Elegi Buat Casillas

Kisah Casillas dan Madrid harus berakhir

Kisah Casillas dan Madrid harus berakhir

Menjadi legenda untuk klub sebesar Real Madrid tidak mudah, harus siap disingkirkan kapan saja.

SAYA LUPA KAPAN PERTAMA KALI MELIHAT PENAMPILANNYA, mungkin sekitar awal tahun 2000an di masa kejayaan duet Raul dan Morientes. Lalu, dia juga ada di awal masa terbentuknya Los Galacticos. Sebuah tim yang dianggap berisikan pemain yang datang dari galaksi nun jauh di sana. Bukan tim biasa.

Dia berdiri di belakang pemain-pemain besar yang pernah ada di muka bumi. Di belakang Zinedine Zidane, Roberto Carlos, Ronaldo, David Beckham sampai Cristiano Ronaldo. Dia juga berdiri di depan banyak pemain besar. Dari Ronaldinho sampai Messi, dari Totti sampai Balotelli, semua pernah berdiri di depannya. Pernah merasakan sulitnya menembus gawang yang dijaganya.

Iker Casillas Fernandez. Dari sekian banyak pemain Real Madrid yang dibenci fans Barcelona, pria dari Mostolles ini sepertinya masuk perkecualian, sama seperti Kaka yang sempat beberapa jenak membela Real Madrid.

Iker tidak banyak tingkah, dia lebih banyak tampil tenang di depan garis gawangnya. Fokus memberi instruksi pada kawan, memberi semangat pada kompatriotnya dan berkonsentrasi penuh membaca permainan lawan. Nyaris tak pernah ada perselisihan dengan lawan-lawannya, bahkan dengan pemain Barcelona yang di atas kertas adalah lawan tradisional mereka.

Iker datang sebagai bocah ajaib di belakang garis pertahanan tim ibu kota Spanyol itu. Gaya tenangnya membuat pemain-pemain berkostum putih itu bisa tenang menjalankan tugas mereka karena yakin ada Iker di belakang sana. Bahkan ada masa ketika para fans menjulukinya “Santo Iker” atau “Saint Iker”. Julukan ini adalah bukti sayang fans, betapa mereka menganggap Iker sebagai seorang penyelamat, titisan Jesus yang selalu membawa cahaya terang bagi Real Madrid.

Di tim nasional Spanyolpun Iker perlahan mendapatkan tempatnya. Menjadi penjaga pertahanan terakhir dan bahkan menjadi kapten. Puncaknya di tahun 2008 ketika Iker memimpin rekan-rekannya menjadi juara Eropa dan dilanjutkan dengan menjadi juara dunia dua tahun kemudian. Seakan tidak cukup, 2012 Iker kembali menjadi kapten yang mengangkat trofi piala Eropa setelah menuntaskan perlawanan Italia di final.

Momen itu sekaligus menjadi momen yang menegaskan kebesaran hati seorang Iker. Kemenangan besar Spanyol atas Italia tidak membuat Iker besar kepala, dengan kebesaran hatinya dia mengirimkan hormat untuk Italia yang baru saja dikalahkannya. Seorang Iker memang pemain besar.

*****

TAPI WAKTU MENGUBAH SEGALANYA. Tidak ada yang abadi di hadapan sang waktu. Usia mulai menggerogoti penampilan Iker, membuatnya perlahan tak segesit dulu lagi. Dan ketika Jose Mourinho mendarat di Madrid, perlahan Iker mulai memanaskan bangku cadangan. Jose lebih memilih Diego Lopez dan membiarkan Iker duduk dengan mengetatkan jaketnya di bangku cadangan.

Iker datang ke Brazil tahun 2014 bersama timnas Spanyol. Vicente Del Bosque memberinya kepercayaan penuh, menjadi penjaga pertahanan timnas meski di kub dia jarang beraksi. Sial bagi Iker, di pertandingan perdana Belanda sudah membuatnya malu. 5 gol bersarang di gawangnya, dua di antaranya adalah kesalahan Iker yang malam itu tampil seperti anak yang baru saja dipromosikan ke tim senior. Cahaya Iker makin meredup.

Semusim kemudian Carlo Ancelotti masih memberinya kepercayaan penuh, menjadi penjaga pertahanan Real Madrid. Musim pertama masih berjalan mulus, berakhir dengan gelar Champion kesepuluh buat Madrid atau kedua buat Iker. Tapi, musim kedua adalah mimpi buruk. Iker kembali jatuh ke titik nadir, penampilannya memburuk.

Sampai kemudian fans yang sama dengan yang dulu menyebutnya santo sekarang malah mengejek dengan boo dan siulan panjang di laga melawan Valencia. Tak ada lagi Santo Iker, tak ada lagi sang penyelamat. Tersisa Iker yang bukan siapa-siapa selain pecundang yang sudah tidak pantas berdiri di antara pemain besar berseragam Real Madrid.

Pertalian Iker dan Real Madrid harus berakhir. Florentino Perez sang presiden yang memang terkenal hobi menyisihkan pemain tua yang tinggal sepah mempersilakan Iker untuk mengepak kopernya. Iker sebenarnya masih mau tinggal dua tahun lagi sampai masa kontraknya selesai, tapi itu bukan opsi yang dipilih Perez dan Real Madrid. Silakan cari klub lain, Anda bukan siapa-siapa lagi, mungkin itu kata mereka.

Dan dalam sebuah jumpa pers sunyi seperti permintaannya, Iker menangis, tercekat dan sulit melanjutkan kata-kata. 25 tahun bukan masa yang singkat, gelar Santo juga bukan sembarangan. Tapi itu tinggal kenangan, waktu serupa tsunami yang menyapu bersih semuanya hingga tak tersisa.

Di media sosial, pemain-pemain Barcelona memberi respek dan ucapan selamat jalan, sementara akun resmi Real Madrid malah berhenti mengikuti akun Iker di Twitter. Selesai sudah, beda klub beda perlakuan. Iker mungkin iri melihat bagaimana Barcelona melepas Xavi, legenda mereka. Atau bagaimana Liverpool melepas Gerrard.

Mungkin pula Iker tidak peduli itu semua. Mungkin dia tahu waktu itu akan datang suatu hari nanti, cepat atau lambat. Mungkin kebesaran hatinya pula yang membuatnya meminta jumpa pers dilakukan dengan sunyi, tanpa ada wakil dari tim, tanpa ada teman-teman dari tim.

Sebuah elegi buat Iker, legenda yang harus tahu diri kalau dia besar dan berjuang di klub yang memang tak biasa. Waktu terus berputar, Iker masih punya kesempatan di Porto dan mungkin masih punya kesempatan di timnas Spanyol.

Satu lagi era sepak bola dari masa remaja saya berlalu. Kali ini dengan kisah yang menyedihkan. [dG]

About The Author

3 Comments

  1. lelakibugis
    14/07/2015
  2. Yudi Randa
    15/07/2015
  3. nuha
    21/08/2015

Add Comment