Rahasia Sepak Bola Jerman

Tim Nasional Jerman Setelah Mengalahkan Perancis [foto; FIFA.com]

Tim Nasional Jerman Setelah Mengalahkan Perancis [foto; FIFA.com]

“Sepak bola adalah permainan sebelas orang melawan sebelas orang lainnya yang akhirnya dimenangkan Jerman.”

Kalimat bernada satir di atas diucapkan Gary Lineker, penyerang andalan Inggris akhir 80an dan awal 90an. Ini sekadar menggambarkan bagaimana kesalnya Gary karena negaranya selalu sulit melewati hadangan Jerman. Gary bermain bersama timnya kala negara mereka kalah dalam duel adu penalti di semi final piala dunia 1990. Enam tahun kemudian tim Inggris yang sudah tidak diperkuat Gary Lineker kembali kalah di semifinal Euro dari Jerman, perihnya lagi karena kejadian itu terjadi di tanah mereka sendiri.

Bicara sepak bola haram hukumnya bila tidak menyertakan nama Jerman. Selain Brasil, Jermanlah satu-satunya negara yang tidak pernah gagal masuk putaran final piala dunia kecuali kala mereka masih terkena sanksi akibat perang dunia. Jumlah bintang di dada mereka memang kalah dari Brasil dan Italia, tapi soal konsistensi tidak ada yang mengalahkan Jerman.

Bayangkan, Jermanlah satu-satunya negara yang secara konsisten bisa masuk semi final di empat helatan terakhir piala dunia. Kalau mundur jauh ke belakang mereka juga jadi satu-satunya tim yang bisa masuk final piala dunia tiga kali berturut-turut (1982, 1986 dan 1990) dengan satu raihan juara dunia. Jerman hanya gugur di babak perempat final di dua piala dunia berturut-turut, tahun 1994 dan 1998.

Akhir tahun 90an dan awal 200an sebenarnya jadi periode terburuk sepak bola Jerman. Setelah gugur di perempat final piala dunia 1998 dari Kroasia, dua tahun kemudian mereka gugur di Euro 2000. Parahnya lagi karena mereka gugur di babak penyisihan grup, bahkan jadi juru kunci. Jerman pulang dari Belgia-Belanda 2000 dengan total 1 gol dan 1 poin. Hasil yang sangat memalukan bagi Jerman.

Kegagalan di Euro 2000 itu jadi alarm bahaya buat Jerman. Dengan cepat Deutschland Fussball Bund (DFB-PSSI-nya Jerman) melakukan review dan mencari akar masalah jatuhnya sepak bola mereka. Masalah utama adalah pada pembinaan. Generasi sepak bola Jerman seperti terputus, tim nasional mereka dikuasai oleh pemain-pemain tua dan tim lokal lebih senang menggunakan jasa pemain impor.

DFB lalu mengambil langkah cepat, fokus utama adalah pada pembinaan pemain muda. Mereka menyiapkan dana 20 juta Euro untuk memperbaiki pembinaan pemain usia muda. Tapi, dana 20 juta Euro tentu bukan dana yang sedikit. DFB memutar otak, dengan cara tepat mereka mendekati klub-klub Bundesliga dan mengajak klub-klub itu untuk ikut berpartisipasi. Fasilitas dari klub-klub Bundesliga dimaksimalkan, tentunya DFB juga membuat regulasi yang mengharuskan klub-klub itu untuk ikut ambil bagian.

*****

Kerja keras DFB dan Bundesliga itu dengan cepat menunjukkan hasilnya. Tahun 2002 tim nasional Jerman sudah mulai dihuni pemain-pemain muda. Hasilnya, Jerman lolos sampai ke partai final sebelum takluk dari Brasil.

Program pelatihan pemain muda juga terus dikembangkan, dana yang dianggarkan tiap tahunnya terus bertambah. Dari 20 juta Euro di tahun pertama naik menjadi 48,75 juta Euro di tahun berikutnya dan terus bertambah setiap tahunnya. Puncaknya di tahun 2009 tim nasional U-17 dan U-21 Jerman secara bersamaan menjadi juara di Eropa. Setahun kemudian di Afrika Selatan 2010 sebagian pemain Jerman U-21 itu malah jadi tulang punggung Jerman seperti Mezut Oezil, Semi Khedira dan Andreas Muller. Di dua piala dunia berturut-turut (2006 dan 2010) dua pemain Jerman terpilih sebagai pemain muda terbaik, Podolski di 2006 dan Muller di 2010.

Tapi, selain membentuk pemain muda secara fisik dan skill, Jerman juga tidak melupakan satu hal: menanamkan karakter bermain a la Jerman. DFB menyiapkan para pelatih tenar Jerman untuk terus menanamkan visi, misi dan karakter permainan Jerman pada para pemain muda. Tidak heran kalau sampai sekarang karakter permainan Jerman yang pantang menyerah tetap bisa diwariskan pada para pemain muda.

Di dalam negeri kondisi liga juga sangat kondusif. Aturan dari DFB tidak memungkinkan liga-liga Jerman untuk jor-joran membeli pemain atau menggaji pemain seperti yang dilakukan tim-tim di liga Inggris atau Spanyol. Di Jerman ada aturan 50%+1 yang memungkinkan para fans untuk menjadi pemilik saham klub terbesar. Tentu ini seakan menutup pintu buat para investor besar yang berasal dari luar Jerman untuk membeli klub seperti yang mereka lakukan di negara lain.

Di musim 2012-2013 menurut catatan Sky Sport setidaknya 50% pemain asal Jerman tampil sebagai starter untuk klub mereka di Bundesliga, bandingkan dengan jumlah 35% pemain asli Inggris yang yang turun sebagai starter di Premiership. Jadi tidak heran kalau sekarang Jerman seperti tidak pernah kekurangan pemain muda yang bagus.

Ada syair di lagu kebangsaan Jerman yang sekarang sudah dihapuskan, bunyinya: Deutchland, Deutschland uber alles, uber alles in der welt atau berarti: Jerman di atas segalanya, segala yang ada di dunia.Semangat inilah yang terus dibawa Jerman hingga sekarang, semangat yang dibawa tidak hanya di sektor industri dan keuangan tapi juga di lapangan hijau.

Menarik menanti bagaimana langkah Jerman selanjutnya di piala dunia kali ini [dG]

Sumber:

Panditfootball.com
Sky.news.com
Spiegel.de

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

4 Comments

  1. didut
    08/07/2014
    • iPul Gassing
      09/07/2014
  2. ardha
    08/07/2014
    • iPul Gassing
      09/07/2014

Add Comment