Wonderful Eclipse; Surat Kepada Batara Kala

Ilustrasi Batara Kala

Ilustrasi Batara Kala

Dear Batara Kala,

Sejak kecil saya mendengar namamu, seorang raksasa yang licik dan jahat. Orang bercerita kalau dulu kamu berusaha ikut meminum air berkhasiat yang dibagikan Batara Guru meski harus menyamar sebagai Batara Indra. Kelakukanmu dilaporkan oleh Batara Surya, sang dewa matahari sampai sang Batara Guru, dewa yang paling ditakuti itu menghukummu. Saya dengar kamu marah, lalu bersumpah akan memakan Batara Surya, sang dewa matahari.

Ketika kau berhasil memakannya, bumi akan gelap total selayaknya malam. Tapi orang-orang tidak rela, mereka akan keluar rumah memukul lesung, memukul kentongan dan memukul apa saja untuk membuat suasana ribut. Itu untuk menakutimu, membuatmu lari dan melepaskan Batara Surya.

Dear Batara Kala,

Beratus-ratus tahun yang lalu orang mungkin tidak tahu kalau itu namanya gerhana matahari, kejadian alami yang terjadi setiap beberapa ratus tahun sekali. Adalah bulan yang jadi penyebabnya, dia menghalangi sinar matahari yang jatuh ke bumi. Membuat bumi gulita di waktu yang seharusnya matahari bersinar terang. Itu sebelum orang tahu apa itu sains, masa ketika orang masih menganggapmu sebagai satu-satunya penyebab gerhana matahari.

Samar-samar saya masih ingat kejadian itu. Di dalam kamar saya meringkuk bersama ibu, bapak dan adik-adik yang masih kecil. Jendela tertutup rapat, bahkan seingat saya sampai semua lubang di antara jendela ditutup kertas koran. Pokoknya tidak ada sedikit pun cahaya yang boleh masuk. Suasana gulita, pekat oleh gelap meski hari masih siang. Belum ada listrik di rumah kami waktu itu, maklum kami tinggal di kampung.

Ini momen ketika Batara Kala memakan matahari

Ini momen ketika Batara Kala memakan matahari

Siang tapi gelap, suasana mencekam. Itulah suasana gerhana matahari total yang sempat menyapa Makassar di 11 Juni 1983. Saya masih terlalu kecil untuk tahu alasan kenapa kami harus berdiam di dalam rumah. Saya pun masih terlalu kecil untuk tahu apa sebenarnya gerhana matahari itu.

“Kalau melihat langsung gerhana matahari, mata bisa buta.” Jawab ibu ketika saya bertanya kenapa kami harus berdiam dalam rumah.

Mata jadi buta. Siapa yang tak gentar mendengar ancaman itu? Manusia normal di manapun pasti akan gentar. Mata adalah indera yang penting, kehilangannya bisa membuat hidup sengsara.

Di luar kegelapan mulai menyelimuti, saya tidak berani bahkan untuk mengintip sekalipun. Suara-suara ayam yang berkokok tiba-tiba ramai, benar-benar seperti suasana pagi buta ketika matahari harusnya mulai bangun. Sampai kemudian suasana berbeda itu mulai bergeser, hilang ketika matahari kembali terang sebagaimana mestinya.

Gerhana matahari total 1983 berlalu dengan kesan mendalam. Kesan ketakutan yang sampai sekarang masih membekas di kepala saya. Tapi itu dulu, ketika saya masih kecil.

Dear Batara Kala,

Kamu lihat sekarang, setelah 33 tahun berlalu? Orang Indonesia kembali merasakan fenomena itu, merasakan cerita rakyat ketika dirimu menelan matahari. Tapi, sekarang orang Indonesia tidak takut lagi. Orang Indonesia bahkan menunggu datangnya momen ketika dirimu memakan matahari, membuat sebagian Nusantara gulita di pagi hari.

Dulu pemerintah Indonesia bahkan menyebarkan anjuran kepada warga untuk menghindari gerhana matahari. Polisi merazia dan menangkapi pedagang yang kedapatan menjual kacamata khusus untuk melihat gerhana matahari. Departemen penerangan bahkan mengeluarkan anjuran untuk tidak melihat langsung gerhana matahari. Anjuran disebarkan lewat berbagai media, dari baliho sampai siaran televisi. Lengkap sudah alasan untuk meringkuk di dalam rumah, menjauhi gerhana matahari total.

Tapi sekarang berbeda om Batara (boleh saya memanggilmu dengan panggilan itu?)

Berbulan-bulan sebelum gerhana matahari total di beberapa tempat Indonesia tanggal 9 Maret 2016, orang Indonesia malah gegap gempita menantinya. Warga sibuk mencari informasi, dari waktu dan tempat yang tepat sampai senjata yang pas untuk menyaksikan gerhana. Pemerintah daerah tidak tinggal diam, ini adalah peluang emas untuk mempromosikan wisata daerah, apalagi daerah yang dilewati gerhana matahari total.

Ramainya orang menantikan GMT di Palu

Ramainya orang menantikan GMT di Palu

 

Dengan pakaian adat, mereka antusias menantikan GMT

Dengan pakaian adat, mereka antusias menantikan GMT

Kesultanan Ternate dan Pemerintah Kota Ternate menggelar  Festival Legu Gam, festival yang seharusnya digelar awal bulan April setiap tahunnya ini digeser ke 9 Maret 2016 demi memuaskan warga yang datang ke Ternate untuk menantikan gerhana matahari total (GMT). Isinya adalah beragam kegiatan budaya yang diangkat dari kearifan lokal tanah Ternate sampai pesta kuliner khas Ternate.

Di Poso, Sulawesi Tegah, digelar festival Kawaninya. Festival ini berlangsung dari tanggal 8-9 Maret 2016. Isinya parade tarian dan lagu khas daerah. Di Mamuju, Palu sampai Belitung juga sama. Mereka semua bersuka ria menyambut momen GMT. Parade budaya, stand wisata dan tentu saja makanan. Semua bersuka ria, menyambut Batara Kala yang akan memakan matahari.

Dear Batara Kala,

Gerhana matahari total (GMT) yang melewati Indonesia bukan hanya menarik para wisatawan lokal dan luar negeri, para peneliti dari dalam dan luar pun ikut berbondong-bondong mendatangi daerah-daerah yang jadi tempat perlintasan GMT. Peristiwa GMT jadi magnet yang menghisap banyak orang untuk datang. Bagi pemerintah yang daerahnya dilewati GMT, ini adalah berkah.  Daerah yang selama ini bahkan mungkin jarang masuk dalam daftar “must visit place” pun tiba-tiba seperti mendapat durian runtuh. Didatangi ribuan wisatawan yang berarti mengalir juga devisa bagi daerahnya. Memang hanya sementara, tapi setidaknya bisa menjadi momen untuk memamerkan potensi wisata daerahnya.

Dear Batara Kala,

Sebenarnya tahun ini saya pun ingin menikmati kejadian langka itu, ingin berada di Palu bersama teman-teman, ingin berada di Belitung dan Ternate bersama beberapa blogger. Tapi apa daya, saya tak bisa. Ada hal lain yang lebih penting untuk saya lakukan.

Maafkan saya om Batara, saya hanya bisa menikmati separuh proses hilangnya matahari di dalam mulutmu dari depan rumah. Kotaku memang hanya dapat jatah sedikit, tak sampai penuh. Tapi itu tidak membuat ribuan orang malas berkumpul di tepi Pantai Losari, melaksanakan sholat gerhana. Luar biasa bukan?

Saya hanya bisa menangkap momen ini

Saya hanya bisa menangkap momen ini

Kamu pasti kaget melihat perubahan orang Indonesia. 33 tahun lalu orang Indonesia bersembunyi di rumah-rumah, bahkan di kolong tempat tidur ketika kamu memakan matahari. Mereka takut, takut buta dan takut pada cerita pemerintah. Tapi coba lihat sekarang, mereka malah berkumpul di tanah lapang, di daerah tinggi hanya untuk melihatmu memakan matahari. Sungguh berbeda bukan?

Bahkan saya yakin, kalau saja bisa mereka akan memintamu untuk memakan matahari setidaknya lima tahun sekali. Biar pemerintah daerah bisa membuat festival menyambut GMT, sekaligus mempromosikan daerah mereka. Kamu pasti tahu dong betapa kayanya negeri ini, betapa banyaknya potensi wisata alam, perbedaan budaya yang unik dan makanan-makanan yang lezat.

Momen ketika kamu memakan matahari, mereka bersuka ria menyambutnya. Sekalian mempromosikan daerah mereka, menunjukkan kekayaan daerah mereka pada orang-orang yang sebelumnya bahkan mungkin tidak mengenal daerah mereka.

Dear Batara Kala, lihatlah betapa orang Indonesia sekarang bersuka ria menyambut GMT. Sebagian sudah lupa pada cerita lama yang mengisahkan kemarahanmu hingga menelan matahari. Cerita yang mungkin makin lama akan makin terlupakan. Apalagi GMT tidak datang setiap tahun.

Setelah Batara Kala memakan matahari

Setelah Batara Kala memakan matahari

Duhai Batara Kala,

Mungkin memang sudah waktunya kamu berhenti menelan matahari, karena toh orang-orang sudah tahu penjelasan ilmiah fenomena itu. Orang sudah lupa pada ceritamu. Kami juga tidak bisa memintamu melakukannya setiap saat kami butuh.

Bagaimana kalau kamu berhenti makan matahari saja? Ayolah, ganti matahari dengan koruptor. Di negeri kami banyak, saya bisa jamin kamu tidak akan kelaparan. Makanlah para koruptor itu kapan saja kamu mau. Biar negeri kami tenteram, bersih dari mereka yang licik dan picik, aman dari mereka yang mau menang sendiri.

Kami ingin menikmati indahnya negeri ini, beragamnya anak-anak negeri ini dan damainya negeri ini. Kalau kamu tak bisa diminta memakan matahari setiap saat, maka makanlah koruptor itu saja. Atau, makanlah mereka yang suka ribut, suka menyerang orang yang punya paham berbeda dengan mereka, suka menyebarkan fitnah yang membuat resah. Orang seperti itu juga banyak di negeri kami.

Bagaimana om Batara? Setuju? Piss ya, jangan makan saya. Saya mungkin melewatkan Wonderful Eclipse, tapi saya tidak mau melewati satu menit pun dari Wonderful Indonesia. [dG]

About The Author

8 Comments

  1. andyhardiyanti
    25/03/2016
    • iPul Gassing
      25/03/2016
  2. Bunda Salfa
    25/03/2016
    • iPul Gassing
      25/03/2016
  3. suga
    16/06/2016
    • Daeng Ipul
      05/04/2017

Add Comment