Umba-Umba untuk Rumah Baru-ku

 

Setiap kali manusia memulai kehidupan baru, selalu ada ritual yang mengirinya. Entah itu ritual yang berupa upacara-upacara yang rumit atau sebuah upacara yang sederhana. Setiap ritual kemudian memiliki berbagai elemen pendukung , entah dari makanan, minuman maupun elemen fisik lainnya.

Pindah rumah atau masuk ke rumah baru selalu dianggap sebagai sebagai awal dari sebuah kehidupan baru, tidak heran acara pindah rumah atau masuk rumah selalu dilengkapi dengan berbagai ritual. Indonesia yang terdiri dari ribuan suku-suku bangsa yang berbeda-beda tentunya sangat kaya akan ritual-ritual tersebut. Mulai dari ritual rumit yang berkaitan dengan dunia mistis penginggalan kebudayaan purba, maupun ritual-ritual yang menggunakan elemen-elemen keagamaan seperti doa atau pujian kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dalam kebudayaan Bugis-Makassar, setiap aktifitas pindah rumah atau masuk rumah baru selalu dilengkapi dengan sebuah makanan bernama umba-umba atau onde-onde. Dalam bahasa Jawa makanan yang dibuat dari bahan dasar tepung beras, gula merah dan parutan kelapa ini disebut kelepon, dalam budaya Bugis disebut onde-onde dan dalam budaya Makassar disebut umba-umba.

Kenapa dalam bahasa Makassar makanan ini disebut umba-umba ?. Dalam bahasa Makassar umba atau ammumba bisa diartikan muncul ke permukaan. Kata ini diberikan merujuk kepada sifat makanan ini saat dimasak.

Umba-umba yang belum matang berada di bawah, atau pada posisi terendah di dalam panci. Saat masak, umba-umba kemudian akan naik ke permukaan. Makanya kemudian diberi nama umba-umba atau muncul ke permukaan.

Dalam mitologi suku Makassar, umba-umba diibaratkan simbol harapan akan munculnya semua hal-hal yang positif di tempat baru tersebut. Umba-umba dimaknai sebagai harapan bawha di tempat yang baru nantinya, hal-hal positif yang selama ini tersembunyi akan segera naik ke permukaan.

Saya- dan keluaga besar– sebenarnya tidak termasuk orang yang percaya pada hal-hal seperti itu. Beberapa kali kami masuk rumah, umba-umba dan ritual-ritual lainnya tidak pernah kami gelar. Kalau sempat bikin umba-umba ya kami bikin, tapi kalau tidak sempat ya ndak apa-apa juga. Toh nyatanya di tempat kami yang baru, hal-hal positif juga tetap muncul ke permukaan walau tidak dipancing pake umba-umba.

 Namun untuk menghormati teman-teman semua, maka sebagai orang yang baru masuk rumah saya menghidangkan umba-umba di rumah baru saya. Para pengunjung saya persilakan untuk menikmati, walaupun hanya foto dan sedikit narasi, mudah-mudahan berkenan.

Salam.

About The Author

5 Comments

  1. Nuntung
    04/12/2007
  2. ipul
    04/12/2007
  3. Madces
    04/12/2007
  4. ly
    21/12/2007
  5. ipul
    22/12/2007

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: