Cerita Ringan

Pahit Manis Menjadi Pekerja Lepas


Menjadi pekerja lepas ada untung dan ruginya. Kali ini saya mengenang kisah pahit dan manis sebagai pekerja lepas.


Tahun ini terhitung sudah tahun ketujuh saya berhenti sebagai karyawan dan hidup sebagai pekerja lepas.  Awalnya memang menyenangkan. Saya bisa bangun pagi sesuka hati, tidak perlu terburu-buru berangkat ke kantor dan berjibaku dengan lalu lintas di pagi hari. Tidak perlu berpikir harus pakai baju apa, harus pakai sepatu apa dan tetek bengek sebagai karyawan lainnya. Menjadi pekerja lepas berarti lepas juga dari segala macam aturan sebagai karyawan.

Tapi pelan-pelan saya mulai sadar kalau tidak semua hal sebagai pekerja lepas itu menyenangkan.

Tahun pertama masih oke, saya masih bisa hidup tenang dari beberapa pekerjaan kecil-kecilan yang saya terima dan tentu saja sisa tabungan dari pekerjaan sebelumnya. Namun, ada saat ketika layar ATM seperti menampar saya. Jumlah sisa saldo yang tertera di sana sudah mulai mendekat angka minimum yang bisa ditarik.

Glek! Saya menelan ludah. Ini berarti saya harus berhenti bersantai-santai dan mulai berpikir bagaimana menggandakan nilai uang di tabungan. Itu kalau saya tidak mau berakhir dengan menjual barang-barang di rumah supaya bisa makan.

Di situlah pelan-pelan saya mulai sadar kalau menjadi pekerja lepas itu beratnya sama saja dengan menjadi karyawan. Okelah saya tak harus berjibaku dengan segala tetek bengek sebagai karyawan yang mengharuskan saya bangun pagi. Tapi, itu juga berarti saya harus berjibaku dengan hal lain untuk bertahan hidup. Saya harus mencari pekerjaan, mencari sumber pendapatan dengan dua kali lebih keras.


Santai, tapi kuatir

Zaman menjadi karyawan, saya tidak perlu kuatir. Mau kerja keras, mau kerja santai, toh tiap bulan akan ada sejumlah uang yang masuk ke rekening saya. Belum lagi bonus-bonus lain yang kadang jumlahnya cukup lumayan untuk dijadikan “duit lanang”. Pokoknya tidak perlu pusing soal pendapatan karena itu sudah ada pos tetapnya tiap bulan.

Apalagi ketika Idul Fitri datang. Masa ketika karyawan biasanya panen raya karena ada yang namanya Tunjangan Hari Raya. Masa ketika senyum manis nan lebar terpampang di rumah. Dari wajah istri maupun anak-anak. Itu masa yang paling membahagiakan bagi para karyawan.

Menjadi pekerja lepas, masa-masa itu tentu tidak datang lagi.

Menjadi pekerja lepas berarti harus siap untuk bekerja dua kali lebih keras karena ketidakpastian pekerjaan. Bisa saja bulan ini dapat pekerjaan dengan nilai lumayan, tapi bulan depannya sudah harus siap-siap menekan pengeluaran karena tidak ada pekerjaan yang merapat. Bisa saja bulan ini bermuka ceria karena order pekerjaan yang masuk cukup membuat kantung menggembung, tapi bulan berikutnya perlahan-lahan kantung mulai mengempis akibat tidak ada pekerjaan yang mendekat.

Belum lagi ketika Idul Fitri tiba. Duh, perih rasanya ketika melihat teman-teman yang masih berstatus karyawan bisa menikmati THR mereka sementara kami para pekerja lepas tidak punya induk yang bisa memberi kami THR. Derita pekerja lepas.

Pentingnya Menjaga Kesehatan.

Akhir tahun lalu saya akhirnya bertemu malaria. Ketika pertama mendarat di Papua dan bersiap untuk bekerja di sini dalam waktu relatif lama, saya sudah berdoa semoga saja tidak terkena malaria. Penyakit yang sepertinya akrab dengan Papua.

Sayang, doa saya tidak terkabul. Saya akhirnya terkena malaria justru menjelang akhir tahun pertama saya bekerja di Papua.

Saat memeriksakan diri di dokter, pikiran saya melayang ke masa-masa ketika masih menjadi karyawan. Ketika itu, fasilitas kesehatan dan asuransi pun sudah menjadi tanggungan perusahaan. Setiap bulan preminya dibayar dari potongan gaji yang jumlahnya tidak terasa. Preminya kecil, tapi kegunaannya besar. Berkali-kali saya merasakan keuntungan dari asuransi kesehatan yang disediakan kantor.

Sekarang, menjadi pekerja lepas berarti siap kehilangan fasilitas itu. Pekerja lepas diwajibkan untuk mandiri, mengurus sendiri segala kebutuhannya termasuk asuransi. Tidak ada lagi kantor yang siap mengurus segala tetek-bengek administrasi dan pembayaran bulannya.

Sadar akan hal itu, saya pun mulai mencari sendiri fasilitas asuransi. Khususnya asuransi kesehatan. Pekerjaan yang saya tekuni beberapa tahun belakangan ini cukup menguras tenaga dan berisiko tinggi. Kadang saya harus mendatangi tempat-tempat yang jauh, ada di pedalaman dan jalannya tidak selamanya mulus. Beberapa kali juga saya harus berhadapan dengan situasi yang tidak menyenangkan. Untungnya karena saya belum pernah berada dalam situasi yang benar-benar mengancam jiwa – dan semoga saja tidak akan pernah.


Terkadang bertemu dengan kondisi seperti ini

Situasi-situasi seperti itu dan kondisi bahwa saya adalah pekerja lepas membuat saya merasa perlu sekali memiliki asuransi. Sekadar jaminan bila terjadi sesuatu yang buruk, saya masih punya sesuatu yang bisa membantu. Namanya saja pekerja lepas yang tidak bergantung pada orang atau perusahaan. Kemandirian adalah sesuatu yang mutlak.

Akhirnya, menjadi pekerja lepas memang ada enak dan tidak enaknya. Di satu sisi, saya bebas mengatur waktu dan justru menjadi semakin kreatif karena harus terus mencari peluang-peluang baru. Tapi di sisi lain, ada banyak hal yang harus saya urus sendiri. Ada banyak fasilitas sebagai karyawan yang tidak lagi saya nikmati. Termasuk manisnya THR, hiks.

Jadi, buat kalian yang ingin berpikir menjadi pekerja lepas pesan saya pertimbangkanlah sebaik-baiknya. Hitung-hitung dulu plus dan minusnya sebelum memutuskan menjadi pekerja lepas. Siapkan mental dan yang tak kalah pentingnya siapkan tabungan agar ketika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, kita tetap punya bantuan. Dan jangan lupa asuransi.

Karena menjadi pekerja lepas berarti harus siap untuk sepenuhnya mandiri. Kamu siap nda? [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (8)

  1. Saya masih mau baca tulisan ini Daeng, tp keburu habis.. Pasti masih banyak yg belum diceritakan.

  2. Mbandah dulu : bosen kerja kantoran, pengen kerja lepas/usaha sendiri
    Mbandah setelah anak lahir : bosen kerja kantoran, tapi harus bertahan ?

  3. Toss. Saya juga alami hal yang sama daeng. Sebagai pekerja lepas, Segala sesuatunya harus dikerjakan secara mandiri. Keuangan harus diatur dengan ketat. Pada dasarnya seperti mengelola usaha, tapi ini hanya sendiri.

  4. Benar banget. Saya merasakah, Dulu di Sumatera, suamiku pegawai perusahaan minyak, sekarang kami sama-sama pekerja lepas. 😀

  5. manisnya karena bisa banyak ketemu dengan orang baru dan banyak pengalaman baru yang bisa di eksplor di seluruh dunia ya 😀

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.