Putaran Pertama Milik Mereka Yang Pantang Menyerah

Akhinfeev selepas kecerobohannya [foto: FIFA.com]

Akhinfeev selepas kecerobohannya [foto: FIFA.com]

Ada 6 tim di putaran pertama ini yang menunjukkan karakter pantang menyerah. Mereka kalah duluan tapi kemudian berbalik jadi pemenang.

Kershakov jadi pemain terakhir yang mencetak gol di putaran pertama piala dunia Brasil 2014. Pemain Russia ini membalas gol Korea Selatan 4 menit sebelumnya. Skor berakhir imbang dengan 1-1, skor imbang pertama yang ada golnya. Dua skor imbang lainnya (Iran-Nigeria dan Brasil-Mexico) masing-masing berakhir dengan nihil alias tanpa gol.

Piala dunia ini memang sangat menarik, 16 pertandingan di putaran pertama menciptakan 49 gol dengan rataan 3.0 gol setiap partai. Hanya ada 2 partai yang berakhir imbang dan bahkan hanya satu yang berakhir dengan skor kaca mata alias 0-0. Belanda jadi tim yang paling rakus dengan mencetak 5 gol yang semuanya dari open play atau bukan dari bola mati. Jerman menyusul dengan 4 gol yang 2 di antaranya berasal dari bola mati.

Hampir tidak ada kejutan besar di putaran pertama ini kecuali kemenangan besar Belanda atas juara bertahan Spanyol dan kekalahan telak mantan juara dunia 2 kali Uruguay dari anak bawang bernama Costa Rica. Sisanya tim besar bisa dibilang melangkah mulus, kecuali Belgia yang bermain sedikit di bawah ekspektasi sebagai tim yang diharapkan membawa kejutan.

Brasil jadi tim yang paling agresif dengan melakukan 28 kali percobaan ke gawang lawan, sementara itu Mexico jadi tim dengan pertahanan terbaik. Mexico melakukan 31 tackling, 7 penyelamatan dan 5 blok. Mereka harus berterima kasih pada Guillermo Ochoa, sang kiper yang berjuang sangat keras dalam pertandingan melawan Brasil malam tadi. Ochoa duduk sebagai kiper terbaik sejauh ini, bersanding dengan nama seperti Thomas Mueller yang jadi top skorer sementara dengan 3 gol. Daniel Alves dari Brasil jadi pemain dengan akurasi umpan terbaik, total dia membuat 158 umpan yang 75.3% di antaranya tepat sasaran. Bek Perancis Raphael Varane di luar dugaan masuk sebagai pemain yang paling banyak bergerak, total Varane menempuh jarak 9.386 meter dengan rata-rata kecepatan lari 32.3 km/j.

*****

Apa kesamaan antara Brasil, Belanda, Costa Rica, Pantai Gading, Swiss dan Belgia? Well, selain sama-sama meraih poin penuh di pertandingan pertama mereka di piala dunia 2014, tim-tim yang saya sebut di atas adalah tim-tim yang mampu bangkit setelah lebih dahulu tertinggal dari lawan mereka.

Brasil menderita duluan akibat gol bunuh diri pertama dalam sejarah piala dunia mereka yang diciptakan oleh Marcelo. Belanda harus meradang duluan setelah Xabi Alonso mencetak gol penalti. Setelah peluit panjang dibunyikan kita tahu siapa yang akhirnya menang. Semangat besar dan pantang menyerah menjadikan tim-tim tersebut terus berusaha menciptakan gol penyeimbang dan bahkan gol kemenangan.

Fenomena menang setelah tertinggal ini biasa disebut orang sebagai Coming From Behind untuk menggambarkan mereka yang mengejar ketertinggalan dan kemudian bahkan berhasil keluar sebagai pemenang. Jerman sebenarnya menjadi salah satu negara yang paling terkenal sebagai tim yang pantang menyerah sampai peluit panjang berbunyi.

Di final 1954 Jerman mencoba menghadang langkah Hungaria yang saat itu jadi tim terbaik Eropa dan bahkan dunia. Jerman (Barat waktu itu) sudah kebobolan di menit keenam lewat kaki pemain terbaik Hungaria, Ferenc Puskas. Dua menit kemudian Hungaria menambah satu gol lagi, piala dunia serasa selesai saat itu juga. Jerman sudah kalah 3-8 di babak penyisihan grup dari Hungaria, jadi sepertinya tidak ada alasan buat anak bawang yang baru ikut lagi piala dunia itu untuk mengalahkan Hungaria di partai final. Ingat, pertandingan baru berjalan 8 menit dan mereka sudah tertinggal 0-2.

Tapi dasar orang Jerman yang tidak kenal kata menyerah, mereka membuat gol di menit kesepuluh lewat kaki Max Morlock dan bahkan kemudian mereka menyamakan kedudukan lewat Helmut Rahn dimenit 18. Skor 2-2 ini bertahan sampai menit ke 82 sampai akhirnya Helmut Rahn menciptakan gol ketiga Jerman dan membawa negara itu jadi juara dunia untuk pertama kalinya.

Kejadian di final 1954 itu seakan jadi batu pijakan Jerman untuk dinobatkan sebagai tim yang tidak kenal menyerah sebelum peluit terakhir dibunyikan. Dua puluh tahun kemudian mereka membuktikannya kembali di final ketika melawan tim Belanda yang juga digadang-gadangkan sebagai tim terbaik Eropa dan dunia. Jerman tertinggal duluan 0-1 sebelum membalas dan akhirnya menang dengan skor 2-1.

Di semifinal Spanyol 1982 Jerman kembali menunjukkan kelasnya. Kedudukan imbang dengan Perancis di 90 menit pertandingan memaksa kedua tim bermain sampai babak perpanjangan waktu. Perancis bahkan unggul dengan dua gol di menit 92 dan 98. Pertandingan seolah sudah selesai saat itu, tapi mereka lupa kalau mereka berhadapan dengan Jerman yang alot dan susah menyerah. Terbukti, Jerman menyamakan kedudukan dengan dua gol di menit 102 dan 108. Hasil 3-3 memaksa kedua tim masuk ke babak penalti. Jerman keluar sebagai pemenang dan menghadapi Italia di final, Perancis harus tertunduk lesu. Menang dua gol di babak perpanjangan waktu bukan jaminan karena lawan mereka adalah Jerman.

Piala dunia Brasil 2014 sudah berlangsung satu putaran, sampai sekarang setidaknya ada 6 negara yang juga punya semangat seperti Jerman: menolak menyerah sebelum laga benar-benar berakhir. Sangat menarik untuk menunggu kiprah mereka di putaran selanjutnya. Akankah semangat pantang menyerah ini akan terus ada atau hanya berkobar di awal?

Buat saya putaran pertama ini adalah milik mereka yang menolak menyerah. Tim-tim terbaik memang pantas mencicipi kemenangan, sementara mereka yang bermain buruk masih punya kesempatan kedua yang jika disia-siakan tentu akan berbuah pahit. Selamat menikmati piala dunia yang bergairah ini! [dG]

About The Author

Add Comment