Belanda vs Spanyol = Nike vs Adidas

Timnas Belanda, andalan Nike dalam perang Nike vs Adidas

Timnas Belanda, andalan Nike dalam perang dengan Adidas

Final itu akhirnya akan sampai juga. Dua tim dari dataran Eropa akan saling berhadapan untuk menuliskan nama mereka dalam daftar peraih gelar juara dunia yang ke-19. Hebatnya lagi karena kedua tim sama sekali belum pernah merasakan gelar tertinggi itu sebelumnya. Belanda dan Spanyol adalah calon juara baru, dan salah satu dari mereka akan bergabung dengan 7 negara lainnya yang sudah lebih dulu mencatatkan diri dalam deretan negara terbaik di dunia sepakbola.

Di balik pertarungan puncak di lapangan nanti sebenarnya tersembunyi sebuah pertarungan yang tak kalah serunya, yaitu pertarungan antara dua produsen apparel terbesar, Nike dan Adidas. Nike dan Adidas tak pelak lagi sudah menjadi dua produsen terbesar alat-alat olahraga yang selalu bersaing ketat utamanya dalam satu dasawarsa terakhir. Tak heran bila pertarungan final antara Belanda vs Spanyol nanti menjadi sebuah pertaruhan luar biasa untuk reputasi mereka berdua.

Pertarungan minggu nanti adalah pertarungan jilid ketiga yang mempertemukan Nike dan Adidas secara head to head di partai final piala dunia. Pertemuan pertama mereka terjadi pada final tahun 1998 yang mempertemukan Perancis yang disponsori oleh Adidas dan Brasil yang disponsori oleh Nike. Kala itu Perancis yang berseragam Adidas berhasil mengalahkan Brasil yang berseragam Nike. Kesuksesan Perancis ini disambut meriah oleh Adidas. Menyusul keberhasilan Perancis, Adidas menerbitkan iklan satu halaman penuh berisi ilustrasi formasi pemain bola, di satu sisi lapangan digambarkan formasi 4-5-1 a la Perancis sementara di sisi sebelahnya ada formasi 4-4-2 a la Brasil. Yang menarik adalah karena di sisi Perancis terpasang 11 logo Adidas dengan nama permain-pemain Perancis di bawahnya, sementara di sisi sebelahnya hanya ada gambar bulatan dengan nama-nama pemain Brasil seperti lazimnya ilustrasi formasi sepakbola. Ini jelas sebuah pukulan telak untuk Nike.

Empat tahun kemudian duel antara dua produsen ini terjadi lagi. Kali ini Brasil yang masih berbaju Nike ditantang Jerman yang berbaju Adidas. Beruntung bagi Nike karena kali ini Brasil mampu menekuk Jerman. Prestasi Brasil ini tentu saja disambut hangat oleh Nike meski tidak lantas membuat mereka menerbitkan iklan yang provokatif seperti yang dilakukan Adidas 4 tahun sebelumnya.

Empat tahun kemudian di Jerman 2006, pertarungan antara mereka berdua di partai final urung terjadi karena kali ini justru Italia yang disponsori Puma yang menjadi juara setelah mengalahkan Perancis yang tetap berbaju Adidas. Sebenarnya Adidas boleh saja merasa berbangga karena bagaimanapun Puma adalah adik kandung mereka juga. Puma adalah kreasi dari Rudolf Dassler, adik kandung dari Adolf (Adi) Dassler pencipta Adidas. Awalnya mereka merintis usaha bersama sebelum akhirnya Rudolf mengambil jalan sendiri dan menciptakan Puma.

Tahun ini saat piala dunia untuk pertama kalinya digelar di tanah Afrika, Nike dan Adidas kembali harus beradu head to head di partai final. Ini jelas menjadi partai yang menentukan buat mereka berdua mengingat skor head to head hingga saat ini imbang 1-1.

Di Afrika Selatan 2010, Adidas mensponsori 12 tim nasional sedang Nike mensponsori 9 tim nasional. Adidas sebenarnya selangkah lebih maju karena sejak tahun 1970 mereka adalah sponsor resmi piala dunia yang di dalamnya termasuk menyediakan bola resmi untuk semua pertandingan di piala dunia. Tahun ini Adidas dan Nike saling bersaing dalam teknologi baju seragam tim nasional. Adidas mengembangkan kostum yang diklaim tidak hanya mampu menyerap keringat para pemain namun juga mampu membuangnya lewat sela-sela rajutan kain. Desain kostum Adidas hanya berbobot 20 gram saat dipakai pemain yang berkeringat. Bobot ini tentu sangat ringan dan membuat pemain serasa tidak berpakaian saat ada di lapangan.

Sementara itu Nike memamerkan produk barunya yang berbahan dasar polyethylene terephthalate (PET) yang sebenarnya adalah bahan dasar botol kemasan plastik. Bicara teknologi, baju hasil daur ulang ini dilengkapi teknologi dri-fit. Teknologi ini mencegah basahnya kaus akibat keringat dan sisi kaus yang berpori. Teknologi ini juga memungkinkan pemain tetap merasa sejuk saat bertanding. Ini dimungkinkan lantaran kostum dilengkapi zona ventilasi yang memungkinkan udara mengalir. Zona ventilasi udara terdiri dari ratusan lubang mikro (lazer cut holes) yang ditempatkan di kedua sisi bawah ketiak hingga ke pinggul. Tidak hanya bermanfaat buat pemain, kostum ini juga sangat bersahabat dengan lingkungan karena membantu bumi dari polusi limbah plastik yang tidak bisa diurai tanah. ( ruangberita.com).

Persaingan antara kedua produsen tersebut bukan hanya dari segi seragam saja, namun juga dari alas kaki yang akan dipakai para pemain di lapangan. Adidas memperkenalkan produk terakhir mereka yaitu Adidas F50 Adizero dengan Lionel Messi dan David Villa sebagai ikon pemasarannya. Sedangkan Nike hadir dengan Mercurial Favor dengan menggunakan Christiano Ronaldo dan Wayne Rooney sebagai ikon. Kedua produsen mengklaim produk mereka sebagai yang terbaik dengan berbagai keunggulan termasuk bobot yang ringan dan kemampuan adaptasi dengan gerakan manuver si pemakai.

Menjelang piala dunia Nike juga melansir video promosi untuk produk mereka yang diberi judul “Write the future”. Di situs YouTube, iklan resmi ini disaksikan oleh sekitar 9 juta penonton dari seluruh dunia. Ini jelas sebuah terobosan luar biasa dari Nike dalam upayanya mengungguli kepopuleran Adidas yang sudah terlanjur terkenal sebagai sponsor resmi piala dunia. Ini jadi sebuah bukti kuat tentang rivalitas menahun antara kedua produsen tersebut. Sebelumnya publik juga sudah melihat bagaimana Nike dan Adidas selalu mensponsori tim-tim yang secara tradisi saling bermusuhan. Di Spanyol, Nike mensponsori Barcelona sedangkan Adidas berada di belakang Real Madrid, di Italia Nike menyediakan peralatan untuk Inter Milan sedang Adidas untuk AC Milan. Di Inggris, Nike berada di belakang Manchester United sedang musuh bebuyutannya, Liverpool didukung oleh Adidas.

11 Juli nanti waktu Afrika Selatan, untuk ketiga kalinya Adidas akan bertemu head to head dengan Nike. Ini sungguh sebuah pertarungan gengsi yang luar biasa. Siapapun pemenangnya nanti pastilah merasa pantas untuk menyombongkan diri sebagai produsen apparel yang terbaik. Nah, sekarang mari kita tunggu siapa yang akan berjalan dengan kepala tegak selepas final nanti. Nike, atau Adidas ?

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

One Response

  1. Debby
    13/07/2010

Add Comment