Presiden Kita dan Sepak Bola

SBY dan tropi piala dunia (foto: VivaNews)

SBY dan tropi piala dunia
(foto: VivaNews)

Di masa pemerintahan Soekarno, tim sepak bola Indonesia disegani sebagai macan Asia. Di masa pemerintahan Soehartopun sepak bola kita masih bisa berprestasi. Setelahnya, sepak bola kita seperti jalan di tempat. Bagaimana dengan nasib sepak bola kita di masa pemerintahan presiden ketujuh nanti?

Sejak piala dunia 2006, sebuah pemandangan unik hadir di hampir setiap pertandingan tim nasional Jerman di piala dunia. Seorang wanita berambut pendek berwarna keemasan kerap hadir di kursi penonton. Wanita itu tidak segan bersorak kegirangan ketika tim nasional Jerman mencetak kemenangan, tingkahnya spontan dan apa adanya.

Wanita itu bernama Angela Merkel, kanselir Jerman yang jadi pucuk pemerintahan salah satu negara terkuat di jagad sepak bola itu. Sejak piala dunia digelar di Jerman 2006, Angela yang naik menjadi kanselir sejak 2005 selalu meluangkan waktu untuk hadir di lapangan dan memberi semangat bagi tim nasional Jerman.

Kebiasaan Merkel berlanjut empat tahun kemudian di Afrika Selatan. Dia masih setia menemani perjuangan tim asuhan Joachim Loew di lapangan, bahkan delapan tahun kemudian ketika Jerman hadir di Brasil, Merkel juga ikut hadir. Secara konsisten Merkel terus memberi dukungan kepada tim nasional Jerman hingga akhirnya Jerman menuntaskan puasa gelar selama 24 tahun.

Kedekatan Angela Merkel dengan tim nasional sebenarnya bukan hal yang pertama dalam sejarah sepak bola Jerman. Beberapa kanselir terdahulu juga sering datang ke partai final piala dunia yang dimainkan Jerman. Bedanya, Angela Merkel menghadiri lebih banyak pertandingan dari para kanselir pendahulunya, plus Merkel juga tidak segan untuk masuk ke ruang ganti pemain dan bersenang-senang dengan para pemain yang sebagian malah bertelanjang dada.

Saking dekatnya Angela Merkel dengan tim nasional Jerman sampai-sampai para pemain sendiri menganggap Merkel adalah pemain kedua belas mereka. Lukas Podolski menyebut Andrea Merkel sebagai Muttivation bagi tim mereka, mutti adalah sebutan bagi Angela Merkel yang berarti mommy atau ibu. Asisten pelatih, Oliver Bierhoff malah menyebut Andrea Merkel sebagai maskot tim.

Andrea Merkel bukan satu-satunya pemimpin dunia yang dikenal dekat dengan sepak bola. Di negara-negara yang akrab dengan sepak bola pucuk pemimpin mereka rata-rata dikenal akrab dengan sepak bola meski mereka mungkin tidak segila Merkel untuk datang mendukung timnya dan bahkan masuk ke ruang ganti.

Presiden Indonesia saat ini, Susilo Bambang Yudhyono juga kerap terlihat hadir di stadion menonton langsung pertarungan tim nasional Indonesia. SBY juga pernah menyambut langsung kehadiran dua bintang besar dunia, Zinedine Zidane dan Cristiano Ronaldo yang pernah berkunjung ke Indonesia. Meski begitu rasanya sebagian besar orang Indonesia percaya kalau tindakan pak SBY itu lebih karena formalitas belaka. Tidak ada catatan kalau presiden keenam Indonesia ini memang penggemar berat sepak bola. Beliau hanya fasih bermain volley dan gitar dibanding mengocek bola di lapangan hijau.

Soekarno, Pencetak Macan Asia

Kita mungkin sudah lupa kapan terakhir tim nasional kita mencetak prestasi di dunia internasional, tapi generasi yang lebih tua pasti masih ingat bagaimana kejayaan tim sepak bola Indonesia begitu disegani di era 1950an hingga 1960an. Adalah presiden Soekarno yang melecut semangat para pemain sepak bola kita agar bisa jadi tim yang disegani.

Sebenarnya bukan hanya kepada tim sepak bola saja Soekarno menunjukkan perhatiannya. Olah raga jadi salah satu cara bagi Soekarno untuk mempromosikan Indonesia, negeri yang kala itu masih sangat muda. Salah satu peninggalan bersejarah Soekarno untuk olah raga Indonesia adalah pembangunan stadion Gelora Bung Karno yang kala itu menjadi stadion terbesar di Asia dengan kapasitas sampai 100 ribu orang.

Bukti lain yang masih dikenang hingga saat ini adalah keberhasilan tim sepak bola Indonesia menahan imbang Uni Sovyet 0-0 di gelaran Olimpiade Melbourne 1956. Kala itu Uni Sovyet dikenal sebagai salah satu tim terbaik dunia dan tentu saja keberhasilan Indonesia menahan imbang tim beruang merah itu jadi kenangan manis untuk negeri yang susah berprestasi di sepak bola seperti Indonesia.

Tahun 1958 Indonesia tampil di babak kualifikasi piala dunia. Lolos dari putaran pertama dengan menyingkirkan China Indonesia lolos ke putaran grup kedua. Sayangnya karena Indonesia harus satu grup dengan Israel dan Indonesia kala itu menolak untuk bertanding karena alasan politis. Akhirnya Israel yang lolos ke babak play-off setelah Mesir juga menolak bertanding.

Masih di masa presiden Soekarno, Indonesia juga meraih medali perunggu Asian Games 1958 dan meraih medali perak di Asian Games 1966. Dua prestasi yang sampai sekarang sangat sulit untuk diulang. Pokoknya di jaman Soekarno tim sepak bola Indonesia adalah salah satu macan Asia yang ditakuti, tidak seperti sekarang yang bahkan mengalahkan Myanmarpun sulitnya minta ampun.

Selepas era presiden pertama, datanglah era presiden Soeharto. Kala itu sepak bola profesional Indonesia mulai menggeliat. Liga semi profesional bernama Galatama digulirkan, sementara itu liga perserikatan juga ikut ambil bagian. Adalah putra Soeharto yang bernama Sigit Harjoyudanto yang ikut memutar mesin kompetisi lewat perusahaannya yang bernama Arseto Group. Sigit juga ikut aktif di proyek PSSI termasuk membentuk tim nasional Garuda dan tim junior.

Presiden Soeharto memang tidak pernah terlihat langsung hadir di stadion kala tim nasional sepak bola kita berlaga, meski begitu prestasi tim nasional kita di era 1980an masih tergolong manis. Dua kali tim nasional kita bisa merebut medali emas SEA Games tahun 1987 dan 1991. Prestasi yang juga sulit kita ulangi sampai sekarang.

Setelah Soeharto Turun.

Setelah era reformasi atau tumbangnya rejim Soeharto sepak bola Indonesia seperti jalan di tempat kalau tidak mau dibilang mundur. Liga profesional memang diformat ulang, diluncurkan kembali dalam bentuk yang baru mulai musim 1994-1995. Kala itu PSSI juga mencanangkan program Indonesia menuju piala dunia. Sayang, 20 tahun kemudian program itu belum menunjukkan hasil yang positif. Tim nasional kita masih terus merangkak dan berusaha keluar dari cap tim medioker.

Presiden-presiden pengganti Soeharto sepertinya memang lebih sibuk dengan urusan politik, ekonomi dan keamanan negara daripada memikirkan tentang sepak bola. Hanya ada satu presiden yang sebenarnya akrab dengan sepak bola yaitu Alm. Gus Dur. Selain dikenal sebagai kyai dan politisi, Gus Dur juga akrab dengan dunia sepak bola. Di tahun 1980an Gus Dur rajin mengisi kolom di majalah Tempo dengan mengangkat soal sepak bola. Bahkan ketika kesehatannya masih prima beliau pernah hadir jadi salah satu komentator di pertandingan piala dunia 1990 yang ditayangkan TVRI. Sayang masa pemerintahan beliau tidak panjang sehingga beliau tidak sempat membantu perkembangan sepak bola Indonesia.

Lalu bagaimana dengan calon presiden Indonesia ketujuh yang sudah ditetapkan oleh KPU? Saya belum pernah menemukan kedekatan yang luar biasa antara Jokowi dengan sepak bola. Selama ini kita hanya tahu kedekatan beliau dengan musik rock, tidak dengan sepak bola. Ketika berkampanye di Papua, Jokowi berjanji akan memajukan sepak bola Indonesia dengan Papua sebagai kuncinya.

Berbeda dengan Jokowi, sang wakil Jusuf Kalla punya track record kedekatan dengan sepak bola. Di tahun 1980an, perusahaan beliau adalah penyokong utama tim Galatama asal Makassar, Makassar Utama. Di masa liga Indonesia salah satu anak perusahaan beliaupun pernah jadi sponsor utama tim PSM Makassar di musim 1998-1999. Meski begitu ketika beliau menjadi wakil presiden di masa pemerintahan pertama SBY tahun 2004-2009 tidak terlihat ada sumbangsih besar Jusuf Kalla untuk persepakbolaan nasional.

Kalau tak ada aral melintang, 20 Oktober 2014 nanti Indonesia akan punya presiden ketujuh. Sampai ada keputusan lebih lanjut kita harus siap menerima pasangan Jokowi-Jusuf Kalla sebagai calon presiden dan wakil presiden kita. Sebagai penggemar sepak bola saya tidak menaruh harapan besar kepada mereka berdua untuk bisa ikut membantu mengembangkan sepak bola nasional. Tapi, siapa tahu saja perkembangan sepak bola kita bisa berbuah manis di bawah pemerintah mereka bedua. Mungkin ya, mungkin tidak [dG]

About The Author

2 Comments

  1. didut
    25/07/2014
  2. DOMINOQQ
    12/01/2015

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: