Tags: ,

Melihat Realitas Dari Kaca Spion

Rearview Magazine edisi satu dan dua

RVM meski hanya berlabel “majalah komunitas” sesungguhnya adalah sebuah representasi kerja serius dari orang-orang yang punya kecintaan yang sama

Tahukah anda kalau ada anak Indonesia yang desainnya digunakan oleh band sebesar Pearl Jam untuk materi promo mereka? Bahkan sudah sejak 8 tahun lalu Eddie Vedder sang vocalist menggunakan hasil karyanya untuk beragam materi promosi konsernya. Luar biasa bukan?

Tahukah anda resep ampuh dari band bernama Pearl Jam hingga bisa bertahan selama 20 tahun lebih, melewati banyak rintangan dan tetap eksis dengan barisan die hard fans di seluruh dunia?

Tahukah anda kalau Pearl Jam selain punya cita rasa seni musik yang tinggi juga punya cita rasa seni grafis yang levelnya juga tinggi? Tahukah anda kalau band asal Seattle ini selalu serius menggarap poster konser mereka sehingga semua poster mereka benar-benar menjadi barang yang wajib dikoleksi.

Dan yang terpenting, tahukah anda kalau di Indonesia Raya ini ada sekumpulan orang yang begitu memuja band pelantun Black ini sehingga mereka terkesan rela mati demi Pearl Jam?

Mereka ada, dan mereka eksis. Para penggemar Pearl Jam di Indonesia adalah sekumpulan orang-orang yang sudah terlanjur cinta pada Pearl Jam. Mereka jatuh cinta pada setiap lirik, setiap alunan musik, setiap goresan tinta dan setiap attitude dari para anggota Pearl Jam.

Mereka, para fans yang menamakan diri sebagai Pearl Jam Indonesia (PJID) itu datang dengan latar belakang beragam. Ada yang senang menulis, ada yang senang menggambar, ada yang senang memotret. Semua berkumpul karena merasa punya satu kecintaan pada band bernama Pearl Jam. Di dalam PJID, bakat itu semua dikumpulkan. Entah darimana asalnya hingga muncul ide gila membuat majalah komunitas yang lantas diberi nama Rearview Mirror Magazine (RVMmagz).

RVM Edisi Perdana

Akhir tahun 2011 kemarin adalah peluncuran perdana majalah RVM. 24 halaman dengan highlight utama pada penayangan film dokumenter PJ20 yang menandai usia Pearl Jam di industri musik dunia. RVM digarap serius, tidak ada unsur main-main di sana. Latar belakang para redaktur dan seksi sibuk yang beragam membuat RVM hadir tidak sekadar sebagai majalah bagi para penggemar Pearl Jam saja.

Anak-anak PJID sudah terbiasa bekerja dengan standar yang tinggi, jadi jangan heran kalau cita rasa mereka juga tinggi. Jangan heran kalau majalah RVM hadir dengan selera yang tidak menggambarkan kalau majalah ini hanya buatan para anak-anak iseng dengan proyek bunuh diri mereka. Lupakan soal keuntungan karena untuk balik modal saja RVM sudah bisa dibilang untung. Mereka betul-betul hanya ingin menumpahkan kreasi dan ide dalam sebuah benda yang bisa dipegang dan bisa dikoleksi.

Cover RVM

Cover RVM Edisi 2

Sukses dengan RVM edisi perdana, Juli 2012 RVM edisi kedua digeber. Kali ini dengan halaman yang lebih banyak dan tema yang lebih lebar. Bukan melulu soal musik, di RVM edisi kedua anda bisa menemui liputan tentang kuliner di Jakarta, liputan tentang jalan-jalan di Cirebon, tentang anak bangsa kita yang desainnya menembus manajemen Pearl Jam, tentang gaya rambut sang lead vocalist Eddie Vedder, tentang film yang ada hubungannya dengan Pearl Jam dan sebuah artikel berani yang memprediksi album kesepuluh Pearl Jam yang sampai sekarang masih jadi rumor.

RVM sekali lagi menempatkan standar yang tinggi. Desain covernya lahir lewat tangan seorang desainer anggota PJID yang memang punya selera luar biasa. Desain layout-nya juga dikerjakan oleh profesional. Tulisannya? Jangan ragukan. Deretan redaktur RVM memang bukan jurnalis pro, tapi mereka adalah orang-orang yang sudah terbiasa menulis dengan standar yang tinggi, mereka sebagiannya adalah para blogger yang punya selera lumayan dalam menyajikan sebuah tulisan.

RVM meski hanya berlabel “majalah komunitas” sesungguhnya adalah sebuah representasi kerja serius dari orang-orang yang punya kecintaan yang sama. Mereka tidak pernah bertanya berapa keuntungan yang akan didapatkan dari penjualan majalah yang hanya dibandrol Rp. 10.000,- ini. Mereka sudah puas dan seolah orgasme ketika hasil kerja keras mereka diapresiasi publik dengan sebuah decak kekaguman. Apresiasi kadang lebih membahagiakan dari materi bukan?

Membaca RVM seperti melihat ke kaca spion. Melihat sebuah kecintaan (atau mungkin kenaifan) dari orang-orang yang merasa bahagia dengan kebebasan mereka berekspresi dan menyajikannya untuk orang banyak. Ada realitas yang terpancar dalam setiap lembaran RVM, realita yang hadir apa adanya tanpa perlu dilebih-lebihkan.

Salah satu isi dari RVM edisi 2

Ada tulisan tentang kuliner dan Cirebon

Bagi saya RVM memang seperti sebuah kaca spion yang menyajikan realitas di belakang kita yang bisa kita nikmati dalam desain yang memanjakan mata. Saya tidak tahu ada berapa komunitas penggemar band di Indonesia yang melakukan langkah serupa, membuat majalah komunitas. Tapi bagi saya, RVM adalah sebuah karya luar biasa dari gerombolan lost dogs bernama PJID.

Saya menjura untuk mereka.

Keterangan:

Harga RVM edisi 2 dibandrol Rp. 10.000,- bila membeli paket dengan RVM edisi 1 harganya Rp. 15.000,- di luar ongkos kirim.

Untuk pemesanan bisa menghubungi fan page RVM di Facebook atau email ke ekowustuk@gmail.com

[dG]

 

About The Author

Leave a Reply

3 Comments on "Melihat Realitas Dari Kaca Spion"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
wustuk
Guest

Wah, mantap sekali reviewnya! Semoga proyek RVM ini terus berlanjut dan semakin baik kualitasnya

Kuda
Guest

Luar biasa! Standar tinggi, tinggal nyari “kembalian” tinggi, bhihihik

wpDiscuz
%d bloggers like this: