Cerita Ringan

Lebih Penting Mana, Bakat atau Latihan?


Ada orang yang memang punya bakat besar dalam suatu hal. Hanya butuh polesan sedikit, dan tiba-tiba dia sudah sangat menguasainya.  


Mira Lesmana kecil pulang cepat hari itu. Ada pelajaran kosong. Setiba di rumah dia langsung masuk ke kamar, tidur-tiduran di ranjang. Saat asyik bersantai, dari ruang tengah terdengar denting piano dengan nada seperti yang biasa dia pelajari dari guru les pianonya. Mira heran, kenapa guru les pianonya datang terlalu cepat? Jadwalnya masih beberapa jam lagi. Oleh sang ayah, Mira memang diminta untuk belajar piano. Adiknya, Indra Lesmana yang masih terlalu kecil sering ikut nimbrung saat Mira belajar piano. Duduk manis di samping Mira sambil memperhatikan kakaknya yang belajar main piano.

Mira keluar dari kamar, menuju ruang tengah. Dia penasaran kenapa sang guru les piano datang terlalu cepat. Tapi pemandangan yang dia saksikan sangat berbeda dengan yang dia bayangkan. Bukan sang guru piano yang bermain di sana, tapi adiknya Indra Lesmana yang masih sangat kecil.

Mira kaget, dan keputusan pertama yang dia lakukan adalah menelepon sang bapak, meminta dia berhenti belajar main piano dan biar Indra saja yang diajar piano. Selama les piano, kemampuan Mira tidak terlalu banyak berkembang, biasa saja. Sebaliknya, Indra yang masih terlalu kecil tapi senang menonton kakaknya belajar piano justru bisa bermain jauh lebih bagus. Jadi tidak salah kalau Mira meminta berhenti belajar piano dan justru Indra yang harus difasilitasi.

Keputusan yang tepat karena kelak kita akan mengenal nama besar seorang Indra Lesmana sebagai seorang musisi papan atas Indonesia. Di usia sangat muda, Jack Lesmana sang ayah bahkan sudah membawa Indra untuk tampil bersamanya di berbagai pertunjukan.

“Please welcome, my five years old son: Indra Lesmana!” Kata sang ayah dalam sebuah rekaman penampilannya di Australia awal tahun 1970an. Indra kecil digelari Wonder Kid yang menggambarkan kemampuannya bermain musik di usia sangat dini.


Indra Lesmana muda bersama sang ayah, Jack Lesmana

*****

Kisah Indra Lesmana itu saya dapatkan di sebuah majalah wanita Indonesia, puluhan tahun lalu. Kisah yang menunjukkan betapa besar bakat seorang Indra Lesmana yang memang punya darah musisi dari sang ayah, Jack Lesmana. Bakat yang tanpa sadar terasah lewat sang kakak, dan keluar di waktu yang tepat.

Sebenarnya ada banyak kisah yang hampir sama dengan detail yang sedikit berbeda.

Slash, yang dikenal sebagai gitaris papan atas dunia dari grup band besar Guns N’ Roses juga punya kesamaan. Dia tidak pernah menyentuh gitar sama sekali sampai kira-kira berusia belasan tahun dan duduk di bangku setingkat SMA ketika dia bertemu dengan Steven Adler, drummer pertama Guns N’ Roses.

Steven lah yang memperkenalkan gitar kepada Slash, mengajarkan Slash bagaimana bermain gitar. Slash sangat tertarik pada instrumen berdawai enam itu. Hari-harinya dihabiskan untuk mempelajari benda itu dan karena dasarnya dia memang berbakat, dia dengan cepat bisa menguasainya. Steven yang memperkenalkannya pada gitar justru kalah jauh. Steven akhirnya memilih untuk banting setir mempelajari drum karena merasa Slash sudah terlalu jago bermain gitar.


Slash muda

Sama seperti Indra Lesmana, Slash juga akhirnya membuka kotak pandoranya. Bedanya, kalau Indra membukanya di usia yang sangat muda, Slash butuh waktu lama sebelum kesempatan membuka kotak itu datang.

Mereka berdua adalah contoh orang yang sangat berbakat, yang hanya butuh sedikit polesan sebelum bakat itu mengembang seperti tepung roti yang diberi ragi. Mereka melewati proses belajar juga, tapi dengan durasi yang lebih sedikit dibanding orang-orang yang bakatnya tidak sebesar mereka.

Saya percaya bakat itu memang ada. Bakat itu membantu seseorang mencapai satu titik tertentu dalam durasi yang pendek. Mereka yang tidak memiliki bakat bisa mencapai titik tersebut dengan kerja keras yang lebih dan tentu saja durasi yang tidak sedikit. Bakat ibarat jalan tol. Orang yang sama-sama berangkat dari Jakarta menuju Bandung bisa tiba di tujuan dengan perbedaaan yang besar kalau salah satunya lewat jalan tol, sementara yang lain lewat jalur Puncak. Tujuannya sama, tapi waktu tibanya berbeda.

Orang seperti Indra Lesmana dan Slash bisa menguasai alat musik dalam waktu singkat karena mereka punya bakat. Sementara musisi lain yang tidak punya bakat harus melewati fase belajar yang keras dan waktu yang panjang sebelum kemampuannya sama seperti mereka berdua.

*****

Ngomong-ngomong soal bakat musik, saya termasuk orang yang tidak punya bakat musik. Saya tidak bisa memainkan alat musik, dan suara saya pun termasuk cocok untuk membubarkan massa. Kalau soal musik, saya hanya menempatkan diri sebagai penikmat, bukan praktisi. Saya hanya senang mendengarkan, tidak bisa memainkan atau bahkan sekadar menyanyikan.

Biasanya, orang yang bisa bermain musik itu memang mulai mengenal alat musik di usia muda. Usia kanak-kanak atau paling tidak usia remaja. Gitar adalah salah satu alat musik yang paling mudah dipelajari dan tongkrongan biasanya jadi tempat untuk belajar bermain gitar.

Di usia remaja saya punya teman-teman yang menguasai alat musik. Minimal bisa bermain gitar standar anak tongkrongan. Tapi saya tidak pernah bisa menguasainya. Alasan pertama, tidak ada teman yang mau mengajar saya. Mungkin karena mereka memang tidak punya insting guru, jadi selalu menolak ketika saya minta diajar. Alasan kedua, saya terlalu gengsi untuk memohon-mohon diajar bermain gitar.

Sebenarnya saya pernah mencoba belajar gitar, tapi karena tidak ada yang mengajarkan dan saya tidak punya bakat, kemampuan saya hanya beranjak malas dari angka nol alias tidak ada peningkatan sama sekali. Mungkin ini juga yang membuat teman-teman saya malas mengajari saya bermain gitar. Buta nada dan tidak ada bakat sama sekali plus memang gampang menyerah. Hingga akhirnya saya benar-benar menyerah dan tidak pernah lagi menyentuh gitar.

Saya adalah contoh orang yang sudah tidak punya bakat, tidak punya kemauan untuk belajar. Jadi ya jangan heran kalau saya memang tidak bisa memainkan alat musik.

*****

Mereka yang diberkahi bakat memang adalah orang-orang yang beruntung. Tapi, mereka yang tidak punya bakat bukan berarti orang yang tidak beruntung. Mereka hanya butuh usaha lebih keras dari mereka yang berbakat. Plus, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Jadi, jangan sia-siakan harimu untuk tidak belajar. Kalau punya mimpi tapi tidak punya bakat, maka belajar dan berusaha adalah kuncinya. Pantang menyerah untuk mengejar mimpi itu, kalau memang kamu merasa mimpi itu pantas untuk diperjuangkan. Kalau tidak, ya biarlah tetap jadi mimpi yang basah.

Zalam zuper! [dG]

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | ipul.ji@gmail.com |

Comments (3)

  1. Hehe menarik. Dan lucu. Punya pengalaman yg hampir sama.

    Saya juga orang yang senang musik. Mungkin karena terlihat keren orang yang pintar nyanyi plus pintar main gitar (banyak cewek yang dekat).. hehe meski tidak punya bakat main gitar dan suara juga di bawah 0, tapi sedikit2 saya tahu kunci nada, dan beberapa kunci lagu saya bisa. Jadi kadang main gitar sambil nyanyi dalam hati…wkwkwk.

    Tapi kalau menurutku daeng, Latihan lebih penting daripada bakat. Meski saya tidak punya bakat, cuman karena sering latihan dan belajar, meski kadang dibilangi, “bagus caraku main gitar, tapi lebih bagus kalau berhenti”. Dan akhirnya bisa juga sedikit karena sering latihan..?

    Dan sia2 juga punya bakat tapi tidak dilatih. Lebih bagus lagi kalau dua-duanya. ?

  2. wah, sama Daeng! saya juga tak pandai bermain musik dan olah raga. soal bakat, sampai sekarang saya juga tak tahu bakat saya apa, karena apa yang saya capai hingga saat ini, sepertinya ya lebih banyak usaha dan kerja kerasnya..

    selain bakat, ada lagi yang cukup berperan dalam kesuksesan: privilege dan keberuntungan!

  3. Jadi inget cerita soal Haruki Murakami. Dia termasuk penulis late bloomer. Kalau tak salah, menurut cerita, sekitar umur 29 waktu nonton baseball, tiba-tiba Murakami terpikir kalau dia bisa nulis cerita. Maka dia tulislah cerita, dan sekarang jadi legenda.

    Tapi saya percaya bahwa secara tak sadar orang-orang itu mempelajari bakatnya, Daeng. Seperti Indra Lesmana yang melihat guru piano mengajarkan kakaknya. Mungkin Slash juga sudah lama melihat-lihat Adler dan teman-temannya main gitar. Mungkin itu bisa masuk ke apa yang dikatakan Mas Zam sebagai privilege.

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.