Athirah, Kisah Perempuan Bugis Yang Melawan Dalam Hening

Poster film Athirah

Poster film Athirah

Buat saya film ini bukan film tentang Hadji Kalla atau Jusuf Kalla, tapi sebuah film tentang wanita Bugis yang kuat, yang melawan dalam hening.

“Meninggalki Hadji Kalla,” kata (Alm) Bapak di suatu sore.

Saya yang masih berumur lima tahun waktu itu mencoba meraba-raba, siapa gerangan Hadji Kalla yang disebut (Alm) Bapak? Beberapa tahun kemudian saya baru tahu, beliau adalah ayahanda Jusuf Kalla, boss (Alm) Bapak waktu itu.

Di tahun delapan puluhan, nama Hadji Kalla memang masih sangat terkenal. Beliau adalah seorang saudagar Bugis dari Bone yang berhasil membangun usaha nyaris dari nol. Bone yang dianggap terlalu kecil membuatnya pindah ke Makassar, ibu kota provinsi yang kelak berhasil ditaklukkannya. Usahanya makin membesar ketika sang anak pria tertua meneruskannya. Pria yang berpuluh-puluh tahun kemudian menjadi wakil presiden pertama Indonesia yang berdarah Bugis.

Hadji Kalla meninggal 15 April 1982, hanya berselang 86 hari setelah meninggalnya ibu Athirah, istri pertamanya yang sudah mendampinginya sejak 1937. Kata orang, Puang Aji (sebutan untuk Hadji Kalla) seperti kehilangan pelita harapan sedetik setelah sang istri meninggal dunia. Selepas kepergian Ibu Athirah, Puang Aji hanya menunggu waktu sampai pelita kehidupannya benar-benar padam.

Puang Aji memang pernah “menghianati” sumpah setianya pada sang istri. Dia menikah lagi dengan seorang perempuan lain. “Membuka cabang,” kata orang. Secara syariat agama, apa yang dilakukan Puang Aji memang tidak salah, tapi perempuan tetaplah perempuan. Apa yang dilakukannya sempat menyisakan duka yang mendalam di hati Athirah.

*****

Kisah kepedihan hati Athirah menjadi dasar yang mengilhami novel dengan judul yang sama yang dibuat oleh Albertine Endah. Di novel itu, cerita tentang Athirah dikemas lewat mata Jusuf sang anak kedua yang juga adalah anak laki-laki pertama keluarga itu. Athirah digambarkan sebagai perempuan yang kuat, menahan perih karena diduakan, sempat terjatuh, linglung mencari pegangan bahkan ke “orang pintar” sampai kemudian mendapatkan cara untuk bangkit kembali. Kelak, dia bahkan memberi bukti bagaimana seorang perempuan bisa mengolah rasa sakit menjadi sebuah semangat yang besar, melampaui apa yang bisa dibayangkan seorang pria.

Tiga tahun berselang setelah novel itu diterbitkan, tayanglah sebuah film dengan judul yang sama. Riri Riza berdiri sebagai sutradaranya dan Mira Lesmana sebagai produser. Film ini memang terinspirasi dari novel Athirah, tapi bukan Riri Riza namanya jika dia membuat cerita yang plek sama dengan novelnya.

Film Athirah dibuka dengan adegan perkawinan adat Bugis Makassar yang seolah-olah datang dari masa sebelum adanya kamera berwarna. Lalu adegan berpindah ke adegan sepasang suami istri di atas bak truk yang dihadang gerombolan. Sepasang suami istri itulah Puang Aji dan Athirah, mereka melintasi jalanan yang kala itu masih sangat berbahaya karena dikuasai oleh gerombolan DI/TII. Mereka menuju kota Makassar, kota baru tempat mereka berjuang bersama.

Film Athirah yang mengambil setting kota Makassar tahun 1950an hingga 1960an lalu bergulir. Athirah menjadi pusat orbitnya dengan Puang Aji dan Ucu yang berputar mengelilinginya. Sang suami menikah lagi, meski tetap menjalankan tugas sebagai suami dan ayah. Athirah terpukul, sempat jatuh dan kehilangan kepercayaan diri. Di sekitarnya masih ada anak-anak yang berdiri menguatkannya, terutama si Ucu sang anak lelaki tertua.

Film terus bergulir hingga kemudian Athirah mulai menemukan kembali kekuatannya. Bergerak dari seorang wanita yang terpuruk menjadi seorang wanita yang kuat.

Cappukka’ (habis saya),” gumam Puang Aji ketika bada krisis moneter di pertengahan 1960an menerpa usahanya. Kesulitan keuangan membuat usahanya nyaris tumbang, gaji karyawan tidak tertutupi.

Di saat susah itulah, Athirah muncul sebagai penolong. Si istri pertama yang tersakiti itu, yang sempat tumbang kehilangan kepercayaan diri, muncul sebagai dewi penolong dengan senyum tabah yang menghanyutkan.

*****

Semua pemain tampil memukau, bahkan para pemeran pembantu sekalipun

Semua pemain tampil memukau, bahkan para pemeran pembantu sekalipun

“Hening, puitis dan indah,” begitu sobat saya Lelaki Bugis menggambarkan film ini.

Athirah memang film yang hening. Dialognya sangat minim, tokoh Ucu (Christoper Nelwan) bahkan butuh waktu 50 menit sebelum akhirnya muncul dengan dialog yang panjang. Pun dengan tokoh-tokoh lainnya. Hanya Athirah (Cut Mini) yang memang jadi fokus utama film ini yang mendapat jatah dialog cukup panjang.

Tapi meski minim dialog, film ini jadi sangat menyentuh dengan penggambaran yang sangat sempurna. Riri Riza sangat lihai memainkan bahasa gambar, menampilkan detail dan berbicara dengan benda-benda. Sebagai penguat, ada musik yang sangat pas dengan suasana yang dibangun. Tidak perlu dialog untuk menggambarkan apa yang dirasakan para pemeran. Cukup dengan bahasa gambar dan ekspresi wajah, sentuhannya sudah langsung ke hati para penonton.

Film sepanjang 80 menit ini berjalan dengan tempo yang sedang cenderung lambat. Perasaan penonton lebih banyak diaduk lewat permainan gambar dan musik. Sosok Athirah sendiri dihadirkan Riri Riza menjadi lebih Bugis dari Athirah yang ada di novelnya. Tidak ada Athirah yang nrimo dan pasrah begitu saja ketika suaminya menikah lagi, seperti yang digambarkan Albertine Endah di novelnya. Riri Riza menampilkan Athirah yang sangat Bugis, yang melawan dengan diam, sedih tapi tegas, tegar tapi pilu.

Athirah di tangan Riri Riza menjadi wanita yang benar-benar kuat, yang dengan halus tapi tegas bisa mengusir sang suami dari kamarnya, tapi di waktu yang sama tetap menjadi istri yang menyiapkan makan buat sang suami yang sudah menduakannya.

Film Athirah di tangan Riri Riza adalah film yang sempurna secara sinematografi. Bahasa gambar yang indah dan puitis seperti kata Lelaki Bugis, menyentuh langsung ke hati. Buat penggemar sinetron atau drama picisan, film ini mungkin tidak akan menarik. Tapi buat penggemar film dengan nuansa artistik, film ini sangat layak untuk ditonton.

Semua pemain tampil sangat brilian, kecuali (menurut saya) Jajang C. Noer yang agak kesulitan berlogat Bone. Cut Mini pun sempat kesulitan di salah satu adegan yang membutuhkan dialog panjang. Selebihnya, semua mampu bermain sangat bagus, termasuk para pemain lokal dari Makassar.

Film tentang perempuan Bugis yang kuat, yang berani melawan dengan caranya yang hening, yang mendapatkan cara untuk bangkit selepas terpuruk. [dG]

Vlog review tentang Athirah; Bagaimana Athirah di Mata Kami

About The Author

3 Comments

  1. Eryvia Maronie
    04/10/2016
  2. Ika Puspitasari
    04/10/2016
  3. Reyhan Ismail
    13/10/2016

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: