Hampir Celaka Karena Microsleep
Gara-gara microsleep atau tertidur sejenak tanpa disadari, saya hampir saja terlibat sebuah kecelakaan yang bisa berefek parah atau bahkan menghilangkan nyawa.
Saya keluar rumah sekitar pukul 3 dini hari. Penerbangan saya pukul 5:45, jadi waktunya masih cukup untuk perjalanan dari rumah ke bandara. Toh lalu lintas dini hari tidak akan terlalu ramai. Saya sengaja memesan taksi daring dan tidak minta diantar, kasihan kalau harus meminta tolong diantar pukul 3 dini hari.
Taksi daring yang saya pesan Daihatsu Sigra, memberi tanda dengan klakson kalau dia sudah ada di depan rumah. Saya menaikkan koper lalu duduk di kursi belakang sebelah kiri, berseberangan dengan supir yang ada di baris depan.
“Memang biasa keluar jam segini pak?” Saya coba berbasa-basi dengan si pak supir.
“Tadi saya sudah di rumah waktu ada pesanan masuk, jadi sekalian saja keluar lagi,” jawabnya. Dia kemudian melanjutkan, “Memang biasanya saya keluar jam segini, nanti balik pagi jam 9 terus tidur dulu, lanjut lagi sore.”
Percakapan kami kemudian tidak panjang. Dia sibuk mengendarai mobil, saya sibuk menatap layar ponsel. Jalanan sepi, lampu lalu lintas sudah tidak beroperasi. Hanya ada satu-dua kendaraan yang melintas.
Hampir Celaka
Di salah satu jalan tidak terlalu jauh dari perempatan masuk ke bandara Sultan Hasanuddin, dari jauh sekira 100 meter saya melihat sebuah truk boks melintang di jalan. Truk ini mencoba memutar balik, tapi karena badannya terlalu panjang dia berhenti sebentar, melintang di jalan. Saya bisa melihatnya dengan jelas karena saat itu saya sudah berhenti menatap ponsel dan ganti menatap ke depan.
Mobil yang saya tumpangi berjalan dengan kecepatan antara 50-60 km/jam. Idealnya ketika melihat di depan ada kendaraan yang melintang, kita harus menurunkan kecepatan dan bersiap untuk mengerem. Tapi ini tidak. Mobil yang saya tumpangi tetap dalam kecepatan stabil, tidak ada tanda-tanda mengurangi kecepatan padahal truk boks besar itu sudah semakin dekat.
Saya tercekat. Ini pasti ada yang tidak beres, kata saya dalam hati. Secara refleks saya memegang pengangan tangan di dekat pintu dan bersiap dengan kemungkinan terburuk.
“Pak! Pak! Pak!” Suara saya meninggi, setengah berteriak memanggil si pak supir.
Dia kaget, tersentak dan dengan refleks menekan pedal rem sambil menurunkan gigi. Suara decit ban di atas aspal terdengar jelas. Mobil tetap bergerak ke depan sebelum benar-benar berhenti mungkin sekitar 20cm dari boks besi di belakang truk itu.
“Astaghfirullah!” Kata itu keluar dari mulut pak supir. Saya tidak tahu pasti, tapi saya bisa menebak jantungnya berdegup jauh lebih kencang dari biasanya. Saya pun menghela napas, jantung saya juga sempat terpompa lebih cepat.
“Maaf pak, saya ketiduran,” ucapnya lagi.
Kami hampir saja celaka. Hanya berjarak sekitar 20cm dari sebuah kecelakaan yang saya asumsikan akan sangat berefek pada si pak supir.
Masih Dilindungi
Apa yang terjadi pada si pak supir dikenal dengan istilah microsleep. Kondisi ketika seseorang tertidur secara tiba-tiba dalam durasi yang sangat singkat, biasanya hanya sekitar 1 hingga 30 detik.
Seringkali, orang yang mengalami microsleep tidak menyadari bahwa mereka sempat tertidur atau kehilangan kesadaran sejenak. Hal ini bisa terjadi meski mata tetap terbuka, namun otak sudah tidak lagi memproses informasi dari lingkungan sekitar. Penyebab utamanya memang karena kekurangan tidur, kondisi mengantuk, atau kelelahan ekstrem. Dalam kejadian saya, pukul 3 dini hari memang bukan waktu yang ideal untuk manusia beraktivitas. Itu waktunya tidur.
“Saya sama sekali tidak lihat truk itu,” kata si pak supir. Ini artinya dia sudah tertidur lebih dari 5 detik karena saya sendiri sudah melihat truk itu melintang dari jarak yang lumayan jauh.
Saya tidak bisa membayangkan kalau misalnya saya masih asyik menatap ponsel sehingga tidak awas pada kondisi jalan, atau jika si supir tidak punya refleks bagus saat tiba-tiba terbangun. Sudah bisa dipastikan mobil itu akan menghantam boks besi di belakang truk itu dengan keras. Hasilnya, antara si supir meninggal atau luka parah. Bayangkan mobil Sigra menghantam boks baja dalam kecepatan 50 atau 60 km/jam. Bagian depannya pasti akan ringsek dan berefek pada si supir.
Saya mungkin tidak akan cedera parah karena saya ada di baris belakang, saya sudah mengantisipasi tabrakan dan mungkin bisa berlindung di belakang kursi depan. Tapi kalau ini terjadi, saya tentu tidak bisa meneruskan perjalanan. Saya tidak mungkin turun dari mobil, mengambil koper dan tas saya lalu tetap menuju bandara sambil pamit ke pak supir yang mungkin sudah terjepit dashboar dan setir, atau bahkan sudah meninggal.
“Maaf ya pak, saya duluan. Saya ada penerbangan jam 5.”
Tidak mungkin kan? Saya harus tetap tinggal di situ, atau bahkan mungkin akan jadi saksi dalam sebuah proses investigasi kecelakaan. Artinya, pekerjaan saya tertunda dan ada orang lain yang akan direpotkan.
Pfiuhhh. Syukurlah itu tidak terjadi. Kami masih dilindungi Tuhan.
Bahayanya Microsleep
Kejadian itu benar-benar terekam dalam ingatan saya. Saya merasa sangat beruntung dini hari itu. Beruntung karena masih diselamatkan dari sebuah kejadian yang mungkin saja merenggut nyawa seseorang.
Kejadian itu menjadi bukti betapa bahayanya microsleep ketika berkendara. Satu atau dua detik tertidur bisa sangat panjang efeknya. Dari rentetan masalah berhubungan dengan pekerjaan sampai bisa saja nyawa yang hilang.
Tidak ada cara lain untuk menghindari microsleep selain tidur dan istirahat yang cukup. Meyakinkan diri kalau tubuh kita fit dan mental kita siap ketika akan membawa kendaraan. Satu kesalahan kecil bisa berefek sangat panjang, bahkan mungkin menghilangkan nyawa. Kita tidak mau seperti itu, bukan?
Ketika akhirnya kami tiba di bandara, saya bilang ke pak supir, “Istirahat dulu pak. Tidur dulu sebentar.” Meski saya tidak lagi jadi penumpangnya tapi saya tidak mau ada sesuatu yang buruk terjadi pada dia, walaupun saya yakin setelah kejadian itu rasa kantuknya pasti sudah hilang sama sekali.
“Iya pak. Ini mau mampir di masjid (bandara) dulu, istirahat sekalian salat subuh,” katanya.
Ya sudahlah, semoga saja dia memang jadi lebih segar setelah istirahat nanti dan semoga perjalanannya aman sampai di rumah. Semoga hal seperti ini tidak akan terjadi lagi, baik buat saya maupun buat si pak supir. Mungkin buat kalian semua juga yang membaca tulisan ini. [dG]