Uniknya Budaya

Ketoprak, salah satu budaya Jawa

Tulisan ini diikutkan dalam tantangan #BlogBucket yang merupakan bagian dari acara #SewinduAM yang digelar komunitas Blogger Makassar, AngingMammiri.

“Mas, makan siang yuk.” Kata seorang kawan, namanya Yitno. Lelaki mungil berkacamata itu berasal dari Jawa Tengah. Kalau tak salah ingat dia dari Solo, dan tentu saja ke-Solo-annya sangat kental dengan tutur bahasa yang halus.

Saleh, kawan dari Makassar yang diajak Yitno masih asik di depan komputer. Sejenak dia menengok jam tangannya sebelum berkomentar. “Makan siang apa? Ini belum jam 12!”

Sebagai orang Makassar, Saleh tentu saja menjawab dengan nada khas Makassar. Yitno terhenyak, nada tinggi khas Makassar yang keluar dari mulut Saleh sepertinya tidak dia antisipasi sebelumnya. Yitno mendekat, memegangi bahu Saleh dan dengan halus dia berkata. “Jangan marah dong mas, saya kan ngajaknya baik-baik.”

Sekarang giliran Saleh yang terhenyak. “Marah? Siapa yang Marah?” katanya dengan nada kebingungan. Tekanan suaranya masih tetap sama, tinggi khas orang Makassar.

— o0o —

Fragmen di atas terjadi sekisar tahun 2000 di sebuah kantor di bilangan Cileungsi Bogor. Ketika itu saya sempat bekerja di sana sekisar setahun. Itu kali pertama saya keluar kota Makassar (dan pulau Sulawesi) dalam waktu yang lama. Itu kali pertama juga saya berinteraksi dengan banyak ragam manusia dari latar belakang etnis yang berbeda.

Etnis yang beragam tentu berarti budaya yang beragam juga dan apa yang terjadi di atas adalah salah satu gesekan kecil dari budaya yang beragam itu. Yitno yang orang Solo dengan kehalusan tutur katanya bertemu Saleh yang orang Makassar dengan nada bicara dan tekanan yang keras. Jadilah kesalahpahaman yang sebenarnya menggelikan.

Fragmen di atas selalu terkenang dan sering kali saya ceritakan ke teman-teman yang lain. Benar-benar sebuah bukti nyata betapa budaya yang berbeda-beda di negeri kita bisa saja saling bergesekan karena perbedaan yang tak sepenuhnya kita pahami. Orang Solo yang halus tentu akan menganggap orang Makassar kasar hanya dari nada bicara mereka. Sebuah persepsi yang muncul hanya dari perbedaan nada bicara saja tapi bisa sangat berpengaruh terhadap persepsi dan cara pandang kita secara keseluruhan.

Dulu saya menganggap orang kampung itu sebagai orang terbelakang dan tak berbudaya. Tentu karena saya menggunakan standar saya sebagai “orang berbudaya” yang mencicipi pendidikan kota dengan segala macam alat-alat moderennya. Dalam pandangan saya, orang-orang kampung dengan pakaian yang dekil, lusuh dan alas kaki seadanya itu adalah orang-orang yang tek berbudaya, beda dengan orang-orang kota yang selalu memperhatikan kerapihan berpakaian. Fashionable kata orang.

Dulu saya menumbuhsuburkan persepsi itu. Setiap pulang kampung saya masih sering berjalan dengan kepongahan, menganggap orang-orang di kampung itu tidak selevel dengan kami orang-orang kota yang berbudaya.

Tapi perjalanan hidup membuka mata saya dan akhirnya membuat saya malu. Apa yang dulu saya pikirkan belakangan malah seperti sebuah tamparan keras di pipi. Meski mereka hidup dalam kesederhanaan, berpakaian apa adanya dan kadang malah terkesan lusuh tapi sesungguhnya kami tak lebih baik dari mereka. Mereka malah kadang lebih berbudaya dari kami orang kota yang selalu lebih fokus ke materi dan penampilan saja.

Perjalanan hidup juga yang membuat saya mengerti kalau sebenarnya kita tidak punya hak menilai orang lain atau etnis lain dengan menggunakan standar kita. Saya akhirnya percaya kita semua lahir dalam masyarakat yang berbudaya, masyarakat yang punya panduan untuk hidup berdampingan dan saling menghormati. Bedanya hanya standar. Budaya orang Jawa berbeda dengan kami orang Makassar yang meski kerap dianggap kasar dan keras tapi sebenarnya punya sesuatu yang kami beri nama pangngadakkang atau adat istiadat. Pangngadakkang juga punya banyak aturan yang sebenarnya sangat menghargai sesama manusia dan memanusiakan manusia lainnya. Sama dengan ragam budaya dan adat istiadat suku lain yang kadang dianggap lebih halus.

— o0o —

Budaya memang sangat kompleks. Definisinya saja sudah membuat kita bingung, belum lagi prakteknya. Bayangkan berapa banyak suku bangsa di Indonesia, bayangkan kalau satu suku punya satu budaya sendiri maka berapa banyak budaya yang ada di sekitar kita. Memandang budaya lain dengan kaca mata dan standar kita sendiri tentu sangat potensial memunculkan gesekan.

Itu baru di negeri kita saja. Kita belum ke negeri orang.

Bagi orang Eropa dan Amerika Utara, bersendawa adalah sesuatu yang menjijikkan. Bersendawa di samping mereka maka dengan cepat Anda akan mendapat tatapan sinis dari mereka yang selera makannya sontak hilang. Tapi, bagi orang Arab bersendawa malah sebaliknya. Ketika Anda diundang makan di rumah mereka dan bersendawa selepas menikmati sajian, maka itu adalah kebanggaan bagi tuan rumah. Bagi mereka, sendawa dari tamu adalah bukti kalau makanan mereka memang lezat. Sangat berbeda dengan pandangan orang Eropa dan Amerika Utara kan?

Budaya memang unik, tiap suku punya budaya sendiri yang mungkin saja akan menimbulkan gesekan. Dalam berbagai kasus, gesekan itu kadang malah menimbulkan huru-hara yang berujung ke pertumpahan darah. Budaya memang unik, dalam satu sisi budaya bisa kita nikmati sebagai bagian dari sebuah sajian wisata sementara di sisi yang lain budaya bisa jadi pemantik perpecahan.

Itulah uniknya budaya. Tinggal kembali kepada kita bagaimana memandang budaya itu sebagai sebuah kekayaan hidup, berbeda bukan berarti harus berpecah kan? Asal kita mau menanggalkan standar kita dan memandang semua budaya itu punya keluhurannya sendiri maka kita pasti akan sampai di satu titik di mana kita yakin kalau semua budaya itu memang lahir untuk memanusiakan manusia. Tentu dengan cara yang berbeda-beda. [dG]

Setelah menyelesaikan tantangan, maka blogger berikutnya yang saya tantang adalah Mamie Lily.

About The Author

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: