Cerita Ringan

5 Hal-Hal Pertama Dalam Hidup

Sesuatu yang saat ini mungkin jadi hal yang biasa bagi kita, pasti pernah punya kata “pertama”. Sebagian menyimpan kenangan tertentu, bukan?


Garuda Indonesia di Makassar, 1986 – Foto KITLV

“SELALU ADA YANG PERTAMA UNTUK SEGALANYA,” kata orang. Memang benar, semua yang kita lakukan, kita jalani dan kita anggap sebagai hal yang biasa saat ini, pasti dimulai dari pertama. Semua ada awalnya, apapun itu. Kalau sekarang misalnya Anda sudah terbiasa berdagang maka pasti dulu ada saat kali pertama  memulainya dan benar-benar merasa tidak tahu harus bagaimana. Sampai akhirnya jadi terbiasa dan mungkin malah jadi ahli.

Begitu juga dengan saya.

Ada beberapa hal yang saat ini sudah jadi kebiasaan dan kadang seperti saya hapal di luar kepala, atau sudah jadi hal biasa dalam hidup tapi kalau saya ingat-ingat lagi dulunya begitu bekesan ketika pertama kali saya jalani. Ada yang menakutkan, ada juga yang membingungkan.

#1. Pertama Kalinya Melancong Keluar Pulau.

Momen ini terjadi selepas libur sekolah tahun 1993. Saya masih berseragam putih abu-abu kala itu dan siap untuk naik ke kelas dua. Kebetulan setahun sebelumnya saya jadi salah satu orang yang terpilih sebagai penerima beasiswa Supersemar. Iya, saya ternyata pernah menikmati uang orde baru, dari yayasan milik daripada pak Harto itu.

Uang beasiswa itu membuat orang tua yang tak seberapa kaya akhirnya bisa sedikit ringan dalam pengeluaran bulanan. Masih ada sisanya dan sisanya itulah yang oleh mereka diberikan ke saya sebagai bekal melancong ke Jakarta, ibu kota Indonesia yang di zaman itu hanya bisa diimpikan anak-anak seperti saya. Jauh dan waktu itu belum ada kebiasaan traveling seperti sekarang.

Jadilah dengan sisa uang beasiswa itu saya melancong ke Jakarta, menumpang di saudara yang memang tinggal di sana. Sebenarnya kala itu saya tidak benar-benar berangkat sendirian, karena dititipkan pada dua orang teman dari om yang kebetulan memang akan ke Jakarta. Saya yang masih terhitung anak ingusan itu membebek mereka berdua.

Kami menumpang kapal Athirah milik grup Kalla yang saya ingat tiketnya sebesar Rp.50.000,- dari Makassar sampai Surabaya. Itu juga kali pertama saya menumpang kapal laut dan langsung merasakan sensasi mabuk laut. Setiba di Surabaya kami menginap semalam dan keesokan harinya melanjutkan perjalanan ke Jakarta dengan kereta api. Ini juga kali pertama saya menaiki moda transportasi ini. Saya berpisah dengan dua bapak-bapak itu di Jakarta karena mereka berdua punya urusan sendiri. Selanjutnya saya menikmati Jakarta dengan diantar tante dan kadang jalan sendiian.

Kenangan ini sangat membekas karena begitu banyak hal pertama di dalamnya. Pertama kali naik kapal laut, pertama kali ke Surabaya, pertama kali naik kereta api dan tentu saja pertama kalinya ke Jakarta.

Sesuatu yang bertahun-tahun kemudian jadi sangat biasa saya jalani.


Beginilah tampang saya ketika pertama kalinya ke Jakarta

#2. Pertama Kali Naik Pesawat.

Momen ini terjadi ketika saya sudah berusia 22 tahun, tepatnya di tahun 2000.  Saya sudah jadi karyawan waktu itu dan kantor kemudian menugaskan saya untuk belajar di sebuah perusahaan yang masih berada dalam satu grup besar kantor kami. Perusahaan itu bekantor di Kab. Bogor, tepatnya di Cileungsi dan untuk ke sana berarti harus lewat Jakarta dulu. Waktu itu tiket pesawat sudah mulai bisa dijangkau dan sudah mulai jamak dipakai. Jadilah kami – saya dan seorang teman – berangkat dengan pesawat.

Itu pertama kalinya saya menumpang pesawat. Maskapainya Mandala. Saya benar-benar cupu waktu itu, masuk ke bandara langsung saja melenggang kangkung ke ruang tunggu sebelum ditahan satpam, disuruh check in dulu. Iya, saya tidak tahu kalau ada proses check in dulu. Saya kira sama saja dengan naik kapal laut, yang penting ada tiket langsung naik saja.

Di atas pesawat pun saya sempat panik ketika tiba-tiba kuping saya terasa sakit. Saya belum tahu soal perbedaan tekanan yang bisa berpengaruh ke kuping. Untung ada teman sepenerbangan yang sudah punya pengalaman naik pesawat. Dialah yang memberi saran untuk menelan ludah, meminimalisir efek tekanan udara itu.

Eh waktu itu pesawat masih memperbolehkan penumpangnya merokok loh. Saya ingat betul karena begitu pesawat sudah mencapai ketinggian 30.000 kaki, penumpang yang mau merokok dipersilakan ke bagian belakang. Saya salah satunya.

#3. Pertama Kalinya Melancong Sendirian.

Ini terjadi ketika saya tinggal di Jakarta coret alias Cileungsi itu. Suatu hari saya memutuskan untuk berwisata ke Jogjakarta sendirian. Kebetulan waktu itu ada acara grebeg syuro dan saya sedang belajar fotografi. Tiba-tiba muncul ide untuk memotret acara tersebut. Sayangnya tidak ada teman yang bisa ikut, jadi setelah mempertimbangkan banyak hal, saya nekad untuk berangkat sendirian.

Terbilang nekad karena waktu itu saya belum pernah melancong sendirian, dan informasi belum seperti sekarang derasnya. Segala macam informasi yang saya dapatkan hanya dari teman-teman yang pernah ke Jogja dan pernah tinggal di sana. Dari rute kereta api dan bus, dari stasiun kereta api atau terminal naik apa ke kawasan keraton, dari keraton ke arah mana kalau mau ke Malioboro sampai perkiraan harga penginapan. Semua dari informasi mulut ke mulut, karena mbah Google belum lahir.

Semua akhirnya berjalan lancar, kecuali bahwa kamera analog yang saya bawa justru macet tepat ketika akan dipakai di acara grebeg syuro itu. Jadilah perjalanan itu bisa dianggap sia-sia kecuali bahwa itu pertama kalinya saya melancong sendirian dan pertama kalinya menginjakkan kaki di Jogjakarta.

#4. Pertama Kalinya Menginap di Hotel Berbintang.

Kalau pertama kali menginap di hotel sebenarnya itu terjadi ketika saya pertama kalinya melancong keluar pulau di tahun 1993. Tapi waktu itu saya dan dua om-om yang saya ikuti menginap di hotel melati yang bisa dibilang tidak terlalu berkesan.

Nah, ketika pertama kali akhirnya menginap di hotel berbintang, kenangannya jadi berbeda. Kejadian ini terjadi di tahun 1997 ketika kantor waktu itu membuat acara rapat kerja dan sekalian gathering di Tana Toraja. Hotel yang dipilih adalah Hotel Sahid Toraja yang termasuk kategori bintang tiga. Fasilitasnya memang termasuk wah untuk ukuran saat itu, dan tentu saja termasuk aneh buat orang seperti kami yang belum pernah menginap di hotel berbintang.

Begitu tiba saja kami sudah disambut welcome drink yang oleh seorang teman saya langsung ditolak. “Maaf, saya tidak pesan,” katanya. Ya wajar saja, kami orang kampung ini mana tahu kalau itu bagian dari service dan gratis pula. Seorang kawan lainnya malah memasukkan handuk hangat yang disodorkan pegawai hotel ke dalam kantung jaketnya sambil berucap, “Saya makan di kamar saja.” Dia mengira handuk kecil hangat yang disodorkan dengan penjepit itu adalah roti. Yassalam.

Kelucuan-kelucuan lainnya kemudian menyusul. Seorang kawan sampai berteriak kesakitan dari kamar mandi karena tidak sengaja menyetel air panas di shower. Yah bayangkan saja bagaimana rasanya bila sudah bugil dan tiba-tiba disiram air panas. Tikus saja bisa langsung mati kan? Atau kisah lain tentang seorang teman yang mencuci rambut dengan shower gel. Tidak masalah sebenarnya, hanya saja rambutnya tiba-tiba jadi lebih kaku saja.

Bagaimana dengan saya? Meski itu kali pertama masuk hotel berbintang, tapi saya mencoba untuk tetap cool. Saya lebih banyak mengintip orang lain dulu, kemudian ikut melakukan biar tidak salah. Selain itu saya sedikit-sedikit bisa berbahasa Inggris, jadi setidaknya instruksi yang disediakan dalam bahasa Inggris bisa saya mengerti. Saya misalnya tahu kalau tulisan “sanitized” yang ditempelkan di kloset duduk oleh petugas hotel berarti kloset itu sudah dibersihkan dan siap dipakai. Tidak seperti teman saya yang terpaksa menahan hasrat buang air besar karena mengira tulisan itu berarti “rusak”.

Pokoknya kenangan masuk hotel berbintang tahun 1997 itu sangat berkesan sampai sekarang.

#5. Pertama Kali Ke Luar Negeri

Momen ini terjadi tahun…. eh, tahun berapa ya? Kalau yang dimaksud ke luar negeri dengan menggunakan passpor atau visa, maka jawabannya adalah belum pernah. Iya, sampai setua ini saya belum pernah ke luar negeri dan belum punya passpor. Kasihan ya?

Tapi kalau yang dimaksud ke luar negeri sekadar melintasi perbatasan, maka itu sudah pernah saya lakukan. Melintasi beberapa puluh meter perbatasan Papua Nugini yang tidak membutuhkan passpor dan berurusan dengan imigrasi. Itu pengalaman pertama ke luar negeri yang berkesan buat saya. Entah kapan saya akan ke luar negeri yang sebenarnya. Ada yang mau mengajak?

*****

SETIDAKNYA DARI LIMA ITEM DI ATAS, item ke lima yang belum pernah saya ulangi lagi. Item satu sampai empat sudah jadi hal biasa bagi saya, bahkan jadi bagian dari pekerjaan. Saking seringnya sampai beberapa kali saya bangun pagi dan bertanya dalam hati, “Saya ada di kota apa ini?” Atau sesekali juga saya salah menggunakan logat bicara. Saya menggunakan logat daerah A padahal saya sedang ada di daerah B. Iya, saya senang menggunakan logat daerah yang saya datangi untuk membangun kedekatan dengan warga lokal.

Kalau kalian bagaimana? Di antara sekian hal yang sekarang menjadi kebiasaan, apa kalian masih ingat ketika pertama menjalaninya? [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (28)

  1. Saya ingat pertama kali keluar negeri sendirian. Berbekal keyakinan saja bahwa dimanapun kita berada selalu ada org baik dan org jahat. Berada di negeri orang dengan selalu menjaga sikap santun dan hormat, Insya Allah…. aman.

  2. Saya jadi ingat saat pertama kali naik pesawat, teman-teman berpesan. “jangan keluarkan kepalamu di jendela pesawat na..” Bah itu bukan pesan tapi mengejek.

  3. Ah kurang ini. Mana yang bagian ???? pertama? Bagian itu yang paling kami tunggu loh.

  4. Saya juga ingat pertama kali naik pesawat sendirian. entah di tahun berapa itu. Benar-benar kikuk dan tidak tau harus bagaimana ?

    Aatapi, sampe bagian ke #5 saya belum dapat cerita pertama kalinya bang ipul mengalamim euforia jatuh cinta ? padahal bagian itunya yg paling saya tunggu (sebagai penggemar) #eh ?

  5. Daeng Techno

    Langsung teringat pertama kali ke luar negeri dan waktu itu juga pertama kali naik pesawat dalam rangka ikuti program student ex-change sekaligus KKN di sana.. Intinya yang pertama itu biasanya meninggalkan nostalgia yang sulit di lupa, ,hehe

  6. teringat pertama kali juga bapak ibu ajak saya ke kebun binatang tp saya malah menangis terus karena takut sm binatang. bdwww cute nya daeng ipul waktu belia gang, salah fokus ka… hahaha sayangnya tidak satu SMP ki dulu bah wkwkwkw

  7. Sukaaa tulisan nya kak ? Kadang kita biasa melupakan “pertama kali” dalam hidup..hahaha..setelah baca ini,langsung ka ingat-ingat kembali apa-apa yang “pertama kali” dalam hidupku hehehhe…

  8. Pertama… Kurasakan getaran yang kerap goyahkan rasa.. Serasa ada sentuhan baru sinari hari-hariku…

    Eh, malah jadi nyanyi deh tuh! Hehe…

    Yang pasti setiap yang pertama pasti jadi kenangan yang tak terlupakan. Apalagi yang berhubungan dengan hati, aauuuh… Uhhuy!!

  9. Kenapa Saya kesulitan mengingat-ingat ya padahal belum ditulis. Payahku ?

    Seusia ki’ adik bungsuku, Daeng, eh malah bahas umur.

    Waktu urusan kerja ke Jakarta mi yang sekantor ki’ dengan Nine dih?

  10. Kok saya malah terbawa ke lagu yang liriknya seperti ini ya
    “Pertama, kurasakan getaran
    Yang kerap goyahkan rasa
    Serasa ada sentuhan baru
    Sinari hari hariku”

    Saya pun punya pengalaman ketika pertama kali naik pesawat. Waktu itu saya ke Jambi bersama kawan dan atasan yang mengantar. Mungkin dia melihat saya kurang santai jadinya saya dikerjai oleh atasan saya. Dia menyolek orang yang duduk di kursi depan lalu pura-pura tidur. Kikuk lah saya.

    • Ada temanku iya pas pertama naik pesawat dikasih tahu sama teman duduknya: lepas kacamatamu. Mengganggu navigasi.

      Dan dia lepas tojeng kodong ?

  11. Pertama kali naik pesawat saya cukup norak. Saya ndak mau barang dibagasikan karena takut dikasi bayar lagi. jadinya 2 tas besar sama dos-dos yang sa bawa sa kasi naik semua ke kabin.

  12. andyhardiyanti

    Eh baru k’ tahu kalau dulu bolehji orang merokok di dalam pesawat. Bagaimanami itu asapnya? Ndak putar-putar di dalam kabin pesawatji?

    Momen yang ndak bisa saya lupa itu adalah pertama kalinya merasakan gempa besar, komplit dengan adegan panik tsunami dan pergi mengungsinya. Maunya sih momen merasakan gempa besar itu jadi yang pertama dan terakhir. Tapi ya kok terjadi terus setiap minggu (waktu itu). Belum lagi gempa skala sedang dan kecil-kecilnya yang rasanya ndak mau pergi dari Lombok. Sampai saya sudah ndak tahu mana yang gempa, mana perasaan oleng saat sakit kepala. Hahaha.

    Aih, ngapana jadi cerita gempa. Kapan-kapan saya buat jadi postingan blog saja kalau begitu.

    • Iya, blogkan sendirilah..
      Mau tahu bagaimana pengalaman warga Lombok saat gempa.

      Dan iya, dulu itu bisa merokok di pesawat hahaha.
      Asapnya ya mutar2 dalam kabin, bikin bau ?

  13. Ainhy Edelweiss

    Wkwkkwwk lucunya pada saat pertama kali di hotel berbintang itu temanta, sy jadi teringat pertama kali nginap di hotel itupun di luar negri (bukan bermaksud congkak) tp mmg kdng nd pernah pi ke hotel, sekalinya ke hotel di negrinya orang, dan saya pun teringat kejadian-kejadian lucu ?

  14. Pertama saya nginap di hotel berbintang, terkunci di kamar mandi dong… Pas nda ada orang lain di kamar, nda bawa hape ke kamar mandi, di kamar mandi juga nda ada teleponnya. Yassalam…

  15. Saya kapanka itu di naik pesawat? Eh, ingatka tulisanku awal-awal yang selalu menjadi kenangan bersama Tari ketika masing-masing membaca postingan awal. Cukup lucu dan menggemaskan. Eh, kenapa jadi bahas ini ya? ? tapi setuju kak. Selalu ada awal untuk segala hal, seperti pertama kali menulis, pertama kali bikin blog, dan pertama-pertama lainnya ?

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.