Buku; Menyusuri Lorong Dunia

Sampul buku Menyusuri Lorong-Lorong Dunia

Sampul buku Menyusuri Lorong-Lorong Dunia Edisi Pertama

Buat saya, oleh-oleh terbaik dari sebuah perjalanan adalah cerita tentang perjalanan itu sendiri.

Belakangan ini istilah travel writer, penulis perjalanan atau sejenisnya sudah menjadi tren baru dalam budaya kontemporer. Perjalanan nampaknya bukan jadi milik mereka yang berkantong tebal saja. Penikmat jalan-jalan dengan kantong pas-pasan juga bisa turun ke jalan dan menikmati sesuatu yang dulu mungkin adalah barang mewah. Beberapa dari mereka kemudian memilih menuliskannya, bahkan menjadikannya sebagai jalan hidup yang bisa menghidupi.

Menjadi traveler writer juga nampaknya jadi impian sebagian orang. Terbayang nikmatnya mendatangi tempat-tempat baru yang eksotis, menikmati keindahan alam, keajabain-keajaiban baru, pengalaman baru dan kemudian menuliskannya dan akhirnya malah mendapatkan uang dari situ. Tidak heran jika sekarang lahan tersebut makin dikerubuti banyak orang yang mengaku kencanduan jalan-jalan dan punya kemauan untuk menulis pengalaman jalan-jalannya.

Jenis-jenis tulisan perjalanan juga beragam. Dari yang sederhana tentang informasi dasar sebuah tempat wisata sampai tulisan yang dalam berisi renungan dari sebuah perjalanan. Semua memang kembali kepada si pelaku, apakah dia menikmati jalan-jalan benar-benar hanya untuk kesenangan atau ada filosofi yang dia cari. Pembaca juga tentu senang karena diberi banyak pilihan ragam tulisan perjalanan yang bisa dinikmati.

Dari sekian banyak tulisan tentang perjalanan, buku: Menyusuri Lorong Dunia mengklaim dirinya sebagai buku fenomenal yang menjadi tonggak penulisan travelling di Indonesia. Buku karya Sigit Susanto ini sejatinya diterbitkan pertama kali bulan Desember 2005 dan kemudian diterbitkan ulang akhir tahun 2012.

Kalau menilik tahun penerbitan pertamanya mungkin memang benar kalau buku ini adalah produk generasi awal ketika traveler writing belum terlalu mewabah seperti sekarang. Buku ini bisa jadi diterbitkan ulang untuk ikut ambil bagian kembali dalam arus ketika traveler writing sudah jadi wabah.

Tulisan perjalanan memang dibuat sesuai minat, karakteristik dan gaya sang penulis. Sigit Susanto yang mencintai sastra menjadikan dunia sastra sebagai alasan dan jembatan untuk menuliskan perjalanannya. Tempat-tempat yang dituliskan dalam buku ini semua punya alasan yang sama: tempat favorit para sastrawan. Anda akan menemukan nama-nama seperti Kafka, Multatuli, Pablo Neruda, Hemingway, Flaubert dan lain-lain dan lain-lain. Nama-nama para sastrawan beserta sedikit cukilan dari karya mereka bertebaran di buku ini.

Sebagai orang yang mencintai sastra, Sigit Susanto yang beristrikan orang Swiss dan bermukim di sana menjadikan sastra dan para pelakunya sebagai alasan utama untuk mendatangi beberapa tempat. Mungkin tidak semua, tapi setidaknya sebagian besar tempat yang dia datangi adalah tempat yang punya cerita dalam dunia sastra.

Buku ini cukup menarik karena memang menceritakan sebuah perjalanan dari sisi personal si pelaku, bukan sekadar perjalanan yang menceritakan tentang tujuan, biaya dan tetek bengek teknis lainnya. Sayangnya, cara Sigit menyatukan cerita buat saya masih terkesan dangkal dan terburu-buru. Sigit luput untuk menggunakan banyak metafora yang bisa menggiring pembaca untuk membayangkan apa yang dia lihat sekaligus menciptakan efek dramatis dari sebuah cerita.

Sigit juga kurang menggali sisi personal dari sebuah cerita yang dia sampaikan. Emosi pembaca harusnya bisa lebih dilibatkan jika Sigit jeli memilih kalimat. Buat saya tulisan perjalanan yang bagus adalah yang mampu menggiring pembaca untuk ikut merasakan apa yang dirasakan penulis. Entah itu rasa senang, sedih, capek, bingung atau apapun.

Saya juga agak terganggu dengan beberapa sisi teknis dari buku ini. Ada beberapa kesalahan bahasa seperti penempatan kata “di” yang tidak menggunakan spasi padahal menunjukkan tempat. Kesalahan lainnya juga berupa penempatan tanda baca titik yang seharusnya koma. Beberapa kali kesalahan ini terjadi sehingga cukup mengganggu kenikmatan membaca.

Buku ini berada di tengah-tengah, bukan buku yang bercerita ringan tentang sebuah perjalanan sebagai sebuah panduan wisata tapi juga bukan buku yang bercerita tentang renungan dari sebuah perjalanan. Setidaknya belum berhasil menjadi buku yang penuh dengan renungan.

Tapi sebagai pilihan untuk mengisi waktu dan mendapatkan beberapa informasi tentang kota-kota lain di dunia khususnya yang berkaitan dengan dunia sastra, buku ini bisa menjadi pilihan. [dG]

About The Author

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: