Menikmati Senja di Rotterdam

Menikmati Senja di Rotterdam

Salah satu sisi Fort Rotterdam Bila anda berkunjung ke Makassar, Fort Rotterdam bisa jadi satu...

Menikmati Senja di Rotterdam
Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Bandara Domine Eduard Osok Dari Depan Sayang sekali memang karena saya hanya berada di Sorong...

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka
Packing, Packing!

Packing, Packing!

Perjalanan Kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang...

Packing, Packing!
Jogja Memang Istimewa

Jogja Memang Istimewa

Malioboro Di sini waktu rasanya seperti berhenti ya? Semua seperti slow motion Pesawat Sriwijaya...

Jogja Memang Istimewa
Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona Mudah-mudahan pihak Pemda tergerak hatinya untuk menyelamatkan Samalona sebelum surga...

Samalona, Surga Kecil di Spermonde
Musik dan Wisata

Musik dan Wisata

Pakkacaping ( sumber : disbudpar Polman ) Makassar dan Bugis juga punya musik tradisional, ada...

Musik dan Wisata
Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Sepotong Surabaya Akhirnya saya bisa kembali menginjak Surabaya, kali ini bukan sekadar transit...

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare
Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Pasar Apung Lok Baintan Tulisan ini adalah lanjutan dari dua tulisan terdahulu tentang Borneo....

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung
Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Sunset di Martapura Dari dulu, setiap mendengar kata Kalimantan dua hal yang selalu terbayang di...

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah
Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Bandara Syamsudin Noor Akhirnya, kesampaian juga menginjak tanah Borneo. Pulau terbesar kedua di...

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua
Makassar ; Surga Sea Food

Makassar ; Surga Sea Food

Ragam Sajian Sea Food Ke Makassar kalau tidak sempat mencicipi hidangan olahan lautnya rasanya...

Makassar ; Surga Sea Food
Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Pantai Losari di Suatu Pagi Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar...

Cara Mudah dan Murah ke Makassar
Mencicipi Alam di Bantimurung

Mencicipi Alam di Bantimurung

Air terjun Bantimurung Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan...

Mencicipi Alam di Bantimurung
Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di...

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi
Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan

Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan

Salah satu pilihan mie kering Mie kering adalah salah satu makanan khas kota Makassar. Bentuknya...

Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan
Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Pulau Tinabo ; Takabonerate Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan bagian 1 Malam kian pekat,...

Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Posts Tagged With 'makassar'

Rekayasa Lalu Lintas Yang Bikin Nyaman 6

Rekayasa Lalu Lintas Yang Bikin Nyaman

Macet Kota Makassar

Makassar dan macet mulai akrab. Seperti sahabat yang makin sering bercengkerama. Semakin hari, kota ini makin akrab bercumbu dengan macet. Dan adalah rekayasa lalu lintas yang kemudian hadir di antara mereka.

Ada yang berbeda dengan jalur yang biasa saya jalani hampir setiap hari. Dari arah Timur menuju ke Barat biasanya saya akan tertahan agak lama di sekitar perempatan Hertasning – Toddopuli – Tamalate. Kendaraan akan membentuk barisan panjang, serupa antrian zakat menjelang Idul Fitri. Waktunyapun tidak singkat, kadang sampai bermenit-menit dan membuat pegal.

Selepas tahun baru kemarin ada lewat jalan itu dan tiba-tiba sadar kalau ada yang berbeda. Kebetulan saya juga lewat jalan itu tepat di jam pulang kantor, jam yang biasanya menjadi jam paling sibuk dan padat. Tapi hari itu berbeda.

Dari jauh terlihat jalanan padat tapi tidak merayap. Ketika mendekati perempatan, tidak ada yang tertahan. Saya melirik lampu lalu lintas, semua mati. Tanpa sengaja pandangan saya jatuh pada bagian tengah perempatan tersebut. Ada barikade di sana, beberapa palang besar berwarna kuning hitam dan beberapa buah kasting yang diletakkan untuk menutup jalan.

Ternyata itu penyebabnya. Jadi semua kemudian diubah. Lampu lalu lintas dimatikan, perempatan ditutup. Jadi semua kendaraan yang dari arah Barat dan hendak ke Selatan harus terus dulu melewati perempatan dan memutar agak jauh. Kendaraan dari arah Utara yang hendak ke Selatan juga begitu, harus belok kiri dulu ke arah Timur dan memutar agak jauh.

Rekayasa Lalu Lintas di Jl. Hertasning

Sepintas memang agak merepotkan, jarak jadi bertambah karena harus memutar dulu. Tapi, khasiatnya terasa, persis seperti minum obat yang manjur. Jalanan menjadi lancar, padat tapi tidak merayap. Area Tamalate, Hertasning, Toddopuli yang biasanya jadi sumber stress di waktu-waktu tertentu kini berubah jadi lebih ramah.

Buat saya ini langkah brilian yang dilakukan polantas Makassar. Mereka berhasil mencari jalan keluar yang menyenangkan untuk mengurai setidaknya satu titik kemacetan.

Dari beberapa teman saya juga mendapat kabar kalau Polantas Makassar berhasil melakukan rekayasa lalu lintas yang positif di malam pergantian tahun. Mereka mengatur lalu lintas sedemikian rupa, membuat barikade di beberapa titik dan hasilnya, jalanan Makassar di tahun baru jadi lebih nyaman. Padat tapi tidak sampai macet berjam-jam.

Buat saya apa yang dilakukan oleh Polantas Makassar itu sebuah langkah kecil yang cukup memuaskan. Makin hari macet di kota ini memang makin mengkuatirkan dan memang dibutuhkan pihak berkuasa untuk melakukan sesuatu, setidaknya mengurangi titik kemacetan.? Polantas memang tidak bisa melakukannya sendirian, karena ada juga pemerintah kota yang punya peran lebih besar. Sekarang tinggal bagaimana mereka bisa bekerjasama membuat jalanan kota ini jadi lebih nyaman.

Sebagai warga kami hanya bisa menantikan gebrakan lainnya dari pemerintah dan polantas. Semoga Makassar tidak sampai serumit Jakarta dalam mengurai kemacetan.

January 05, 2012 in Sekitarku
Corong Promosi Wisata 8

Corong Promosi Wisata

Blogger Makassar di Taka Bonerate

Dua minggu yang lalu tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di kepala saya. Pertanyaan tentang kenapa pemerintah daerah masih kurang yang berpikir untuk menggaet blogger sebagai salah satu corong promosi wisata daerah ?

Pertanyaan itu melintas begitu saja sebagai buah pemikiran dari diskusi kelautan yang digelar ISLA Unhas dua minggu yang lalu. Di sesi terakhir banyak mengangkat kegalauan peserta dan pembicara soal potensi wisata SulSel yang bukan saja belum digarap serius tapi juga belum dipromosikan dengan baik.

Dalam kalender wisata SulSel ada dua kegiatan besar yang selama tiga tahun belakangan ini berlangsung secara beruntun. Ada Taka Bonerate Island Expedition yang mengangkat potensi wisata laut Kabupaten Selayar dan ada Lovely December yang mengangkat potensi wisata eksotis Tana Toraja. Dua kegiatan ini sudah rutin digelar dalam 3 tahun terakhir.

Sayangnya, meski sudah masuk tahun ketiga tapi tetap saja kedua acara tersebut belum terdengar menggaung jauh ke tingkat nasional dan bisa dipastikan efeknya pada pariwisata SulSel masih belum terasa. Saat berkunjung ke Taka Bonerate November silam, jelas sekali terasa kalau acara ini sama sekali tidak menggaung. Tidak ada informasi akurat tentang acara ini, tidak ada promosi yang menggebu yang kira-kira bisa memancing rasa ingin tahu orang untuk datang. Mencari informasi di internetpun rasanya sia-sia. Benar-benar tidak mencerminkan sebuah promosi wisata yang digarap serius.

Lovely December setali tiga uang. Sepi dari promosi dan terkesan dibiarkan begitu saja. Padahal kedua agenda promosi wisata itu juga menyediakan dana miliaran rupiah sebagai bahan bakarnya. Jumlah yang rasanya tidak sebanding dengan penyelenggaraan acara.

Ketika berada di Taka Bonerate, terlihat jelas kalau acara TIE lebih kepada acara seremonial tanpa visi promosi wisata yang jelas. Undangan yang datang kebanyakan adalah para pejabat beserta jajarannya, mereka yang mungkin memang datang sekadar sebagai tamu, bukan sebagai corong untuk mempromosikan wisata daerah tersebut dengan lebih luas.

Dari situ saya kemudian berpikir, kenapa mereka tidak mengajak para blogger atau penggiat social media untuk menjadi bagian dari promosi wisata ya ?

Blogger dan penggiat social media adalah pilihan paling tepat untuk diminta ikut membantu promosi wisata daerah asalnya. Mereka pasti sudah punya jaringan sendiri dan sudah eksis di dunia maya. Melibatkan mereka adalah sebuah keniscayaan di jaman di mana internet dan segala tetek-bengeknya sudah begitu jauh mempengaruhi kehidupan masyarakat. Para blogger dan penggiat social media itu bisa jadi alat bantu promosi yang tepat, cepat dan tentu saja murah.

Kenapa murah ? Bayangkan saja berapa banyak biaya yang ditekan bila blogger dan penggiat social media dilibatkan dalam sebuah agenda promosi wisata. Biayanya tentu tidak sebesar bila mengundang pejabat dan jajarannya yang tentunya membutuhkan pelayanan kelas satu. Blogger dan penggiat social media pada umumnya adalah orang-orang yang santai dan tidak manja. Mereka pasti akan menerima layanan apa saja yang diberikan, yang penting bisa diajak liburan gratis meski memang ada beberapa yang sudah berlabel seleb yang mungkin menuntut pelayanan lebih.

Undanglah mereka, libatkan mereka dan mintalah mereka mengabarkan kepada dunia tentang potensi wisata di daerah asal mereka. Meski tidak bisa memetik hasilnya secara instant tapi saya yakin impact-nya akan terasa. Minimal potensi wisata daerah akan lebih terekspos di dunia maya dan sisi baik lainnya adalah berita di dunia maya lebih gampang diakses dan terarsip dalam waktu lama.

Masalah mungkin akan timbul bila pihak pengundang menaruh ekspektasi terlewat besar yang hanya berorientasi pada promosi dan menutup diri pada kritikan. Blogger dan penggiat social media yang diundangnya diberi batasan dalam menuliskan catatan perjalanannya. Tidak boleh menuliskan hal-hal yang kurang apalagi yang buruk dari acara tersebut.

Ini tentu bertentangan dengan spirit kebebasan berekspresi yang dianut para blogger dan penggiat social media.

Jadi intinya memang ada pada niat pemerintah daerah. Bila memang mereka mau dan punya niat tulus untuk mempromosikan wisata daerah mereka maka tidak ada alasan untuk tidak melibatkan blogger atau penggiat social media dalam rangkaian acara promosi wisata. Tapi, karena niatnya untuk promosi wisata, mereka juga tidak boleh menutup mata atas kekurangan dan kritikan yang masuk. Toh, kalau semua disikapi dengan wajar maka daerah juga yang akan kena imbas positifnya.

Mudah-mudahan di 2012 ini pemerintah daerah Sulawesi Selatan makin terbuka matanya untuk memanfaatkan kemajuan teknologi serta mereka yang terlibat di dalamnya. Kami siap untuk liburan gratis lagi.

January 04, 2012 in Blogging
Menebar Paku Di Jalanan Makassar 30

Menebar Paku Di Jalanan Makassar

Pakui yang fenomenal itu

Makassar termasuk sial, kotanya dianggap sebagai galeri memajang wajah para calon pemimpin bahkan jauh sebelum masa pilkada. Sayangnya, tidak semua pajangan wajah itu punya elemen visual menarik. Ada yang bahkan sangat norak.

Suatu hari kami kedatangan tamu sahabat blogger dari Kalimantan. Ketika mendaratkan kakinya di kota Makassar dia bercerita soal keheranannya melihat kota ini disesaki oleh baliho penuh wajah menebarkan senyum. Menjelang pilkadakah ? tanyanya. Ketika kami jawab tidak, dia tentu makin heran. Belum menjelang pilkada saja kota ini sudah penuh dengan baliho, bagaimana kalau menjelang pilkada ya ? Mungkin itu yang ada dalam pikirannya.

Dengan berat hati saya memang mau bilang kalau kota Makassar sekarang ini terasa sangat sesak oleh ragam baliho penuh wajah-wajah sok kenal dan sok ramah. Mereka adalah orang-orang yang mengintip peluang untuk maju menjadi pemimpin. Tahun 2013 Sulawesi Selatan akan menggelar pilkada gubernur, setelah itu akan digelar pilkada walikota untuk kota Makassar. Masih setahun lebih, tapi keramaiannya sudah mulai dari sekarang.

Sayangnya, tidak semua pameran wajah itu enak dipandang. Beberapa waktu belakangan ini ada sebuah baliho yang mengundang perhatian dari banyak warga Makassar. Salah satu alasan kenapa menarik perhatian adalah karena jargon dan desainnya. Jargonnya terdengar aneh dan desainnya terkesan norak. Baliho itu disebut orang baliho PAKUI merujuk kepada jargon utama yang diusungnya.

Desainnya yang aneh

Pakui, dalam bahasa Indonesia logat Makassar berarti memaku. Dalam baliho itu, PAKUI adalah akronim dari 5 kata yang anehnya merupakan kata gabungan dari bahasa Inggris dan Indonesia. Prayer, Attitude, Komitmen, Ulet dan Inspirasi. Bagaimana ? Anda sudah menemukan kelucuan ?

Baliho ini dibuat oleh pendukung Bahar Ngitung, seorang anggota DPD RI utusan dari Sulawesi Selatan. Tujuannya selain memperkenalkan diri adalah untuk memberikan dukungan kepada Syahrul Yasin Limpo, gubernur incumbent yang sebentar lagi akan maju ke pertarungan SulSel1 tahun 2013 nanti.

Salah satu ciri khas dari Bahar Ngitung ini adalah akronim yang digunakannya yaitu ; OBAMA singkatan dari Om Bahar Mantap. Saya tahu anda mulai geli, tapi tahan dulu karena kegelian anda mungkin masih akan berlanjut. Obama yang satu ini memang memanfaatkan momen pemilihan presiden AS waktu itu. Dengan akronim Obama yang dipaksakan dia juga mengusung jargon HOPE, persis seperti Obama yang asli. Bahkan waktu itu beberapa materi kampanyenya juga menjiplak materi kampanye Obama.

Tapi lupakan soal itu, kita kembali ke PAKUI yang fenomenal ini. ?Coba anda lihat desain keseluruhannya. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia desain saya langsung bisa merasa kalau baliho ini membingungkan. Tidak ada satu gambar atau elemen yang menjadi point of interest (POI), semua terkesan berlomba menjadi pusat perhatian.

Bagian Atas PAKUI

Baliho ini dibuka dengan foto Syahrul Yasin Limpo, gubernur incumbent yang sedang meretas jalan untuk kembali menjadi gubernur di pilkada nanti. Foto SYL di sebelah kiri dan di sebelah kanan tulisan pujian berbunyi : Pemimpin yang berhasil membawa Sul-Sel terbaik di Indonesia. Tolong jangan tanya saya terbaik dari segi apa karena saya sendiri tidak tahu dan belum pernah menemukan fakta soal itu.

Berikutnya ada gambar sang Obama Makassar yang sedang memaku menggunakan pakaian adat. Gambar ini muncul dalam berbagai varian. Selain berpakaian adat, sang Obama juga muncul dengan kaos dan kemeja. Gambar ini sebenarnya bisa menjadi POI, sayangnya karena di belakang sang Obama ada sebatang paku super besar yang terlihat mengintimidasi sehingga kesannya jadi numpuk.

Kemudian di bagian bawah ada tulisan PAKUI yang jadi jargon utama baliho tersebut. Bagian paling bawah ada tulisan : DON?T STOP KOMANDAN !! ini adalah jargon lain dari sang gubernur incumbent Syahrul Yasin Limpo. Jelas sudah kalau om Bahar yang mantap ini mendukung Syahrul Yasin Limpo untuk maju kembali menjadi gubernur. Tapi rupanya om Bahar kita ini masih kurang percaya diri hanya dengan sekadar menuliskan jargon khas tuannya karena dia merasa perlu untuk menuliskan inisial sang pujaan di bagian bawah.

Setelah itu baliho ini ditutup dengan gambar berbatang-batang paku yang berserakan di bagian bawah. Lengkap sudah !!

Bagian Bawah PAKUI

Saya jadi bertanya-tanya, pesan apa yang ingin disampaikan sang Obama ini ? Pesan kalau dia jago memancangkan paku ? Pesan kalau dia senang menebar paku ? Atau mungkin ada pesan tersembunyi yang hanya bisa dipecahkan a la Da Vinci Code ? Kalau dia ingin memamerkan 5 hal yang jadi kepanjangan dari PAKUI yaitu ; Prayer, Attitude, Komitmen, Ulet dan Insipirasi maka saya harus bilang kalau dia tidak berhasil. Lagipula, apa sih maksud dari kelima kata itu ? Siapa yang dimaksud ? Sang Obama atau sang tuan yang mau maju jadi gubernur lagi ?

Yah, dengan berat hati untuk anda yang tidak berada di Makassar saya peringatkan kalau ke Makassar sekarang ini maka berhati-hatilah dengan paku yang bertebaran di sepanjang jalan kota Makassar. Paku yang bukan membuat ban kendaraan anda bocor tapi mungkin membuat kening anda berkerut. Syukur-syukur kalau anda bisa tersenyum geli.

December 29, 2011 in Keliling Makassar
Makassar, 404 Tahun dan Terus Bersolek 10

Makassar, 404 Tahun dan Terus Bersolek

Losari di Sore Hari

9 November 2011, Makassar katanya resmi berusia 404 tahun. Rentang waktu yang tidak sedikit, sebanding dengan polesan makeup dari kota terbesar di Timur Indonesia ini.

Sepuluh tahun lalu kawasan Tanjung Bunga yang berada di barat kota Makassar belum seramai sekarang. Kawasan perumahan sudah ada, pun dengan kawasan wisata pantainya. Tapi Tanjung Bunga masih dominan berisi rawa-rawa dan pohon bakau yang membuatnya terasa seram di malam hari.? Waktu kemudian bergulir. Sebuah mall besar di bawah korporasi Lippo berdiri tegak di kawasan yang berada sepelemparan batu dari garis pantai kota Makassar itu.

Bertahun-tahun kemudian kawasan Tanjung Bunga kemudian jadi semakin ramai ketika sebuah mall lain tumbuh. Bukan sekadar mall tapi juga tempat permainan besar nan ramai yang katanya sekaliber dengan permainan serupa di negeri Paman Sam sana. Itulah Mall Trans dengan Trans Studio-nya.

Bermeter-meter dari sana, di sepanjang pantai yang jadi ikon kota Makassar yaitu pantai Losari, perubahan juga terasa. Lupakan jejeran pedagang makanan yang dulu sampai disebut sebagai restoran terpanjang di dunia. Losari sudah berubah, sebuah anjungan besar berbentuk setengah lingkaran berlantai beton menjadi pusat keramaian baru di kota ini. Dulu ditentang meski kemudian banyak yang menikmatinya ketika dia sudah tegak.

Di nol kilometer kota ini polesan make up juga terasa. Lapangan yang dulu lebih rendah dari jalan, jadi penampung air di musim hujan dan nyaris gelap gulita di malam hari kini dirombak total. Sebagian lahannya menjadi milik pengusaha yang kemudian menyulapnya menjadi pusat perbelanjaan di bawah tanah, lengkap dengan terowongan menuju sebuah pusat perbelanjaan besar miliknya di seberang. Protes juga mewarnai polesan make up ini, tapi mereka jalan terus. Sekarang pusat perbelanjaan itu jadi salah satu pusat transaksi elektronik di kota Makassar.

Makassar terus bersolek. Dalam kurun 10 tahun belakangan ini kota di pesisir pantai ini mulai berdandan biar tampak keren. Satu persatu bangunan berbahan beton berdiri tegak, satu persatu pusat keramaian dan pusat perbelanjaan dihadirkan. Sayangnya karena satu persatu jejak rekam kearifan lokal dan kearifan sejaran dihilangkan. Deretan bangunan tua yang dulunya terlihat indah di pusat kota berganti dengan bangunan baru beraksitektur modern. Makassar memang terlihat begitu mengidolakan Jakartra sehingga semua aspek seperti meniru Jakarta.

Meniru Jakarta ? Salah satunya adalah soal transportasi. Makassar makin padat, jalan-jalannya makin tak ramah. Satu persatu ruas jalan berubah jadi titik macet. Satu per satu jalanan jadi tempat menumpuknya kendaraan. Persis seperti Jakarta, kota yang mungkin sangat diidolakannya.

Makassar sudah tua, 404 tahun bukan waktu yang singkat. Kota yang dulunya hanya jadi bagian dari kerajaan Gowa ini kini menjadi gerbang Indonesia Timur, kota terbesar di sebelah timur pulau Jawa. Tak heran kalau Makassar juga makin bersolek, makin rajin menumpuk bangunan berbahan beton, makin rajin menumpuk kendaraan di jalanan. Mungkin seperti Jakarta, role model-nya.

Coto ; kuliner khas Makassar

Tapi saya bersyukur bahwa di Makassar ini saya masih gampang menikmati deburan ombak dan belaian angin laut. Saya bersyukur di Makassar ini saya masih bisa merasakan halusnya pasir putih di pulau tak berpenghuni yang tak begitu jauh dari kota Makassar. Saya bersyukur saya masih bisa mencicipi ragam kuliner khas kota ini yang belum sepenuhnya terpinggirkan oleh serangan makanan modern dari seberang benua. Makassar masih punya banyak orang yang mencintai makanan daerahnya. Makassar masih punya banyak orang yang mencintai ikan dan produk lautnya.

Tahun ini Makassar berusia 404 tahun. Meski bukan warga Makassar tapi saya yang nyaris setiap hari menginjakkan kaki di kotanya, mencari rejeki di kotanya dan membuang kotoran di kotanya selalu berharap kota ini tidak sampai menjadi kota yang sekejam ibukota. Selalu berharap Makassar bisa menjadi kota yang nyaman, selalu menghargai kearifan lokalnya dan tak pernah lupa untuk terus mempromosikan keindahan baharinya.

Makassar berulangtahun, Makassar bersolek dan sayangnya, Makassar makin kotor oleh baliho. Semoga pemerintah kota, siapapun itu ? terbuka mata hatinya untuk membuat Makassar menjadi jauh lebih manusiawi. Apa gunanya menjadi kota modern tapi kemudian menjadi sombong pada warganya ? Semoga Makassar tidak sampai seperti itu.

Selamat ulang tahun Makassar..!!

November 09, 2011 in Jalan-Jalan, Keliling Makassar
Festival Bahari Makassar 14

Festival Bahari Makassar

Makassar kembali menggelar Festival Budaya dan Bahari, sebuah rangkaian kegiatan yang termasuk dalam kalender pariwisata Sulawesi Selatan sebagai bagian dari Visit Sulawesi Selatan 2012.

Acara ini diramaikan dengan berbagai kegiatan berhubungan dengan bahari dan budaya Sulawesi Selatan, di antaranya adalah penampilan 150 penari dari fakultas seni dan desain Universitas Negeri Makassar yang menampilkan tarian pakkarena di atas perahu lepa-lepa ( sejenis perahu kecil yang dipakai nelayan untuk mencari ikan )

Selain itu juga pada pembukaan di hari Minggu tanggal 11 September kemarin digelar parade akrobatik udara oleh 6 pesawat tempur tipe Jupiter, parasailing dan puluhan penerjun payung yang menghiasi langit Pantai Losari sore itu. Selain kegiatan tersebut, ada juga lomba renang antar pulau dan lomba layar dari Makassar – Darwin ( Australia ).

Antusiasme masyarakat kota Makassar mulai terlihat sejak pagi hari dan terus berlanjut hingga sore. Ribuan warga memadati pantai Losari yang juga adalah ikon kota Makassar untuk melihat langsung penampilan para pengisi acara. Meski begitu, masih ada juga beberapa orang yang setiap harinya memang mencari makan di sekitaran Losari yang tampak acuh saja dan tetap menjalankan kegiatannya mencari nafkah. Mereka adalah para penyewa kapal wisata berbentuk bebek, para pencari ikan dan anak-anak yang menyewakan kail dan pancing.

Berikut adalah tangkapan kamera saya atas ragam aktifitas yang terjadi di Festival Bahari Makassar sore kemarin.

Seorang lelaki penyandang gangguan kejiwaan tertidur pulas di salah satu kursi beton di anjungan Pantai Losari

Seorang bapak berteduh bersama dua anaknya sambil menantikan acara dimulai

Persiapan 150 penari pakkarena di atas perahu lepa-lepa

Parasailing di atas langit Losari

Parasailing melintas di atas penonton dengan latar sunset

Penerjun payung bersiap mendarat

Para penonton memperhatikan atraksi terjun payung

Anak kecil yang menyewakan pancing, tidak terpengaruh riuhnya penonton yang antusias menikmati Festival Bahari

Para penonton antusias menyaksikan para penerjun yang mendarat di luar Pantai Losari

Seorang anak di pundak ayahnya terpana melihat belasan penerjun di atas Pantai Losari

Para penari pakkarena setelah beraksi dan bersiap kembali ke daratan

Panitia yang bersiap dengan latar belakang sunset

Sunset yang indah di Pantai Losari

Para penerjun dengan latar sunset

Perahu karet milik tim SAR yang bersiap menghadapi kemungkinan terburuk

Penerjun terakhir menjelang tibanya malam

 

Acara Festival Bahari ini akan berlangsung hingga 18 September 2011 dengan beragam acara. Sayangnya informasi dari panitia tentang rundown acara sangat terbatas.

 

September 12, 2011 in Jalan-Jalan, Keliling Makassar
Pasir, Laut dan Langit 7

Pasir, Laut dan Langit

Makassar dan pantai adalah sebuah perpaduan yang pas. Kota yang memang terletak di tepi selat Sulawesi ini menawarkan banyak pasir, laut dan langit yang biru. Berikut adalah beberapa rekaman pasir, laut dan langit yang saya ambil di sekitar kota Makassar.

Spesifikasi umum :

Lokasi : Pantai Losari, Makassar dan Pulau Kodingareng Keke

Camera ; Canon 350D

Lensa : kit 18-55 dan fix 50mm with filter CPL

Software pengolah : Adobe Photoshop ( resize atau cropping ) dan Adobe Lightning ( atur saturasi )

 

Kapal di luar Losari

 

Refleksi Kapal

 

Pinus di Kodingareng

 

Pasir Laut dan Pantai

 

Pinus di Kodingareng

 

Sendiri di lautan luas

 

Menuju Daratan

 

Mohon masukan dari teman-teman sekalian, maklum saya masih belajar dan masih sok tahu.

September 07, 2011 in Fotografi, Jalan-Jalan, Keliling Makassar, Wisata
Family Gathering di Pulau Kodingareng Keke 19

Family Gathering di Pulau Kodingareng Keke

Personil lengkap Family Gathering (foto by:Rizved)

Untuk kesekian kalinya, komunitas Blogger Makassar-AngingMammiri- mengadakan family gathering. Kali ini tujuannya adalah pulau Kodingareng Keke, sebuah pulau cantik tak berpenghuni di luar kota Makassar.

Kamis, 2 Juni 2011. Jam 8 pagi belasan anggota Anging Mammiri sudah bersiap di dermaga Kayu Bangkoa. Dermaga Kayu Bangkoa adalah dermaga penyeberangan yang jadi pintu menuju berbagai pulau di luar kota Makassar. Beragam kapal terparkir di sana, dari kapal kecil bermesin satu hingga kapal besar yang mampu memuat ratusan penumpang.

Menjelang pukul setengah sembilan, hampir semua peserta family gathering sudah berkumpul. Saya dan Nanie sudah melakukan negosiasi dengan Dg. Tayang, seorang pemilik kapal penyeberangan. Awalnya oleh Daeng Tayang kami dipatok harga Rp. 600.000,- per kapal untuk menuju pulau Kodingareng Keke. Jelas harga yang sangat mahal dan tidak terjangkau. Setelah proses tawar-menawar akhirnya disepakati harganya jadi Rp. 400.000,- harga yang masuk akal.

Aroma Jakarta di Jalanan Makassar

Salah satu titik macet di kota Makassar

Jalanan Makassar makin ramai, titik macet makin bertambah dari hari ke hari. Tiba-tiba saya merasakan aroma kota Jakarta di banyak jalan di kota Makassar

Saya jarang menyusuri jalanan kota Makassar, apalagi yang mengarah ke pusat kota di jam-jam sibuk. Jalur rumah-kantor adalah jalur pinggiran kota yang melewati beberapa jalanan sepi dan kadang malah bertemu puluhan hewan ternak. Tidak heran kalau saya akhirnya tidak tahu banyak soal kemacetan kota Makassar kecuali dari cerita orang-orang.

Bulan Mei ini saya kebetulan jadi panitia dua acara besar yang diadakan oleh Anging Mammiri, ada peluncuran Firefox4 dan Blogilicious Makassar. Kedua acara itu membuat saya wara-wiri di jalan raya Makassar tepat ketika waktu bubaran kantor. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama saya mulai merasakan sesuatu yang sepertinya saya benci. Kemacetan parah di berbagai titik.

Sekitar pukul 4 sore, dari arah pusat kota atau sekitar Karebosi saya menuju ke arah Selatan menyusuri jalan Urip Sumohardjo dan nantinya masuk ke jalan A.P.Pettarani dan kemudian masuk ke Jl. Hertasning. Titik kemacetan mulai dari jalan Urip Sumohardjo sekitar daerah Karuwisi. Mobil dan motor berdesakan tidak karuan.

Masuk ke Jl. A.P.Pettarani macet agak mereda, kecuali di sekitar pasar Pettarani. Macet baru mulai terasa kembali mulai dari depan mall Ramayana, terus ke bagian selatan hingga dekat jalan masuk ke Jl. Hertasning. Masuk Jl. Hertasning masih lumayan lancar hingga kemudian macet lagi begitu sampai di depan kantor PLN.

Hal yang sama berulang ketika saya menyusuri jalan Perintis Kemerdekaan menuju pusat kota di sekitaran Karebosi. Macet bermula di sekitar M’Tos Jl. Perintis Kemerdekaan dan kemudian akan berlanjut di jalur yang sama dengan yang saya ceritakan di paragraf di atas.

Saya benar-benar merasakan aroma Jakarta. Aroma yang maksud adalah bau knalpot kendaraan, seketika aroma tersebut mengingatkan saya pada Jakarta yang sempat saya akrabi sekitar 11 tahun lalu. Macet Jakarta adalah salah satu alasan kenapa saya tidak pernah betah berlama-lama di ibukota itu, mau ke mana saja pasti ketemu macet dan akhirnya aroma knalpot itu seperti terpatri di kepala, pun dengan rasa gerah luar biasa yang membuat badan rasanya jadi lengket karena keringat.

Dari sejak beberapa tahun lalu sebenarnya saya sudah menduga kalau suatu saat nanti Makassar akan bernasib seperti Jakarta, titik-titik kemacetan akan terus bertambah, dan jalanan yang terbebas dari macet makin sedikit. Rupanya tidak perlu menunggu lama karena toh tahun 2011 ini jalanan di kota Makassar sudah hampir sangat mirip dengan jalanan di kota Jakarta.

Saya jadi ingat komentar beberapa tamu dari idblognetwork Jakarta ketika saya menjemput mereka dari bandara menuju hotel.

” Wah, ini kayak di Kelapa Gading ya ”

” Wah, ini rasanya kayak di Kali Malang ya ”

Komentar mereka bukan cuma berdasarkan topografi daerah yang mirip, tapi juga karena model kemacetan yang mungkin hampir sama.

Ada yang bilang, ini adalah ciri khas kota metropolitan. Tapi apa iyya setiap kota metropolitan harus akrab dengan kemacetan ? Saya belum pernah mengunjungi kota-kota metropolitan di Eropa atau Amerika sana sehingga tentu saja tidak bisa bicara banyak untuk membandingkan.

Tapi, sepanjang yang saya tahu segala model kemacetan itu bisa saja diminimalisir dengan sebuah antisipasi dari jauh-jauh hari. Penerapan sistem transportasi yang bagus, penyediaan infrastruktur berupa transportasi massal yang memadai serta tentu saja kebijakan-kebijakan yang lebih mementingkan transportasi publik daripada kendaraan-kendaraan pribadi. Setidaknya itu yang sering saya baca.

Jalanan macet karena jumlah kendaraan pribadi jauh lebih banyak daripada kapasitas yang bisa ditanggung jalanan tersebut. Salah satu teorinya seperti itu, bukan ?

Pertanyaan saya, itu salah siapa ? Salah kami yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi daripada transportasi publik ? Salah kami ketika kami lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi daripada harus naik angkot ke mana-mana ? Dan hey, angkot bukan transportasi massal kan ?

Ke mana semua para ahli tata kota itu ? Kenapa kondisi ini tidak diantisipasi serius dari awal ? Kondisi seperti apalagi yang akan kami temui di tahun-tahun mendatang? ?

Sudahlah, pertanyaan-pertanyaan itu mungkin sudah terlalu sering dilemparkan dengan ragam jawaban yang mungkin tidak pernah memuaskan selain rentetan retorika yang membuai. Tapi lihatlah ke jalanan kota Makassar, di sana aroma Jakarta makin menusuk. Entah sampai kapan..

May 27, 2011 in Keliling Makassar, Opini

Kota Yang Makin Dingin Dan Sombong [Repost]

Makassar

Ini adalah postingan lama, Januari 2008. Tapi entah kenapa realitasnya masih sama dan saya merasa perlu untuk mempostingnya kembali. Tentang kota yang semakin tidak manusiawi.

Siang itu panas, suatu hari di bulan Januari. Tidak seperti biasanya, siang itu matahari sedang bersahabat. Hujan seakan sedang berhenti sejenak, mengambil ancang-ancang sebelum nantinya datang lagi mengguyur setiap inci kotaku. Dari sebuah tempat makan di sebuah mall terbesar di Makassar, saya bersama dua belahan jiwa sedang duduk menantikan pesanan. Di sisiku, bocah kecil yang belum genap 4 tahun itu mengoceh riang, tak henti-hentinya dia bercerita tentang pakaian dan mainan yang baru saja kami hadiahkan untuknya.

Saya masih menikmati celotehannya ketika Ofie menunjuk ke bawah sana, ke arah pinggir jalan besar tepat di depan mall. Kusapukan pandanganku ke arah telunjuk wanitaku. Empat orang anak sedang tertawa riang di bawah sana. Besarnya mungkin tak lebih dari ukuran anak-anak umur 9 tahun. Di masing-masing bahu mereka tersampir karung goni, sementara di tangan yang lain sepotong besi berbentuk pengait nampak tergenggam erat. Tubuh mereka kumal, selaras dengan pakaian yang sudah nyaris tak terbentuk, lebih mirip kain lap di dapur kita.

Anak-anak itu tampak riang dalam kemarjinalan mereka. Tertawa dan saling berkejaran lalu berhenti di sebuah bak sampah besar. Berikutnya mereka sibuk mengaduk bak sampah dengan kait dari besi, saling berlomba selayaknya kucing yang berebut makanan sisa. Satu-dua benda yang tak kutahu benda apa mereka lemparkan ke dalam karung putih yang sama kumalnya dengan tubuh mereka. Setelah puas mereka kembali berlalu sambil tetap tertawa dan saling menggoda.

” Kasihan . Pernah nggak ya mereka sedih..? “, pertanyaan itu keluar dari bibir istriku. Bisa kurasakan kegetiran di nada bicaranya. Saya diam tak menjawabnya, mataku masih lekat mengawasi keempat bocah kumal itu yang terus tertawa dan akhirnya hilang dari pandangan. Saya sendiri memang tak tahu jawaban yang pasti dari pertanyaan istriku. Entah apakah anak-anak itu pernah berhenti sejenak dari kesusahan mereka dan memikirkan begitu banyak alasan untuk bersedih. Hatiku mendadak miris membayangkannya.

Diam sejenak, kami tak berbicara sepotongpun. Kami sibuk dalam alam pikiran masing-masing. Hanya gadis kecil kami yang masih sibuk bercerita tentang pakaian dan mainan barunya. Saat makanan pesanan kami datang, rasa miris di hati kami mendadak menguap. Bayangan empat anak kecil kumal tadi juga mendadak lenyap. Yang tersisa hanya nafsu untuk sesegera mungkin menyudahi nasib makanan yang sudah kami pesan. Lahap dan penuh semangat, itulah kami. Kami akhirnya kemudian hanya memikirkan perut kami yang sudah terlanjur kosong. Padahal di luar sana empat anak kumal tadi entah apa sudah makan hari ini..

Mungkin inilah sifat yang dimiliki pejabat kita. Pedih sesaat kala melihat rakyat yang seharusnya dia perjuangkan sedang terseok-seok di pinggir jalan hanya untuk sekadar menyambung hidup hari ini, namun detik kemudian tiba-tiba berubah selayaknya monster yang sedang haus dan lapar. Menerjang semua yang ada di depannya. Tak peduli itu bukan haknya, tak peduli itu hanya untuk dirinya dan orang-orang di lingkarannya. Pejabat yang mengatur kota dan kota yang diatur oleh pejabat itu tiba-tiba menjadi sangat kejam pada semua warganya.

Tahun lalu (2007) Makassar sedang riuh, berdandan menor untuk ulang tahunnya yang ke-400 tahun. Segala gincu, bedak, eye shadow dan segala macam produk artifisial kecantikan dijejalkan ke wajah kota yang sebenarnya sudah mulai bopeng dan keriput ini. Label modernisasi yang berkilauan bak topeng para penari yang menutupi wajah asli kota ini. Lihatlah limpahan dana bernilai ratusan miliar yang diguyurkan para pengusaha berkantong tebal di atas tanah kota Makassar.

Saya yakin, di salah satu sudut kantor pemerintahan kota ini, banyak orang-orang berseragam khaki sedang berjoget riang menyambut guyuran modal besar itu. Mereka pasti sedang kuyup oleh duit dan segala materi duniawi. Entah apa mereka masih punya waktu barang sedetik untuk menoleh ke bak sampah besar di depan kantor mereka dan menyapa saudara-saudara kita yang masih betah berpakaian kumal nan lecek.

Seorang pemulung ( courtesy : Ahmade.com )

Bangunan tinggi dengan lantainya yang lebih banyak dari deretan tangga nada dielus-elus agar tegak berdiri. Jalanan bertingkat-tingkat yang ditopang beton yang kuat mulai ditopang agar bisa berdiri dan dipakai. Rawa-rawa air payau yang dulunya untuk dipakai sebagai tempat hidup berbagai ekosistem alamiah mulai ditimbun untuk sebuah arena bermain yang tentu saja tak murah. Lapangan luas tempat warga berkumpul dan bercengkerama mulai dipagari seng dan sebentar lagi ditutup beton sebagian. Adakah tempat bagi saudara-saudara kita yang masih betah mengorek bak sampah yang sering kita tempati meludah itu ?. Nyaris tak ada kukira..

Beton, beton, beton lagi, besi baja dan beton lagi. Tak ada yang manusiawi. Semua bentuknya kokoh, dingin, kasar, tak ramah dan pongah dalam balutan duniawi yang mengkilap. Tak ada ruang bagi yang berbaju kumal di sana. Berani mendekat dan seorang lelaki berseragam dengan kumis melintang dan badan kekar akan menendang pantatmu jauh-jauh. Tak ada ruang bagi kalian yang kumal, mungkin begitu sumpah serapah mereka.

Sementara itu jalan raya beralaskan aspal hitam itu juga ikut-ikutan menjadi makin tidak ramah pada kita pemakainya. Jari-jari di kedua tangan kita serasa tak cukup lagi menampung nama-nama ruas jalan yang pasti macet setiap harinya. Motor makin merajai setiap senti jalanan kita. Sopir-sopir dan para pengendara makin beringas di atas aspal yang kadang tergenang air kala hujan turun. Tak ada tenggang rasa, tak ada sifat mengalah. Jalanan bukan untuk para pecundang dan pengecut. Jalanan adalah metamorfosis rimba raya yang memberlakukan hukum rimba. Yang kuatlah yang menang. Anda takut berebut jalan dengan yang lain ?, pinggirkan kendaraan anda dan tunggulah hingga malam makin pekat agar anda bisa menguasai jalan sendirian. Karena jalan raya bukan tempat buat para pecundang dan pengecut.

Salah satu mall di Makassar

Anak-anak kita tak punya tempat bermain selain ke Mall. Setiap hari libur hanya ada satu kata di bibir mereka. Ibarat robot yang telah terprogram. Setiap libur hanya mall dan mall yang mereka tuju. Mereka merengek minta diantar ke mall. Mereka merengek minta diajak bermain ke mall, mereka merengek bahkan untuk hanya sekedar jalan-jalan dan membuat otot kaki kita kaku kecapean.

Dan lantai-lantai mall yang dingin itu akan menjadi guru terbaik bagi mereka untuk makin mengentalkan faham konsumerisme dan kapitalisme pada otak anak-anak kita. Dinding mall yang berwarna warni kadang terbuat dari kaca bening yang tebal dan tinggi itu mengajarkan sesuatu kepada anak-anak kita. Saya takut kalau yang mereka ajarkan itu adalah kerakusan, egoisme dan individualisme. Dan mall itu makin dingin,angkuh dan tidak manusiawi lagi. Parasnya yang elok seakan mencibir pada gerombolan anak-anak berpakaian kumal yang mengaduk-aduk bak sampah dan menawarkan payung kala hujan turun di seputaran mall. Tapi anak-anak kita menikmatinya..

Hampir tak ada ruang luas yang murah bahkan gratis untuk mereka bermain. Hampir tak ada ruang yang luas yang memungkinkan mereka untuk berbagi dengan temannya yang lain,untuk belajar mengalah dan belajar menghargai perbedaan. Hampir tak ada ruang yang luas dengan rumput dan pohonnya yang hijau tempat untuk kami para orang tua yang sedang menunggui anaknya bermain untuk duduk santai di atas rumput dan menggunjingkan kelakuan pejabat yang makin binal dari hari ke hari. Tak ada ruang luas yang hijau dan teduh untuk kami mempelajari demokrasi yang murah atau malah gratis.

TPA-Biring Romang ( courtesy ; Ahmade.com )

Sementara itu di berbagai sudut kotaku, ibu-ibu masih sibuk menenteng jerigen-jerigen kosong berbaris dengan tak sabar di sebelah sebuah mobil tangki. Anak-anak kecil menangis bosan di gendongan ibu mereka. Wajah kusut para ibu adalah wajah murung kota kita. Di sudut lainnya, ibu yang lain kebingungan mencari sebuah tabung baja berwarna biru untuk masak siang ini. Warung terdekat memasang harga yang sangat jauh di luar batas kewarasan. Pemilik warung menjadi sangat sombong, lebih sombong dari artis yang dimintai tandatangan oleh para penggemarnya. Tanpa sadar dia telah mencontoh pejabat yang dulu mungkin pernah dibencinya.

Kalender baru saja diganti, tapi saya sudah tahu apa yang saya harapkan dari kota ini. Bukan poster besar dan spanduk lebar bergambar senyum sang walikota yang kami mau. Bukan kata-kata, ? masih Walikota kami yang terbaik ?, yang ingin kami dengar. Sudahlah, kami sudah bosan dengan senyum, janji dan manisnya bibir itu. Kami hanya ingin Makassar lebih manusiawi, agar saudara-saudara kita bisa merasakan dirinya sebagai manusia, sama seperti kita. Bukan hanya sebagai sampah yang hanya layak mengaduk-aduk bak sampah. Saya, kamu dan kita semua hanya ingin Makassar lebih manusiawi. Karena sesungguhnya kita cinta kota ini.

May 18, 2011 in Keliling Makassar, Opini, Sekitarku

Kota Ini Milik Kita, Kawan !

Suasana diskusi dengan pak Marco

Hari jumat, 29 April 2011 Anging Mammiri kedatangan tamu spesial. Pak Marco Kusumawijaya, seorang jurnalis, urban planner dan aktivis perkotaan. Banyak hal menarik yang kami seduh pada diskusi singkat dengan beliau.

Pertama kali saya bertemu pak Maro adalah pada bulan Oktober 2010 dalam sebuah workshop Unesco yang diadakan oleh HIVOS. Waktu itu beliau jadi moderator dan saya jadi peserta. Kami memang tidak sempat ngobrol banyak jadi tidak heran kalau beliau tidak kenal saya.

Malam itu beliau tetap tampil dengan gayanya yang santai dan humble, seperti yang pertama saya tangkap di bulan Oktober itu. Sama sekali tidak ada kesan sombong dan jaga jarak. Akibatnya diskusi berjalan santai dan menarik.

? Selepas perang kemerdekaan, hampir tidak ada satupun kota di Indonesia yang jadi lebih baik karena perencanaan. Kalaupun ada, itu biasanya karena kebetulan?, itu komentar awal pak Marco yang cukup mengejutkan. Sepertinya memang betul, sebagian besar kota di Indonesia memang malah menjadi makin ruwet karena sesuatu yang dinamakan perencanaan kota. Bahkan kota yang dulunya mungkin lebih nyaman saat masih di bawah kendali pemerintahan Hindia Belanda, sekarang malah rusak oleh orang kita sendiri.

Perencanaan tanpa pengetahuan yang solid lebih rentan untuk dilanggar. Ini memang menjadi sebuah kenyataan pahit yang terjadi pada hampir semua kota di Indonesia. Sebuah perencanaan awal biasanya akan mengalami perubahan yang sangat signifikan pada perkembangannya, tergantung kesepakatan pemodal dan pemerintah.

Auch, Susahnya Belajar Logat Makassar [1] 15

Auch, Susahnya Belajar Logat Makassar [1]

Pulau Lae-Lae di sebelah luar pantai Losari

Sebenarnya saya pernah menulis postingan yang sama di sini, tapi saya merasa tertarik memperbaiki tulisan tersebut agar lebih gampang dicerna.

Kerepotan terbesar bagi para pendatang ( utamanya dari Jawa ) saat tiba di Makassar dan sekitarnya adalah pada bahasa. Di kota Makassar, sebagian besar penduduknya menggunakan bahasa Indonesia dengan logat khas. Dan di logat itu terdapat beberapa partikel khas yang bila tidak dicerna dengan baik bisa menimbulkan kebingungan bahkan salah sambung.

Beberapa partikel dalam kalimat tersebut adalah : MI, PI, JI dan KI. Khusus untuk postingan ini saya mau coba memaparkan lebih jauh tentang partikel MI dan cara penempatannya karena partikel ini biasanya yang paling sering digunakan dan paling sering membingungkan.

April 21, 2011 in Budaya, Keliling Makassar, Sekitarku

Cap Go Meh Yang Membleh

Klenteng

Kamis ( 17/2) saya dengar informasi dari radio kalau beberapa kota di Indonesia sedang mempersiapkan puncak acara perayaan Cap Go Meh. Kedengarannya menarik karena setahu saya puncak acara cap go meh biasanya memang dirayakan besar-besaran setiap tahunnya.

Cap go meh sendiri setahu saya adalah puncak acara tahun baru Tionghoa yang dirayakan persis dihari ke 15 setelah perayaan tahun baru imlek. Tiap-tiap daerah biasanya punya acara yang berbeda-beda menyambut Cap Go Meh ini, di Makassar sendiri setahu saya tiap tahunnya ada acara semacam ?arak-arakan dan pesta budaya.

Berbekal pengalaman tahun lalu itulah saya kemudian mencoba mencari tahu tentang puncak acara Cap Go Meh di Makassar, pikir saya lumayanlah untuk hunting foto. Sayangnya informasi yang saya dapat kurang maksimal, hanya ada beberapa orang teman di milis AM yang memberitahu kalau malam harinya akan ada puncak perayaan di jalan Sulawesi yang merupakan pusat daerah pecinan di Makassar.

Berbekal informasi itu maka malam harinya bersama teman-teman dari Anging Mammiri, ada Dg.Nuntung, Nanie, Anbhar, Erwin Rustam, dan belakangan ada Herman dan Tika, kami berkumpul di sekitar jalan Sulawesi. Sebuah panggung besar sudah ditempatkan di ujung jalan Sulawesi, sepanjang jalan sudah ditutup untuk persiapan perayaan Cap Go Meh. Beberapa tenda didirikan sepanjang jalan, isinya ragam pedagang makanan dan minuman serta beberapa aksesoris dan mainan.Ada juga beberapa panggung kecil dan tenda tempat adu uji ketangkasan. Pokoknya sangat mirip pasar malam.

Beberapa klenteng sudah mulai ramai oleh para peziarah yang ingin beribadah. Aroma dupa menyeruak memenuhi udara malam yang panas dan lembab itu. Warna merah menjadi warna paling dominan, semua kelenteng memasang lampu warna merah dan lampion yang tergantung di udara semua berwarna merah.

The Bird and The Lantern

Tak lama kemudian tabuh-tabuhan khas Tionghoa terdengar dari sebuah kelenteng. Kami bergegas ke sana, dari jauh sudah terlihat banyak orang yang berkerumun di depan kelenteng, nampaknya pertunjukan barongsai akan segera dimulai. Sayangnya karena terlambat merapat saya jadi tidak bisa mencari posisi yang pas untuk memotret, jadinya ya terpaksa memotret apa adanya.

Suasana makin lama makin ramai, udara panas makin terasa. Di depan kelenteng Xian Ma yang merupakan kelenteng terbesar di Makassar menyemut ratusan orang yang tertarik menyaksikan atraksi barongsai. Paduan suara tabuhan yang energik dan gerakan para penari barongsai dengan bau dupa benar-benar menandakan sebuah acara khas saudara kita yang beretnis Tionghoa itu.

Malam itu kami hanya berpindah dari satu atraksi barongsai ke atraksi barongsai lainnya. Makin lama suasana makin ramai, orang-orang mulai berdesak-desakan hingga akhirnya kami memutuskan untuk pulang saja. Lagipula tidak ada atraksi lain lagi yang menarik.

Buat saya acara malam itu tidak spesial, jauh dari harapan saya sebelumnya tentang sebuah acara yang menampilkan beragam kebudayaan khas Tionghoa dan Sulawesi Selatan. Begitu juga dengan deretan makanan dan minuman yang dijajakan.

Sebagian besar makanan dan minumannya juga ternyata bukan makanan dan minuman tradisional. Yang ada malah makanan modern sebangsa Pizza, cokelat dan makanan lainnya. Ini yang benar-benar di luar ekspektasi saya.

The kids and his cellphone

Saya kurang tahu dan kurang jelas juga, apakah parade budaya seperti tahun lalu tetap dilaksanakan atau tidak. Di sinilah saya melihat kekurangan dari pemkot Makassar. Seharusnya mereka bisa lebih pro aktif dan lebih rapih menata puncak acara perayaan Cap Go Meh ini. Seandainya mereka mau, acara ini tentu bisa dijual dan jadi sebuah tujuan wisata di Makassar. Entah kepada turis lokal ataupun dari luar. Bayangkan kalau mereka bisa bikin konsep yang jelas dan menjual kemudian didukung dengan promosi besar-besaran yang melibatkan banyak pihak. Tentu hasilnya juga akan memuaskan.

Intinya, perayaan Cap Go Meh tahun ini bagi saya lumayan memble, tak terlalu spesial dan menarik bagi kami warga yang sebenarnya ingin ikut merasakan atmosfir perayaannya meski bagi teman-teman beretnis Tionghoa, perayaan Cap Go Meh bagaimanapun pasti tetap berkesan.

Apapun itu, selamat tahun baru Imlek buat saudara-saudara dan teman-teman yang merayakan. Semoga tahun depan perayaan imlek dan Cap Go Meh makin meriah.

February 19, 2011 in Budaya, Keliling Makassar, Wisata

Rindu Taman Bermain

Nadaa dan Hilmy di taman bermain Fak.Peternakan UNDIP

Suatu hari, saya sempat blogwalking ke blog seorang teman. Isi postingannya berjudul “Buya Ayunannya Mana ? ” Ceritanya tentang keprihatinan beliau terhadap kondisi sebuah taman bermain dekat rumah yang sama sekali tidak layak untuk digunakan. Perosotan yang berlubang, ayunan yang isinya tinggal tiang dan mistar saja serta taman yang tak terawat.

Keprihatinan Taqdir (kadang disapa Daeng Taqdir) adalah keprihatinan saya juga. Selama Nadaa lahir dan sekarang sudah kelas 1 SD rasanya saya belum pernah sekalipun mengajak dia ke taman bermain. Bukan karena tidak ada waktu, tapi lebih karena memang tidak ada taman bermain yang bisa dikunjungi.

Kondisi taman bermain yang diceritakan Daeng Taqdir di atas adalah kondisi umum yang terjadi pada hampir semua taman bermain di kota Makassar. Saya tidak tahu tepatnya ada berapa taman bermain di kota Makassar, yang saya tahu sebagian besar memang berada dalam kondisi memprihatinkan, tidak terurus dan kumuh. Contoh paling dekat ya taman di Hertasning yang diceritakan Daeng Taqdir.

Di Sungguminasa, tepatnya di lapangan Syech Yusuf ada taman bermain juga, lengkap dengan perosotan, jungkat-jungkit dan ayunan. Tapi itu dulu, entah sejak kapan semua itu jadi tidak berfungsi lagi. Ayunan yang berdiri tanpa tali, jungkat -jungkit yang kehilangan papannya dan perosotan yang kotornya minta ampun meski tidak berlubang karena terbuat dari beton. Sementara itu rumput liar juga tumbuh dengan bebasnya, bahkan ada yang sampai setinggi lutut orang dewasa. Itu kondisi terakhir ketika saya berkunjung ke sana saat sholat Idul Fitri tahun lalu.

Entahlah, pengadaan taman bermain dan ruang terbuka hijau nampaknya belum menjadi target utama pemerintah kota Makassar dan daerah-daerah sekitarnya. Pemerintah kota masih lebih peduli pada semua proposal pembangunan mall dan taman bermain skala besar. Anak-anak memang bisa bermain di mall yang menyediakan tempat bermain yang nyaman, berpendingin ruangan dan tak terganggu cuaca. Tapi, gratiskah ? Tentu saja tidak. Kita tetap harus mengeluarkan lembaran-lembaran rupiah untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak kita untuk bermain sesukanya. Perlahan-lahan kita mulai memupuk sifat konsumerisme pada mereka sedari dini.

Bayangkan jika saja kota Makassar dan sekitarnya punya taman bermain yang luas, rapih dan dipelihara dengan baik di setiap kecamatan. Tentu akan sangat mengasyikkan kala kita bisa mengajak anak-anak kita bersosialisasi dengan anak-anak lainnya di alam terbuka, berkenalan dengan alam dan bermain dengan gratis dan sepuas-puasnya.

Saya belum pernah ke luar negeri, tapi dari yang saya tahu kota-kota besar di negara maju selalu punya taman terbuka yang luas dan hijau yang memberikan ruang sebebas-bebasnya bagi anak-anak dan orang tuanya untuk bersosialisasi satu sama lainnya, utamanya ketika udara sedang cerah di musim panas.? Kenapa kita tidak bisa meniru mereka ya ?

Benarkah pemerintah kota Makassar lebih peduli pada proyek mall dan proyek komersil lainnya karena hasilnya bagi APBD lebih terasa ? Benarkah warga kota Makassar tidak butuh taman dan lebih merasa nyaman berada di mall ? Nongkrong berjam-jam dan menghabiskan waktu bersama keluarga dalam taman bermain artifisial itu ? Warga kota mungkin sudah apatis juga sehingga kemudian tak peduli lagi kondisi taman bermain yang seharusnya bisa mereka perbaiki dengan swadaya sendiri.

Semakin hari kota ini memang makin mengkilap. Taglinenyapun menjadi Makassar Menuju Kota Dunia, tapi betulkan untuk menjadi sebuah kota dunia harus penuh dengan bangunan megah, jalan yang beraspal dan lapisan beton di mana-mana ? Betulkah kota dunia tak butuh taman yang luas, taman yang bisa jadi tempat bersantai di pagi atau sore hari, mengajari anak-anak bergaul dengan sesamanya, bermain sesukanya dan mengenal alamnya ?

Ah, kalau memang seperti itu rasanya saya lebih memilih untuk tinggal di kota kecil saja yang masih punya taman yang luas dan tempat bermain yang bersih, terawat dan tentu saja gratis.

Bagaimana dengan anda ?

February 06, 2011 in Keliling Makassar, Opini

RUMATA ; Sebuah Mimpi Tentang Kota Yang Lebih Berbudaya

Suasana diskusi tentang RUMAHTA' bersama Riri Riza

Anda kenal Riri Riza ? Kalau anda bilang tidak maka mungkin saya harus bertanya, ” Dari mana aje Lu ?”. Atau pertanyaannya saya ubah sedikit, anda pernah dengar Laskar Pelangi ? baik novel ataupun filmnya. Nah, untuk anda yang belum tahu siapa Riri Riza itu saya kasih bocoran sedikit kalau dialah yang menjadi sutradara film Laskar Pelangi serta sequelnya, Sang Pemimpi. Sebenarnya sudah banyak rentetan karya Riri Riza yang begitu membekas di dunia perfilman Indonesia. Sebut saja film Petualangan Sherina, Eliana-Eliana, atau Gie. Jelasnya, Riri bukan sosok sembarangan kalau kita bicara soal dunia perfilman Indonesia, khususnya dalam satu dekade terakhir.

Ada yang luar biasa dari sosok Riri menurut saya. Dia yang telah begitu terkenalnya, menghasilkan karya yang tidak main-main itu ternyata tetaplah seorang sosok yang sederhana dan sangat membumi. Jabatan tangan dan senyumnya terasa hangat, bahkan kepada saya yang bukan siapa-siapa ini.

Kami bertemu pertama kalinya di sebuah sore yang basah oleh hujan hari Senin 15 November kemarin. Di lantai dua sebuah kantor NGO di bilangan Jl. Hertasning, Riri datang bukan sebagai seorang selebriti, seorang sutradara terkenal ataupun publik figur. Sore itu dia datang sebagai seorang anak Makassar yang punya mimpi untuk membuat Makassar, kota tempatnya lahir dan menikmati masa kecil bisa dianggap sebagai kota yang berbudaya, minimal lebih berbudaya dari gambaran tentang Makassar saat ini.

November 16, 2010 in Budaya, Keliling Makassar, Opini

Kampanye

Kalender Post

May 2012
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Switch to our mobile site