Sang Pendekar Keadilan

baharuddin lopa

Baharuddin Lopa ; sumber : kepakgaruda.wordpress.com

Nonton Mata Najwa hari Rabu (9/2) kemarin ? Kebetulan episodenya adalah tentang para pendekar keadilan. Salah satunya adalah membahas tenang Alm. Baharuddin Lopa, mantan jaksa agung di jaman Gus Dur yang dikenal orang sebagai seorang jaksa yang sederhana, lurus dan teguh dalam pendirian. Dalam acara Mata Najwa dihadirkan berbagai cerita betapa lurus, tegas dan sederhananya kehidupan beliau.

Di SulSel sendiri sudah banyak cerita yang beredar tentang segala kelurusan, ketegasan dan kesederhanaan sang jaksa kelahiran Polewali Mandar itu. Menjadi semacam sebuah legenda tersendiri. Ada yang benar-benar terjadi dan diceritakan apa adanya, tapi ada juga yang sudah ditambahi bumbu-bumbu sehingga kebenarannya bisa dipertanyakan lagi.

Saya pernah mendengar sebuah cerita (yang kemudian dibenarkan oleh Jusuf Kalla), saat alm. Baharuddin Lopa menjabat sebagai kepala kejaksaan tinggi ( atau negeri ya ? lupa) beliau berniat membeli sebuah sedan Toyota. JK yang memang memegang lisensi sebagai dealer Toyota berniat memberikan harga khusus kepada Baharuddin Lopa. Sang jaksa menolak, dia minta harga normal atau kalaupun ada diskon tetap sesuai dengan ketentuan, bukan sebesar yang tadinya ditawarkan oleh JK.

Tadinya JK menawarkan harga Rp. 5 juta untuk sebuah sedan yang harga aslinya Rp. 30 juta (waktu itu). Baharuddin Lopa menolak, dia minta harga normal dengan maksimal diskon seperti yang diterima orang lain. Akhirnya kesepakatan jatuh pada angka Rp. 27 juta, itupun dicicil ! Luar biasa, seorang kepala kejaksaan menolak sebuah kemudahan dan memilih untuk tidak menggunakan kekuasaannya demi kepentingan pribadi.

Seorang teman yang salah satu kerabatnya pernah menjadi ajudan almarhum Baharuddin Lopa pernah bercerita bagaimana tegasnya sang jaksa. Suatu hari mereka mengadakan kunjungan kerja ke sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan. Baharuddin Lopa tahu kalau bensin mobil dinasnya tinggal sedikit. Ketika urusan kerja selesai beliau mendapati kalau tiba-tiba jarum penunjuk bahan bakarnya berada di atas, artinya tanki bensin habis diisi.

” Siapa yang mengisi bensin ? “, Tanya Baharuddin Lopa pada supirnya.

” Pak jaksa, pak ” Jawab si supir sambil menyebut nama seorang pejabat di kejaksaan negeri yang baru saja mereka datangi.

Sontak pak Baharuddin Lopa naik pitam, disuruhnya sang supir kembali ke kantor kejaksaan yang sudah lama mereka tinggalkan. Sang pejabat yang memberi bensin diperintahkan untuk menghisap kembali bensin yang dimasukkannya, persis sejumlah yang dia masukkan. Bagi Baharuddin Lopa, uang jalan yang didapatnya harus dipergunakan sesuai kebutuhan, sesuai peruntukannya.

Dua cerita di atas adalah sekelumit cerita tentang bagaimana teguhnya Almarhum Baharuddin Lopa dalam memegang amanah dan prinsip hidupnya. Beliau adalah sosok “aneh” dalam masa sekarang, di mana hampir semua pejabat seperti hidup dalam gelimang harta dan kekuasaan yang memabukkan.

Secara realistis, memang susah menggantungkan harapan tegaknya keadilan negeri ini hanya pada seorang Baharuddin Lopa. Hampir semua masalah hukum, korupsi dan mafia peradilan di negeri ini berada dalam pusaran tarik menarik kepentingan politik yang kuat. Masa singkat sebagai seorang jaksa agung jelas sekali membuka mata Baharuddin Lopa. Tapi dia tidak peduli, baginya jabatan adalah amanah dari Tuhan dan dari rakyat Indonesia, selama presiden masih percaya dia akan terus berjuang. Berat memang, karena bisa jadi hanya dia sendiri yang berjuang di antara deretan parasit yang pasti mencari jalan untuk menjatuhkannya.

Lopa mungkin terlalu naif dan aneh, tapi setidaknya bagi banyak pihak dia adalah angin segar yang berhembus di tengah kekacauan dan ketidakpastian hukum negeri ini. Kepergiannya yang tiba-tiba itu ibarat sebuah sambaran gledek yang meruntuhkan harapan rakyat Indonesia akan tegaknya bangunan keadilan yang lama didambakan.

Orang seperti almarhum Baharuddin Lopa tidak banyak, sangat jarang malah. Tapi sosoknya selalu dirindukan di negeri yang wajah hukumnya carut marut tidak karuan. Lopa, seperti juga jenderal Hoegoeng dan Yap adalah para pendekar keadilan, mereka yang setia hidup dalam kesederhanaan dan keteguhan memegang prinsipnya.

Semoga kita masi bisa bersabar menantikan datangnya para pendekar keadilan lainnya.

About The Author

7 Comments

  1. niQue
    10/02/2011
    • ipul
      11/02/2011
  2. indobrad
    10/02/2011
    • ipul
      11/02/2011
  3. sibair
    11/02/2011
  4. Rian Adhivira
    12/02/2011
  5. daengrusle
    12/02/2011

Add Comment