<?xml version="1.0" encoding="UTF-10"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Daeng Gassing &#187; daeng</title>
	<atom:link href="http://daenggassing.com/tag/daeng/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://daenggassing.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 04:56:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Konsistensi dan Passion : itu kuncinya</title>
		<link>http://daenggassing.com/2010/03/konsistensi-dan-passion-itu-kuncinya/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2010/03/konsistensi-dan-passion-itu-kuncinya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 06:15:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[angingmammiri]]></category>
		<category><![CDATA[Idola]]></category>
		<category><![CDATA[Random Post]]></category>
		<category><![CDATA[review blog]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Blogger Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[daeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=599</guid>
		<description><![CDATA[Namanya Kamaruddin Azis, di komunitas Blogger Makassar dan Panyingkul kami mengenalnya dengan nama Daeng Nuntung, karena memang itu nama paddaengannya. Orangnya ramah, santai dan senang melucu. Hebatnya lagi, joke yang dia sebar itu adalah joke-joke cerdas, beda sama joke-joke yang kebanyakan wara-wiri di layar televisi kita. Dalam dunia blog, boleh dibilang beliau ini masih junior [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2010/03/denun.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-600" title="denun" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2010/03/denun.jpg" alt="" width="500" height="396" /></a></p>
<p>Namanya <a href="http://www.denun.net/">Kamaruddin Azis</a>, di komunitas <a href="http://angingmammiri.org">Blogger Makassar</a> dan <a href="http://panyingkul.com">Panyingkul</a> kami mengenalnya dengan nama Daeng Nuntung, karena memang itu nama <a href="http://daenggassing.com/2010/01/21/sekilas-tentang-daeng/">paddaengannya</a>. Orangnya ramah, santai dan senang melucu. Hebatnya lagi, joke yang dia sebar itu adalah joke-joke cerdas, beda sama joke-joke yang kebanyakan wara-wiri di layar televisi kita.</p>
<p>Dalam dunia blog, boleh dibilang beliau ini masih junior saya. Dia bergabung di Blogger Makassar dan Panyingkul selang beberapa bulan setelah saya bergabung. Pun sebagai kontributor di Panyingkul, dia berkontribusi belakangan, selang beberapa bulan setelah saya. Tapi, soal kualitas tulisan semuanya jadi terbalik. Meski terhitung junior sebagai Blogger dan Panyingkuler, tapi kualitas tulisannya luar biasa.</p>
<p>Di awal bergabung dengan Panyingkul, beliau konsisten menulis tentang berbagai isu kelautan karena latar belakang pekerjaannya yang aktif pada LSM yang membahas tentang isu kelautan serta tentu saja lata belakang pendidikannya sebagai sarjana kelautan. Topik lain yang selalu jadi cirri khasnya adalah tentang berbagai cerita dari tanah rencong, Aceh. Yah, kisaran tahun 2007-2008 beliau memang sedang berada di Aceh dan ikut serta dalam berbagai proyek pembangunan kembali Aceh pasca Tsunami.</p>
<p>Setelah kembali ke Makassar, topik tulisannya makin beragam, tidak melulu tentang laut dan Aceh lagi. Namun, meski topiknya beragam, Daeng Nuntung tetap setia pada garis yang diyakininya sejak awal. Garis yang lebih banyak berpihak pada mereka yang kadang tak pernah diekspos media, mereka yang kadang jadi komoditi para penguasa. Beberapa orang di komunitas Panyingkul menyebutnya sebagai penulis beraliran sosialis, yang banyak membahas tentang persoalan-persoalan sosial yang ada di sekitar kita.</p>
<p>Makin lama saya merasa tulisannya makin memikat. Gaya bertuturnya khas, ringan, lancar dan memikat. Meski kadang topik yang diangkatnya termasuk berat, tapi caranya bertutur membuat topik itu terasa ringan dan gampang dicerna. Daeng Nuntung juga punya kelebihan dari segi pengambilan sudut pandang, beberapa cerita mungkin sudah pernah kita lihat atau baca di tempat lain tapi dengan sudut pandang yang berbeda Daeng Nuntung menjadikan cerita itu berbeda dan terasa fresh.</p>
<p><span id="more-599"></span>Tahun 2009 kemarin Daeng Nuntung mendapatkan kehormatan. Komunitas Panyingkul membukukan kumpulan tulisannya dalam sebuah buku berjudul : Semesta GALESONG, Senarai Catatan Seorang Warga. Buku ini bercerita banyak tentang Galesong, tanah kelahiran Daeng Nuntung yang memang menyimpan banyak cerita. Buku itu menjadi sebuah tonggak pembuktian akan eksistensi dan konsistensi seorang Daeng Nuntung.</p>
<p>Yah, konsistensi. Ini adalah kata keramat yang jadi momok bagi banyak blogger dan penulis lepas. Di tengah kesibukan kerjaan sehari-hari, kami para blogger dan penulis lepas sering berlindung di balik kalimat klise : SUSAH CARI WAKTU UNTUK MENULIS. Ini juga jadi kalimat pembenaran yang sering saya gunakan. Blog ini sudah mulai jarang diupdate, sayapun sudah lupa kapan terakhir kalinya berkontribusi di Panyingkul. Semua karena kesibukan pekerjaan yang banyak menyita waktu, serta hal-hal lain yang kadang memang rasanya tidak mau mengalah untuk member saya waktu menulis.</p>
<p>Tapi Daeng Nuntung berbeda. Dia menolak berlindung di balik kalimat itu dan menolak menjatuhkan semua kesalahan pada kalimat itu. Dia punya cara sendiri untuk menjaga konsistensi. Simak blog pribadinya, dan lihat juga website panyingkul. Di sana tulisan-tulisannya hadir hampir seperti siramanan hujan di bulan Desember. Atau kalau belum cukup juga cek notesnya di Facebook, deretan notesnya begitu panjang dan hadir hampir setiap hari.</p>
<p>Dalam sebuah pertemuan di hotel Santika beberapa waktu yang lalu dia sempat berkata kalau targetnya memang menulis setiap hari meski hanya satu halaman dan hanya untuk konsumsi notes di Facebook. Targetnya tidak terlalu muluk menurut saya, tapi melaksanakannya butuh perjuangan luar biasa utamanya untuk seseorang yang punya pekerjaan professional dan punya keluarga.</p>
<p>10 maret kemarin dua buah tulisannya hadir di harian Kompas , tepatnya di Klasika zona Makassar. Ini menjadi satu bukti lagi kalau tulisannya memang bernas dan layak dibaca orang banyak. Hey, kita bicara tentang Kompas di sini, harian terbesar di Indonesia yang tentu saja punya standard tinggi dalam menentukan tulisan yang layak muat dan bila tulisan anda dimuat di sana maka jelaslah sudah kualitas tulisan anda.</p>
<p>Tulisan di Kompas ini adalah puncak pembuktian tentang kualitas tulisan Daeng Nuntung. Di harian lokal Tribun Timur, Daeng Nuntung juga sudah sangat sering wara-wiri. Di rubrik Opini maupun di rubrik khusus citizen reporter.</p>
<p>Dua hal itu berawal dari dua kata, passion dan konsistensi. Seorang blogger dan penulis lepas harus punya kedua hal itu. Anda tidak cukup punya passion tanpa punya konsistensi, tulisan anda mungkin bagus, berbobot tapi jika anda tidak punya konsistensi semua akan sia-sia. Anda juga tidak bisa hanya punya konsistensi tapi tidak punya passion. Tulisan anda akan terus hadir, tapi kualitasnya mungkin tidak akan berkembang, karena anda tidak punya passion untuk membuatnya berkembang. Daeng Nuntung membuktikan kalau dia punya kedua hal itu, dua hal yang dikawinkannya dan membuatnya mampu memukau banyak orang. Saya yakin dia akan memiliki dua hal itu dalam waktu yang lama, sangat lama.</p>
<p>Dia adalah role model saya. Bravo Daeng..!!</p>
<div class="shr-publisher-599"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2010%2F03%2Fkonsistensi-dan-passion-itu-kuncinya%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2010/03/konsistensi-dan-passion-itu-kuncinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekilas Tentang Daeng</title>
		<link>http://daenggassing.com/2010/01/sekilas-tentang-daeng/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2010/01/sekilas-tentang-daeng/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 03:08:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Random Post]]></category>
		<category><![CDATA[daeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=542</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini mungkin agak terlambat karena heboh pemanggilan ?daeng? kepada JK oleh Ruhut Sitompul sudah terjadi hampir seminggu yang lalu, tapi saya masih tetap merasa tertarik untuk menulis tentang ?daeng? ini, katakanlah sebagai sebuah informasi untuk teman-teman (khususnya teman-teman non SulSel) yang kurang mengerti tentang ?daeng?. Sebenarnya ?daeng? ada dua macam. Pertama ?daeng? sebagai sebutan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2010/01/Warung-Coto.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-543" title="Warung Coto" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2010/01/Warung-Coto.jpg" alt="" width="480" height="360" /></a></p>
<p>Tulisan ini mungkin agak terlambat karena heboh pemanggilan ?daeng? kepada JK oleh Ruhut Sitompul sudah terjadi hampir seminggu yang lalu, tapi saya masih tetap merasa tertarik untuk menulis tentang ?daeng? ini, katakanlah sebagai sebuah informasi untuk teman-teman (khususnya teman-teman non SulSel) yang kurang mengerti tentang ?daeng?.</p>
<p>Sebenarnya ?daeng? ada dua macam. Pertama ?daeng? sebagai sebutan kepada orang yang lebih tua atau yang dituakan. Sifatnya sama dengan Mas bagi orang Jawa, atau Akang bagi orang Sunda. Panggilan ini awalnya hanya milik suku Makassar saja karena ?daeng? memang sebenarnya adalah bagian dari budaya suku Makassar. Daeng sebagai panggilan kepada orang yang lebih tua dipergunakan merata kepada pria ataupun wanita.</p>
<p>?Daeng? yang kedua atau yang lebih spesifik adalah bagian dari ?paddaengang?. Nah, ?Paddaengang? ini dalam tradisi suku Makassar adalah sebuah bagian penting. Istilah lainnya adalah ?areng alusu? atau nama halus. Seseorang yang bersuku Makassar biasanya akan menerima penyematan nama halus atau paddaengang ini di belakang nama aslinya. Contohnya seperti saya, nama asli saya Syaifullah tapi kemudian ditambahkan dengan paddaengang yaitu daeng gassing, jadilah nama lengkap saya Syaifullah daeng Gassing.</p>
<p><span id="more-542"></span>Nama halus atau paddaengang ini biasanya diambil dari nama para leluhur atau tetua dalam garis keluarga suku Makassar. Biasanya berupa do?a atau harapan, namun ada juga yang berupa ciri fisik atau kelakuan. Nama daeng Gassing di belakang nama saya sendiri diambil dari nama kakek saya dari pihak Ibu. Beliau terkenal sebagai orang yang tegas dan lurus. Gassing sendiri secara harfiah berarti kuat, dan tentu saja saya memilih nama itu karena berharap bisa mewarisi sifat-sifat positif sang kakek.</p>
<p>Penyematan paddaengang di belakang nama seseorang dulu dilakukan dengan upacara khusus namun belakangan seiring perjalanan jaman, paddaengan itu disematkan begitu saja tanpa ada upacara khusus. Saya sendiri sudah mengganti paddaengang saya, awalnya saya ber-paddaengang daeng Bella, merujuk ke nama buyut saya. Saya menggantinya karena nama daeng Bella terkesan agak feminin, meski sebenarnya artinya tidak se-feminin itu. Penggantian ini terjadi begitu saja, tanpa ada acara khusus.</p>
<p>Bagi orang Makassar, setelah resmi menyandang nama paddaengang dan yang bersangkutan sudah masuk masa akhil baliq maka wajib hukumnya bagi orang-orang di sekitarnya apalagi yang lebih muda dari yang bersangkutan untuk memanggil dengan nama paddaengangnya. Memanggil orang tersebut bukan dengan paddaengangnya akan dianggap tidak sopan, karena ya itu tadi paddaengang adalah areng alusu? atau nama halus dari yang bersangkutan. Adik-adik dan keluarga besar saya sekarang ini lebih sering memanggil saya dengan nama daeng Gassing daripada nama asli saya.</p>
<p>Dalam tradisi asli suku Makassar sebenarnya juga dikenal yang namanya kasta. Kasta tertinggi adalah Karaeng atau raja, kemudian di bawahnya ada Tumajai atau orang kebanyakan. Kasta paling bawah adalah Ata atau budak. Mereka yang berkasta Karaeng dan Tumajai berhak mendapat paddaengang sementara pada Ata tidak. Sultan Hasanuddin sendiri punya nama paddaengang yaitu daeng Mattawang plus gelar kebangsawanan sehingga nama aslinya menjadi : I Mallombassi daeng Mattawang Sultan Hasanuddin Karaeng Bontomangape Tu Menanga Ri Balla Pangkana . I Mallombassi adalah nama kecil, daeng Mattawang adalah nama paddaengang, Sultan Hasanuddin adalah nama Islamnya, Karaeng Bontomangape adalah gelar kebangsawanan dan Tu Menanga Ri Balla Pangkana adalah gelar anumerta yang berarti orang yang meninggal di rumah bercabang.</p>
<p>Secara singkat daeng adalah panggilan penuh hormat kepada orang yang lebih tua atau dituakan meski belakangan generasi yang lebih muda mengalami kesalahan persepsi dikarenakan penggunaannya yang lebih bersifat umum. Para pengayuh becak, pedagang sayur dan ikan keliling serta beberapa pelaku industri non formil lainnya biasa disapa dengan panggilan daeng sehingga kemudian banyak orang yang menganggap kalau daeng itu asosiasinya lebih kepada mereka yang berada di strata sosial rendah. Pandangan yang sama sekali tidak benar tentu saja.</p>
<p>Selepas heboh kasus panggilan daeng oleh Ruhut Sitompul kepada JK saya sempat melihat sebuah aksi demonstrasi oleh mahasiswa di Makassar. Salah seorang pendemo mengatakan keberatan atas sikap Ruhut tersebut, alasannya ? JK yang mantan wakil presiden itu tidak pantas dipanggil daeng karena biasanya daeng itu hanya identik dengan daeng becak dan sebagainya?. Astaga..!! saya sampai geleng-geleng kepala melihatnya. Alasannya kok seperti itu, alasan yang sama sekali tak berdasar.</p>
<p>Menurut saya alasan yang paling tepat untuk mengecam tindakan Ruhut adalah alasan kesopanan semata. Tidaklah layak dalam sebuah forum formil berskala nasional seperti itu Ruhut memanggil JK dengan sebutan daeng, ini sama saja dengan misalnya dalam forum yang sama dia memanggil SBY dengan sebutan Mas. Daeng atau Mas-nya tidak salah hanya tempatnya saja yang tidak tepat. Saya yakin JK juga pasti senang-senang saja dipanggil daeng oleh orang lain dalam forum yang berbeda yang sifatnya lebih santai dan tidak formil. Sama seperti para perantau asal SulSel yang bangga dengan panggilan daeng di tanah seberang? Jadi sekali lagi menurut saya bukan daengnya yang salah, tapi tempat dan waktunya yang tidak tepat.</p>
<p>Sayangnya dalam kasus Ruhut ini saya merasa tidak banyak pemberitaan yang secara jelas menggambarkan ?kesalahan? yang dilakukan oleh Ruhut sehingga seakan-akan yang salah adalah panggilan daeng-nya. Saya hanya kuatir banyak orang yang belum mengerti tentang panggilan daeng jadi merasa kalau panggilan daeng itu ternyata kurang sopan, tidak bagus dan bisa menimbulkan rasa tidak senang. Padahal sama sekali bukan seperti itu. Yah, mudah-mudahan tulisan saya ini bisa sedikit membuat teman-teman di luar SulSel mengerti tentang daeng dan panggilan daeng itu. Apapun itu, saya bangga menggunakan paddaengang saya karena setidaknya saya masih memelihara sedikit warisan budaya Makassar saya dan tentu saja warisan budaya nusantara saya di antara sekian banyak warisan budaya luar yang saya serap dan praktekkan sehari-hari.</p>
<p>Buat anda yang masih ingin tahu banyak tentang daeng, silakan baca di <a href="http://panyingkul.com/view.php?id=545&amp;jenis=tahukahkita">sini</a> :</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2010/01/sekilas-tentang-daeng/" title="arti kata mallombassi">arti kata mallombassi</a> (8)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2010/01/sekilas-tentang-daeng/" title="suku daeng">suku daeng</a> (4)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2010/01/sekilas-tentang-daeng/" title="yang berhak mendapat gelar daeng di makassar">yang berhak mendapat gelar daeng di makassar</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2010/01/sekilas-tentang-daeng/" title="daeng dalam suku makassar">daeng dalam suku makassar</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2010/01/sekilas-tentang-daeng/" title="tulisan daeng">tulisan daeng</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-542"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2010%2F01%2Fsekilas-tentang-daeng%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2010/01/sekilas-tentang-daeng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

