Susahnya Membuat Cerpen

Beberapa minggu belakangan ini saya punya hobi baru, membuat cepen..!!, hehehe..ini gara-gara beberapa teman di AngingMammiri.org yang sedang memamerkan cerpen buatan mereka. Cepennya asyik-asyik, dan ini kemudian menggoda saya untuk ikut-ikutan membuat cerpen.

 

Sebenarnya membuat cerpen sudah menjadi obsesi saya sejak dulu, bahkan sejak SD. Waktu itu saya terinsiprasi pada majalah BOBO dan Ananda yang jadi santapan saya di waktu kecil. Awalnya hanya berkhayal bisa bikin cerpen, mengirim ke majalah itu dan akhirnya dimuat. Hanya sebatas berkhayal dan tidak sampai meneruskannya menjadi cerpen betulan.

 

Belakangan saya mulai menulis cerpen, tentu saja dengan berbekal pulpen dan buku kosong. Tapi, meski semangat itu ada namun hasilnya tak pernah kelihatan. Saya tak pernah berhasil menyelesaikan satupun cerpen. Semua berhenti di tengah jalan. Sebagian besar karena semangatnya hilang di tengah jalan. Selalu begitu.

 

Obsesi membuat cerpen itu terus ada hingga saya beranjak remaja meski hasilnya tetap sama, tak pernah ada yang selesai. Sekarang semua arsip cerpen setengah jadi itu entah di mana.

 

Nah, minggu lalu berbekal semangat baru untuk membuat cerpen saya berhasil menyelesaikan 2 cerpen sekaligus mengedit keduanya. Sebenarnya beberapa bulan yang lalu saya juga sudah berhasil menyelesaikan 2 cerpen, tadinya saya berniat mengirimkan cerpen itu ke media. Sayangnya sebelum saya sempat mengirimkannya harddisk saya terlanjur rusak dan membuat semua file yang ada di dalamnya jadi hilang.

 

Nah, cerpen pertama yang saya selesaikan minggu lalu saya sodorkan ke Ofie sebagai pembaca pertama. Saya minta tanggapan dari dia. Setelah membaca beberapa jenak, Ofie berkomentar, “ Ayah tuh kuat di deskripsi..”. Oke, ini tanggapan positif buat saya..hehehe..

 

Tapi sayangnya, menurut Ofie, deskripsi yang saya paparkan itu malah terlalu detail sehingga kemudian membuat cerita berjalan lambat dan cenderung membosankan. Saya akui kalau saya memang tergoda untuk menerangjelaskan secara berlebihan tentang karakter di cerita saya, termasuk tentang setting kejadian. Akibatnya deskripsi tentang itu jadi makan banyak halaman. Padahal cerpen sesuai namanya harus menjadi sebuah cerita yang pendek.

 

Membuat cerpen ternyata memang tak gampang. Dia tak seperti novel yang membuat kita sebagai penulisnya bebas untuk bercerita panjang lebar karena toh tak ada batasan halaman. Cerpen musti singkat dan padat dengan alur yang cepat untuk mencegah pembaca malas duluan.

 

Kata Nirwan Dewanto, pada kebanyakan realisme yang kita miliki, pengarang tidak sabar menyela untuk meberikan informasi, khususnya menerangjelaskan latar. Dan, lelaku ini sudah pasti menghalangi, kalau bukan mematikan, kelancaran cerita.

 

Dan inilah yang terjadi pada cerpen saya. Keasyikan bercerita tentang latar membuat saya jadi bercerita panjang lebar. Kalau saya baca kembali, deskripsi saya memang kuat (halah..!!!), tapi ya itu..kesannya jadi tidak terlalu penting dan hanya memperlambat cerita.

 

Akhirnya kedua cerpen itu saya rombak total. Alurnya saya ganti dan deskripsinya saya kurangi. Hanya pada beberapa bagian saya berusaha memberikan deskripsi seadanya-tapi tetap kuat-hanya agar pembaca tak lalu kehilangan arah. Apa cerpen saya sudah bagus ? Menurut  pembaca pertama saya sih sudah lumayan meski dengan beberapa catatan.

 

Ah, ternyata membuat cerpen itu memang tak mudah. Tingkat kesulitannya tinggi, apalagi kalau mau membuat cerpen yang bagus dan bisa memilkat orang banyak. Langkah pertama sudah saya lalui, selanjutnya saya akan menuju ke langkah kedua dan langkah-langkah seterusnya. Saya mau belajar terus membuat cerpen yang bagus dan pada akhirnya nanti membuat novel yang bagus. Cita-cita yang terlalu muluk ya ?, hehehe…tapi setidaknya saya punya cita-cita lho…Hahahaha..

About The Author

One Response

  1. rusle
    26/12/2008

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: