Badai Kincir Angin

 

formasi Belanda kala menghadapi Perancis (foto: Euro2008.com)

 

“ Whatever the Frenchman can do, the Dutchman can do better”

Itu ungkapan yang keluar dari mulut sang komentator pertandingan Belanda vs Perancis ketika Arjen Robben mencetak sebuah gol indah dari sudut yang sangat sempit. Tidak sampai semenit sebelumnya, Thierry Henry baru saja melesakkan satu gol yang sebenarnya juga tak kalah indahnya, dicetak dengan gaya khas Henry yang dingin. Sayangnya, Arjen Robben melakukan sesuatu yang sungguh mampu memupus kekaguman orang pada gol Henry tersebut. Yah, apapun yang bisa dilakukan Prancis, Belanda akan melakukannya dengan lebih bagus.

Saat ini Marco Van Basten mungkin sedang mengenang nostalgia indah 20 tahun lalu saat bersama kompatriotnya berhasil membawa pulang tropi piala Eropa untuk pertama kalinya. Saat itu Van Basten dan seluruh tim oranje di bawah asuhan Rinus Michel berhasil sekali lagi mempraktekkan Total Football dan meraih hasil sempurna.

Marco Van Basten adalah “pewaris” syah gaya permainan Total Football selepas era Johann Cruyff dkk. yang hanya sukses menjadi finalis piala dunia 1974 dan 1978. Tahun 1988, Van Basten bersama Ruud Gullit, Frank Rijkaard, Gerald Vanenburg, Adri Van Tigelen, Ronald dan Erwin Koeman, Hans Van Breukelen serta sederet pemain berbaju oranye lainnya sukses mempertontonkan kembali keindahan sepakbola efektif dan mematikan hasil temuan Rinus Michel tersebut.

Dua puluh tahun kemudian, Van Basten yang adalah “the three musketeers”  terakhir yang menjajal keberuntungan sebagai pelatih setelah Ruud Gullit dan Frank Rijkaard telah lebih dulu mencicipinya, datang ke Austria dan Swiss dengan segerombolan pemain yang didominasi darah muda. Sekali lagi Van Basten mencoba mengaktualisasikan semangat Total Football, seperti yang dirasakannya dua puluh tahun yang lalu.

Hasilnya sungguh mempesona. Datang sebagai tim non unggulan dan berada di bawah bayang-bayang unggulan seperti Jerman dan Portugal serta ditempatkan di grup neraka bersama juara dunia 2006 , Italia dan runner up 2006, Perancis serta kuda hitam Rumania, Belanda ternyata mampu memetik nilai fantastis di dua laga awal.

Italia yang pincang pasca musibah yang menimpa Fabio Cannavaro dibuat tidak berkutik dan harus takluk 3-0. Perancis yang masih gamang selepas kepergian Zinedine Zidane lebih parah lagi. Sang runner up dunia 2006 itu dibekuk 4-1.

Apa rahasia kesuksesan pasukan van Basten tersebut ?. Tak lain adalah karakter Total Football yang berhasil mereka tunjukkan. Para pemain bergerak nyaris tanpa rasa lelah. Saat kehilangan bola, semua pemain serentak menjadi pemain bertahan dan langsung melakukan pressing ketat pada pemain lawan. Saat bola ada di kaki mereka, semua pemain sontak menjadi penyerang, bergerak mencari ruang kosong dan membangun serangan dengan cepat dan efektif. Hasilnya, 5 dari 7 gol yang melesakkan ke gawang lawan adalah hasil serangan balik yang cepat dan efektif.

Van Basten juga berhasil menggabungkan talenta muda penuh bakat dan semangat dengan pasukan veteran yang punya pengalaman. Van Nistelrooy jadi mentor dan terkadang jadi pelayan buat Sneijder, Robben, Kuyt, Van Persie dan semua pemain bertipe penyerang. Van Bronckhost dan Van Der Sar jadi mentor untuk Ooijer, Mathijsen, Boulahrouz dan para pemain bertipe bertahan lainnya. Sungguh sebuah perpaduan yang pas. Bahkan van Bronckhost di usianya yang ke-35 masih tetap mumpuni sebagai salah satu aktor Total Football yang membutuhkan kesiapan fisik yang prima.

Sebenarnya Belanda bukan tanpa cela. Faktor kelemahan mereka ada pada sisi pertahanan, di mana para pemain belakang terkadang melakukan blunder yang cukup fatal yang disertai koordinasi buruk antar para pemain. Namun, kali ini kedisiplinan yang tinggi terbukti cukup mampu membuat para penyerang lawan frustasi. Dan tentu saja tidak boleh dilepaskan peranan Edwin Van Der Sar yang sukses dengan double winner bersama MU musim lalu. Tembok kokoh Van Der Sar membuat pemain sekelas Luca Toni, Andrea Pirlo hingga Thierry Henry jadi kehilangan akal.

Selepas dua pertandingan melawan dua raksasa sepakbola dunia, Belanda tentu menjadi pusat perhatian. Dan itu berarti ekspektasi besar ada di pundak mereka sekarang. Mampukah mereka mempertahankan konsistensi dengan terus mempertontonkan sepakbola terbuka yang efektif-ciri khas Total Footbal ?.  Konsistensi adalah masalah terbesar Belanda setiap kali mengikuti turnamen besar sekelas Euro dan Piala Dunia. Awal yang bagus tak selalu berlanjut dengan akhir yang memuaskan. Mereka sedikit berbeda dengan Jerman atau Italia yang terkadang memulai langkah dengan tertatih sebelum menutup tirai dengan perolehan puncak.

Juara dunia dan runner up-nya telah mereka bekuk dengan hasil meyakinkan, namun lawan besar telah menanti mereka. Lawan besar itu adalah diri mereka sendiri. Mampukah mereka meredakan ego dan euforia yang sudah terlanjur tumbuh itu ?. Sangat menarik untuk ditunggu jawabannya.

Bila anda penggemar sepakbola, maka berharaplah badai dari kincir angin itu akan terus terasa hingga partai puncak 30 Juni nanti. Atau…mungkin badai itu akan menjadi angin sepoi-sepoi saja ?, mari kita nantikan bersama-sama. [DG]

About The Author

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: