Mari Melihat Sepakbola Yang Kembali Indah

Aksi Andrea Pirlo pada pertandingan awal Italia vs Spanyol (foto: UEFA.com)

Ketika Italia berkreasi dengan penuh keindahan yang mereka nikmati di atas lapangan hijau, Spanyol malah terlihat keletihan

Dalam setiap pertandingan final, harus selalu ada pemenang. Tak ada istilah dua tim berbagi kemenangan. Salah satunya harus tampil sebagai pecundang. Euro 2012 telah melewati perjalanan panjang sejak 8 Juni 2012 dan akhirnya sampai pada akhir perjalanannya tanggal 1 Juli nanti.

Akhirnya tersisa dua lelaki yang berhasil membawa anak buahnya hingga ke ujung perjalanan. Vicente Del Bosque di Spanyol dan Cesare Prandelli di Italia

Selama bertahun-tahun Del Bosque loyal pada satu klub, Real Madrid. Tapi dengan dingin sang presiden waktu itu memaksanya pergi dari Santiago Bernabeu karena sikapnya yang kaku dan kurang glamor. Del Bosque beranjak, kemudian diembannya tugas memimpin tim nasional Spanyol dan dengan tanpa ekspresi direbutnya piala dunia untuk pertama kalinya.

Del Bosque mengenal anak asuhnya. Dia memperlakukan mereka sebagai pemain, bukan wayang di atas panggung. Dia berikan panggung itu kepada mereka, dia berikan kebebasan untuk berkreasi sesuka hati mereka.

Prandelli tak jauh berbeda. Dia juga menyayangi anak asuhnya. Dia mengubah sebuah permainan negatif menjadi sebuah keindahan dan pragmatisme menjadi sebuah permainan menyerang berkualitas. Di belakang Prandelli ada seniman bernama Andrea Pirlo, penyerang tak tertebak Antonio Cassano, pekerja keras Daniele De Rossi, Riccardo Montolivo dan Claudio Marchisio. Prandelli seakan berkata kepada mereka, ” Kalian punya gaya dan jiwa, keluarlah dan tunjukkan itu semua.”

Prandelli juga tegak sekokoh karang ketika banyak orang meragukan keputusannya mempercayai Mario Balotelli. Ketika Jose Mourinho di Inter Milan, dia menendang Balotelli yang dianggapnya sebagai perusak tim dan tidak mungkin bisa dijinakkan.

Tapi Prandelli berbeda. Dia mencoba memasuki alam pikiran Balotelli, menjadi pendeta dan figur ayah untuk lelaki bengal itu. Hasilnya, Balotelli muncul di saat seluruh tim membutuhkannya. Dua golnya memaksa Jerman pulang. Selepas pertandingan, Balotelli menunjukkan kalau dia juga manusia biasa. Seorang lelaki bengal yang ternyata sangat sayang pada ibunya.

Balotelli bukan aktor utama Italia tentu saja, tapi Pirlolah orangnya. Schweinsteiger berusaha menekan sang gelandang di lapangan tengah, tapi Pirlo seperti menari dengan kelincahan yang tidak terbayangkan, membuat Schweinsteiger gugup dan terjatuh.

Sebuah pertarungan antara seniman dari Italia melawan olahragawan dari Jerman.

Ketika Italia berkreasi dengan penuh keindahan yang mereka nikmati di atas lapangan hijau, Spanyol malah terlihat keletihan. Mereka mulai jatuh secara mental dan fisik ketika nyaris sepanjang tahun mereka berhadapan dengan tim yang selalu menolak meladeni permainan terbuka mereka.

Nyaris semua tim yang mereka hadapi selalu memilih jalan untuk bertahan. Ini membuat Spanyol putus asa dan kemudian frustasi. Seberapa sering kita melihat pemain seperti Xavi Hernandez, Andres Iniesta dan Xabi Alonso terus saja bermain di lapangan tengah, mengoper satu sama lain, berlari dan kemudian mengoper lagi karena tim lawan mereka menolak untuk bertarung dan hanya menunggu di depan garis pertahanan? Perlahan-lahan Xavi mulai terlihat capek dan bosan.

Dua kiper terbaik dunia (foto: UEFA.com)

Tapi mari berandai-andai. Jika Italia memutuskan untuk bermain terbuka di final nanti bisa jadi itu malah akan membuat pemain Spanyol kembali bergairah. Apalagi mereka punya niat besar menjadi negara pertama yang memenangkan 3 tropi besar secara berturut-turut.? Juara Eropa, juara dunia dan kemudian juara Eropa lagi.

Pertarungan besok adalah pertarungan antara dua maestro, Andrea Pirlo dan Xavi Hernandez. Dunia akan menjadi saksi siapa di antara mereka yang paling fasih mengatur orkestra permainan di babak puncak penuh tekanan itu.

Pirlo sudah menyatakan rasa penasarannya akan batasan akhir kekuatannya. ” Karir saya sudah hampir selesai. Saya mungkin tidak akan lama lagi merasakan emosi seperti ini, tapi sebelum itu semua berakhir saya ingin tahu sampai batas mana saya bisa bertahan.” Katanya.

Xavi seperti biasa tetap diam dan tenang. Di lapangan dia akan membagi bola dengan karibnya, Iniesta dan dengan semua pemain Spanyol yang memang punya niat untuk berlari dan mencetak gol. Xavi sudah memainkan banyak partai besar, memenangkan sebagian besar di antaranya dan jika fisiknya mengijinkan dia tentu akan mencobanya sekali lagi.

Minggu nanti waktu Kiev kita akan melihat ujian terakhir untuk para kiper, pemain bertahan, playmaker, gelandang dan para penyerang. Italia sudah menahan imbang Spanyol di awal perjalanan Euro 2012, dan itu satu-satunya gol yang bersarang di gawang Casillas di Euro 2012.

Prandelli sudah bersumpah untuk mengeyahkan semua pikiran negatif dan keraguannya. Dia memasang De Rossi kembali ke posisi awalnya di lapangan tengah. Prandelli sudah berjanji akan memberikan kebebasan pada pemain seperti Marchisio, De Rossi atau Montolivo. Prandelli tidak menyebut Pirlo dan Balotelli karena dia tahu kedua orang itu akan menunjukkan kelasnya di saat yang tepat.

Kiev akan jadi saksi pertarungan terakhir para seniman bola itu di tahun 2012. Kita, yang hanya berdiri di pinggir lapangan atau di depan kotak kaca boleh berharap kembali sepakbola akan menjadi indah sebagaimana seharusnya. Tak perduli siapapun yang akan tertawa nanti, sepakbola harus kembali terlihat indah. Agar kita bisa menikmatinya.

[dG]

About The Author

One Response

  1. greenfaj
    02/07/2012

Add Comment