Yang Tersisa dari Turnamen itu

Wajahnya menegang, bahkan berkedippun rasanya dia tak sempat lagi. Kedua jarinya bertaut dan melekat di depan mulutnya. Sesekali mulutnya komat-kamit sambil melafalkan doa. Sesekali juga teriakan “Yes” meluncur dari mulutnya, seiring dengan lonjakan tubuhnya nyaris meninggalkan kursi yang didudukinya. Namun, tak jarang juga keluhan meluncur dari bibirnya. Sementara matanya tak pernah lepas dari deretan gambar demi gambar di layar televisi.

 

Aksi di atas adalah sedikit rekaman bagaimana ketegangan Ofie-istri saya-saat menyaksikan aksi para srikandi bulutangkis kita menantang China di final piala Uber. Ketegangannya sangat terasa, utamanya saat aksi ganda pertama Indonesia menghadapi ganda pertama China. Pertarungan memang sangat ketat, Indonesia berhasil memaksakan rubber set meski akhirnya harus mengakui juga kelebihan para pebulutangkis China itu.

 

Saya yakin, istri saya tidak sendirian. Mungkin ada jutaan orang Indonesia lainnya di waktu yang bersamaan yang sama-sama merasakan arus adrenalin yang mengalir lebih kencang dari biasanya.

 

Saya sendiri sebenarnya sempat tegang juga, meski akhirnya belakangan lebih sering tergeli-geli melihat aksi tegang Ofie. Sejak awal saya memang sudah pesimis tim Uber kita bisa mengalahkan China, namun di balik rasa pesimis itu saya tetap mengacungkan jempol untuk semangat mereka. Semangat yang kelihatan sekali berkobar sungguh hebat demi kejayaan bangsa. Mereka tidak lantas ciut menghadapi China yang sudah memenangi Uber 5 kali berturut-turut.

 

Semangat para wanita tangguh itu sungguh bertolak belakang dengan aksi para pria pengawal tim Thomas kita yang sehari sebelumnya dilumat Korea Selatan dengan angka telak 3-0. Meski lebih diunggulkan, dengan berbagai peringkat individu yang lebih baik dari lawannya, namun nyatanya mereka tetap kalah dari segi mental melawan pasukan-pasukan dari Asia Timur itu. Mengenaskan.

 

Sekali lagi kita mesti melepaskan mimpi menyandingkan piala Thomas dan Uber, bahkan mimpi merebut salah satunyapun harus kita relakan, meski dengan catatan khusus dan jempol buat tim Uber kita yang sudah mampu melewati target hingga semifinal.

 

 Harapan pastinya tetap ada, tinggal bagaimana kita bisa menyikapi harapan itu untuk merubahnya jadi kenyataan. Memang masih banyak yang harus dibenahi, utamanya dari segi fisik dan mental. Bagaimanapun, bulutangkis telah menjadi salah satu cabang olahraga yang secara konsisten mengharumkan nama negeri kita dan itu yang perlu kita pertahankan.

 

Tak peduli pada apapun hasilnya, kita patut berbangga pada perjuangan mereka. Setelah tahun lalu kita berbangga pada perjuangan para pemain sepakbola kita di ajang Piala Asia, tahun ini kita boleh berbangga pada perjuangan tim Uber kita. Harusnya kita bisa lebih sering dibuat bangga seperti ini. Bukan hanya oleh para olahragawan, namun oleh semua orang Indonesia, tak peduli apapun profesinya.

 

About The Author

Leave a Reply

2 Comments on "Yang Tersisa dari Turnamen itu"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
deen
Guest

Ah Thomas Uber, setelah sejenak “tidur”, akhirnya terbangun juga, walopum masih terpontang panting sadarnya. Mungkin kelamaan tidur kali ya?..
Saat menyaksikan atlit2 muda ini, sejenak sy merasa bangga sbagai bangsa indonesia, khususnya kepada tim uber -meski kalah-, klo thomas?, aduh..masih pacce kesiang.

Hidup Piaaaa…!

😀

isnuansa
Guest

Tim Uber Indonesia melampaui target yang diharapkan, tetapi Tim Thomas malah jeblok. Sayang, saya tidak bisa menyaksikan langsung pertandingan2 tersebut. Hanya tau hasilnya saja..

Kabar baik, alhamdulillah, tapi memang jarang blogwalking. Dulu hampir tiap hari bisa posting, sekarang seminggu sekali saja belum tentu.

wpDiscuz
%d bloggers like this: