Setelah Perceraian itu..

sby-jk2Jum’at kemarin, di masjid dekat kantor sang penceramah mengangkat sebuah topik tentang memilih pemimpin. Di salah satu salah satu bagian ceramahnya beliau menceritakan tentang proses pemilihan khalifah selepas meninggalnya Rasulullah Muhammad SAW. Setelah menjelaskan berbagai kriteria tentang pemilihan khalifah, beliau berucap,” kriterianya seperti itu, tidak macam-macam. Tidak seperti kriteria yang diberikan SBY yang membuat pak Jusuf Kalla hengkang”.

Bagi saya, ucapan sang penceramah agak unik karena secara implisit menggambarkan kekecewaan beliau terhadap ?penolakan”? SBY kepada JK perihal kesempatan bagi mereka untuk kembali bersanding di pemilu presiden 2009 ini.

Rasa kecewa sang penceramah adalah sebuah fenomena baru yang muncul pasca pecah kongsinya SBY-JK. Kebetulan saya berada di lingkungan inner circle-nya JK dengan ratusan orang-orang yang sangat loyal kepada JK, ibaratnya mereka berani mati demi JK. Kekecewaan seperti yang dirasakan sang penceramah juga adalah kekecewaan sebagian besar orang yang saya temui sehari-hari dalam aktifitas saya.

Saat perceraian belum terjadi, sebagian orang-orang di sekitar saya yang masih yakin kalau SBY masih akan tetap berpasangan dengan JK nampak masih sangat menaruh simpati pada sosok SBY. Mereka masih tetap rela memuji segala keberhasilan pembangunan selama 5 tahun, keberhasilan yang selalu diklaim sebagai keberhasilan rejim SBY. Komentar tentang ketenangan SBY, kharisma dan citra positifnya masih membayangi setiap perbincangan tentang politik tanah air pasca pemilu legislatif.

Beberapa hari setelah perceraian SBY-JK, pendapat yang muncul kemudian berubah 180 derajat. Pujian yang tadinya begitu royal mereka umbar, berubah menjadi ejekan bahkan cacian.

Awal, seorang teman yang tadinya masih setia memuji SBY tiba-tiba berubah menjadi pembenci SBY. Dengan ketus dia bilang, “Setiap kali melihat SBY di tipi saya jadi jengkel setengah mati”?. Ini jelas adalah buah dari “penolakan” (sekali lagi kata penolakan saya beri tanda kutip) SBY kepada JK.

Awal tidak sendiri. Di sekitar saya masih banyak orang-orang yang tiba-tiba mengubah pandangannya terhadap SBY pasca perceraian itu. Suara-suara sumbang mulai muncul di permukaan, sangat berbeda dengan suasana seminggu sebelum perceraian.

” Ah, semua keberhasilan pembangunan semasa pemerintahannya SBY kan bukan kerjaan dia sendiri, ada banyak yang kerja juga. Termasuk pak.”

” SBY Cuma peduli sama citranya saja, kerjaannya juga ndak semuanya beres.”

“SBY dengan partai Demokratnya sombong sekali, mentang-mentang dia menang pemilu.”

Dan, banyak lagi komentar negatif tentang SBY. Bahkan ada seorang bapak yang dengan semangatnya menggagas program ABS alias Asal Bukan SBY pada pemilu pilpres mendatang.

Perubahan mendadak seperti di atas mungkin bukan hanya terjadi di sekitar saya saja yang kebetulan memang adalah inner circle JK. Mungkin saja di lingkungan luar saya, tapi masih tetap dalam lingkup Sulawesi Selatan, perubahan penilaian terhadap SBY juga banyak terjadi.

Faktornya apalagi kalau bukan rasa solidaritas sebagai sesama warga Sulawesi Selatan terhadap kejadian yang menimpa JK. Aksi “penolakan”? SBY kepada JK berperan besar dalam mengubah persepsi sebagian orang dari tadinya simpati menjadi benci. Ini hal yang biasa saya kira. Saat orang yang kita anggap dekat, kita anggap sebagai panutan dan secara tidak sadar punya ikatan kejiwaan dengan kita mendapatkan perlakuan yang tidak enak, maka otomatis simpati kita akan mengalir ke dia dan otomatis pula rasa tidak senang kita akan mengalir pada orang yang menyakitinya. Tak peduli kalau sebelumnya kita sempat menyanjungnya.

Tahun 2004, SBY terbukti mampu memanfaatkan hal seperti itu. Setelah didiamkan oleh Megawati, SBY menggalang simpati publik dengan memanfaatkan persepsi sebagai korban, sebagai orang yang ditindas penguasa. Dan itu berhasil, SBY kemudian akhirnya mampu menanjak ke tangga RI1.

Tahun ini, bagi sebagian orang, JK berada pada posisi dizalimi dengan proses yang agak berbeda dengan kondisi SBY di tahun 2004. Bila cerdas, seharusnya JK dan tim suksesnya juga bisa memanfaatkan kondisi ini. Mendulang suara, dukungan dan simpati dengan berposisi seolah-olah sebagai korban atau orang yang tertindas.

Hanya saja, jalan ke arah sana memang jauh lebih sulit dengan jalan yang ditempuh SBY tahun 2004. Popularitas JK sebagai capres sangat jauh berbanding popularitas SBY yang sudah dibangun lebih dari 5 tahun. Bahkan popularitas SBY tahun 2004pun rasanya masih lebih tinggi dari popularitas JK tahun 2009 ini. Sebuah perjuangan berat bagi JK untuk mendongkrak popularitas mengingat masyarakat Indonesia belum sepenuhnya makan program dan masih sangat peduli sama yang namanya popularitas dan figur.

Okelah, pertarungan menuju RI1 nampaknya akan makin seru, setidaknya ada indikasi kalau SBY tidak akan melenggang sendirian melainkan akan menghadapi lawan yang hampir setara. Sementara pertarungan ke sana mulai bergulir, saya akan mencoba menjadi penonton yang bisa menikmati riuh rendah emosi para pendukung di sekitar saya, sebuah hal yang lumayan seru juga untuk dinikmati. [dG]

About The Author

One Response

Add Comment