Sejam bersama si Ikal

andrea_1.jpg

Selasa (22/04) kemarin adalah hari yang berkesan buat saya. Awalnya biasa saja, kecuali kenyataan bahwa saya harus ke kantor berbekal kaki kanan yang masih belum betul selepas insiden sabtu kemarin. Namun, selepas jam istirahat sebuah kejadian merubah penilaian saya pada hari itu. Hari Selasa itu kemudian jadi berbeda dibandingkan hari-hari lainnya.

Sejak seminggu sebelumnya saya dan seorang bapak di kantor memang sudah mengatur rencana untuk menghadiri acara yang diadakan sekolah Islam Athirah Bukit Baruga.Sebuah acara semacam seminar dan bincang-bincang buat anak-anak sekolah (SD-SMP dan SMA), yang agak luar biasa dari acara ini adalah bintang tamu yang dihadirkan, Andrea Hirata. Nama Andrea yang cukup fenomenal dengan “Laskar Pelangi”-nya mampu membuat saya sangat bergairah untuk hadir di acara tersebut. Selain gratis, tentu saja karena kesempatan untuk bertemu langsung dengan si Ikal plus kesempatan mendapatkan tanda tangan beliau di buku “Laskar Pelangi”.

Sebenarnya acara yang digelar kemarin terbagi atas dua bagian. Jam 8.30-11.30 pagi, Andrea jadi pembicara dalam seminar bertajuk “Mari merangkul dunia” yang berlokasi di gedung LAN RI yang tak jauh dari kantor. Sejak pagi, beberapa orang ibu-ibu di kantor sudah antusias untuk segera beranjak ke gedung tersebut. Saya belum antusias, karena ternyata acara tersebut harus dihadiri dengan bekal undangan seharga Rp. 60.000,-. Saya lebih memilih acara selepas makan siang aja, gratis dan tempatnya juga masih dalam kawasan kantor.

Akhirnya sekitar jam 2-an, pak Sjahrul (teman kantor yang sudah sama-sama janjian mau menghadiri acara itu) mengajak untuk segera ke lokasi acara. Akhirnya meskipun tertatih-tatih plus rasa nyeri di lutut, saya beranjak juga lengkap dengan kamera digital dan buku “Laskar Pelangi” yang siap ditandatangani.

Tempat penyelenggaraan acara adalah sebuah gedung serbaguna yang besar yang terletak dalam lingkungan sekolah Islam Athirah. Tempatnya memang agak jauh ke belakang dan terpisah jarak lumayan jauh dari parkiran. Sebagai “penduduk” asli, saya dan pak Sjahrul mengambil jalan pintas lewat jalur proyek sehingga mobil kami bisa parkir tepat di samping gedung. Sementara mobil yang lain tentunya parkir jauh dari lokasi acara.

Setiba di sana acara ternyata sudah berlangsung cukup lama. Andrea Hirata sudah sibuk berinteraksi dengan anak-anak yang hadir. Sebagian besar adalah anak-anak SD dan SMP, hanya sedikit dari mereka yang anak-anak SMA. Andrea beberapa kali menantang anak-anak tersebut untuk tampil ke depan membacakan puisi.

Awalnya puisi yang dibacakan adalah puisi yang diambil dari buku “Laskar Pelangi” Setelah itu, Andrea menaikkan tantangan. Dia meminta beberapa orang anak untuk membaca puisi spontan yang tercipta saat itu juga. Yang menarik adalah seorang anak yang mampu menciptakan sebuah puisi indah untuk Andrea Hirata yang katanya diciptakan baru beberapa menit sebelumnya.

Sang pencipta puisi adalah seorang anak SD yang kalau tidak salah ingat baru duduk di kelas IV. Puisi yang diciptakannya sangat lumayan untuk ukuran anak SD, Andrea sendiri nampak terkagum-kagum.

Setelah serangkaian acara bersama anak-anak sekolah tersebut, session bersama Andrea Hirata ditutup dengan acara tanda tangan buku dan foto bersama. Awalnya saya agak minder juga saat harus bersaing dengan anak-anak sekolahan, tapi saat guru-guru mereka turun tangan dan menertibkan anak-anak yang penuh semangat merubungi Andrea itu, sayapun jadi ikut-ikutan beringsut maju. Buku yang saya sodorkan akhirnya ditandatangani oleh beliau.

Saya juga sempat berfoto bersama Andrea. Sebenarnya tidak bisa dibilang berfoto bersama karena saat itu saya hanya berdiri di belakang Andrea yang sibuk menandatangani buku dan kemudian dijepret. Jadi, mungkin lebih tepat kalau dibilang numpang nampang di belakang Andrea.

Akhirnya saat anak-anak kecil itu makin tidak bisa dikendalikan dan dengan penuh nafsu merubungi Andrea untuk sekedar minta tanda tangan dan foto bareng, saya dengan tertatih-tatih beringsut mundur dan kemudian menuju ke teras gedung dan menyulut sebatang rokok sambil menunggu pak Sjahrul keluar.

Baru beberapa isapan rokok, saya melihat Andrea diiringi seorang pejabat dari sekolah Athirah berserta pak Sjahrul mendekat ke arah saya. Saat itu hujan turun cukup deras, dan karena mobil yang digunakan Andrea parkirnya jauh dari lokasi acara maka tak ada pilihan lain bagi Andrea selain minta diantar sampai ke gedung LAN RI, tempat mobil yang akan mengantarnya ke bandara terparkir. Dan, satu-satunya mobil terdekat yang bisa dicapai adalah mobil punya pak Sjahrul.

Pak Sjahrul tentu saja dengan senang hati berminat mengantar Andrea sampai ke gedung LAN RI. Saya pun tak kalah gembiranya, dengan cepat seolah-olah tak merasakan sakit di bagian lutut, saya bergegas ke arah mobil kijang punya pak Sjahrul. Membuka pintu depan samping sopir untuk Andrea dan mengambil posisi di kursi penumpang bagian tengah untuk saya sendiri.

Akhirnya Andrea dan seorang managernya naik ke mobil, dan mobilpun segera meninggalkan lokasi acara. Ah, rasanya betul-betul seperti mimpi. Duduk beberapa senti di belakang Andrea Hirata yang terkenal itu. Ketika mobil mulai berjalan, saya minta ijin untuk memotret beliau, sekedar bukti kalau saya benar-benar pernah semobil bersama Andrea.

Sepanjang perjalanan menuju gedung LAN, saya sempat ngobrol ringan dengan Andrea, termasuk mengajukan beberapa pertanyaan yang mengelayuti pikiran saya sehabis membaca Laskar Pelangi. Sebenarnya ada banyak daftar pertanyaan yang ingin saya ajukan, tapi semuanya seperti hilang lenyap tak berbekas. Saya tiba-tiba bingung tak tahu musti berkata apa. Rasanya, it’s too good to be true..

Setiba di gedung LAN, pak Sjahrul ternyata musti kembali ke gedung sekolah Athirah gara-gara seorang anggota menajemen Andrea masih tertinggal di sana. Akhirnya saya kemudian hanya tinggal bertiga di teras LAN bersama Andrea Hirata dan seorang pejabat sekolah Athirah.

Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini hingga kemudian mulai mengajak ngobrol. Andrea ternyata seorang yang sangat sederhana dan low profile. Meskipun bukunya sudah laris di mana-mana dan dia sudah tergolong public figure atau artislah istilahnya, namun kesan sederhana tetap terpancar dari caranya bertutur dan berpenampilan.

Hari itu Andrea memakai kemeja lengan panjang berwarna merah marun yang lengannya dilipat. Celananya jins berwarna hitam dengan sepatu kets berwarna hitam juga. Di kepalanya bertengger topi yang mirip baret, ciri khasnya selama ini.

Dari caranya bertutur saya bisa menangkap kesan kalau Andrea adalah orang yang sangat sopan. Sama sekali tidak terlihat angkuh, bahkan setiap kali berbicara atau ditanya dia nampak memperhatikan, meskipun wajahnya sudah terlihat lelah. Sesekali dia juga bertanya tentang beberapa hal, sama sekali tidak ada kesan ogah-ogahan.

andrea_n_me.jpg

Cukup lama juga kami ngobrol di teras gedung LAN itu, dan cukup banyak juga pertanyaan maupun obrolan yang terjadi. Saya bertanya antara lain tentang proses kreatif di balik terciptanya “Laskar Pelangi”, termasuk pertanyaan tentang kapan “Maryamah Karpov” dirilis. Menurut Andrea, buku pamungkas dari tetralogi tersebut akan dirilis bersamaan dengan film “Laskar Pelangi” yang sementara ini sedang dibesut oleh Riri Reza.

Saya juga sempat menanyakan tentang keberadaan Arai. Menurut Andrea, kisah tentang Arai dan anggota Laskar Pelangi lainnya akan dikisahkan di buku terakhir nanti. Jadi, untuk sementara Andrea tidak bisa menceritakan lebih detail tentang mereka.

Saat sedang mengobrol itu, saya mencoba menghubungi Ofie-istri saya- untuk sekedar memberitahu keberuntungan yang sedang saya jalani. Dan untuk lebih memperjelasnya, saya sempat meminta Andrea untuk berbicara dengan istri saya di telepon. Sebuah percakapan singkat yang katanya mampu membuat istri saya jadi grogi.

Andrea juga sempat menceritakan pengalaman-pengalamannya semenjak menjadi public figure seperti sekarang ini, termasuk tentang kegilaan beberapa fansnya atau kehebohan beberapa acara bedah buku yang digelarnya. Andrea juga sempat menceritakan sedikit tentang bagaimana kehidupan ibu Muslimah dan anggota Laskar Pelangi lainnya yang saat ini sedikit shock gara-gara jadi terkenal dan kemudian dicari-cari orang.

Di bagian lain Andrea sempat bertanya tentang acara bedah buku di Makassar. Kami juga sempat bergunjing sejenak tentang Aan Mansyur yang ternyata dikenal dengan baik oleh Andrea Hirata. Menurut Andrea, Aan yang baru saja merilis buku kumpulan puisinya-Aku hendak pindah rumah-adalah seorang penulis yang bagus. Andrea mengaku menikmati novel Perempuan Rumah Kenangan hasil karya Aan yang dikirim langsung oleh sang penulis kepadanya.

Ada juga bagian saat kami ngobrol tentang fenomena booming-nya karya sastra di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini, termasuk tentunya “Laskar Pelangi” dan “Ayat-Ayat Cinta”. Obrolan terakhir kami sebelum pak Sjahrul datang membawa sang anggota manajemen Andrea adalah tentang proses film “Laskar Pelangi” yang sementara sedang dikerjakan itu. Dalam obrolan ini ada beberapa hal yang bersifat rahasia yang diungkapkan oleh Andrea yang mungkin lebih baik bila tidak saya tuliskan di sini.

Akhirnya karena memang sedang terburu-buru untuk segera kembali ke Jakarta, Andrea dan timnya mohon pamit. Di tengah hujan rintik-rintik yang masih membasahi kota Makassar, Andrea berlalu dari hadapan kami. Ah, rasanya puas banget bisa bertemu langsung dengan penulis yang fenomenal itu. Sebuah pengalaman berharga yang harganya pasti sangat mahal. Saya tiba-tiba jadi merasa sebagai orang yang sangat beruntung. Bagaimana tidak, saya tidak perlu berdesak-desakan apalagi membayar untuk mendapatkan kesempatan ngobrol langsung secara eksklusif dengan seorang Andrea Hirata.

Andrea ternyata memang sesederhana si Ikal..dan satu jam bersama si Ikal adalah sebuah momen yang akan saya kenang untuk waktu yang sangat lama.

About The Author

8 Comments

  1. daeng battala
    23/04/2008
  2. khie
    23/04/2008
  3. escoret
    24/04/2008
  4. escoret
    24/04/2008
  5. rusle
    25/04/2008
  6. Ally
    25/04/2008
  7. arhamkendari
    01/05/2008
  8. oddie
    26/07/2008

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: