<?xml version="1.0" encoding="UTF-10"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Daeng Gassing &#187; buku</title>
	<atom:link href="http://daenggassing.com/tag/buku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://daenggassing.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 04:56:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Makassar Nol Kilometer ; Dari Supporter PSM Hingga Cafe di Losari</title>
		<link>http://daenggassing.com/2012/01/makassar-nol-kilometer-dari-supporter-psm-hingga-cafe-di-losari/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2012/01/makassar-nol-kilometer-dari-supporter-psm-hingga-cafe-di-losari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 23:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku-ku]]></category>
		<category><![CDATA[Jumat]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Ininnawa]]></category>
		<category><![CDATA[makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Makassar Nol Kilometer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2294</guid>
		<description><![CDATA[Mengenal Makassar tidak hanya lewat brosur wisata atau catatan manis di situs-situs travel atau milik pemerintah saja. Makassar punya banyak cerita, dari pinggiran kota hingga ke pusat kota. Sebagian cerita itu dirangkum 14 orang warga dalam buku Makassar Nol Kilometer. Cerita ini dibuka dengan kisah para supporter setia klub sepakbola PSM. Cerita tentang bagaimana mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2295" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/makassar-nol-kilometer.jpg"><img class="size-full wp-image-2295" title="makassar nol kilometer" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/makassar-nol-kilometer.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Makassar Nol Kilometer</p></div>
<blockquote>
<h3>Mengenal Makassar tidak hanya lewat brosur wisata atau catatan manis di situs-situs travel atau milik pemerintah saja. Makassar punya banyak cerita, dari pinggiran kota hingga ke pusat kota. Sebagian cerita itu dirangkum 14 orang warga dalam buku Makassar Nol Kilometer.</h3>
</blockquote>
<p>Cerita ini dibuka dengan kisah para supporter setia klub sepakbola PSM. Cerita tentang bagaimana mereka bersedia menyabung nyawa mengawal klub kesayangan mereka yang tandang ke kota-kota lain di luar Sulawesi, tentang bagaimana mereka harus berhadapan dengan amarah supporter tuan rumah yang jumlahnya berlipat ganda. Juga cerita tentang semangat mereka memerahkan stadion Mattoangin setiap kali PSM menjadi tuan rumah untuk klub tamu.</p>
<p>Cerita seperti ini mungkin sudah sering terbaca di berbagai media, utamanya media lokal. Tapi kedalaman cerita yang dipaparkan di bab : Pengawal Pasukan Ramang karya Muh. Nur Abdurrahman ini melebihi kedalaman cerita wartawan biasa.</p>
<p>Buku ini memang dibuat dengan dasar menggali kepedulian warga biasa tentang kotanya. Ragam cerita yang terangkum adalah ragam cerita tentang keseharian, tentang kehidupan warga biasa yang mungkin tidak akan bisa ditemukan di media mainstream, apalagi media mainstream lokal yang lebih banyak diisi acara seremonial pejabat dan gosip artis.</p>
<p>Simak cerita tentang penjual jajanan buroncong ( kue pancong khas Makassar ) di seputaran Tamalanrea atau tentang para payabo ( sebutan untuk para pengumpul barang bekas atau pemulung ) Kisah remeh temeh itu biasanya tidak mendapat tempat di koran lokal, atau kalaupun mendapat tempat, porsinya kecil dan nyaris tidak terlihat.</p>
<p>Buku ini dibagi dalam 4 bagian, Komunitas, Kuliner, Fenomena dan Ruang. Masing-masing memotret lebih dalam tentang kehidupan warga biasa di kota Makassar. Cara penulisannya beragam, sesuai dengan gaya dari keempatbelas penulis meski tetap punya benang merah yang sama yaitu feature yang dalam dan memikat.</p>
<p>Makassar Nol Kilometer terbitan penerbit Ininnawa ini sudah masuk cetakan kedua. Tiga orang editornya dikenal baik sebagai orang-orang yang aktif di dunia literasi kota Makassar. Mereka adalah Anwar J. Rahman, Nurhady Sirimorok dan M. Aan Mansyur.</p>
<p>Kedalaman cerita, sudut pandang yang berbeda dan cara mengemas yang apik menjadikan Makassar Nol Kilometer sebagai sebuah buku yang harus dibaca oleh mereka yang ingin tahu lebih dalam tentang Makassar, atau mereka yang ingin mendengar kisah nyata perjuangan masyarakat pinggiran sebuah kota yang terus berkembang dan memoles wajahnya hingga kelihatan menor.</p>
<p>Makassar Nol Kilometer dibuka oleh tulisan tentang supporter setia pasukan Ramang ( julukan PSM ) dan ditutup dengan cerita tentang cafe di sekitar pantai Losari yang makin hari makin terjepit hingga sekarang nyaris menghilang. Mari melihat sisi terdalam kota Makassar lewat buku Makassar Nol Kilometer.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>[dG]</strong></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/makassar-nol-kilometer-dari-supporter-psm-hingga-cafe-di-losari/" title="cafe di makassar">cafe di makassar</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/makassar-nol-kilometer-dari-supporter-psm-hingga-cafe-di-losari/" title="hotel melati dilosari makasar">hotel melati dilosari makasar</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/makassar-nol-kilometer-dari-supporter-psm-hingga-cafe-di-losari/" title="ininnawa cafe makassar">ininnawa cafe makassar</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/makassar-nol-kilometer-dari-supporter-psm-hingga-cafe-di-losari/" title="kue pancong makasar">kue pancong makasar</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-2294"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2012%2F01%2Fmakassar-nol-kilometer-dari-supporter-psm-hingga-cafe-di-losari%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2012/01/makassar-nol-kilometer-dari-supporter-psm-hingga-cafe-di-losari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kicauan Itu Mengalahkan Bacaan</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/04/kicauan-itu-mengalahkan-bacaa/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/04/kicauan-itu-mengalahkan-bacaa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Apr 2011 04:21:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1352</guid>
		<description><![CDATA[Sejak rajin berkicau di ranah twitter saya jadi makin malas membaca. Akibatnya banyak buku yang terlantar. Ah, sungguh sayang Sekitar Juni tahun lalu Tika, salah seorang member Anging Mammiri mencoba mendorong saya untuk bikin akun twitter. Alasannya, masak ketuanya AM ndak punya twitter ? Waktu itu saya masih mengiyakan saja dengan setengah hati. Twitter belum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><h2>
<p><div id="attachment_1353" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/04/twitter.jpg"><img class="size-full wp-image-1353" title="twitter" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/04/twitter.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Twitter yang menepikan bacaan</p></div></h2>
<h2><em><strong>Sejak rajin berkicau di ranah twitter saya jadi makin malas membaca. Akibatnya banyak buku yang terlantar. Ah, sungguh sayang</strong></em></h2>
<p>Sekitar Juni tahun lalu <a href="http://miss-tika.blogspot.com/">Tika</a>, salah seorang member <a href="http://angingmammiri.org/">Anging Mammiri</a> mencoba mendorong saya untuk bikin akun twitter. Alasannya, masak ketuanya AM ndak punya twitter ? Waktu itu saya masih mengiyakan saja dengan setengah hati. Twitter belum begitu menarik untuk saya, bahkan Facebook sendiri waktu itu sedang dalam proses deactivated karena jenuh. Alasan lainnya, Facebook waktu itu lumayan mengganggu waktu aktifitas keseharian saya hingga akhirnya saya memilih untuk mengambil langkah ekstrem dengan menonaktifkannya sementara waktu.</p>
<p><strong>Beberapa bulan kemudian berselang saya berubah pikiran</strong>. Kepercayaan teman-teman yang menunjuk saya jadi ketua Anging Mammiri membuat saya berpikir lain, bagaimanapun saya harus menjalin hubungan dengan teman-teman blogger lainnya, apalagi lintas komunitas.</p>
<p><strong>Akhirnya, FB saya aktifkan kembali. Akun twitter saya buat beberapa saat kemudian.</strong> Meski begitu saya tidak serta merta langsung berkicau, apalagi saya tidak punya handled yang memungkinkan saya aktif berkicau dan memantau lini masa setiap saat.</p>
<p>Saya baru mulai rajin berkicau ketika HP Sony Ericsson Naite <a href="../../../../../2-minggu-bersama-naite/">sebagai hadiah lomba posting di Kompasiana</a> tiba di tangan. Sejak si Naite di tangan saya mulai rajin berkicau dan memantau kicauan di lini massa, perlahan-lahan saya mulai terserang virus twitter dan mulai kecanduan.</p>
<p>Akhir November saya kembali dapat berkah. Kali ini Blackberry Gemini dalam genggaman setelah masuk dalam salah satu <a href="../../../../../2-berita-dalam-1-hari/">pemenang lomba posting Sumpah Pemuda</a>. Blackberry jelas lebih mumpuni dalam menyambungkan kita dengan dunia maya, termasuk dengan ranah twitter tentu saja. Sejak saat itu, kebiasaan nge-twit makin lancar. Kicauan makin sering terdengar, atau kalaupun tidak berkicau saya jadi lebih sering memandangi lini masa. ?Waktu senggang hampir sepenuhnya terisi dengan kebiasaan nge-twit.</p>
<p><strong>Belakangan saya sadar, kebiasaan nge-twit ini ternyata berdampak besar pada hobi lama yaitu membaca. </strong></p>
<p><span id="more-1352"></span>Dulu, waktu senggang selalu terisi dengan membaca. Apapun itu. Buku, majalah, atau suratkabar pokoknya membaca. Saat tiba di rumah, di depan televisi, menunggu giliran di antrian, saat di bandara menunggu boarding, atau bahkan saat di perjalanan menuju suatu tempat, membaca adalah pilihan utama.</p>
<p><strong>Sekarang, semua berubah. </strong></p>
<p>Di depan televisi saya masih sibuk memandangi layar Blackberry sambil memantau lini masa. Ketika antri di bank Blackberry tergenggam di tangan. Ketika menanti waktu boarding saya sibuk berkicau tentang apa saja, di dalam perjalanan saya juga sibuk memandangi layar Blackberry.</p>
<p>Sebenarnya bukan cuma twitter yang jadi pengalih perhatian. Setidaknya ada milis juga yang kadang begitu hiperaktif dan interaktif di masa tertentu, apalagi saya ikut beberapa milis yang memang bisa dibilang cukup ramai. ?Saya agak jarang menggunakan fasilitas chatting atau BBM di Blackberry, saya malas mengetik panjang-panjang dan sering-sering. Keyboardnya kekecilan.</p>
<p><strong>Kebiasaan baru ini betul-betul berdampak buruk.</strong> Tumpukan buku yang masih adem dalam plastiknya bertebaran di rumah. Bahkan beberapa buku yang saya beli setahun yang lalu di Jogja masih terbungkus rapih, beberapa di antaranya sudah terbuka, terbaca seperempatnya tapi kemudian kembali ke rak buku. Huhuhuhu, sungguh menyedihkan.</p>
<p>Beruntung karena dalam masa kurang produktif membaca itu saya masih rajin menulis, setidaknya menulis untuk blog pribadi meski kualitasnya juga saya rasa makin hari makin menyedihkan.</p>
<p>Mulai hari ini saya bertekad untuk kembali ke khittah, kembali ke kebiasaan lama menghabiskan banyak bahan bacaan. Harus ada keseimbangan, jangan sampai saya terlalu larut di dunia maya utamanya yang di twitland. Kembali membuka buku adalah salah satu target saya saat ini. Plastik-plastik yang membungkus buku-buku di rak buku harus dilepas satu persatu, halamannya harus dibuka satu persatu.</p>
<p><strong><em>Ah, bagaimana dengan kalian ? Pernah mengalami hal yang sama dengan saya ?</em></strong></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/04/kicauan-itu-mengalahkan-bacaa/" title="malas mengetik">malas mengetik</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/04/kicauan-itu-mengalahkan-bacaa/" title="malas ngetik bbm">malas ngetik bbm</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-1352"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F04%2Fkicauan-itu-mengalahkan-bacaa%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/04/kicauan-itu-mengalahkan-bacaa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NAKED TRAVELER -2, Catatan Perjalanan yang Bikin Iri</title>
		<link>http://daenggassing.com/2010/03/naked-traveler-2-catatan-perjalanan-yang-bikin-iri/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2010/03/naked-traveler-2-catatan-perjalanan-yang-bikin-iri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 06:10:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku-ku]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[naked traveler]]></category>
		<category><![CDATA[trinity]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=592</guid>
		<description><![CDATA[Di dunia ini ada 2 wanita yang paling mampu membuat saya sirik plus iri. Yang pertama adalah Riyani Djangkaru dan yang kedua adalah Trinity. Riyani ?terkenal sebagai icon dari acara Jejak Petualang di Trans-7. Riyani yang mempopulerkan acara jalan-jalan di stasiun televisi, selepas kepergiannya acara Jejak Petualang makin merosot pamornya. Medina Kamil sang pengganti tampaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2010/03/naked-traveler_n36814787199_7656.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-593" title="naked traveler_n36814787199_7656" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2010/03/naked-traveler_n36814787199_7656.jpg" alt="" width="200" height="321" /></a>Di dunia ini ada 2 wanita yang paling mampu membuat saya sirik plus iri. Yang pertama adalah Riyani Djangkaru dan yang kedua adalah Trinity.</p>
<p>Riyani ?terkenal sebagai icon dari acara Jejak Petualang di Trans-7. Riyani yang mempopulerkan acara jalan-jalan di stasiun televisi, selepas kepergiannya acara Jejak Petualang makin merosot pamornya. Medina Kamil sang pengganti tampaknya kesulitan untuk meneruskan nama besar Riyani.</p>
<p>Riyani mampu membuat saya iri bin sirik karena dia punya banyak kesempatan untuk jalan-jalan, sebagian besarnya adalah ke tempat-tempat non turistik yang eksotis di pelosok-pelosok Indonesia dan beberapa Negara tetangga. Yang lebih mengasyikkan adalah karena dia digaji..!!. Bagi saya ini kerjaan yang luar biasa enak, seperti bukan bekerja saja rasanya.</p>
<p>Wanita kedua yang selalu membuat saya iri bin sirik adalah Trinity. Saya mulai kenal dia lewat buku Naked Travel sekitar setahun lebih yang lalu. Agak telat memang, apalagi ternyata Trinity sudah sangat terkenal di jagad maya. Wanita bertubuh subur dengan tampang mirip Pinoy (menurut dia) ini adalah seorang traveler sejati, tujuan utama hidupnya hanyalah agar bisa berjalan-jalan sebanyak mungkin dan sejauh mungkin. Total telah 43 negara dan hampir seluruh propinsi di Indonesia telah didatanginya.</p>
<p>Inti dari tulisan perjalanan Trinity yang dicatat di buku Naked Traveler dan Naked Traveler 2 bukanlah tentang informasi lokasi-lokasi wisata yang menarik di berbagai tempat yang dia datangi. Trinity tidak seperti agen wisata yang menceritakan tentang keindahan objek wisata di sebuah tempat berikut informasi perjalanan dan akomodasinya, Trinity hanya mencatat berbagai hal yang justru jauh lebih menarik.</p>
<p>Trinity banyak bercerita tentang kebudayaan, kebiasaan, kelucuan dan hal remeh temeh lainnya yang dia jumpai di semua tempat yang dia kunjungi. Inilah perbedaan besar antara buku Naked Traveler-nya Trinity dengan brosur wisata atau info wisata lainnya yang banyak bertebaran.</p>
<p><span id="more-592"></span>Lewat buku Naked Traveler kita bisa tahu banyak tentang berbagai hal-hal unik, lucu dan mengasyikkan yang bertebaran di berbagai tempat di dunia ini. Salah satu contohnya adalah tulisan tentang Negara Palau, salah satu Negara kecil di Samudra Pasifik, daerah Micronesia.</p>
<p>Di Negara yang jumlah penduduknya hanya sekitar 30.000 orang itu, Trinity menceritakan tentang banyak hal yang lucunya sungguh absurd. Tentang bagaimana ?kemalasan? penduduk lokal, ?tentang bagaimana kecilnya Negara itu dan sedikitnya penduduk sehingga untuk sekedar flirting saja mereka harus mengusut asal-usul seseorang karena jangan sampai mereka adalah keluarga sendiri.</p>
<p><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2010/03/Naked_Traveler_Depan.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-594" title="Naked_Traveler_Depan" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2010/03/Naked_Traveler_Depan.jpg" alt="" width="91" height="144" /></a>Cerita tentang Palau hanya satu dari sekian banyak cerita yang dipaparkan Trinity di bukunya. Khusus di buku Naked Traveler 2 ini, Trinity juga banyak menuliskan tentang latar belakang hobinya berjalan-jalan juga tentang siapa saja yang sering menjadi teman jalan-jalannya.</p>
<p>Naked Traveler 2 ini menurut saya mutunya sedikit di bawah Naked Traveler 1. Ada beberapa cerita yang berulang di NT2 ini dan sama sekali tidak mengulangi pengeditan ulang sehingga rasanya hanya mengejar setoran saja. Unsur surprise juga sepertinya agak hilang dari buku ini, tidak seperti yang saya rasakan waktu membaca buku Naked Traveler 1 meski unsur lucunya masih tetap ada. Yah, ini salah satu hal yang paling menarik dari Naked Traveler. Trinity (dan editornya) mampu mengemas sebuah cerita ringan menjadi sebuah cerita yang lucu dan menarik. Saya sampai tergeli-geli sendiri membaca beberapa cerita Trinity di buku ini.</p>
<p>Intinya, Naked Traveler 2 ini tetap merupakan sebuah buku yang menarik bagi saya. Buku yang mampu menerbitkan rasa iri saya pada Trinity yang sudah berani (dan bisa) melakukan perjalanan ke berbagai Negara dan propinsi di Indonesia. Segala macam perjalanan yang sudah dilewatinya tentu akan memperluas wawasannya dan memberikan pengalaman-pengalaman tak ternilai dalam hidupnya.</p>
<p>Sayangya, menurut saya buku terlalu mahal (Rp. 61.000,-) agak kurang sesuai dengan isinya karena (sekali lagi menurut saya) buku Naked Traveler 1 masih lebih menarik, lebih lucu dan lebih punya unsure surprise. Meski begitu Naked Traveler 2 bolehlah saya rekomendasikan untuk anda yang senang baca buku, ratingnya saya beri 3,5/5.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2010/03/naked-traveler-2-catatan-perjalanan-yang-bikin-iri/" title="riyani jangkaru 2011">riyani jangkaru 2011</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2010/03/naked-traveler-2-catatan-perjalanan-yang-bikin-iri/" title="trinity naked traveller nama">trinity naked traveller nama</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2010/03/naked-traveler-2-catatan-perjalanan-yang-bikin-iri/" title="catatan traveler">catatan traveler</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2010/03/naked-traveler-2-catatan-perjalanan-yang-bikin-iri/" title="harga buku trinity">harga buku trinity</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2010/03/naked-traveler-2-catatan-perjalanan-yang-bikin-iri/" title="jejak petualang riyani jangkaru">jejak petualang riyani jangkaru</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-592"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2010%2F03%2Fnaked-traveler-2-catatan-perjalanan-yang-bikin-iri%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2010/03/naked-traveler-2-catatan-perjalanan-yang-bikin-iri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

