Trembesi Di Depan Rumah

Sumber nature.or.id

Bumi ini semakin panas / Bagai air mengalir deras / Kehidupanpun semakin bebas / Kebebasanpun tidak terbatas / Berlomba-lomba demi kepuasan / Berfoya-foya menuruti nafsu setan

Kalimat di atas adalah potongan lirik lagu berjudul “Bumi Makin Panas” dari Cucu Cahyati, pedangdut era 90an. Cucu memang tidak bercerita lantang tentang pemanasan global atau perusakan lingkungan. Cucu tidak seperti Navicula, band asal Bali yang memang sering menyuarakan ajakan menjaga bumi atau melawan perusakan alam seperti di lagu Zat Hijau Daun atau Metropolutan. Tapi lirik Cucu juga tidak salah.

Bumi memang semakin panas, di laman The Nature Conservancy Program Indonesia disebutkan kalau setiap tahun Bumi kehilangan 13 juta hektar hutan akibat deforestasi. Lebih lanjut laman tersebut menuliskan:

Hutan yang tersisa telah terfragmentasi sehingga kemampuannya sebagai penopang kehidupan liar dan penyedia air bersih bagi manusia berkurang. Deforestasi juga menyumbang 20 hingga 25 persen dari seluruh polusi karbon yang menyebabkan perubahan iklim global dan berkontribusi pada pemiskinan masyarakat yang sangat tergantung pada hutan.

2015-01-23_124505

Benar-benar sebuah ancaman serius yang kadang tidak kita sadari. Seperti kata Cucu Cahyati, kebebasanpun tidak terbatas, berlomba-lomba demi kepuasan, berfoya-foya menuruti nafsu setan. Iya, kerusakan hutan itu sebagian besar karena pelakunya menuruti nafsu setan, mengejar profit tanpa mengindahkan asas pemeliharaan sumber daya alam.

*****

Di depan rumah kami ada sebatang pohon trembesi (Albizia saman). Pohon ini saya tanam sekira 4 tahun yang lalu, awalnya ada 3 pohon kecil yang saya tanam. Satu pohon mati ketika masih muda akibat ulah kambing, satu lagi sempat membesar namun terpaksa ditebang karena permintaan tetangga. Trembesi yang memang termasuk tanaman cepat tumbuh rupanya membuat tetangga depan rumah tidak nyaman, daunnya yang kecil dan banyak serta sering gugur membuat halaman mereka sering kotor. Dahannya yang rapuh juga membuat mereka khawatir karena gampang patah dan melukai anak-anak kecil yang bermain di bawahnya.

Kala itu saya pasrah dan membiarkan pohon trembesi yang satu itu ditebang. Tapi saya bertahan ketika tentangga juga meminta pohon yang tersisa ikut ditebang.

Ketika pohon yang satu minta ditebang saya pasrah karena saya tahu kalau menanam banyak trembesi dalam kawasan yang sempit memang lebih banyak ruginya. Akar trembesi berkembang sangat cepat dan bisa merusak pondasi bangunan. Selain itu trembesi juga tergolong rakus mengonsumsi air tanah di permukaan, membuat tanaman lain jadi kesulitan meraup nutrisi sekaligus mengurangi cadangan air tanah. Alasan-alasan itulah yang membuat saya pasrah merelakan satu pohon trembesi dimatikan.

Tapi tidak dengan yang satunya. Saya bertahan karena saya yakin pohon trembesi yang satu ini akan membawa banyak manfaat di belakang hari, apalagi ketika itu blok perumahan kami masih kering tanpa pohon-pohon hijau.

Empat tahun berselang dan manfaatnya mulai terasa. Trembesi yang saya tanam sudah sangat jangkung dan rimbun. Lengannya menjulur kesana-kemari dengan daun-daun hijau yang rindang. Di musim kemarau kehadiran trembesi yang saya beri nama Ki Hujan itu benar-benar terasa manfaatnya. Dulu kamar kami yang menghadap ke barat bukan tempat yang nyaman untuk ditiduri. Karena menghadap ke barat, kamar kami menyimpan panas matahari yang memaparinya secara langsung. Akibatnya panas itu terasa sampai jauh malam, apalagi kami tidak memasang pendingin ruangan.

Tapi sekarang, sejak si Ki Hujan membesar rasa panas dan gerah itu tidak ada lagi. Matahari tidak bisa lagi memapari dinding kamar kami secara langsung. Sekarang kamar kami malah jadi ruangan paling adem di rumah ini.

Rindangnya Ki Hujan dan pohon lainnya

Rindangnya Ki Hujan dan pohon lainnya

Bukan hanya saya dan pemilik rumah ini yang merasakan nikmatnya kehadiran Ki Hujan. Tetangga depan rumah dan tamu-tamunyapun menikmatinya. Mereka asyik memarkir kendaraan di bawah Ki Hujan, bahkan seringkali bercengerama di bawah dahannya yang rindang. Hewan-hewan kecil seperti ayam, bebek, kambing dan kucingpun senang menghabiskan waktu di bawah Ki Hujan sambil mencari makan atau sekadar leyeh-leyeh.

Kadang saya berpikir betapa besar manfaat dari sebatang pohon meski itu hanya trembesi yang kadang menimbulkan pro dan kontra. Di bawahnya ada banyak mahluk hidup yang menghirup udara segar, bersosialisasi dengan spesiesnya dan menikmati kerindangannya. Belum lagi cuaca panas yang direduksi oleh pohon itu. Satu pohon, tapi manfaatnya banyak.

Berkali-kali memang saya harus memendam kekesalan gara-gara parkiran tetangga yang menutupi jalan masuk atau binatang yang seenaknya berleyeh-leyeh di halaman yang rindang dan buang kotoran di teras. Semua karena adanya pohon trembesi di depan rumah.

Tapi kekesalan itu lebih banyak saya telan dan pendam saja. Toh kami semua hanya makhluk hidup yang sama-sama dimanjakan oleh sebatang pohon.

*****

Saya memang belum bisa ikut dalam program-program seperti yang dilakukan oleh The Nature Conservacy yang punya banyak program untuk penghijauan dan pelestarian alam. Sayapun belum bisa seperti teman-teman di Makassar Berkebun yang aktif menanam tanaman hijau dan berguna di dalam hiruk pikuknya kota Makassar. Saya baru menanam 1 pohon dan melakukan beberapa hal kecil lainnya untuk ikut menjaga kelestarian bumi.

Dari aksi kecil itu saya sudah bisa melihat langsung manfaatnya. Belum lagi dari aksi kecil lainnya seperti yang paling mudah: menghemat listrik, membatasi penggunaan air dan mengurangi produksi sampah plastik yang hasilnya mungkin tidak secepat hasil yang terasa dari menanam dan membesarkan si Ki Hujan.

Manfaat dari hadirnya Ki Hujan adalah kesenangan yang tak terkira. Menyenangkan menikmati rindangnya Ki Hujan, melihat mahluk hidup yang bercengkerama di bawahnya dan menghirup segar udaranya. Sesekali bahkan dengan absurdnya saya mengelus batang besar Ki Hujan, mengucapkan terima kasih untuk semua manfaat yang dia berikan.

Saya tidak hendak mengubah dunia dengan banyak gerakan besar, saya merasa belum pantas untuk itu. Saat ini saya hanya punya satu keinginan, menjaga dan merawat Ki Hujan yang sudah jadi teman baik selama 4 tahun ini. Sayapun ingin menanam lebih banyak pohon, meski itu bukan trembesi. Sekecil apapun pohon atau tanaman yang kita tanam tetap akan lebih banyak manfaatnya daripada menghamparkan lantai beton yang tak menyerap air.

Saya tak hendak menjadi penyelamat bumi dengan aksi besar yang mengundang decak kagum. Saya hanya akan meneruskan langkah-langkah kecil yang sudah saya mulai dan saya nikmati selama ini. Resolusi hijau 2015 saya tidak muluk-muluk, hanya ingin lebih menghormati bumi.

Saya tidak mau jadi bagian manusia yang diceritakan Cucu Cahyati di lagunya. Manusia yang rakus dan menuruti nafsu setan demi kepuasan belaka. [dG]

About The Author

Leave a Reply

2 Comments on "Trembesi Di Depan Rumah"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
giewahyudi
Guest

Trembesi ini memang pohon favorit untuk penghijauan. Di kawasan GBK, trembesi banyak banget tuh. Dan di sepanjang pantura katanya semua pohon perindangnya pakai trembesi.

Jadi tidak salah mempertahankan satu trembesi itu, Daeng. 🙂

Expo
Guest

sangat perlu2 di lestarikan pohon trembesi,,ternya banyak manfaatnya…

wpDiscuz
%d bloggers like this: