Sepakbola kita yang telah mati..

 

 

Akhrnya berita duka itu datang juga. Habis sudah perjalanan timnas PSSI di ajang Sea Games di Thailand 2007 ini. Adalah tuan rumah Thailand sendiri yang mengakhirinya lewat skor 2-1. Hasil ini sudah cukup sebagai tiket pulang bagi para pemain-pemain muda Indonesia. Habis sudah harapan kita, bahkan di sektor regional terkecilpun kita tetap harus puas dengan predikat pecundang. Habis sudah dana milyaran rupiah untuk biaya latihan selama sebulan di Argentina. Latihan panjang selama sebulan di negeri Tango hanya untuk dipermalukan dalam waktu kurang dari satu minggu. Sangat ironis.

Hasil ini jelas melengkapi jelaga hitam di wajah PSSI, bahkan Indonesia pada umumnya. Setelah puas menelan 11 gol dan hanya mampu membalas dengan 1 gol dari Suriah, akhirnya kita memang musti mengakui kalau sepakbola kita memang sudah sangat jauh di dasar jurang. Bahkan di teritori Asia Tenggara yang dulu sangat kita kuasaipun, saat ini menjadi kubangan yang sangat memalukan untuk tim merah putih.

Emas SEA GAMES terakhir kita kalungkan tahun 1991, 16 tahun yang lalu..saya bahkan sudah lupa bagaimana rasanya bangga pada prestasi itu. Kita memang sempat bangga pada perjuangan anak-anak tim merah putih pada bulan Juli kemarin saat Piala Asia digelar di Jakarta. Sayang, durasinya sangat pendek. Tidak lebih dari dua bulan sepakbola dalam negeri kembali dimarakkan dengan aksi tawuran, penyerangan terhadap wasit, tudingan wasit yang curang dan akhirnya dilengkapi dengan dibuinya pemimpin tertinggi sepakbola tanah air. Apa lagi yang kurang ?. sudah prestasi di lapangan jeblok, prestasi di luar lapanganpun tak kalah hancurnya.

Saya dan mungkin teman-teman yang lain juga hanya bisa berteriak kesal, mengumpat dan mencaci maki. Kita mungkin tak punya cukup kuasa untuk memperbaiki sepakbola kita yang kusutnya jauh lebih kusut dari kusutnya benang manapun di dunia ini. Kita sama sekali sudah bingung harus memulai dari mana. Semua seperti tak berujung dan tak berpangkal. Kita berada dalam sebuah labirin yang terus saja menubrukkan kita pada dinding-dinding masalah tanpa pernah melihat titik terang yang sesungguhnya.

Mengganti Nurdin Halid dan segenap konco-konconya mungkin adalah pilihan paling tepat saat ini. Setidak-tidaknya kita betul-betul memulai semuanya dari nol. Lupakan dulu harapan tinggi berlaga di Piala Dunia. Kita bisa memulainya dengan membenahi kompetisi dalam negeri. Kita bisa memulainya dengan klub-klub yang sehat dan siap berlaga secara profesional tanpa membebani daerah dengan terus menyusu dan meminta APBD.

Kalau kompetisi dalam negeri sudah beres, baru kita bisa melangkah lagi untuk kembali menaklukkan AsiaTenggara. Tak perlu susah-susah mengirim belasan –atau bahkan puluhan- anak muda ke luar negeri untuk berlatih. Kalau kompetisi sudah lancar, profesional dan tertib, bakat-bakat muda yang mengkilap saya yakin akan muncul dengan sendirinya.

Masalah terbesar yang akan dihadapi PSSI mungkin adalah ketidaksabaran para pecinta sepakbola tanah air. Atau malah ketidaksabaran mereka sendiri ?. Mungkin karena tak sabar pula maka mereka selalu menempuh cara-cara instant untuk meraih kesuksesan. Ah, terlalu naif saya kira. Kita memang sudah terlalu jauh dari negara-negara lain, bahkan dari tetangga kita di Asia Tenggara. Tapi kalau langkah instant yang lebih mahal itu tak jua mendatangkan hasil yang setimpal ?, rasanya kita memang harus berhenti sejenak, menarik nafas dan kemudian meniti jalan sedikit demi sedikit dengan tentu saja bekal kesabaran yang luar biasa besar.

Tapi bagaimana mungkin sebuah organisasi besar macam PSSI dinakhodai oleh seseorang dari balik jeruji besi ?. Kalau berbicara tentang sebuah organisasi mafia yang kerjanya hanya mengurus perdagangan obat bius sih mungkin masih masuk akal, tapi kalau PSSI ?, atau jangan-jangan PSSI memang sudah berubah seperti sebuah mafia obat bius ?. Entahlah..

Jadi ?, harapan apalagi yang akan kita sematkan di dada putra-putra ibu pertiwi berseragam merah putih dengan lambang garuda di dadanya itu ?. Percuma saja, karena semua harapan nampaknya akan berakhir di satu kata, GAGAL..!!. jadi percuma berharap kalau yang mengurus masih yang itu-itu saja. Percayalah, anda dan kita semua hanya akan capek berharap dan berharap.

Saya sudah sampai pada titik paling apatis terhadap sepakbola dalam negeri. Menonton pertandingan sepakbola dalam negeri atau pertandingan yang dimainkan timnas hanya jadi obat kantuk paling sempurna bagi saya. Tidak punya rasa nasionaliskah saya ?, entahlah..yang jelas saya menuding mereka yang menggunakan sepakbola sebagai jalur utama berbisnis itulah yang lebih tidak nasionalis dari saya. Mereka bahkan tega menelantarkan harapan jutaan warga Indonesia yang seharusnya mereka emban dan jalankan sepenuh hati.

Sudahlah, saya mau tidur dan mempersiapkan diri lebih matang untuk menyambut Euro 2008 nanti. Tolong bangunkan saya kalau Nurdin Halid sudah diganti, supaya saya bisa bersama anda lagi, mulai berharap akan kejayaan sepakbola kita.

Dan oya, saya juga turut berduka cita atas meninggalnya sepakbola Indonesia.

About The Author

6 Comments

  1. Nuntung
    10/12/2007
  2. daeng rusle
    10/12/2007
  3. adhi
    10/12/2007
  4. ipul
    11/12/2007
  5. deen
    11/12/2007
  6. Hilman
    12/12/2007

Add Comment