Cerita RinganLingkunganPapua

Realitas Listrik di Papua


Berbahagialah kita yang bisa kesal ketika listrik padam beberapa jam. Karena, masih banyak orang di Indonesia yang bahkan tidak tahu kapan listrik akan masuk ke rumahnya.


Minggu kemarin (4/8) Jakarta heboh. Listrik mati dalam waktu yang cukup lama, dari siang sampai menjelang malam. Banyak yang terkena dampak dari pemadaman ini. Baik dampak personal seperti kepanasan di rumah tanpa pendingin ruangan, kesulitan memesan makanan lewat aplikasi daring, sampai efek yang lebih luas seperti kereta yang berhenti beroperasi atau layanan perbankan yang tersendat.

Di media sosial, ramai-ramai pula warga Jakarta dan sekitarnya mengeluhkan pemadaman listrik ini. Bagi mereka, listrik mati dalam waktu lebih dari dua jam sungguh menyiksa. Ketergantungan pada listrik sudah sangat akut, sehingga ketika listrik tidak hadir banyak yang hal yang terkena dampaknya.

Kejadian ini mengingatkan betapa bersyukurnya kami yang tinggal di Papua. Ketergantungan pada listrik belum sebegitu tingginya sehingga ketika listrik tidak hadir, kami juga tidak terlalu mengeluh. Mungkin mengeluh, tapi hanya sekali dan setelah itu pasrah.

Listrik Seadanya.

Sebenarnya memang tidak elok membandingkan Jawa dan Papua dalam hal pengadaan listrik. Ini seperti membandingkan Ferrari dan Avanza. Berbeda jauh sekali. Jawa sudah hampir semua dialiri listrik 24 jam, sedangkan Papua sudah hampir semua belum dialiri listrik 24 jam. Kota-kota besar di pesisir mungkin tidak terlalu masalah dengan listrik. PLN hadir 24 jam walaupun di saat-saat tertentu, masih juga rajin mati.

Iya, meskipun di kota seperti Jayapura listrik tersedia setiap saat tapi ada kalanya PLN merasa perlu untuk melakukan pemadaman bergilir. Alasannya beragam, dari gangguan teknis sampai perawatan. Jadilah kami yang tinggal di Jayapura ini harus akrab dengan listrik mati yang beberapa bulan terakhir ini hampir tiap hari hadir. Durasinya beragam, terkadang tidak sampai sejam tapi lebih seringnya sejam lebih atau pernah bahkan empat jam lebih.

Kondisi ini masih sangat jauh lebih baik dari kondisi daerah di pegunungan.

Sejauh pengalaman saya, hanya Wamena ibukota Jayawijaya yang punya listrik 24 jam. Itupun terkadang masih ada juga saat-saat ketika listrik mati di sekujur kota. Tapi beberapa kali ke sana, saya baru sekali menemukannya.

Di tempat lain di pegunungan tengah Papua, listrik adalah barang mewah. Di Tiom ibukota Lanny Jaya, misalnya. Di tempat ini listrik hanya mulai menyala pagi sekira pukul 07:00 WIT. Lalu, sekitar pukul 12:00 WIT siang, listrik akan padam. Baru akan menyala lagi pukul 17:00 WIT atau kadang pukul 18:00 WIT sampai malam pukul 21:00 atau 22:00 WIT. Tidak sepanjang malam.

Kondisi ini membuat banyak warga bergantung pada panel surya. Di malam hari ketika listrik tidak hadir, mereka cukup merasa beruntung dengan adanya lampu-lampu yang menyala hasil tabungan dari panel surya. Ratusan rumah di tepi bukit di sekitar Tiom pernah mendapatkan bantuan dari PLN berupa panel surya. Karena lokasinya yang berada di punggung bukit, rumah-rumah ini tidak tersentuh listrik PLN, dan kehadiran panel surya bantuan ini sangat membantu. Di malam hari, kita bisa melihat pijar-pijar lampu dari punggung bukit yang menyerupai kunang-kunang.


Honai dengan panel surya di atasnya

“Selama ini, memang baru sekarang warga dapat bantuan seperti itu. Lumayan, bisa dipakai untuk penerangan,” kata Ibu Diana, salah seorang PNS di Tiom yang menemani kami selama menginap di kota yang dingin itu.

Meski hanya seadanya – hanya cukup untuk lampu – tapi kehadirannya sudah bisa membuat warga senang.

Di Paniai, kondisi listriknya sedikit lebih baik. Saya bilang sedikit karena mereka setidaknya bisa menikmati listrik sepanjang malam. Listrik baru padam pukul 06:00 WIT pagi dan menyala dua jam kemudian. Pukul 12:00 WIT listrik mati lagi, dan baru menyala kembali pukul 17:00 WIT sore.

Kondisi listrik mati di siang hari selepas pukul 12:00 ini tentu sangat berpengaruh pada kinerja kantor-kantor pemerintahan. Janganlah berharap ada kantor pemerintahan yang masih buka atau masih ramai selepas pukul 12:00 siang. Mau mengurus sesuatu di kantor pemerintahan selepas pukul 12:00? Jangan mimpi! Tidak ada listrik, jadi pegawai lebih memilih pulang dong. Setahu saya hanya kantor bupati yang punya genset dan bisa difungsikan setiap hari, tapi itupun hanya ketika pak bupati atau pejabat daerah lainnya ada di tempat.

Pembangkit Listrik Tenaga Terbarukan.

Sebenarnya ada satu wilayah di Lanny Jaya yang sudah lebih maju soal pengadaan listrik. Namanya Distrik Makki. Mereka menggunakan listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga mikro hidro, memanfaatkan aliran sungai di distrik mereka.

Ketika berkunjung ke Makki tahun lalu, saya kaget melihat lampu di kantor kampung yang menyala terang di siang hari. Berbeda dengan kota Tiom yang tidak dialiri listrik di siang hari, penghuni Distrik Makki malah tidak mematikan listrik mereka.

“Ah, ini listrik dari pembankit di bawah sana. Tra pernah mati,” kata seorang warga ketika saya tanya perihal lampu yang menyala terus itu.

“Ih, mentang-mentang punya pembangkit sendiri lampu tidak dimatikan. Sombong kali bapak ini,” kata saya dalam hati. Tentu saja itu hanya becanda.

Kalau saya lihat sepintas, rasanya Papua ini punya banyak potensi untuk pengembangan listrik secara mandiri. Ada sungai-sungai yang mengalir deras dan bisa diubah jadi pembangkit listrik tenaga mikro hidro, ada pula daerah perbukitan dengan angin kencang yang bisa dijadikan pembangkit listrik tenaga angin. Dua kekayaan alam yang sebearnya potensial.

Tapi, tentu saja semua tidak semudah itu. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan dulu sebelum pembangkit listrik dengan tenaga terbarukan itu bisa hadir. Salah satunya mungkin soal kesinambungan. Saya sudah pernah melihat ada banyak pembangkit listrik skala kecil yang akhirnya mangkrak karena kesalahan manajemen. Setelah alat-alat rusak, tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya. Pada akhirnya, warga menyerah dan kembali menengadahkan tangan ke PLN.

*****

Urusan listrik di Papua memang masih rumit. Masih banyak daerah yang belum mencicipi rasanya listrik 24 jam dan ini tentu sedikit banyaknya berpengaruh pada kinerja pemerintahan daerah. Layanan dasar kepada warga pun jadi terhambat. Bahkan di beberapa tempat, stok obat-obatan terpaksa dibuang karena puskesmas tidak punya genset yang bisa menjamin listrik menyala sepanjang hari dan menghidupi kulkas penyimpanan obat-obatan mereka.

Jadi buat kita yang kesal karena listrik padam berjam-jam, ingatlah kalau masih banyak saudara-saudara kita yang bahkan merasakan mati listrik pun tidak pernah karena memang rumah mereka belum dialiri listrik. Termasuk di Papua. [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (1)

  1. Apa mungkin karena belum terlalu terlalu tergantung dengan listrik yang berarti belum terlalu terpengaruh teknologi pemandangam di papua sana indah banget. Lihat fotonya saja adem rasanya.

    Semoga saja ke depannya listrik bisa lebih baik lagi di papua, supaya kehidupan warga lebih mudah apalagi di puskesmas. Sayang banget kalau obatnya dibuang.

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.