Spanyol dan Akar Tiki-Taka

Casillas yang sedih (foto: FIFA.com)

Casillas yang sedih (foto: FIFA.com)

Akar dari permainan indah Spanyol yang bernama tiki-taka itu adalah total football. 13 Juni di Salvador, Spanyol tunduk ke pemilik akar itu.

“Sepakbola yang baik adalah sepakbola yang sederhana. Tapi, bermain secara sederhana justru jadi bagian tersulit.” Demikian Johan Cruyff mendefinisikan total football yang jadi fenomena di awal tahun 70an. Dengan gaya permainan itu Cruyff dan teman-temannya menguasai Eropa mulai dari 1970 hingga 1974 lewat klub Ajax Amsterdam dan tim nasional Belanda. Hanya Jerman (Barat) yang berhasil menghentikan langkah mereka di final piala dunia 1974.

Total football mengubur gaya permainan super defensif milik Inter Milan dan tim nasional Italia yang terkenal dengan nama Catenaccio. Sepanjang dekade 1970an total football kemudian jadi perbincangan hangat para pelaku sepakbola. Taktik super ofensif dengan mengutamakan penguasaan ruang ini coba dibedah, diikuti dan ditiru tim-tim lain di tanah Eropa bahkan seluruh dunia.

Sejarah panjang total football sebenarnya sudah ada sejak sekisar tahun 1920an. Adalah Jack Reynold yang mulai menjadi manager Ajax Amsterdam tahun 1915 yang meletakkan pondasi total football. Di tahun 1950an konsep total football diadaptasi oleh tim nasional Hungaria yang tumbuh jadi kekuatan besar Eropa dan bahkan dunia kala itu.

Kemudian datanglah Rinus Michel yang pernah bermain di bawah asuhan Reynold yang melanjutkan pondasi total football. Dia beruntung bertemu seorang lelaki flamboyan lainnya bernama Johan Cruyff yang kelak diplotnya sebagai gelandang serang. Johan Cryuff dan Rinus Michel kemudian menjadi dua motor utama dari taktik total football yang belakangan berhasil memukau Eropa dan dunia.

“Total football tidak pernah berhasil 100%, terakhir ketika kami menjadi juara Eropa 1988 total football hanya berhasil dijalankan 80%.” Kata Rinus Michel suatu saat.

Dari Belanda rumus total football dibawa Rinus Michel dan kemudian Johan Cruyff ke tanah Catalunya, tepatnya ke klub Barcelona. Cruyff yang sempat menjadi pemain di Barcelona melanjutkan karirnya sebagai pelatih sejak 1988 hingga 1996. Setelah meninggalkan Barcelona, dasar-dasar total footbal yang diwariskan Cruyff terus dikembangkan.

Satu dekade kemudian hadirlah tiki-taka lewat tangan dingin Josep Guardiola, mantan anak asuh Johan Cruyff. Akar utama dari tiki-taka adalah total football, tentang bagaimana menguasai ruang sebanyak-banyaknya dan melakukan ball possesion sebanyak-banyaknya. Tiki-taka terbukti berhasil, Barcelona menguasai liga Spanyol dan bahkan Eropa selama kurang lebih 5 tahun. Luis Aragones dan Vicente Del Bosque, pelatih Spanyol ikut membawa tiki-taka ke level timnas dan berhasil menguasai Eropa dan piala dunia secara berturut-turut.

Final piala dunia 2010 kemarin tiki-taka bahkan berhasil mengalahkan total football yang dibawa Belanda. Pohon itu mengalahkan akarnya.

*****

13 Juni 2014 di Fonte Nova Salvador Spanyol datang dengan status juara bertahan. Lawan pertama yang dihadapinya adalah Belanda, lawan yang sama dengan yang terakhir mereka hadapi 4 tahun yang lalu. Spanyol membawa 7 pemain yang sama dengan yang menghentikan Belanda di Afrika Selatan 2010, sementara Belanda hanya menyisakan 4 pemain. Sisanya pemain muda minim pengalaman.

Spanyol seperti akan mengulangi kesuksesan mereka 4 tahun sebelumnya, mereka menguasai permainan dan Wesley Sneijder mengulangi kesialan Robben 4 tahun lalu ketika berhadapan satu lawan satu dengan Iker Casillas. Spanyol makin jumawa ketika menit 27 mereka dihadiahi penalti yang tidak disia-siakan Xabi Alonso. Ini akan jadi permulaan yang mudah bagi Spanyol, mungkin seperti itu yang ada di kepala jutaan fans negeri para matador itu.

Sampai kemudian Van Persie muncul menjelang akhir babak pertama. Operan dari anak muda bernama Daley Blind yang juga anak mantan pemain Ajax Danny Blind diselesaikan Van Persie lewat heading dengan gaya lumba-lumba. Selepas itu permainan seperti berbalik 180 derajat. Daley kembali menjadi aktor utama yang mengirim umpan matang ke Robben yang membawa Belanda unggul 2-1 di babak kedua.

Spanyol mengakhiri pertandingan dengan lima gol yang bersarang di gawang Iker Casillas, sang Saint Iker bahkan harus menanggung malu ketika satu kesalahannya dimanfaatkan Van Persie menjadi sebuah gol. Beberapa fans mulai mengangguk mengiyakan keputusan Jose Mourinho dan Carlo Ancelotti yang sering mencadangkan Iker di Real Madrid.

Kekalahan 1-5 memang sangat memalukan buat sang juara bertahan, sekaligus juga sebagai bukti kalau tiki-taka mulai mendapatkan antinya. Di level klub, Barcelona yang memulai pola permainan itupun sudah mulai redup. Lawan-lawan yang mereka hadapi sudah paham betul bagaimana menghentikan alur bola dari strategi tiki-taka. Salah satunya adalah dengan pressing ketat menjurus keras utamanya kepada dua motor utama tiki-taka, Xavi dan Iniesta.

Belanda melakukannya di babak pertama, tercatat 11 kali mereka melakukan pelanggaran berbanding 2 yang dilakukan Spanyol. Pressing ketat menjurus keras Belanda terbukti mampu memacetkan tiki-taka Spanyol. Xavi dan Iniesta tidak berjalan sebagaimana mestinya dan saat mesin Spanyol macet datanglah Blind, Robben dan Van Persie dengan kecepatannya. Iker Casillas dengan kecerobohannya hanya pelengkap saja.

30 tahun lalu orang Belanda datang ke Catalunya membawa bibit total football yang kemudian dipoles menjadi tiki-taka. 13 Juni 2014 pemain Spanyol datang ke Brasil seakan membawa tiki-taka untuk dikembalikan ke pemiliknya yang sah, Belanda! 90 menit pertandingan seakan hanya pengesahan kalau tiki-taka sudah mulai usang, mulai transparan dan sangat mudah dicari penawarnya. Sayangnya malam itu mereka langsung bertemu dengan tim yang leluhurnya membawa bibit tiki-taka ke Spanyol.

Setelah ini menarik menantikan bagaimana perjalanan kedua tim. Mampukah Spanyol bangkit setelah kekalahan memalukan itu? Mampukah Belanda melanjutkan trend positifnya dan terus bermain bagus hingga ke final atau bahkan ke tangga juara? [dG]

About The Author

Add Comment