Sepakbola

Juara Baru di Piala Dunia 2018?

The final!

Pfiuh, akhirnya gelaran Rusia 2018 sudah mendekati klimaks. Awalnya 32 tim dan malam ini (15 Juli) akan berakhir dengan dua tim saja yang memperebutkan piala bersepuh emas setinggi 36,5 cm itu.

PERJALANAN PANJANG ITU MENYISAKAN PERANCIS DAN KROASIA. Dua tim yang akuilah, tidak terlalu difavoritkan di awal turnamen. Perancis masih kalah pamor dari tim seperti Brasil, juara bertahan Jerman dan bahkan mungkin Argentina dengan Lionel Messi-nya. Sementara Kroasia, hmmm…sepanjang sejarah tim ini lebih banyak jadi kuda hitam, makanya tidak pernah terlalu difavoritkan untuk jadi juara. Menyulitkan tim besar mungkin iya, tapi tidak sampai lolos ke partai puncak.

Tapi bukti di lapangan hijau berkata lain.

Di semifinal kemarin saya memprediksi Perancis dan Inggris yang akan lolos ke final. Secara kualitas, empat tim yang bermain di semifinal semuanya memang punya rataan kualitas yang hampir sama. Tapi, saya memperhitungkan soal mental sebelum semifinal dan menurut saya Perancis dan Inggris yang paling siap sedang Belgia dan Kroasia sudah kehabisan bahan bakar.

Ehhh, prediksi saya ternyata salah. Tidak benar-benar salah sebenarnya, karena Perancis memang benar lolos ke final. Sedangkan Inggris? Saya salah memprediksi kalau ternyata mental mereka memang bukan mental pemenang. Minimal tidak sekuat mental pemain Kroasia yang berjuang mati-matian bahkan di tengah kelelahan yang mendera.

Dengan bekal kesalahan 50% memprediksi partai final itu, sekarang saya dengan tidak tahu malu akan kembali mencoba memprediksi partai final. Iya dong, namanya juga penonton bola ya harus berani memprediksi. Toh tidak ada ruginya kecuali kalau nanti bila prediksi saya salah, saya akan dicap amatiran. Tapi itu tidak masalah.

Lalu, menurut prediksi saya siapakah yang akan jadi juara tahun ini?

Saya akan coba memprediksi secara objektif berdasarkan beberapa acuan. Mulai dari sisi teknis, fisik, mental dan sejarah.

Mari kita mulai.

Teknis

KEDUA TIM SECARA TEKNIS PUNYA KEMAMPUAN YANG HAMPIR SAMA. Sama-sama punya pemain kreatif di lapangan tengah yang bisa jadi pembeda dan sama-sama punya peracik strategi yang cerdas.

Mungkin sedikit bedanya hanya di sektor pertahanan dan penyerangan.

Perancis relatif punya bek yang lebih tenang dan mampu mengorganisir pertahanan dengan lebih baik. Terbukti di pertandingan terakhir melawan Belgia. Bek-bek Perancis bekerja sagat baik menyulitkan penyerang Belgia. Sementara Kroasia, kekurangan dari bek mereka adalah kurang lincah dan sering panik ketika mendapatkan serangan cepat di dalam kotak pinalti. Terbukti ketika melawan Denmark dan Rusia. Mereka kebobolan oleh gol lewat serangan cepat.

Di sisi penyerangan, Kroasia praktis hanya bertumpu pada Mario Mandzukic sebagai ujung tombak meski pemain lain juga bisa sangat membahayakan. Mandzukic juga berbahaya sebenarnya, dialah yang menenggelamkan mimpi Inggris untuk ke final. Tapi, secara statistik Mandzukic sebenarnya lebih banyak membuang peluang di dalam kotak pinalti.

Perancis di sisi lain juga punya masalah dengan Giroud yang dijadikan ujung tombak. Giroud juga sama kayak Mandzukic. Lebih sering membuang peluang. Tapi Giroud lebih baik dari sisi sebagai pemain yang membuka ruang dan kesempatan buat pemain lain. Dia lebih maknyus ketika menjadi tembok pemantul bola. Ini bisa sangat berbahaya buat Kroasia.

Di tengah akan terjadi perang antar gelandang yang sama-sama pekerja keras. Perancis punya Matuidi dan Pogba sedang Kroasia punya Rakitic dan Modric yang sama-sama berbahaya.

Di pertandingan melawan Belgia, Pogba sebenarnya sukses dimatikan oleh Fellaini dan Wietsel. Tapi posisi itu justru membuat Matuidi bisa bebas menjadi poros antara bek dan penyerang Perancis. Dua pemain ini saya prediksi akan tetap menjadi tumpuan utama Perancis di lapangan tengah.

Kedua tim juga punya peracik serangan yang cerdas. Sama-sama mampu meracik strategi yang dibutuhkan untuk mengantisipasi perubahan di lapangan. Pembedanya mungkin hanya di kenyataan bahwa Didier Deschamps sudah pernah mencicipi final piala dunia sebelumnya dan sedikit banyaknya itu pasti berpengaruh pada timnya.

Fisik.

INI JADI PEMBEDA BESAR UNTUK KEDUA TIM. Perancis menjalani semua partai dengan normal, tanpa ada perpanjangan waktu. Mereka total bermain 540 menit sejak partai pembuka hingga semifinal. Sedangkan Kroasia membutuhkan tiga tambahan waktu di babak gugur, mereka total menghabiskan 630 menit hingga tiba di final. Belum termasuk fisik dan psikis yang terkuras dari dua adu pinalti.

Perbedaan ini bisa sangat berpengaruh pada permainan di lapangan. Ketika melawan Inggris, sudah terllihat bagaimana pemain Kroasia sangat kelelahan dan mulai kehilangan fokus. Salah umpan, salah mengambil keputusan dan salah antisipasi. Beruntung bahwa mereka punya mental yang sangat kuat dan Inggris tidak mampu memanfaatkan dari sisi kebugaran fisik itu.

Di final, Perancis pasti sudah mengantisipasi soal ini. Apalagi mereka punya seorang Kylian Mbappe yang punya kecepatan dan usia yang masih muda. Mbappe bisa dipaksa untuk sering-sering berlari ke garis pertahanan Kroasia dan memecah konsentrasi mereka, plus Perancis punya Griezman yang punya kemampuan melepas umpan satu sentuhan yang luar biasa.

Kalau Kroasia memilih meladeni Perancis dengan permainan terbuka, maka nampaknya ini akan jadi masalah yang berat bagi mereka.

Mental.

SAYA HARUS AKUI KROASIA PUNYA MENTAL YANG SANGAT KUAT. Tertinggal satu gol dari Inggris dengan tenaga yang sudah terkuras habis, mereka masih saja terus menekan sampai akhirnya bisa menyamakan kedudukan dan bahkan menciptakan gol kemenangan.

Ini luar biasa! Tanpa mental sekuat baja, Kroasia sudah akan menyerah. Toh, prestasi masuk ke semifinal saja sudah sangat bagus buat mereka.

Di sisi seberang, mental Perancis belum teruji sepenuhnya. Saat melawan Argentina mereka nyaris terkejar setelah menang 4-2. Mereka pun belum pernah berada dalam situasi sangat tertekan dan harus mengejar ketertinggalan, apalagi di partai besar.

Kroasia punya keunggulan di sisi ini. Mereka pasti sudah kepalang basah, sudah masuk final sekalian saja menang.

Sejarah.

INI FAKTOR X YANG MAU TIDAK MAU HARUS DIANGGAP PENTING JUGA. Sejarah mencatat hanya ada delapan negara yang pernah jadi juara. Kedelapan negara itu punya akar sepakbola yang kuat yang mampu membuat mereka meraih prestasi tertinggi di piala dunia.

Tingkat tekanan yang sangat tinggi membuat tidak sembarang negara bisa menjadi juara. Berbeda dengan Piala Eropa atau Piala CONMEBOL misalnya, di dua ajang bergengsi itu negara semenjana pun bisa menjadi juara. Tapi tidak di piala dunia.

Piala Dunia adalah ajang paling tinggi yang bisa diperebutkan oleh tim nasional. Lingkupnya satu dunia, bukan cuma satu benua saja. Karenanya tekanannya sangat tinggi dan tidak sembarangan yang bisa menjadi juara.

Ketika Brazil menjadi juara baru, kita semua sudah tahu bagaimana jejak Brazil di dunia sepakbola. Begitu juga ketika Argentina menjadi juara baru di tahun 1978, atau Inggris di tahun 1966. Ketika Perancis menjadi juara baru di tahun 1998, mereka pun sudah tercatat beberapa kali masuk semifinal meski akhirnya tidak pernah masuk final. Artinya, akar sepakbola mereka sudah cukup kuat.

Mungkin satu-satunya anomali adalah Spanyol di 2010.

Spanyol tidak pernah masuk semifinal sebelumnya dan selalu hanya berakhir sebagai “tim jagoan kualifikasi yang tidak bisa berbuat banyak di putaran final”. Tapi, di level Eropa, Spanyol sudah dua kali juara sebelum masuk ke final Piala Dunia 2010 (dan kemudian juara lagi dua tahun kemudian). Setidaknya ini bukti kalau Spanyol sebenarnya punya kualitas. Plus, liga Spanyol di akhir dekade 2010-an sedang merajai Eropa. Jadi meski Spanyol adalah anomali, tapi tidak benar-benar anomali seperti yang kita kira.

Berbeda dengan Kroasia. Kroasia hanya sekali mencicipi partai semifinal di tahun 1998. Oke, ini karena negara mereka memang baru  diakui dunia di tahun 1992. Kalau menilik sejarah negara induk mereka Yugoslavia, jejaknya di piala dunia cukup mentereng meski tidak sampai final juga. Lagipula, Kroasia dan Yugoslavia adalah dua negara berbeda.

Jadi kalau menilik sejarah, maka tentu saja sejarah Perancis dan Kroasia di Piala Dunia FIFA berbeda cukup jauh. Selain pernah menjadi juara, Perancis juga sudah berulangkali masuk semifinal dan tiga kali masuk final. Berbanding Kroasia yang baru dua kali masuk semifinal dan sekali masuk final.

Faktor sejarah memihak Perancis tentu saja.

Infografis statistik dua tim finalis

Dari berbagai alasan di atas, saya condong menempatkan Perancis sedikit di atas Kroasia sebagai pemenang partai final ini. Kemungkinan menangnya tipis saja, paling tidak 1-0 atau 2-1. Bahkan mungkin saja partai ini akan berakhir dengan adu pinalti seperti final 2006.

Meski ada yang mengandalkan siklus  juara baru setiap 20 tahun, tapi saya agak yakin tahun ini siklus tersebut tidak berlanjut. Juara baru di 2018? Hmmm, I don’t think so. [dG]

Bagikan Tulisan Ini:

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | [email protected] |Connect ke Google+ profile

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.