Teka-Teki Eddie

Teka-teka kenapa Eddie tidak berkomentar sama sekali atas kepergian Chris Cornell. Teka-teka yang sampai sekarang tidak atau belum terjawab.

Apa yang kamu lakukan kalau sahabatmu pergi lebih dulu menghadap Yang Maha Kuasa? Sedih? Pastilah ya. Bahkan mungkin saja kamu akan meninggalkan apapun yang sedang kamu lakukan, lalu melesat ke tempat dia disemayamkan. Mungkin kamu akan terus di sana, bersama keluarganya yang sama-sama merasa kehilangan. Hingga akhirnya waktu pemakaman tiba.

Idealnya seperti itu.

Itu juga yang diharapkan banyak orang akan dilakukan seorang Eddie Vedder ketika Chris Cornell ditemukan wafat di kamar mandi hotelnya, berjam-jam setelah konsernya di Detroit.

Orang-orang berharap Eddie akan muncul ke publik, mengumbar rasa sedihnya, melayangkan ucapan berbelasungkawa, mengulik satu per satu kebersamaan dengan almarhum dan kemudian menangis dan membiarkan kamera menangkap ekspresi sedihnya yang tulus, tidak dibuat-buat.

Orang juga berharap Eddie akan datang ke pemakaman Chris Cornell, Jumat 26 Mei kemarin. Di acara itu beberapa pentolan musisi rock berdatangan. Ada James Hetfield dan Lars Ulrich dari Metallica, Dave Grohl dan Pat Smear dari Foo Fighters, Krist Novoselic mantan Nirvana dan Courtney Love istri almarhum Kurt Cobain, Jeff Ament dari Pearl Jam dan beberapa bintang film Hollywood seperti Brad Pitt, James Franco dan Christian Bale.

Sebagai teman baik almarhum Chris, tentu adalah hal yang wajar seandainya Eddie Vedder ada di sana. Berpakaian gelap dengan wajah murung dan kacamata hitam.

Tapi ternyata itu tidak terjadi.

Alih-alih menghadiri pemakaman Chris, Eddie malah terbang ke Belanda. Di sana dia akan menggelar tiga konser solo, tanggal 28, 29 dan 30 Mei.

What? What the hell is he thinking?

Temannya meninggal dan akan dimakamkan tapi dia malah terbang ke Belanda dan tetap menggelar konser? Teman macam apa itu? Pun sebelum itu tidak ada satu bait pun kalimat dari bibirnya yang keluar untuk mengenang almarhum Chris.

Tak heran kalau Toni Karayiannis, ibu mertua Chris Cornell sampai mencak-mencak di Twitter. Menuding Eddie sebagai “not human, not a man”. Toni merasa tidak terima atas pilihan Eddie untuk tetap diam. Tidak mengeluarkan sepatah kata pun, tidak menghubungi istri dan anak Chris, tidak menyatakan berduka. Tidak ada sama sekali.

Padahal semua juga tahu kalau karir Eddie sedikit banyaknya dibantu oleh Chris. Dalam sebuah konsernya, Eddie bahkan menyebut Chris sebagai orang pertama yang dia temui di luar band. Datang sebagai “orang luar” di Seattle, Eddie mendapat banyak support dari band-nya, juga dari Chris Cornell, salah seorang bapak baptis aliran musik Grunge.

Eddie dan Chris semasa muda dan masih sama-sama “gila”

Tapi Eddie tetaplah Eddie. Manusia dengan pikiran yang sulit dimengerti oleh orang biasa. Tidak ada adegan termehek-mehek, tidak ada tangisan haru, bahkan sepatah kata berduka. Tidak ada.

27 Mei 2017 Eddie Vedder tetap memulai rangkaian tur solonya di Amsterdam. Ribuan orang menunggu apakah akan ada kalimat tentang Chris Cornell yang meluncur dari bibirnya? Apa yang akan dia ucapkan tentang Chris Cornell?

Ini tentu jadi momen yang dinantikan. Band lain yang kayaknya kurang akrab dengan Chris saja sampai membawakan Black Hole Sun punya Soundgarden. Apatah lagi ini Eddie Vedder? Mantan tetangganya dan karibnya. Pasti ada dong.

Tapi saudara-saudara, ternyata tidak ada sama sekali.

Eddie tidak menyebut Chris sedikitpun dalam konser yang membawakan 30 lagu itu. Tapi konser itu bermakna banyak untuk orang-orang yang mengenal Eddie Vedder.

Dimulai dari lagu pembuka Long Road yang liriknya diubah sedikit. Lirik yang seharusnya “But still/Something’s missing” diubah menjadi “Without you/Something is missing.” Apakah itu bermakna buat Chris? Entahlah.

Lalu Eddie juga berucap –saya kutip dari Rolling Stones – “I’m thinking of a lot of people tonight. And some in particular and their families. And I just know that healing takes time, if it ever happens, it takes time, and that means you have to start somewhere so let it be music. Let it be love and togetherness, and let it be Amsterdam.

Sekali lagi, apakah itu untuk Chris? Entahlah.

Malam itu Eddie juga membawakan lagu dari Fugazi yang berjudul “I’m so tired”, sebuah kalimat yang menurut istri Chris Cornell dinyatakan berulang-ulang oleh Chris di percakapan telepon terakhir mereka, malam sebelum Chris ditemukan meninggal.

Apakah Eddie sengaja membawakan lagi itu karena ada hubungannya dengan Chris Cornell? Entahlah.

Malam itu Eddie Vedder juga membawakan lagu The End. Lagu yang kembali membuat orang menebak-nebak, apakah itu ada hubungannya dengan kepergian Chris Cornell? Saya kembali harus menjawab; entahlah.

Tentu hanya Eddie yang tahu maksud dari semua pertanda itu. Hanya dia yang mengerti kenapa dia tetap bungkam selepas kepergian Chris, kenapa dia tetap memilih menggelar konser solo jauh dari tempat pemakaman Chris. Kenapa?

Di luar sana orang-orang hanya bisa berspekulasi, bahkan para fans Pearl Jam sendiri terpecah antara yang mendukung Eddie dengan segala teka-tekinya dengan mereka yang kecewa berat. Dia pasti punya alasan sendiri. Hanya dia yang tahu.

Atau seperti kata Hilman di grup Pearl Jam Indonesia; jangan-jangan Eddie Vedder dan Chris Cornell tidak sedekat itu.

Entahlah. [dG]

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

2 Comments

  1. Mbandah
    31/05/2017
    • Daeng Ipul
      31/05/2017

Add Comment