Cerita Ringan

Menangisi Kepergian Sang Idola

Foto by Pexel.com

Tahun ini menjadi tahun yang berat bagi penggemar Glenn Fredly dan Didi Kempot. Tahun yang membuat mereka sedih.

Minggu kemarin adalah minggu yang kelabu untuk para penggemar Didi Kempot. Penyanyi campur sari asal Solo itu secara tiba-tiba dikabarkan meninggal dunia. Nyaris tak ada angin, tak ada hujan. Apalagi beberapa waktu sebelumnya beliau masih aktif bernyanyi, termasuk sebuah konser amal daring bersama Kompas TV yang berhasil mendatangkan donasi hingga miliaran rupiah. Jadi tidak heran kalau para penggemarnya begitu kaget mendengar kabar kepergian beliau.

Ribuan orang menangisinya. Ada yang hanya menangis tersedu, ada pula yang sampai meraung-raung. Hati mereka patah setelah sang lord of broken heart pergi.

Sebulan sebelumnya, seorang idola lain sudah lebih dulu mangkat. Glenn Fredly meninggal dunia tanggal 8 April 2020. Sebuah kabar yang juga sangat mengejutkan, utamanya bagi para penggemarnya. Meski memang dikabarkan sedang sakit, tapi tidak ada yang menyangka dia akan pergi secepat itu.

Seorang teman mengaku sangat terpukul dengan kepergian Glenn Fredly sang idola. Selama seharian penuh dia seperti kehilangan semangat. Semangatnya ikut menguap seiring kepergian sang idola. Dia jelas tidak sendirian, ribuan orang lain juga merasakan hal yang sama. Dia bahkan membuat sebuah elegi yang panjang untuk Glenn Fredly.

Menangisi Idola

Terus terang, ada satu bagian dari diri saya yang menganggap kesedihan mereka yang ditinggal oleh idola itu sebagai sesuatu yang berlebihan. Lebay. Apalagi buat mereka yang sama sekali tidak pernah bertemu langsung dengan sang idola.

Tapi, pikiran itu segera terbantahkan.

Hampir tiga tahun lalu, tepatnya tanggal 18 Mei 2017 saya juga merasakan kesedihan yang sama. Hari itu, kabar kepergian seorang Chris Cornell merebak. Kabar yang begitu tiba-tiba, tanpa pertanda sebelumnya. Chris dinyatakan meninggal bunuh diri di hotel tempatnya menginap, padahal beberapa jam sebelumnya dia baru saja menuntaskan konser tunggalnya. Sebuah kepergian tragis yang menyayat hati.



Ketika mendengar kabar itu, saya juga terhenyak. Ada rasa kehilangan yang tiba-tiba saja merayap ke dalam hati, mengalir ke seluruh pembuluh darah. Padahal Chris bukan salah satu idola saya. Maksudnya, saya mengikuti sebagian musiknya. Mengikuti sebagian kecil kiprahnya di dunia musik, tapi tidak sampai mengenalnya lebih jauh dan lebih dalam seperti saya mengenal Pearl Jam dan Eddie Vedder misalnya.

Tapi, tetap saja kepergiannya menyisakan rasa perih.

Chris Cornell dan personil Pearl Jam adalah kawan akrab. Di masa lalu mereka saling membantu. Eddie dan Chris bahkan pernah menjadi tetangga. Dalam konser peringatan ulang tahun keduapuluh Pearl Jam, Eddie menyebut Chris adalah manusia pertama yang dia kenal di Seattle selain anggota bandnya. Fakta itu jelas membangun kedekatan emosional saya sebagai penggemar Pearl Jam dengan Chris Cornell. Jadi sepertinya wajar ketika saya pun merasa sedih kehilangan salah seorang vokalis rock terbaik di dekade 90an itu.

Selama berhari-hari saya memutar lagu Chris Cornell di Spotify. Saya membuat playlist sendiri yang berisi lagu-lagu terbaik Chris versi saya. Baik lagu selama dia di Soundgarden, Audioslave, hingga lagu solonya. Salah satu lagu yang paling sering saya putar adalah Scar In The Sky. Ada momen ketika saya di atas pesawat, menatap keluar lewat jendela dan mendengarkan lagu itu sambil melihat langit dan hamparan awan. Sesekali rasanya ingin menangis juga.

Mungkin kalau saya terbiasa menangis, maka saya akan menangis saat itu juga.

Kedekatan Emosional.

Menangisi kepergian seorang pesohor idola adalah hal yang wajar. Mungkin terkesan lebay karena dia bukan anggota keluarga, bukan teman, bahkan dia tidak mengenal kita. Bahkan bertemu langsung pun belum pernah. Tapi, satu hal yang yang tidak diketahui orang adalah adanya ikatan emosional antara dia sebagai pesohor dan kita sebagai pemujanya.

Ketika bersedih karena kepergian Glenn Fredly itu, teman saya mengenang kembali bagaimana lagu-lagu Glenn seakan menjadi soundtrack kisah hidupnya di suatu fase. Dari pacaran, sakit hati, sampai bisa tegak kembali. Semua terwakili oleh lagu-lagu Glenn Fredly, dan karenanya tanpa disadari sebuah ikatan emosional yang dalam mulai terbentuk.

Ketika vokalis Linkin Park, Chester Bennington meninggal di tahun 2017 pun, seorang kawan mengungkapkan kesedihannya. Dia merasa ada fase dalam hidupnya yang terselamatkan oleh lagu-lagu Linkin Park yang dibawakan oleh Chester Bennington. Dia menganggap Chester dan bandnya adalah penyelamatnya ketika dia sedang ada di fase terendah dalam hidupnya. Tanpa dia sadari pula, sebuah ikatan emosional terbentuk antar dia dan Chester Bennington. Jadi tidak heran ketika sang idola berpulang, rasa sedih itu menguasai dirinya.

Seorang pesohor tanpa dia sadari meninggalkan jejak pada para penggemarnya. Baik itu jejak masa yang menggambarkan sebuah era tertentu (biasanya masa muda), sampai jejak penyelamatan yang tidak disadarinya.

Ada masa ketika sang penggemar bisa melihat karya si idola di mana saja. Di televisi, di majalah, di toko kaset, di bioskop, di mana saja. Masa itu akan jadi masa yang selalu dia kenang, menjadi penanda sebuah era dalam kehidupannya. Ketika sang idola pergi dan berarti akan berhenti berkarya, maka hilang juga satu penanda dalam hidupnya. Maka ketika itulah ada rasa kehilangan yang muncul.

Kita yang tidak memahami kedekatan itu mungkin akan menganggap kesedihan itu berlebihan, lebay. Tapi tidak bagi mereka yang menjalaninya. Tidak ada yang terlalu lebay untuk menggambarkan kesedihan dan kehilangan mereka.

*****

Kepergian seorang pesohor akan meninggalkan duka mendalam untuk para pecintanya. Tidak akan ada lagi karya-karya sang pesohor yang bisa dinikmati, karya yang bisa menjadi penanda sebuah fase, atau bahkan karya yang bisa jadi teman dan penyelamat. Semua akan tinggal kenangan, menyisakan jejak yang sulit dihapus, dan tentu saja genangan kenangan.

Tahun 2020 ini bisa dibilang tahun yang berat. Dalam satu bulan terakhir saja sudah dua orang musisi legendaris yang berpulang. Kepergian yang menyisakan duka mendalam untuk sekian banyak penggemarnya di seluruh Indonesia, bahkan mungkin di belahan lain dunia ini. Semoga ini adalah yang terakhir. [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (6)

  1. Dan tahun 2020 pun belum jaan separuhnya. Hiks.

  2. Rasanya 2020 ini ingin cepat berlalu. Terlalu banyak cerita duka untuk semuanya. Kita hanya bisa berdoa agar para idola yang meninggalkan diberi tempat yang baik.
    Ingat Didi Kempot, rasanya menyesakkan waktu ada salah satu penggemarnya menangis, sementara di sekelilingnya sibuk merekam

  3. Saya mi itu…
    Sering baper sama sang idola, apalagi kalo sampai meninggal.
    Terangkum lagi karyanya dalam sebuah tulisan di blog.

  4. saya kok sepertinya malah tidak merasa punya kedekatan emosional, ya. dulu, ya, saya fans berat grup musik Jepang Do As Infinity. saya bahkan hafal lagu dan kisah-kisah grup musik tersebut, namun kini ya sudah. tidak ada lagi perasaan emosional, dan saya melihat grup musik ini ya biasa saja. entah apa yang terjadi. ?

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.