol biasa dengan si bintang tamu. Tapi, Buluk tidak berusaha memamerkan dirinya dan membiarkan si bintang tamu yang lebih dominan.


Wawancara Buluk dan Denchas

*****

Namanya tren, pasti akan terus berubah. Begitu juga dengan tren video wawancara di YouTube. Saat ini, tren wawancara sepertinya memang sedang naik daun. Entah besok atau nanti. Tapi setidaknya saya menikmati tren wawancara ini. Ada banyak informasi menarik yang bisa saya dapatkan dari narasumber, dan sekaligus ada ilmu-ilmu wawancara yang bisa saya pelajari dari para pewawancara. Ambil yang baiknya, dan buang yang jeleknya. Bukan begitu? [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (5)

  1. Sekarang kalau buka youtube, aku nyari wawancara seperti ini hahahaha. Menyenangkan, terlebih jika pemilik akun konsisten dan fokus pada topik tertentu

  2. Trend di youtube Indonesia sebenarnya ngikut dari trend di youtube luar sih, terutama dari US. Awalnya org sana bikin vlog terus jadi trend, akhirnya org sini juga ngikut dan ramai. Orang sana ramai bikin video prank, setahun kemudian di sini juga ramai pula sama konten prank. Orang sana mulai rame bikin podcast format wawancara begini, ngikut pula lah ramai2 org sini bikin konten sejenis.

  3. Kesederhanaan gambar dan kedalaman materi wawancara Soleh Solihun buat saya masih juara, Daeng. Cuma akhir-akhir ini jadi lumayan sering nonton ngobrol-ngobrolnya Ari Lasso. Lumayan bisa nambah-nambah wawasan soal dunia musik pas masa-masa kejayaan Ari Lasso dulu. 😀

  4. sepakat, saya juga suka dengan konten Soleh Solihun.. mungkin karena basis dia adalah wartawan, jadi dia paham betul teknik wawancara..

    sementara saya paling males nonton acaranya Deddy Corbuzier.. ?

  5. Salam kenal, saya blogger pemula. Mohon berkunjung ke channel saya. Gurusunardi.com

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.