<?xml version="1.0" encoding="UTF-10"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Daeng Gassing &#187; Wisata</title>
	<atom:link href="http://daenggassing.com/tag/wisata/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://daenggassing.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 04:56:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Corong Promosi Wisata</title>
		<link>http://daenggassing.com/2012/01/corong-promosi-wisata/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2012/01/corong-promosi-wisata/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 05:13:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[blogging]]></category>
		<category><![CDATA[makassar]]></category>
		<category><![CDATA[SulSel]]></category>
		<category><![CDATA[Taka Bonerate]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2216</guid>
		<description><![CDATA[Dua minggu yang lalu tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di kepala saya. Pertanyaan tentang kenapa pemerintah daerah masih kurang yang berpikir untuk menggaet blogger sebagai salah satu corong promosi wisata daerah ? Pertanyaan itu melintas begitu saja sebagai buah pemikiran dari diskusi kelautan yang digelar ISLA Unhas dua minggu yang lalu. Di sesi terakhir banyak mengangkat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2217" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_4774.jpg"><img class="size-full wp-image-2217" title="IMG_4774" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_4774.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Blogger Makassar di Taka Bonerate</p></div>
<blockquote>
<h3>Dua minggu yang lalu tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di kepala saya. Pertanyaan tentang kenapa pemerintah daerah masih kurang yang berpikir untuk menggaet blogger sebagai salah satu corong promosi wisata daerah ?</h3>
</blockquote>
<p>Pertanyaan itu melintas begitu saja sebagai buah pemikiran dari <a href="../../../../../2011/12/wisata-bahari-sulsel-raksasa-yang-tertidur/">diskusi kelautan</a> yang digelar ISLA Unhas dua minggu yang lalu. Di sesi terakhir banyak mengangkat kegalauan peserta dan pembicara soal potensi wisata SulSel yang bukan saja belum digarap serius tapi juga belum dipromosikan dengan baik.</p>
<p>Dalam kalender wisata SulSel ada dua kegiatan besar yang selama tiga tahun belakangan ini berlangsung secara beruntun. Ada <strong><a href="../../../../../2011/11/taka-bonerate-bag-3-potensi-yang-terpinggirkan/">Taka Bonerate Island Expedition</a></strong> yang mengangkat potensi wisata laut Kabupaten Selayar dan ada <strong>Lovely December</strong> yang mengangkat potensi wisata eksotis Tana Toraja. Dua kegiatan ini sudah rutin digelar dalam 3 tahun terakhir.</p>
<p>Sayangnya, meski sudah masuk tahun ketiga tapi tetap saja kedua acara tersebut belum terdengar menggaung jauh ke tingkat nasional dan bisa dipastikan efeknya pada pariwisata SulSel masih belum terasa. Saat berkunjung ke Taka Bonerate November silam, jelas sekali terasa kalau acara ini sama sekali tidak menggaung. Tidak ada informasi akurat tentang acara ini, tidak ada promosi yang menggebu yang kira-kira bisa memancing rasa ingin tahu orang untuk datang. Mencari informasi di internetpun rasanya sia-sia. Benar-benar tidak mencerminkan sebuah promosi wisata yang digarap serius.</p>
<p>Lovely December setali tiga uang. Sepi dari promosi dan terkesan dibiarkan begitu saja. Padahal kedua agenda promosi wisata itu juga menyediakan dana miliaran rupiah sebagai bahan bakarnya. Jumlah yang rasanya tidak sebanding dengan penyelenggaraan acara.</p>
<p>Ketika berada di Taka Bonerate, terlihat jelas kalau acara TIE lebih kepada acara seremonial tanpa visi promosi wisata yang jelas. Undangan yang datang kebanyakan adalah para pejabat beserta jajarannya, mereka yang mungkin memang datang sekadar sebagai tamu, bukan sebagai corong untuk mempromosikan wisata daerah tersebut dengan lebih luas.</p>
<p>Dari situ saya kemudian berpikir, kenapa mereka tidak mengajak para blogger atau penggiat social media untuk menjadi bagian dari promosi wisata ya ?</p>
<p>Blogger dan penggiat social media adalah pilihan paling tepat untuk diminta ikut membantu promosi wisata daerah asalnya. Mereka pasti sudah punya jaringan sendiri dan sudah eksis di dunia maya. Melibatkan mereka adalah sebuah keniscayaan di jaman di mana internet dan segala tetek-bengeknya sudah begitu jauh mempengaruhi kehidupan masyarakat. Para blogger dan penggiat social media itu bisa jadi alat bantu promosi yang tepat, cepat dan tentu saja murah.</p>
<p>Kenapa murah ? Bayangkan saja berapa banyak biaya yang ditekan bila blogger dan penggiat social media dilibatkan dalam sebuah agenda promosi wisata. Biayanya tentu tidak sebesar bila mengundang pejabat dan jajarannya yang tentunya membutuhkan pelayanan kelas satu. Blogger dan penggiat social media pada umumnya adalah orang-orang yang santai dan tidak manja. Mereka pasti akan menerima layanan apa saja yang diberikan, yang penting bisa diajak liburan gratis meski memang ada beberapa yang sudah berlabel seleb yang mungkin menuntut pelayanan lebih.</p>
<p>Undanglah mereka, libatkan mereka dan mintalah mereka mengabarkan kepada dunia tentang potensi wisata di daerah asal mereka. Meski tidak bisa memetik hasilnya secara instant tapi saya yakin <em>impact</em>-nya akan terasa. Minimal potensi wisata daerah akan lebih terekspos di dunia maya dan sisi baik lainnya adalah berita di dunia maya lebih gampang diakses dan terarsip dalam waktu lama.</p>
<p>Masalah mungkin akan timbul bila pihak pengundang menaruh ekspektasi terlewat besar yang hanya berorientasi pada promosi dan menutup diri pada kritikan. Blogger dan penggiat social media yang diundangnya diberi batasan dalam menuliskan catatan perjalanannya. Tidak boleh menuliskan hal-hal yang kurang apalagi yang buruk dari acara tersebut.</p>
<p>Ini tentu bertentangan dengan spirit kebebasan berekspresi yang dianut para blogger dan penggiat social media.</p>
<p>Jadi intinya memang ada pada niat pemerintah daerah. Bila memang mereka mau dan punya niat tulus untuk mempromosikan wisata daerah mereka maka tidak ada alasan untuk tidak melibatkan blogger atau penggiat social media dalam rangkaian acara promosi wisata. Tapi, karena niatnya untuk promosi wisata, mereka juga tidak boleh menutup mata atas kekurangan dan kritikan yang masuk. Toh, kalau semua disikapi dengan wajar maka daerah juga yang akan kena imbas positifnya.</p>
<p>Mudah-mudahan di 2012 ini pemerintah daerah Sulawesi Selatan makin terbuka matanya untuk memanfaatkan kemajuan teknologi serta mereka yang terlibat di dalamnya. Kami siap untuk liburan gratis lagi.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/corong-promosi-wisata/" title="promosi wisata">promosi wisata</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/corong-promosi-wisata/" title="media informasi promosi wisata">media informasi promosi wisata</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-2216"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2012%2F01%2Fcorong-promosi-wisata%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2012/01/corong-promosi-wisata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Takabonerate Bag.1 ; Jalan Panjang Menuju Surga</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 01:21:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau]]></category>
		<category><![CDATA[Taka Bonerate]]></category>
		<category><![CDATA[Takabonerate]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2045</guid>
		<description><![CDATA[Kata orang, jalan ke surga itu panjang dan berliku. Sebuah berita menyenangkan menghampiri kami. Komunitas blogger Makassar mendapat undangan untuk mengunjungi Taman Nasional Takabonerate yang terletak di Kabupaten Kepulauan Selayar bertepatan dengan penyelenggaraan acara Takabonerate Island Expedition (TIE) yang ketiga. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, saya dan 8 orang rekan lainnya langsung mempersiapkan diri menuju sebuah kawasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2046" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4186.jpg"><img class="size-full wp-image-2046 " title="IMG_4186" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4186.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Pemandangan dari dermaga penyeberangan Tanah Beru, Bulukumba</p></div>
<blockquote>
<h3>Kata orang, jalan ke surga itu panjang dan berliku.</h3>
</blockquote>
<p>Sebuah berita menyenangkan menghampiri kami. Komunitas blogger Makassar mendapat undangan untuk mengunjungi Taman Nasional Takabonerate yang terletak di Kabupaten Kepulauan Selayar bertepatan dengan penyelenggaraan acara <strong>Takabonerate Island Expedition (TIE) </strong>yang ketiga. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, saya dan 8 orang rekan lainnya langsung mempersiapkan diri menuju sebuah kawasan wisata laut yang sebenarnya memang sudah lama membuat saya penasaran.</p>
<p>Perjalanan dimulai dari terminal bis Mallengkeri, Makassar sekitar jam 9 pagi. Terminal bis yang berada di selatan kota Makassar ini memang menghubungkan Makassar dengan kabupaten lainnya yang berada di sebelah selatan kota, termasuk Selayar tentu saja. Sebuah bis besar mengantar kami di cuaca pagi yang sedikit berawan itu.</p>
<p>Meski termasuk besar dan sekelas dengan bis patas AC di pulau Jawa, tapi bis Aneka yang kami tumpangi ternyata tidak cepat dan tidak terbatas. Laju bis ?tidak terlalu cepat, bahkan beberapa kali mampir untuk mengambil penumpang meski kursi reguler sudah terisi penuh. Akhirnya ?penumpangpun sesak dan bahkan ada yang duduk di lorong antara deretan kursi.</p>
<p>Sekitar pukul 4 sore atau 7 jam kemudian kami tiba di terminal penyeberangan Tanah Beru, Bulukumba. Selayar adalah sebuah pulau besar di Selatan pulau Sulawesi, dan untuk menyeberang ke sana kami harus menggunakan jasa kapal feri yang berlayar dua kali sehari menghubungkan pulau Selayar dengan pulau Sulawesi.</p>
<p>Kapal feri agak terlambat dari jadwal, kami baru berangkat sekitar satu jam kemudian dan selama kurang lebih 2,5 jam kemudian kami habiskan di atas kapal feri. Ini pengalaman pertama saya menumpang kapal feri, dan hampir tidak ada bedanya dengan kapal penyeberangan lainnya selain karena kapal feri memang lebih banyak memberi ruang untuk kendaraan bermotor.</p>
<div id="attachment_2047" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4244.jpg"><img class="size-full wp-image-2047 " title="IMG_4244" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4244.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Sunset dari atas Feri</p></div>
<p>Setelah perjalanan sekitar 2,5 jam melintasi lautan dan sempat menikmati sunset dari atas feri, kami akhirnya menginjakkan kaki di tanah Selayar. Tapi perjalanan belum selesai karena kami masih harus menuju kota Benteng, ibukota kabupaten kepulauan Selayar. Jarak dari dermaga penyeberangan ke kota Benteng ternyata lumayan jauh, total sekitar 1,5 jam kami habiskan sebelum sampai di terminal kota Benteng.</p>
<div id="attachment_2048" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4323.jpg"><img class="size-medium wp-image-2048" title="IMG_4323" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4323-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Tinabo Dive Center</p></div>
<p>Perjalanan jauh dengan waktu tempuh sampai 12 jam lebih itu akhirnya pungkas juga ketika kami tiba di pusat kota Benteng. Setelah mengisi perut dan mengunjungi <strong>Tinabo Dive Center</strong>, kami beranjak menuju rumah Kadis Pariwisata kabupaten kepulauan Selayar. Di sana kami berbincang sejenak sekaligus berdiskusi soal kondisi taman nasional Takabonerate, tentang sebuah kawasan dengan atol terbesar ketiga di dunia tapi sampai saat ini masih belum dikelola dan dipromosikan secara optimal.</p>
<p>Malam sudah cukup larut ketika kami pamit dari rumah bapak kepala dinas dan menuju penginapan yang sudah disiapkan beliau. Hanya sejenak menaruh barang bawaan dan membasuh muka, kami sudah langsung menuju <strong>caf? Tempat Biasa (TB).</strong> Sebuah kafe yang berdiri atas inisiatif beberapa pecinta laut, sekaligus jadi tempat berkumpulnya para diver dalam naungan <strong>Sileya Dive Center</strong>. Di sana kami banyak berbincang tentang Takabonerate, sekaligus menggali banyak informasi tentang sebuah kawasan yang begitu indah namun seperti terlupakan itu.</p>
<h3><strong>Gusung dan Perjalanan Panjang Ke Jinato</strong></h3>
<p>Seperti umumnya orang liburan, tidur selalu jadi pilihan akhir. Saya yang sekamar dengan <strong><a href="http://lelakibugis.net/">Lelakibugis</a> </strong>dan <strong><a href="http://cikal61.blogspot.com/">Cikal</a> </strong>masih sempat ngobrol sampai menjelang subuh sebelum akhirnya memejamkan mata. Pagi itu kami menjadwalkan akan mengunjungi sebuah pulau di seberang Selayar bernama <strong>Gusung</strong>. Menurut informasi, di sana ada <em>spot </em>keren untuk snorkling.</p>
<div id="attachment_2049" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4357.jpg"><img class="size-medium wp-image-2049" title="IMG_4357" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4357-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Perahu cadik yang mengantar kami ke Gusung</p></div>
<p>Dengan perahu cadik yang memuat sampai 11 orang, kami akhirnya menyeberang. Cuaca sangat mendukung, awan menggantung di atas dan menutupi matahari sehingga kami bisa menikmati perjalanan menyeberang yang memakan waktu hampir 30 menit itu.</p>
<p>Sayang sekali karena pagi itu air laut rupanya surut sangat jauh, sehingga <em>spot</em> yang dimaksud jadi tidak terlihat. Akhirnya kami cuma jalan-jalan mengitari pulau yang meski sangat luas namun hanya dihuni sekitar 200an KK itu. Hal yang cukup menghibur adalah banyaknya lukisan alam yang bisa saya abadikan dengan kamera.</p>
<p>Menjelang jumatan, kami akhirnya kembali ke Selayar. Bersiap-siap untuk perjalanan selanjutnya yang merupakan inti dari perjalanan panjang ini.</p>
<div id="attachment_2051" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4456.jpg"><img class="size-full wp-image-2051" title="IMG_4456" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4456.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Pemandangan indah di pulau Gusung</p></div>
<p>Selepas jumatan dan mengisi perut, kami bergegas ke <strong>dermaga Rauf Rahman</strong> yang berada dalam kota Benteng. Di sana sudah ada sebuah kapal kayu besar yang bisa memuat 200an penumpang. Kapal inilah yang akan kami gunakan untuk menyeberang ke <strong>pulau Jinato</strong>, salah satu dari 21 pulau yang termasuk dalam kawasan <strong>Taman Nasional Takabonerate</strong>. Kapal sudah sesak dipenuhi oleh para undangan dari berbagai instansi yang memang diundang untuk menikmati TIE. Di atas kapal juga ikut rombongan ibu-ibu PKK termasuk ibu bupati.</p>
<p>Menjelang pukul 3 sore kapal akhirnya meninggalkan kota Benteng. Dari informasi yang kami dapat, perjalanan akan ditempuh dalam waktu 7 sampai 8 jam. Perjalanan yang panjang dan melelahkan pastinya. Kami duduk di haluan kapal, beratapkan langit biru karena bagian khusus untuk penumpang tentu saja diutamakan untuk rombongan pejabat dan ibu bupati. ?Lagipula, duduk di haluan rasanya lebih menyenangkan daripada di dalam ruangan yang sumpek.</p>
<div id="attachment_2052" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4511.jpg"><img class="size-full wp-image-2052" title="IMG_4511" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4511.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana di atas kapal motor ke Jinato</p></div>
<p>Suasanya sungguh berkesan, berbaur dengan puluhan penumpang lainnya kami bisa menikmati hamparan lautan luas dan tentu saja matahari terbenam yang tak terlindungi hutan beton. Ketika malam merambat datang, bintang-bintang terlihat begitu indah. Kerlap-kerlip bintang dan hembusan ringan angin laut sungguh membuaikan. Sebuah pengalaman yang sungguh berkesan.</p>
<p>Selama 8 jam kami melintasi selat Flores menuju pulau Jinato. Beruntung karena cuaca sangat mendukung, pun laut sangat tenang sehingga kekuatiran kami akan mabuk laut tidak menjadi kenyataan. Meski begitu, tak urung saya sempat terserang sakit kepala. Mungkin karena keletihan. Berkali-kali saya mencoba berbaring di atas lantai kayu kapal, sempat tertidur meski tidak terlalu nyenyak.</p>
<p>Betul-betul sebuah perjalanan panjang menuju surga.</p>
<p><strong><em>( bersambung ke bagian kedua )</em></strong></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/" title="foto pemandangan di selayar">foto pemandangan di selayar</a> (4)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/" title="perahu sibolga">perahu sibolga</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/" title="foto pemandangan surga dunia">foto pemandangan surga dunia</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/" title="dari makassar ke takabonerate">dari makassar ke takabonerate</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/" title="Bis Selayar">Bis Selayar</a> (2)</li></ul><div class="shr-publisher-2045"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F11%2Ftakabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Indonesia Hobby Belanja ?</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/03/orang-indonesia-hobby-belanja/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/03/orang-indonesia-hobby-belanja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Mar 2011 10:14:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[belanja]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1198</guid>
		<description><![CDATA[Ada pameo yang mengatakan kalau orang Indonesia itu jagoan belanja. Ketika mengunjungi tempat wisata, hal pertama yang dicari adalah tempat belanja, pun ketika akan kembali ke tempat asal. Belanja pasti jadi agenda utama. Beberapa kali saya ikut rombongan wisata kantor yang isinya kebanyakan wanita dan pria yang memang lebih histeris ketika masuk ke tempat belanja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><h3>
<p><div id="attachment_1199" class="wp-caption aligncenter" style="width: 660px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/03/Mall.jpg"><img class="size-full wp-image-1199" title="Mall" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/03/Mall.jpg" alt="" width="650" height="432" /></a><p class="wp-caption-text">Mall, salah satu tujuan utama belanja</p></div></h3>
<h3><strong><em>Ada pameo yang mengatakan kalau orang Indonesia itu jagoan belanja. Ketika mengunjungi tempat wisata, hal pertama yang dicari adalah tempat belanja, pun ketika akan kembali ke tempat asal. Belanja pasti jadi agenda utama. Beberapa kali saya ikut rombongan wisata kantor yang isinya kebanyakan wanita dan pria yang memang lebih histeris ketika masuk ke tempat belanja daripada tempat wisata, apalagi wisata budaya. Berikut adalah tulisan saya.</em></strong></h3>
<p>Wanita itu mulai bosan. Jelas sekali raut kebosanan terlihat pada wajahnya, juga pada bibirnya yang sedikit cemberut. Alunan gamelan Bali dan pertunjukan barong beberapa meter di depannya sama sekali tidak mampu membuatnya sedikit ceria. Ketika penonton lain terpaku, dia malah terkantuk.</p>
<p>Puluhan menit kemudian, acara selesai. Semua hadirin bertepuk-tangan, pun dengan wanita itu. Api semangat membara di kedua matanya. Semangat itu juga yang kemudian membawanya menelusuri toko pakaian di kawasan Galuh, Bali. Seperti kesetanan dia menelusuri setiap sudut toko pakaian itu, tas plastik di tangannya menggembung, tanda kalau belasan potong pakaian dijejalkan ke dalamnya, mungkin malah puluhan potong.</p>
<p>Si ibu itu adalah salah seorang rekan kantor saya. Usianya sekitar pertengahan 30an. Kejadian di atas adalah kejadian ketika kami dan rombongan berwisata ke Bali atas biaya kantor. Selama acara si Ibu jauh lebih menikmati sebuah momen belanja daripada momen berwisata, apalagi menikmati atraksi budaya. Ketika mengunjungi Garuda Wishnu Kencana (GWK) si ibu lebih memilih duduk di pojokan daripada menikmati penjelasan tentang rencana besar membangun sebuah ikon di tanah Bali tersebut.</p>
<p>Matanya langsung berbinar cerah, ketika bus rombongan berhenti di sebuah gerai pakaian yang isinya adalah barang-barang kena diskon. Keluhannya tentang tubuh yang capek setelah perjalanan jauh mendadak hilang seketika, berganti dengan semangat layaknya pejuang kemerdekaan, dia menelusuri hampir seluruh sudut toko. Hasilnya, hampir sejam kemudian dia naik ke bus dengan beberapa tentengan tas belanjaan dan wajah sumringah. Luar biasa.</p>
<p><strong>Apakah pelaku utama doyan belanja itu cuma ibu-ibu ? Sepertinya tidak juga.</strong></p>
<p>Suatu waktu saya juga pernah memimpin rombongan bapak-bapak ke Bali. Kejadian yang sama juga saya alami. Ketika menyusun jadwal dan tujuan kunjungan, mayoritas peserta menolak ketika saya mencoba memasukkan opsi menonton pertunjukan budaya, mereka lebih memilih tempat belanja. Dan, hampir tak ada bedanya dengan para ibu-ibu, para bapak-bapak itu mengamuk sebisanya di tempat belanja. Apalagi ketika masuk ke pasar Sukawati.</p>
<p>Sebelum turun dari bis, saya saya sudah memberikan penegasan. Semua anggota rombongan berkumpul kembali sekitar 2,5 jam kemudian. Tapi apa yang terjadi ? ketika waktu sudah lewat beberapa belas menit, bis masih kosong. Saya terpaksa masuk ke dalam pasar dan menelusuri lorong-lorong untuk mengumpulkan anggota rombongan yang tercecer.</p>
<p>Susahnya, karena tidak bisa terkumpul dalam waktu bersamaan maka anggota yang sudah terlanjur tiba di meeting point dan mulai diterpa kebosanan menunggu akhirnya malah turun dan kembali ke dalam pasar. Waaahh..repotnya setengah mati. Bapak-bapak ini ternyata sama gilanya dengan para ibu-ibu kalau soal belanja.</p>
<p><a href="http://naked-traveler.com/">Trinity</a> dalam sebuah bukunya juga pernah cerita bagaimana di luar negeri orang Indonesia itu terkenal sebagai salah satu ras wisatawan yang paling doyan belanja. Bukannya jalan-jalan ke tujuan wisata khas ( apalagi museum ) malah rajin menyambangi tempat belanja. ?Andrea Hirata dalam buku Edensor juga punya cerita yang sama.</p>
<p>Anda semua mungkin sudah tahu kalau di Saudi Arabia sebagian besar pedagang di sana sampai belajar sedikit bahasa Indonesia, utamanya bahasa yang dipakai dalam proses tawar menawar. Ini tentu saja karena jemaah haji asal Indonesia di samping merupakan jemaah haji terbanyak di dunia juga adalah jemaah haji yang paling rajin belanja. Dulu sebelum kuota barang ditetapkan, seorang jemaah haji yang baru saja menunaikan ibadah ke tanah suci bisa pulang sambil membawa ole-ole yang cukup buat orang sekelurahan. ?Itu belum termasuk buat dirinya dan keluarganya sendiri.</p>
<p>Beberapa contoh di atas sepertinya sahih untuk menegaskan kalau sebagian besar orang Indonesia memang rajin belanja, utamanya ketika berwisata dan jauh dari tempat asal. Apa penyebabnya ? benarkah ini budaya ? Entahlah, tapi sejauh yang saya tahu sebagian besar dari orang Indonesia memang lebih menikmati tujuan wisata belanja daripada tujuan wisata budaya ketika berada di tempat berbeda. Tak elok rasanya berwisata jika pulang tanpa ole-ole. Semakin banyak semakin hebat.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan anda ? Lebih suka wisata belanja atau wisata budaya ?</strong></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/03/orang-indonesia-hobby-belanja/" title="hobby belanja">hobby belanja</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/03/orang-indonesia-hobby-belanja/" title="hobby orang indonesia">hobby orang indonesia</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/03/orang-indonesia-hobby-belanja/" title="hobi orang indonesia">hobi orang indonesia</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/03/orang-indonesia-hobby-belanja/" title="tempat belanja Galuh bali">tempat belanja Galuh bali</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/03/orang-indonesia-hobby-belanja/" title="contoh gambar mall">contoh gambar mall</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-1198"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F03%2Forang-indonesia-hobby-belanja%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/03/orang-indonesia-hobby-belanja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TIPS WISATA MURAH KE DJOGDJA BAGI ANAK MAKASSAR</title>
		<link>http://daenggassing.com/2010/01/tips-wisata-murah-ke-djogdja-bagi-anak-makassar/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2010/01/tips-wisata-murah-ke-djogdja-bagi-anak-makassar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 05:15:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Random Post]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[djogdja]]></category>
		<category><![CDATA[tips n trick]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=550</guid>
		<description><![CDATA[Djogdja..!!, uhmm, kota kedua yang sangat saya cintai selain Makassar tentu saja. Banyak hal yang selalu membuat saya jatuh cinta pada kota ini bahkan membuat saya berpikir untuk menghabiskan hari tua di sana. Dalam setahun belakangan ini rasa cinta saya akan Djogdja makin kental apalagi karena sekarang Ofie dan Hilmy lagi ada di sana dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2010/01/tugu-jogja.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-546" title="tugu-jogja" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2010/01/tugu-jogja.jpg" alt="" width="535" height="304" /></a></p>
<p>Djogdja..!!, uhmm, kota kedua yang sangat saya cintai selain Makassar tentu saja. Banyak hal yang selalu membuat saya jatuh cinta pada kota ini bahkan membuat saya berpikir untuk menghabiskan hari tua di sana. Dalam setahun belakangan ini rasa cinta saya akan Djogdja makin kental apalagi karena sekarang Ofie dan Hilmy lagi ada di sana dan saya jadi punya banyak alasan kuat untuk selalu kembali ke Djogjdja.</p>
<p>Nah, karena sering ke sana dengan modal yang tak seberapa besar saya akhirnya jadi banyak tahu tentang pilihan bagi para pelancong sederhana atau backpacker dari Makassar yang pengen ke djogjdja dengan dana yang tak seberapa besar. Di tulisan ini? saya ingin berbagi kepada anda, mudah-mudahan ada manfaatnya.</p>
<p><strong>KENAPA KE DJOGDJA ?</strong><br />
Kenapa ke djogja..?, mungkin bagi yang belum pernah ke sana akan bertanya seperti itu. Tapi yang sudah pernah ke sana, rata-rata pasti jadi kepengen ke sana lagi. Secara umum Djogdja adalah kota yang nyaman untuk berwisata dan menetap. Biaya hidup di sana relatif lebih murah bila dibandingkan dengan biaya hidup di kota-kota besar lainnya di Indonesia, termasuk Makassar. Aroma kesederhanaan dan budaya lokal masih kental meski menurut teman saya Djogdja sudah mulai berubah karena kuatnya pengaruh dari para pendatang, meski begitu di Djogdja kita masih bisa merasakan kultur Jawa asli.</p>
<p>Tujuan wisatanya juga beragam, dari wisata alam di pinggiran atau luar kota Djogdja sampai wisata budaya yang berada di dalam kota. Satu lagi, <a href="http://daenggassing.com/tips-wisata-murah-ke-djogdja-bagi-anak-makassar/">Djogja</a> adalah surga bagi pecinta buku karena di sana banyak toko buku, dari buku asli, buku bajakan hingga buku bekas. Dan eitss, wisata kulinernya juga mampu bikin lidah bergoyang tanpa harus menguras kantong. Jadi, ada banyak alasan untuk ke Djogja.</p>
<p><strong><span id="more-550"></span>CARA MURAH KE DJOGDJA.</strong><br />
Oke, sekarang untuk anak-anak Makassar dan sekitarnya yang ingin berliburan ke Djogdja dengan biaya yang tidak begitu besar saya punya tipsnya. Untuk menyeberang ke pulau Jawa sebenarnya ada 2 pilihan, bisa pakai pesawat udara atau kapal laut ke Surabaya. Surabaya memang gerbang utama dan lokasi terdekat yang bisa dijangkau oleh orang Makassar yang ingin ke Jawa. Sebenarnya ada sih pesawat yang langsung ke Djogja meski hanya satu masakapai saja yaitu Merpati, tapi harganya juga lumayan menguras kantong. Untuk hari-hari biasa harganya antara 700-900 ribu rupiah, untuk peak seasons bisa di atas satu juta, jadi untuk perjalanan murah ke Djogdja, via Surabaya adalah pilihan yang masuk akal.</p>
<p>Menyeberang dengan kapal laut memang bisa lebih murah lagi, tapi tentu saja boros di waktu karena untuk ke Surabaya membutuhkan waktu 24 jam dengan biaya sekitar 180-200 ribu untuk kelas ekonomi. Kalau pintar-pintar memilih waktu dan kebetulan sedang beruntung, berangkat dengan pesawat udara ke Surabaya sebenarnya bisa murah juga. Salah satunya adalah pake pesawat dari Citilink. Cek aja di website mereka (http://citilink.co.id), untuk waktu-waktu tertentu kadang mereka memberi harga promo Rp. 99.000,- yang bila ditambah dengan pajak, asuransi dan segala macam jatuhnya hanya sekitar Rp. 219.000,-. Murah kan ? dan lebih cepat lagi bila dibandingkan pake kapal laut.</p>
<p>Tambahan tips, bila anda kurang kenal Djogdja maka usahakan berangkat ke Surabaya dari Makassar menggunakan pesawat yang berangkat pagi atau maksimal jam 10 pagi. Ini untuk jaga-jaga jangan sampai anda tiba di Djogdja terlalu malam, soalnya bisa repot kalau anda belum kenal Djogjdja tapi tibanya malam hari. Ya sekedar buat jaga-jaga saja.</p>
<p>Kalau pake Citilink, usahakan ambil yang jam 10 pagi dan kalau tidak delay anda akan tiba di Surabaya jam 10 pagi juga, atau kira-kira jam 11 waktu sanalah.? Tiba di bandara Juanda langsung aja jalan keluar dari terminal kedatangan, di luar gerbang bakal banyak calo, supir taksi dan tukang ojek yang menawarkan ini-itu, cuek sajalah berpura-pura anda sudah biasa. Langsung aja jalan ke depan terminal kedatangan, di sana sudah ada DAMRI bandara yang bisa mengantar anda langsung ke terminal Purabaya/Bungurasih tempat kita akan melanjutkan perjalanan ke Djogdja. Tarifnya Rp. 15.000,- sampai Bungurasih.</p>
<p>Setiba di Bungurasih langsung aja masuk ke terminal, sekali lagi jangan pernah tergoda bujukan calo yang akan selalu menggoda anda sepanjang perjalanan dari pintu masuk sampai ke dalam terminal. Saya pernah tertipu sama salah satu dari mereka, dulu sekali waktu saya baru pertama kalinya ke Semarang via Surabaya. Jadi, berhati-hatilah.</p>
<p>Bus yang akan ke <a href="http://daenggassing.com/tips-wisata-murah-ke-djogdja-bagi-anak-makassar/">Djogja</a> ada di jalur satu. Busnya ada 2 macam, kelas Patas dan Ekonomi, perbedaan harganya lumayanlah. Bus Patas tarifnya Rp. 63.000,- sedang kelas Ekonomi sekitar Rp. 30.000-an. Bedanya, Patas pake AC, tidak ngetem di terminal-terminal kecil dan harga tadi termasuk makan satu kali di Ngawi. Sedang bus Ekonomi, ya namanya saja ekonomi jadi yang pasti siap-siap sengsara saja dalam perjalanan panjang tanpa AC, pengap karena asap rokok dan bus yang rajin mampir dan ngetem di terminal-terminal kecil. Jadi, silakan pilih saja.</p>
<p>Perjalanan darat ke Djogja berkisar antara 8-9 jam dengan bus Patas tapi bisa lebih lagi bila pake bus ekonomi. Sebenarnya ada pilihan lain yaitu pake kereta api, tapi karena jadwal kereta yang pasti dan hanya sekali sehari jadinya agak repot karena kita harus menyesuaikan dengan jadwal pesawat supaya tidak kelamaan di stasiun atau malah ketinggalan kereta. Lagipula belum tentu kita bisa dapat jadwal pesawat yang pas dengan harga tiket yang murah. Jadi, saran saya kita ke Djogdja via Surabaya pake bus saja. Okeh..?</p>
<p><strong>SETIBA DI DJOGDJA.</strong><br />
Setelah melewati perjalanan selama kurang lebih 8-10 jam (tergantung jenis bus yang anda pilih) anda akan tiba di Djogdja. Bus dari Surabaya yang biasanya bertujuan akhir di Magelang akan mampir di Djogja, tepatnya di terminal Giwangan. Terminal Giwangan ini adanya di sebelah selatan kota Djogdja, agak jauh dari pusat kota.</p>
<p>Turun dari terminal anda akan kembali dikerubuti tukang ojek dan supir taksi yang menawarkan jasa. Karena judulnya perjalanan backpacking maka jelas tukang ojek yang jadi pilihan. Selama di Djogdja anda bisa mencari tempat menginap di sekitaran Malioboro, di sana banyak penginapan murah di bawah 100 ribu semalam. Kenapa cari di sekitaran Malioboro ?, Malioboro bisa dibilang adalah pusat kota Djogdja karena di sana denyut nadi pariwisata cukup kencang berdenyut selain itu karena di sana banyak pilihan penginapan murah seperti yang saya bilang tadi.</p>
<p>Dari terminal Giwangan bernegosiasilah dengan tukang ojek. Tarif ke Malioboro adalah Rp. 20.000,-, kalau dia minta lebih bilang aja ? biasanya juga segitu?. Kalau anda tidak kuat menawar ya paling tidak jangan lebih dari Rp. 25.000,- lah. Sepanjang perjalanan anda bisa ngobrol sama tukang ojek, siapa tahu anda bisa janjian untuk mencarter ojeknya keliling kota Djogdja atau minta diantar ke tempat-tempat wisata. Sebagai gambaran, sewa motor di Djogja untuk sehari biasanya berkisar antara Rp. 50.000,-</p>
<p>Sekarang soal penginapan, seperti yang saya bilang tadi penginapan murah banyak berserakan disekitar Malioboro, salah satunya adalah di sekitar jalan Sosrowijayan. Dulu saya pernah nginap di losmen 105 dengan tarif Rp. 35.000,- semalam. Tempatnya lumayan bersih, satu kamar dengan satu kamar mandi plus kipas angin di plafond. Anda juga bisa keluar masuk satu losmen ke losmen yang lain, mencari yang paling pas sebelum menjatuhkan pilihan. Jangan takut, mereka tidak akan marah kalau anda sudah melihat kondisi kamar tapi batal menginap.</p>
<p>Untuk makan, silakan cari makanan di sekitaran Malioboro. Tapi bagi backpacker, makan di lesehan kayaknya bukan pilihan utama deh, soalnya harga makanan di sana adalah harga makanan untuk turis jadi jelas lebih mahal. Carilah makanan yang dijajakan di gerobak di jalan-jalan kecil yang bermuara di Malioboro. Harganya lebih murah dan rasanya juga tidak kalah lezatnya. Kalau misalnya sempat, di malam hari anda bisa ke daerah Jl. Kaliurang sekitar kampus UGM. Di sana lebih banyak lagi pilihan tenda makan pinggir jalan dengan harga yang juga murah.</p>
<p>Sebagai perbandingan, saya pernah makan di warung tenda pinggir jalan dengan menu 2 porsi pecel lele, 1 porsi tempe penyet dan 3 gelas air jeruk, saya hanya harus membayar Rp. 15.000,- !!, saya juga pernah makan di rumah makan permanen (namanya SS=Spesial Sambel) dengan menu 2 porsi pecel lele (isi 4 ekor), 1 porsi ikan kecil, nasi sebakul, sambel 2 macam dan 3 es teh dengan harga Rp. 26.000,-. Lumayan murah kan ? rasanya lezat lagi..</p>
<p>Tujuan wisata yang bisa dikunjungi selama di Djogdja ada banyak macam. Di dalam kota sendiri ada Keraton, berbagai museum, candi Prambanan dan tentu saja Malioboro sendiri. Bagi penggemar buku, dari Malioboro anda bisa jalan ke arah timur menuju area Shopping, pusat penjualan buku bekas dan buku murah. Untuk mengunjungi keraton anda bisa berjalan kaki dari Malioboro atau bisa naik becak yang tarifnya Rp. 5.000,- sampai ke keraton di arah selatan Malioboro. Untuk tujuan wisata di luar kota anda bisa mengunjungi candi Borobudur, Kaliurang dan Pantai Parangtritis yang berombak tinggi.</p>
<p>Sebagai informasi, anda bisa mendapatkan peta Djogdja secara gratis yang bisa diambil di toko Mirota Batik di ujung selatan Malioboro pas di seberang pintu masuk pasar Beringharjo. Meski tidak skalatis tapi petanya lumayan informatif kok.</p>
<p>Untuk mengunjungi objek-objek wisata itu anda bisa berjalan kaki atau naik becak (untuk objek wisata yang dekat dari Malioboro) atau naik trans Djogdja (untuk ke Prambanan atau objek wisata yang lain). Tarif trans Djogdja lumayan murah, Rp. 3.000,- sekali jalan. Di jalan Malioboro ada shuttle-nya, anda bisa bertanya-tanya dan cari informasi di sana. Atau kalau anda berani jalan sendiri berbekal peta anda bisa saja mencari rental motor, informasi bisa didapat dari losmen tempat anda menginap. Harganya seperti yang saya bilang di atas, sekitar Rp. 50.000,- sehari.</p>
<p>Oh ya, tambahan informasi untuk penginapan. Kalau anda berniat tinggal di Djogdja lebih dari seminggu maka sebenarnya akan lebih murah bila anda menginap di kost-kostan. Anda bisa menyewa satu kamar dengan membayar sekitar Rp. 200-250 ribu tergantung jenis kostnya. Itu adalah harga sewa untuk sebulan, tapi jelas harga itu lebih murah daripada menyewa kamar untuk seminggu misalnya. Cara ini lebih murah meski memang agak sulit karena anda setidaknya harus sudah tahu mau kost di mana bila tidak mau membuang waktu hanya untuk mencari kostan lebih dahulu.</p>
<p><strong>KEMBALI KE MAKASSAR.</strong><br />
Nah, setelah berpuas-puas menjelajahi Djogdja sekarang anda harus kembali ke Makassar. Jalur yang ditempuh sama saja dengan jalur ketika berangkat. Saran saya, pilihlah penerbangan yang tidak terlalu siang supaya anda tidak terlalu lama di bandara Juanda, atau anda bisa memilih penerbangan malam, tapi yang di atas jam 6 sore. Kalau pake Citilink jadwal berangkat dari Surabaya jam 6 pagi jadi anda harus meninggalkan Djogja sekitar jam 7-8 malam di malam sebelumnya.</p>
<p>Kenapa jangan mengambil penerbangan yang siang hari ? alasannya begini, kalau anda berangkat dari Djogja jam 8 malam, anda akan tiba di Surabaya jam 4 subuh. Kalau pesawat anda misalnya berangkat jam 12 siang artinya anda harus menunggu sekitar 8 jam di bandara. Lumayan bete kan ? Ya, anda bisa saja menggunakan waktu 8 jam itu untuk jalan-jalan dulu di Surabaya, tapi biasanya tubuh capek setelah berwisata sudah tidak bisa diajak kompromi lagi, selain itu isi kantong juga biasanya sudah sangat-sangat menipis.</p>
<p>Saya lebih senang mengambil jadwal penerbangan pagi dari Surabaya ke Makassar dengan asumsi tiba Surabaya subuh sehingga saya hanya harus menunggu sebentar sebelum berangkat ke Makassar. Saya belum pernah mengambil jadwal berangkat malam hari karena saya agak kuatir perjalanan darat dari Djogja ke Surabaya akan kena macet, beda dengan perjalanan darat malam hari yang relatif lebih lancar. Lagipula naik bus malam hari sepertinya memang lebih asyik karena lebih banyak diwarnai dengan tidur, hehehe.</p>
<p>Alur perjalanannya sama saja dengan alur perjalanan ketika berangkat, sekarang hanya kebalikannya saja. Turun di terminal Purabaya/Bungurasih terus langsung ambil DAMRI ke bandara. Selanjutnya terserah anda.</p>
<p>Nah, sepertinya apa yang saya tulis di atas lumayan panjang dan mudah-mudahan tidak membosankan. Setidaknya saya hanya ingin berbagi kepada anak-anak Makassar dan sekitarnya yang ingin berwisata ke Djogdja dengan biaya yang tak begitu besar. Untuk wisata sekitar 4 hari anda kira-kira harus mempersiapkan biaya sekitar Rp. 1.500.000,- tentu saja di luar biaya belanja oleh-oleh. Lumayan murah kan..?</p>
<p>Jadi, silakan berhemat untuk jadwal liburan berikutnya. Siapa tahu nanti kita bisa ke <a href="http://daenggassing.com/tips-wisata-murah-ke-djogdja-bagi-anak-makassar/">Djogdja</a> sama-sama&#8230;:)</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2010/01/tips-wisata-murah-ke-djogdja-bagi-anak-makassar/" title="losmen 105">losmen 105</a> (13)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2010/01/tips-wisata-murah-ke-djogdja-bagi-anak-makassar/" title="dari malioboro ke kaliurang naik taksi berapa">dari malioboro ke kaliurang naik taksi berapa</a> (6)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2010/01/tips-wisata-murah-ke-djogdja-bagi-anak-makassar/" title="gan punya info hotel di yogya buat desember 2011">gan punya info hotel di yogya buat desember 2011</a> (6)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2010/01/tips-wisata-murah-ke-djogdja-bagi-anak-makassar/" title="losmen 105 sosrowijayan rp">losmen 105 sosrowijayan rp</a> (4)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2010/01/tips-wisata-murah-ke-djogdja-bagi-anak-makassar/" title="penginapan murah di kaliurang harga dibawah 50 ribu">penginapan murah di kaliurang harga dibawah 50 ribu</a> (4)</li></ul><div class="shr-publisher-550"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2010%2F01%2Ftips-wisata-murah-ke-djogdja-bagi-anak-makassar%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2010/01/tips-wisata-murah-ke-djogdja-bagi-anak-makassar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

