Tarian Salsa dari Pinggiran Laut Tengah

Formasi Spanyol kala menghadapi Swedia (foto: Euro2008.com)

Kalau kemarin saya tertarik bercerita tentang tim dari negeri kincir angin alias Belanda, maka sekarang rasanya saya tak tahan untuk tidak bercerita tentang para penari Salsa dari pinggiran Laut Tengah, Spanyol.

Spanyol, negeri para matador, tidak pernah berhenti menelurkan pemain-pemain penuh bakat di dunia sepakbola. Sejak jaman Alfredo Di Stefano-walaupun aslinya adalah orang Argentina-, Emilio Butragueno, hingga Josep “Pep” Guardiola, Raul Gonzales hingga Fernando Torres saat ini. Prestasi klub-klub mereka juga tak kalah menterengnya. Real Madrid adalah raja Eropa dengan menyabet 9 juara European Champion League bahkan dengan kemenangan fantastis 5 kali berturut-turut.

Sayangnya di level tim nasional, Spanyol tak jua mendapatkan tempat yang layak di panggung kejuaraan-kejuaraan besar. Di piala dunia, prestasi terbaik mereka hanya menjadi peringkat keempat di Brasil 1950, lebih dari setengah abad yang lalu. Sementara di level Eropa, Spanyol hanya berhasil sekali menjadi juara, yaitu di tahun 1964, serta sekali menjadi runner up di tahun 1984.

Dalam tiga pagelaran piala dunia terakhir, Spanyol hanya mampu finish di penyisihan grup (France’98), perdelapan final (Korea-Jepang-2002) dan perempat final (Jerman 2006). Sementara dua edisi piala Eropa terakhir juga tak lebih bagus. Bandingkan dengan prestasi Real Madrid, Barcelona, Valencia, Villareal dan Sevilla di kancah Eropa satu dasawarsa terakhir.

Penyebab utama mandeknya prestasi tim nasional Spanyol rasanya lebih banyak berputar pada masalah kekompakan tim. Perpecahan politik dalam negeri yang melibatkan pihak sayap kanan dengan dua seteru politik abadinya (Basque dan Catalunya) berimbas cukup kuat ke arena sepakbola. Bukan rahasia lagi kalau persaingan mengakar antara klub ibukota kesayangan raja Juan Carlos-Real Madrid-dengan klub asal Catalunya yang jadi lambang perlawanan-Barcelona-seringkali mengakibatkan ketidakharmonisan dalam tubuh tim La Furia Roja. Ujung-ujungnya tak ada prestasi berarti yang bisa ditorehkan kala mereka berbaju merah-kuning-biru.

Tahun ini, anak-anak asuhan Luis Aragones datang ke Swiss-Austria dengan status non unggulan. Mereka melewati fase penyisihan grup dengan tertatih-tatih dan lolos sebagai runner up di pertandingan-pertandingan terakhir. Agak di luar kebiasaan mereka di mana biasanya Spanyol selalu lolos dengan mudah dari fase penyisihan grup namun akhirnya melempem di putaran final.

Dua pertandingan pertama sudah dilakoni dengan sempurna. Rusia dibantai 4-1, terakhir Swedia dipaksa menyerah 2-1 lewat gol dramatis David Villa di menit 92. Menyimak dua kali penampilan Spanyol, wajar bila asa para pendukung membubung tinggi.

Spanyol, bersama Portugal (sebelum takluk di tangan Swiss 0-2) dan Belanda bisa dikategorikan tim-tim yang tampil dengan sangat menghibur. Kreasi serangan sangat bervariasi, dipadukan dengan ketajaman dan kerjasama apik dua striker mereka, David Villa dan Fernando Torres.

                Kunci kesuksesan Spanyol memang ada pada kuarter gelandang mereka yang sebagian besar dihuni gelandang bertubuh mungil. Kerjasama apik Andres Iniesta, Xavi Hernandez, David Silva dan Marcos Senna sangat mumpuni untuk menghadirkan serangan-serangan mematikan yang bisa langsung dieksekusi dengan manis oleh duet Torres-Villa. Marcos Senna mampu melakoni peran sebagai gelandang bertahan dengan sangat bagusnya, membuat tiga kompatriot mungilnya bisa mengkreasikan serangan dengan santainya.

Di depan, Torres dan Villa mampu bekerjasama dengan baik. Duo ini tadinya diperkirakan bakal bersaing menempati satu posisi di barisan penggedor, namun ternyata Aragones berhasil meramu dua kekuatan mematikan ini menjadi satu senjata yang mematikan. Ibarat seorang pandai besi yang mampu melebur dua macam besi untuk membuat sebuah pedang yang tajam mematikan. Torres tak egois, kesempatannya mencetak gol dengan ringannya diberikan kepada Villa yang lebih siap. Villapun tak lantas jumawa, hattrick-nya di pertandingan pertama dipersembahkannya kepada sang tandem. Lengkaplah sudah duet maut ini.

Satu-satunya kelemahan Spanyol mungkin terletak di barisan belakang yang dihuni dua bek senior dan dua bek junior. Ramos dan Capdevilla yang bermain sebagai bek sayap cukup mampu menjalankan tugas sebagai pembantu serangan yang menyisir sisi luar pertahanan lawan. Sayangnya, mereka –utamanya Ramos- terkadang terlalu hiperaktif hingga meninggalkan lubang di sisi pertahanan. Duet Puyol dan Marchena belum terlalu padu, apalagi terkadang masih ada salah koordinasi dengan Senna yang bermain sebagai jangkar. Beruntung Spanyol punya Casillas, sang kiper milik Real Madrid yang selalu sigap mengamankan gawangnya dari kebobolan.

Kalau Villa dkk. mau mencatatkan nama mereka di buku sejarah negeri yang berbatasan dengan benua Afrika itu, maka sekaranglah saatnya. Kondisi tim sedang kondusif dengan berbagai torehan positif. Semangat mereka sedang tinggi-tingginya, dan saya kira tak ada alasan untuk tidak membebani mereka dengan segudang harapan.

Jadi, wajar saja bila tahun ini kita berharap akan mendapati bendera Spanyol di stadion Ernt-Happel, 29 Juni nanti. Kita tunggu saja…[DG]

About The Author

Leave a Reply

2 Comments on "Tarian Salsa dari Pinggiran Laut Tengah"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Nuntung
Guest

Yah, spanyol memang melesat bagai pasukan penakluk yang menebar teror bagi musuh-musuhnya. Sayangnya mereka akan jumpa para kesatria Imperium Roma yang punya skill, mereka melumpuhkan lawan dengan teknik jumawa nan “licik”…Forza Italy….!!!

halfian
Guest

saya di euro ini dukung jerman daeng .. viva germany ..

wpDiscuz
%d bloggers like this: