Cerita Ringan

Tingkah Ajaib Penghuni Kos

Saya mengingat kembali kenangan ketika kos di Jayapura, mengingat beberapa kelakuan penghuni kos yang menurut saya cukup ajaib.

Sejak Januari 2018 saya untuk pertama kalinya menjadi anak kos. Merantau ke Jayapura dan tinggal di kos sederhana dengan kamar mandi di luar. Waktu itu pilihan saya jatuh ke kos yang akhirnya saya tempati selama hampir tiga tahun itu lebih karena terdesak saja. Saya harus cepat-cepat mencari kamar kos daripada terus membayar kamar hotel, dan kebetulan kos pertama yang saya temukan adalah kos yang saya tempati itu. Karena merasa betah, saya akhirnya menghabiskan waktu di sana sampai tugas di Jayapura selesai. Sudah terlanjur nyaman, dan sudah malas mencari kamar kos baru.

Hampir tiga tahun menjadi anak kos, ada banyak cerita ajaib yang saya temukan. Maklum, ini pertama kalinya saya menjadi anak kos, apalagi kos di tempat yang masih komunal.

Saya pernah menceritakan sedikit tingkah ajaib warga kos saya di sini. Itu lebih banyak tentang bagaimana saya harus bertoleransi dengan standar kebersihan anak kos yang beda-beda. Tidak semua punya standar yang sama, dan sayangnya banyak juga yang standar bersihnya di bawah rata-rata menurut saya.

Kebersihan menjadi perhatian pertama saya karena di sisi itulah saya paling sensitif.

Mau Enaknya Saja

Ini soal kamar mandi. Jadi, di kosan saya itu ada dua kamar mandi di petak yang saya tempati. Dua kamar mandi itu melayani 8 kamar kos di petak itu. Di petak lain ada kamar mandinya juga, begitu juga di lantai dua. Kita sebut saja kamar mandi di petak saya itu kamar mandi kanan dan kiri.

Pertama kali datang saya langsung melakukan inspeksi, kira-kira kamar mandi mana yang akan saya pakai, kanan atau kiri? Inspeksi singkat saya menemukan fakta kalau kamar mandi kiri lebih bersih dari kamar mandi kanan. Kamar mandi kanan nampaknya jarang dipakai. Lantai dan temboknya berlumut, agak bau dan suram karena bohlamnya seperti malas bersinar.

Kamar mandi kanan dan kiri ini dipisahkan lorong selebar lebih kurang tiga meter, tempatnya ada di ujung barisan kamar menghadap ke tembok belakang. Tidak berhadapan seperti deretan kamar di kanan dan kiri.

Saya berpikir, kamar mandi kanan ini mungkin memang jarang dipakai makanya tampilannya kusam begitu. Karenanya saya memutuskan untuk meminangnya, menjadikan kamar mandi saya. Dan, sebagai syarat meminangnya saya tentu saja harus membersihkannya. Saya pikir lebih baik membersihkan kamar mandi yang jarang dipakai daripada berbagi kamar mandi yang sudah sering dipakai.

Jadilah saya membeli pembersih kamar mandi, sikat lantai, pengharum kamar mandi, dan bahkan mengganti bohlamnya biar lebih terang. Dengan bersimbah keringat, di suatu pagi yang cerah kamar mandi itu saya bersihkan. Sikat bersih, ganti bohlam, pasang pengharum, dan hasilnya: cling! Kamar mandinya jadi mengkilap dan nyaman dipakai.

Namun rupanya hasil kerja keras saya itu mengundang penghuni kos yang lain. Mereka mulai rajin menggunakan kamar mandi kanan yang tadinya kusam dan ditinggalkan itu.

Saya baru sadar ketika suatu hari saya iseng menengok ke kamar mandi kiri. Suasananya sudah mulai suram, penuh dengan lumut, bau, dan lantainya kering. Tandanya jarang dipakai. Berbeda dengan kamar mandi kanan yang lantainya selalu basah.

Baiklah, akhirnya saya berasumsi bahwa penghuni kos memang ingin menikmati  kamar mandi yang bersih dan wangi tapi malas membersihkan. Ajaib!

Menyimpan Cucian Kotor

Seperti yang saya cerita di postingan ini, kosan kami punya tempat cuci umum. Beberapa penghuni kos rupanya lebih senang menaruh bekas piring kotor mereka begitu saja, tidak langsung dicuci. Termasuk salah seorang perempuan muda penghuni kos.

Sekali waktu dia menaruh panci rice cooker lengkap dengan nasi sisa. Dibiarkan begitu saja, hanya disiram air. Hari pertama masih okelah, tidak ada masalah. Hanya tidak enak dipandang saja. Tapi, masuk ke hari kedua belum ada pergerakan. Panci rice cooker beserta isi nasinya masih di sana, lengkap dengan airnya. Tapi sekarang ada tambahannya, ada busa yang muncul dan bau yang mulai menyengat.

Hari ketiga belum ada perubahan. Onggokan nasi bekas itu masih di sana, tapi sekarang baunya semakin menyengat. Saya mulai tidak tahan karena aktivitas saya di tempat cuci itu mulai terganggu oleh bau dan pemandangan tidak mengenakkan itu.

Baiklah, saya bersihkan saja daripada mengganggu. Nasi bekasnya saya buang, tentu dengan disertai adegan mual-mual menahan muntah, panci rice cooker saya cuci bersih supaya tidak bau lagi. Beres! Mudah-mudahan dia tersinggung dengan apa yang saya lakukan.

Tapi ternyata tidak saudara-saudara! Kejadian itu berulang lagi beberapa hari kemudian. Panci rice cooker lengkap dengan nasi, air, busa, dan bau menyengatnya kembali hadir di tempat cuci umum itu. Kali ini saya menolak untuk menjadi orang baik. Cukup sudah kesabaran saya.

Apa yang saya lakukan? Sederhana saja, panci rice cooker dengan bau menyengat itu saya bawa ke depan, ke tempat sampah di depan kosan dan saya buang di sana. Selesai!

Besoknya si pemilik panci rice cooker itu terdengar bertanya ke penghuni kos yang lain. “Panci rice cooker saya mana ya? Saya taruh di situ tapi sudah tidak ada, hilang,” katanya.

Ajaib ya?

Kosan lama saya di Jayapura

Kehidupan Rumah Tangga

Kos yang saya tempati itu kos campur, dan beberapa penghuninya adalah suami-istri, bahkan ada yang sudah punya anak. Namanya kehidupan rumah tangga, pasti ada dinamikanya. Mulai dari bermesraan dengan pasangan, bertengkar, memarahi anak, sampai hubungan antar tetangga. Semua sudah pernah saya nikmati selama menjadi anak kos di Jayapura.

Sekali waktu saya sedang mencuci pakaian di tempat cuci umum itu. Malam baru saja turun, masih sekitar pukul 19:00 WIT. Tiba-tiba dari arah belakang saya seorang perempuan muda penghuni kosan datang, dia menyapa saja sejenak sebelum masuk ke kamar mandi. Saya pikir itu hal biasa sampai kemudian tidak berapa lama seorang pria muda yang  adalah suaminya juga menyusul. Mengetuk pintu kamar mandi, dan ketika kamar mandi dibuka, dia masuk. Tidak berapa lama kemudian terdengar suara laki-laki dan perempuan bercakap-cakap dari dalam kamar mandi, disertai suara cekikikan.

Sigh! Saya menghela napas dan meninggalkan kegiatan mencuci pakaian itu. Saya takut tidak tahan kalau terus berada di situ. Takut pikiran jadi kemana-mana dan akhirnya ikut mengetuk pintu kamar mandi itu.

Di lain waktu seorang tetangga kos yang lain yang juga pasangan suami istri bertengkar hebat. Saya di dalam kamar waktu itu dan mendengar langsung bagaimana mereka saling memaki. Kamar mereka di ujung, sekitar 8 meter dari kamar saya. Saya diam saja waktu itu, tidak mau ikut campur urusan rumah tangga orang dan tidak mau kepo sama urusan mereka.

Tapi kemudian pertengkaran itu menghebat, dan suaranya semakin mendekat ke kamar saya yang memang berada di ujung depan kosan. Saya mulai waspada, apalagi ketika si istri berteriak seperti kesakitan. Rupanya si suami mulai memukulnya, entah di bagian mana karena saya tidak melihat langsung. Si istri tidak tinggal diam karena sepertinya dia balas memukul.

Saya mulai canggung. Apa yang harus saya lakukan? Memisahkan mereka? Tapi si suami berbadan lebih besar, saya kuatir dia emosi dan justru melampiaskan ke saya. Saya sedang malas berseteru dengan orang lain. Untung saja ketika suasana terdengar semakin memanas, suara ibu-ibu lain terdengar. Rupanya beberapa ibu lain yang juga tinggal di kos itu keluar dan memisahkan mereka. Syukurlah, saya tidak harus merasa bersalah berada dalam situasi yang canggung.

Syukur juga bahwa kejadian itu hanya terjadi sekali selama saya tinggal di kos itu.

*****

Tahun 2020 lalu saya akhirnya meninggalkan Jayapura dan itu berarti saya juga meninggalkan kos tersebut. Ada banyak cerita di sana dan termasuk beberapa cerita ajaib yang masih saya ingat sampai sekarang. Kalau semua saya ceritakan, tentu tulisan ini akan jadi sangat panjang. Biarlah nanti saya ceritakan satu per satu saja.

Sekarang saya juga menjadi anak kos di Manokwari. Tapi berbeda dengan ketika kos di Jayapura, kali ini saya kos di tempat yang minim drama. Hanya ada tiga kamar kos di tempat saya, dan ketiganya dihuni pria yang sudah bekerja. Interaksi antar kami pun sangat minim, hanya sekadar sapa dan berbalas senyum, itupun hanya di malam hari dan sesekali bila tidak sengaja berpapasan. Sisanya sibuk dengan urusan masing-masing.

Tidak banyak keajaiban di tempat kos saya yang baru ini. [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (3)

  1. Ajaib dan mengesalkan punya tetangga kamar gitu. Pada mau menangnya sendiri.
    Hebat juga bisa “selesai” tanpa perkelahian.
    Kalo saya kayaknya gak tahan. Salut untuk Daeng???

  2. Eh maaf, saya lupa kalo di sini emotikon jadi tanda tanya 🙂

  3. Aku sering kayak gini, di kosan kadang sampai risih lihat piring gak dibersihkan, cucian numpuk di ember berhari-hari sampai kadang baunya nyengat, sampah gak dibuang pada tempatnya, dan lainnya. Bikin mumet

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.