Cerita Ringan

Catatan Untuk Tahun 2020


Sebuah catatan tentang tahun 2020 yang baru saja lewat.


Tahun 2020 baru saja lewat, berganti dengan tahun 2021. Sebagian besar manusia di bumi akan mengingat tahun 2020 sebagai tahun yang, hmmm katakanlah tahun yang aneh. Tahun yang membuat kebiasaan sebagian besar manusia di bumi jadi berubah. Tatanan sosial jadi berantakan, strategi dan rencana yang sudah dibuat sejak tahun sebelumnya jadi berubah, dan ah pokoknya benar-benar tahun yang aneh. Apalagi kalau bukan karena pandemi COVID-19.

Pandemi yang mulai muncul di akhir 2019 di Wuhan, China dan kemudian menyebar ke seluruh dunia memang membawa banyak kepusingan. Selain bencana tentu saja. Bencana ekonomi, atau bahkan kesedihan mendalam karena kehilangan orang-orang yang dicintai.

Buat saya, tahun 2020 juga sama saja. Membawa banyak hal yang aneh dan tidak biasa meski Alhamdulillah masih ada juga kesenangan yang menghiasi tahun itu. Ada beberapa catatan penting buat saya untuk tahun 2020 yang baru saja lewat tersebut.

Terdampak Pandemi COVID-19

Pandemi yang masuk ke Indonesia mulai Maret 2020 dan kemudian menyebar dengan cepat itu juga berdampak pada kehidupan saya, utamanya kehidupan pekerjaan.

Sejak tibanya pandemi ke Indonesia, kantor merespon dengan membatasi gerak para pekerja. Sama seperti sebagian besar kantor-kantor lainnya. Saya terkena imbasnya. Mulai dari keharusan untuk tinggal di rumah – dalam kasus saya tinggal di kamar kos – sampai pembatalan beberapa pekerjaan yang mengharuskan kami ke lapangan.

Akibatnya, sejak Maret 2020 saya harus tinggal di kamar kos. Sebagian besar pekerjaan dikerjakan secara daring, dan tentu saja rencana turun ke lapangan ditunda entah sampai kapan. Secara umum pekerjaan kami pun berhenti untuk sejenak, setidaknya pekerjaan lapangan yang jadi urat nadi pekerjaan tersebut.


Di rumah saja

Sejak Maret sebagian besar hidup saya hanya berputar di kamar kos dan kamar mandi. Tapi tetap saya harus keluar kos untuk beli makanan dan kebutuhan lainnya, tapi hanya sebentar dan tidak lebih dari 30 menit. Dalam rentang waktu antara Maret sampai September ketika akhirnya kembali ke Makassar, saya hanya tiga kali bertemu dan mengobrol langsung dengan manusia lebih dari 10 menit. Selebihnya hanya interaksi dengan bantuan media internet dan aplikasi pendukungnya.

Kebiasaan Baru di Tahun 2020

Pandemi juga memberi kebiasaan-kebiasaan baru untuk saya dan sepertinya banyak orang lainnya. Hal yang paling terlihat adalah kebiasaan menjaga kebersihan. Sedikit-sedikit cuci tangan, membersihkan rumah, pokoknya menjaga kebersihan. Kebiasaan yang mudah-mudahan terus terbawa bahkan bila pandemi sudah berlalu.


Tren wawancara di YouTube

Kebiasaan lainnya adalah menikmati tayangan wawancara di YouTube dan mendengarkan siniar atau podcast di Spotify. Kebiasaan itu muncul karena kelamaan di kamar kos selama masa pandemi. Banyaknya waktu luang membuat saya mencari kebiasaan-kebiasaan lain untuk mengisi kekosongan waktu. Kebiasaan yang akhirnya menjadi hobi baru.

Oh ya, kebiasaan baru yang juga menarik di tahun 2020 adalah kebiasaan bermain gitar. Saya akhirnya memutuskan belajar main gitar. Terlambat puluhan tahun sebenarnya, tapi tak apalah. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?


Belajar main gitar di tahun 2020

Kembali ke Makassar

 Sejak awal 2018 saya memutuskan untuk menerima pekerjaan yang mengharuskan saya tinggal sementara di Papua, tepatnya di Jayapura. Dari rencana awal yang hanya tiga bulan, ternyata terus diperpanjang dan bahkan mencapai angka tiga tahun.

Namun, karena adanya pandemi COVID-19 yang memaksa kami lebih banyak tinggal di rumah dan tidak bisa dengan mudah keluar-masuk Papua maka saya memutuskan untuk mengajukan permintaan bekerja dari rumah di Makassar. Permintaan saya disetujui, dan akhirnya akhir bulan September 2020 saya meninggalkan Jayapura. Mengangkut semua barang dan kenangan yang sudah hampir selama tiga tahun menumpuk di sana.

Hampir tiga tahun di Papua, tentu banyak sekali kenangan yang tertinggal. Kenangan yang tidak akan mudah dihapus dan dilupakan begitu saja. Papua akan jadi tempat yang akan saya rindukan.

Apakah saya akan kembali ke Papua lagi? Entahlah. Saya belum bisa bilang iya, atau tidak. Kita lihat saja nantinya.

*****

Tidak ada lagi hal lain yang sangat menarik di tahun 2020 kemarin. Sebagian besarnya memang adalah seputar pandemi dan efek yang disebabkannya. Semua kita pasti akan mengenang tahun 2020 sebagai tahun yang tidak biasa. Tahun yang aneh, tahun yang membawa cerita yang tidak semuanya indah. Tapi bagaimanapun, bertahan melewati tahun yang susah itu adalah sebuah berkah tersendiri.

Memasuki tahun yang baru, tidak ada harapan lain selain bisa tetap sehat dan bertahan melewati tahun 2021. Sisanya adalah bonus.

Begitulah teman-teman, selamat memasuki tahun yang baru. Semoga kita semua tetap sehat dan bahagia di tahun yang baru ini. Semoga kita tetap bertemu di tahun yang akan datang. [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (5)

  1. setidaknya kita semua punya kenangan dan kesamaan di tahun 2020: tahun yang istimewa..

    saya sampe sekarang pengen bisa main musik, tapi belum tergerak. sempet belajar bikin mixing music jeb ajeb pake apps, tapi terdengar aneh hasilnya dan merasa tuli nada, akhirnya mengurungkan niat.. ?

    kayanya memang lebih cocok jadi penikmat saja.. ?

  2. Selamat mengawali tahun yang baru dengan hal-hal yang baik! Semoga 2020 kemarin bisa memberikan banyak pelajaran dan cerita berharga di masa depan, ya. 🙂

  3. Tahun 2020 akhirnya merasakan bagaimana rasanya bekerja dari kosan hehehhehe. Meski harus menyesuaikan, tapi pada akhirnya bisa mengikuti. Pun dengan pandemi, tahun 2020 sempat melakukan isolasi mandiri karena otg, pokoknya tahun tersbeut benar-benar berkesan rasanya. entahlah

    2021 semoga bisa menjadi lebih baik serta tetap sehat.

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.