Sister Of War ; Cinta di Tengah Perang

Sister Of War

Salah satu adegan dalam Sister Of War

Perang, kondisi tertekan, stress dan perasaan senasib bisa memuncul beragam rasa di antara mereka yang menjalaninya.

Tahun 1942, Jepang menginvasi kawasan Pasifik dan Asia Tenggara. Termasuk sebuah daerah bernama Vunapope di Papua Nugini. Di sana ada sebuah misi katolik di bawah Uskup Leo Scarmach, seorang keturunan Polandia bersama beberapa orang sister. Vunapope juga menjadi kamp untuk beberapa perawat asal Australia yang merawat para prajurit perang pasifik yang terluka.

Sebelum Jepang merapat, kekuatiran sudah membayang di setiap sudut kamp itu. Apakah mereka akan bernasib buruk seperti para korban Jepang lainnya yang mereka dengar ? Apakah para sister dan perawat itu tidak akan diperkosa seperti yang mereka dengar tentang nasib para perawat di Hong Kong ? Bingung, kalut dan kuatir makin membayang ketika kapal perang Jepang sandar di pelabuhan.

Akhirnya Jepang memang menginvasi kamp di Vunapope. Mereka hampir saja membunuh dan menyakiti semua yang ada di dalam kamp, tapi Uskup Leo Scarmach maju sebagai penyelamat. Dengan bekal perlindungan yang diberikan oleh Hitler dia berhasil melunakkan hati kapten dan membatalkan misi pembantaian. Tapi, justru karena itu pula sang Uskup dianggap sebagai penghianat, mata-mata Jepang.

Sikap mendua tumbuh di dalam kamp, antara para perawat Australia dan para sister yang mengidolakan uskup Leo. Para perawat menganggap Leo menghianati mereka sementara para sister menganggap Leo-lah yang menyelamatkan mereka. Perpecahan tidak dapat dihindari.

Di dalam kondisi tertekan di dalam kamp, mereka juga juga tetap saling menguatkan, saling memberi semangat meski hari demi hari harapan mulai pupus. Perlahan-lahan rasa kebersamaan itu menumbuhkan perasaan senasib dan sepenanggungan, membuat mereka makin dekat satu sama lain.

Lorna dan Benerice yang asli

Kisah Persahabatan Dari Sebuah Perang

Kisah Sister Of War adalah sebuah kisah nyata yang diangkat dari kisah seorang perawat bernama Lorna Whyte dan seorang sister dari sebuah misi katolik bernama Berenice Twohill. Mereka bertemu dalam kamp di Vonapupe dan sama-sama merasakan beratnya berada di bawah kekuasaan Jepang yang kadang beringas, kejam dan tidak berperikemanusiaan.

Konflik utama dari kisah ini adalah bagaimana mereka berdua membangun sebuah ikatan yang kadang naik turun meski pada dasarnya tetap saling mencintai layaknya saudara perempuan. Hikmah terbesarnya adalah bagaimana sebuah kondisi perang yang carut marut malah bisa menumbuhkan rasa persaudaraan yang tulus dari dua orang manusia.

Dalam Sister Of War juga ditunjukkan bagaimana sebuah konflik emosional muncul ketika seorang tentara Jepang yang terkenal beringas itu ternyata bisa juga menunjukkan sisi manusiawinya. Sebuah pertanyaan, apakah mereka harus membantu sang tentara sebagai sesama manusia untuk menjadi lebih kuat agar bisa terus membantai mereka ?

Film berduasi 1:30 menit ini digarap cukup apik dengan penggambaran suasana perang dunia kedua yang nyaris rapih. Kekurangannya hanya pada penggalian konflik yang terasa kendor. Terlalu banyak konflik yang coba dimunculkan sehingga kemudian konflik utama jadi kurang tergali. Ini membuat muatan emosional Sister of War jadi agak kurang tergali.

Sebagai sebuah tontonan Sister Of War bisa jadi pilihan, penonton juga bisa menggali sebuah hikmah dari kejadian-kejadian yang digambarkan dalam film ini. Tapi anda tidak bisa berharap lebih, dua jam setelah menonton, film ini bisa saja terlupakan dan tidak terlalu membekas.

About The Author

Leave a Reply

4 Comments on "Sister Of War ; Cinta di Tengah Perang"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
nique
Guest

blom nonton saya, emang main di bioskop?

Kurangnya waktu membuat emosi kurang tergali, jadi pengen tau seperti apa daeng ini klo nanti bikin film dalam menggali emosi pemainnya huehuehue eh kapan emang mo bikin film? 😀

Lomar Dasika
Guest

Film-film reviewan Daeng Ipul bermutu semua yah, kelasnya festival dan ada rasa “berat”nya. hehehehe. thanks udah review ya Daeng, pedoman nonton nich.

oh yah, Guru Bahasa Indonesia SMA saya, Ibu Maya pernah mengkoreksi saya soal penggunaan kata “carut marut”. Katanya yang benar adalah karut marut. manakah yang benar?

wpDiscuz
%d bloggers like this: