Cerita Ringan

Saya Pengidap Hoarding Disorder(?)

Pagi ini saya sedang membereskan banyak barang dan membuangnya ke tempat sampah. Saya anggap ini usaha untuk tidak menjadikan saya hoarder.

Kalian pernah mendengar kata hoarding disorder? Kalau belum pernah saya ceritakan sedikit. Menurut beberapa laman yang saya baca, hoarding disorder ini adalah kebiasaan buruk menyimpan barang dan menimbunnya begitu saja. Berbeda dengan para kolektor yang menyimpan barang tapi merawatnya dengan baik dan menatanya dengan rapih, pengidap hoarding disorder  (disebut hoarder) hanya menumpuk barangnya begitu saja, dibiarkan tertumpuk atau tertimbun tanpa ada usaha untuk menata apalagi merawatnya. Akibatnya barang itu menjadi sarang debu atau jamur, dan tentu saja tidak elok di mata.

Para pengidapnya kadang punya alasan untuk melakukan itu. Biasanya karena alasan memori atau kenangan dalam benda tersebut, selebihnya karena berpikir benda tersebut akan bisa digunakan lagi di lain waktu meski kenyataannya tidak pernah digunakan lagi.

Menurut psikolog, hoarding disorder ini sudah termasuk gangguan kejiwaan yang tentu saja bisa berujung pada gangguan kesehatan. Debu yang bertumpuk pada barang yang disimpan serta jamur yang tumbuh karena lembab bisa menyebabkan penyakit, selain rasa tidak nyaman pada anggota keluarga atau tetangga yang setiap hari harus berhadapan dengan tumpukan barang yang nyaris serupa sampah itu.

Somehow, saya juga merasa punya bakat mengidap hoarding disorder. Saya suka menyimpan banyak barang karena alasan kenangan pada barang tersebut, atau berpikir kalau barang tersebut kelak akan bisa saya gunakan lagi.

Barang yang saya kumpulkan mulai dari kertas dengan beragam coretan, benda-benda atau asesoris kecil, furnitur rusak, dan beberapa barang lainnya. Beberapa di antaranya memang pada akhirnya bisa terpakai lagi, didaur ulang, atau beberapa bagiannya saya ambil dan saya manfaatkan. Tapi sebagian lagi tidak, tersimpan begitu saja.

Kebiasaan saya ini berkebalikan dengan Mamie. Beliau ini orang yang saya bilang, tidak punya keterikatan dengan barang. Dia bisa dengan entengnya melepas barang yang sudah tua atau tidak terpakai lagi. Bahkan, barangnya hilang pun dia santai saja. Sama sekali tidak kepikiran atau gelisah. Sementara saya, sangat menjaga barang-barang saya. Beberapa barang yang sangat saya sukai bahkan saya beri nama, biar saya bisa lebih menghargainya seperti saya menghargai manusia. Kalau ada barang saya yang hilang, saya bisa memikirkannya berhari-hari. Gelisah, dan sedih. Bahkan walaupun hari ini sudah bisa move on, kelak ada masa ketika saya memikirkan barang saya itu dan kembali merasa sedih.

Kembali ke soal hoarding disorder.

Kebiasaan saya menumpuk atau menyimpan barang lama ini memang belum terlalu parah. Plus, barang yang saya simpan pun sebagian besar masih rapih. Saya susun dengan baik, saya taruh di dalam tempat khusus sehingga tidak terlihat mengganggu seperti setumpukan sampah. Mungkin saya berada di garis batas antara kolektor dan hoarder. Entahlah.

Tapi sekarang saya mulai mengubah kebiasaan itu. Beberapa waktu belakangan ini kami memang sedang sibuk membereskan rumah setelah renovasi. Saya yang paling banyak melakukan aktivitas beres-beres dan bersih-bersih, dan dalam masa itulah saya akhirnya menguatkan diri untuk membuang beberapa barang yang selama ini saya simpan dan saya tumpuk. Hasilnya, ada banyak barang yang nyangkut di tempat sampah, dan ada banyak ruang yang tersisa. Beberapa memang masih saya simpan, utamanya barang yang saya anggap suatu hari nanti bisa saya pakai, atau bisa saya daur ulang. Sisanya saya lepaskan dengan ikhlas.

Saya hanya menyisakan beberapa barang lama yang kadar kenangannya memang besar, atau saya anggap benar-benar bisa berguna di lain waktu. Saya tidak mau lagi menumpuk barang dan membiarkannya menjadi sarang debu atau jamur. Saya berusaha menghndari dorongan untuk menjadi hoarder.

Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga suka menumpuk barang lama? [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (1)

  1. Tega membeli tapi tak tega membuang maupun tega menghinakan ?

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.