SEMARANG (bagian kedua dari tiga tulisan)

ingat Loenpia, ingat Semarang..

Teman-teman, bila di cerita pertama kemarin saya menceritakan suka duka perjalanan mudik yang seru ke kota Semarang, maka di bagian kedua ini saya akan menceritakan sedikit tentang kota Semarang dan Semarang di mata saya.

Tanggal 2 Mei 2007, Semarang genap berusia 460 tahun (hanya beda 60 tahun dari kota Makassar). Dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia, secara fisik, keindahan kota Semarang (khususnya kota bawah) tidaklah begitu menonjol. Pesona yang dimiliki Semarang justru terletak pada filosofi warganya yang ingin hidup tenteram, damai dan hidup rukun dengan sesama. Denyut nadi perekonomian di kota inipun tidak terlalu kencang, bahkan saya sedikit heran mengetahui kenyataan bahwa paserba semacam Carrefour dan Hypermart baru buka pada Ramadhan tahun ini, sementara paserba yang sama telah berada selama 2 tahun lebih di kota Makassar.

Semarang memiliki ketinggian yang cukup unik, kota yang luasnya 373,70 km persegi ini berada pada ketinggian 0,75 meter hingga 348 meter di atas permukaan laut. Perbedaan ketinggian yang ekstrem itu membuat Semarang terpisah menjadi dua bagian, kota lama atau Semarang bawah dan Semarang atas. Perbedaan suhunyapun cukup ekstrem. Semarang bawah bersuhu panas sementara Semarang atas bersuhu cukup dingin. Tak heran bila Semarang atas dipilih orang sebagai tempat peristirahatan, harga tanah melonjak tinggi bahkan kawasan Gombel sering disebut sebagai Mentengnya Semarang.

Kebetulan mertua saya tinggalnya di daerah Semarang atas, tepatnya di daerah Tembalang tidak jauh dari jalur Selatan menuju Salatiga, Solo dan Djogdja. Rumah mertuapun berada tepat di pinggiran kompleks kampus baru Universitas Diponegoro (UNDIP), sehingga sebahagian penduduk hidup dari usaha yang berhubungan dengan kehidupan mahasiswa mulai dari rumah kost, warung makan, foto copy, rental komputer, warnet hingga laundry. Saat musim lebaran, kesunyian sangat terasa di daerah ini. Mungkin karena sebagian besar penghuni daerah Tembalang adalah para Mahasiswa perantau yang memanfaatkan libur lebaran untuk mudik ke kampung halaman mereka.

Saya jatuh cinta pada Semarang, jatuh cinta pada kearifan sebagian besar penduduknya yang hidup dalam kesederhanaan dan sopan santun. Sopan santun yang bahkan tercermin dalam kebiasaan mereka berlalu lintas. Jarang sekali saya mendengar suara klakson bernada marah atau jengkel. Jarang sekali-bahkan nyaris tidak pernah- saya melihat orang yang menutup jalur Belok Kiri Langsung saat lampu merah menyala. Para pengemudi rela berimpitan di jalur kanan sambil menunggu lampu berwarna hijau kembali sementara di sebelah kiri, jalur untuk berbelok kiri langsung dibiarkan kosong melompong. Hal yang sama saya temui di antrian pom bensin untuk motor. Tak ada yang mau menyerobot antrian hingga membentuk 2 barisan, semuanya tenang menunggu giliran walaupun sebenarnya bisa saja memaksa maju untuk membuat barisan baru.


Semarang adalah kota yang tenang dan rindang. Sebagian besar jalan rayanya terbentang luas dengan pohon-pohon yang berdiri kokoh di samping kanan-kiri jalan. Perjalanan ke Semarang atas malah seakan-akan perjalanan ke Malino bagi saya. Jalan yang men
anjak tajam dengan tebing dan jurang di sisi jalan, hanya kurang kabutnya saja.

Lawang Sewu, a beatiful old building

Di Semarang saya berusaha memanjakan mata menikmati peninggalan kota tua di bagian Utara kota Semarang. Menikmati peninggalan jaman kolonial yang masih dipertahankan walaupun sebagian besar sudah kusam. Di hari yang lain saya menikmati aroma mistis dan seram di Lawang Sewu, bangunan perkantoran yang berusia seabad lebih yang pernah terkenal gara-gara penampakan bayangan putih dalam sebuah acara misteri di sebuah stasiun TV beberapa tahun yang lalu.

Di Minggu pagi saya mengakrabi aroma Simpang Lima. Bergabung dengan ratusan orang di pasar rakyat di seputaran alun-alun kota yang berbentuk nyaris melingkar. Menikmati bubur ayam yang lezat sambil duduk lesehan dan menedengarkan alunan suara para pengemis yang langsung berlalu saat recehan tiba di tangan mereka. Ibu-ibu tua berpakaian lusuh menyodorkan tangannya, tak tega saya merogoh kocek dan mengangsurkan selembar duit Rp. 1000,-. Senyum tulus mengembang dari bibirnya, diikuti serangkaian doa panjang dalam bahasa Jawa halus yang segera diterjemahkan istri saya. Heran campur kagum, itu yang saya rasakan. Nyaris tak percaya jika duit yang bagi kita mungkin nyaris tak berarti itu ternyata mampu membahagiakan mereka hingga mengalirkan doa yang hanya bisa
saya amini.

Di lain hari saya kembali mampir di Simpang Lima, menyantap nasi kucing. Ini nama yang diberikan untuk seporsi nasi yang katanya hanya cukup untuk seekor kucing. Segenggam nasi putih dengan sedikit lauk (sangat sedikit, mungkin hanya seruas jari orang dewasa). Katanya makanan ini lebih dulu hadir di Djogdja dan menjadi pilihan untuk orang-orang berkantong pas-pasan.

Masjid Agung Jawa Tengah, a brand new icon..

Di lain waktu saya menikmati sore di Masjid Agung Jawa Tengah. Masjid besar yang jadi kebanggan warga Jawa Tengah. Masjid dengan gabungan arsitektur Arab, Yunani dan Jawa itu dipenuhi para pelancong. Sebagian malah datang jauh-jauh dari luar Semarang. Deretan bus-bus wisata besar menjadi buktinya. Orang-orang duduk bergerombol sambil menikmati bekal makan malam yang mereka bawa. Sungguh sebuah kesederhanaan. Saya tak tahan, dan akhirnya memutuskan untuk sholat Jum’at di sana keesokan harinya.

Tahun ini Semarang mencanangkan program Semarang Pesona Asia, sebagai upaya mereka untuk menarik lebih banyak wisatawan ke ibu kota Jawa Tengah itu. Pemerintahnya pun terlihat cukup jeli memanfaatkan setiap jengkal kota Semarang agar tampak menarik. Deretan pedagang kaki lima di Simpang Lima ditata dengan apik, menawarkan beraneka ragam jajanan khas Jawa. Menikmati malam di Simpang Lima sebaiknya tidak dilewatkan begitu saja.

Pandanaran dan jejeran penjual oleh-oleh khas Semarang dan Jawa adalah tujuan akhir perjalanan saya. Ramai dan nyaris memacetkan lalu lintas, mengingat sebagian besar pemudik menghabiskan waktu terakhir mereka di jalan ini sebelum meninggalkan Semarang. Tak lupa seporsi Loenpia yang lezat menemani makan siang kami hari itu.

Semarang mungkin bukan kota yang sempurna, cacat tentu saja ada di sana sini. Tapi entah kenapa, saya jatuh cinta pada kota ini. Sama seperti saya jatuh cinta pada Djogdja yang selalu ingin saya datangi lagi dan lagi. Denyut nadi mereka yang cenderung lambatlah yang mungkin membuat saya seperti bisa sejenak berhenti dari kesibukan dan aktifitas saya, merasakan kembali esensi dari sebuah kebersamaan dan kesederhanaan.

Suatu hari nanti saya akan kembali ke sana, mungkin akan tinggal di sana, selamanya…

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

7 Comments

  1. isnuansa_maharani
    30/10/2007
  2. Ifool
    30/10/2007
  3. Mohammad Helman Taofani
    30/10/2007
  4. Ifool
    30/10/2007
  5. yani
    01/11/2007
  6. Ifool
    01/11/2007
  7. | A | d | i | N | k |
    05/11/2007

Add Comment