Rencana Tuhan yang [selalu] lebih indah

Iqko, sukses memimpin acara di depan layar

Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Percayalah pada kata bijak itu.

Jumat sore sekitar jam 16:00 lebih, atau 3 jam sebelum acara puncak launching Firefox 4 Makassar digelar di De Luna Caf? dan Resto. Sebagian panitia masih bertumpuk di kamar 802 Hotel Shantika tempat Rara menginap dan dengan semena-mena kami jadikan sebagai base camp sementara karena tempatnya yang tidak begitu jauh dari De Luna.

Sebuah telepon masuk ke handphone saya, di layar tertera nama yang saya kenal. Adik teman sekantor yang sudah saya kontak untuk jadi salah satu pengisi acara di launching Firefox4 malam nanti. Telepon itu dengan segera memacing emosi saya. Dari seberang, si penelepon ngomong kalau dia tidak bisa tampil malam ini. “Tapi jangan kuatir,” katanya.” Saya ada teman yang bisa menggantikan. Cuma, kayaknya dia tidak bisa kalau tetap dengan harga segitu, dia bisanya dua kali lipat dari itu ”

What..???

Emosi saya dengan cepat memuncak sampai ke ubun-ubun. Bagaimana bisa dia mengabari kalau dia batal tampil hanya 3 jam sebelum acara ? Terus, bagaimana bisa dia bilang kalau ada penggantinya tapi tidak mau kalau dibayar segitu dan minta dua kali lipatnya ? Memangnya acara ini acara nenek moyangmu yang bisa kamu atur seenaknya ?

Dua hari sebelumnya saya sudah menelepon mereka dan dengan yakinnya mereka bilang siap untuk tampil. Soal harga mereka bilang tidak masalah. Jadi wajar dong kalau saya emosi pas mereka dengan seenaknya bilang tidak bisa tampil tapi merekomendasikan penggantinya yang bisa tampil dengan bayaran dua kali lipat. Sejuta prett..!!! untuk kamu, band kampunganmu yang sama sekali tidak profesional. Bagaimana bisa berkembang kalau modelnya kayak begitu ? seenaknya saja menyalahi perjanjian walaupun itu cuma perjanjian lisan. Manusia itu yang dipegang kata-katanya bukan ? Jadi kalau berkata-kata saja sudah tidak bisa dipercaya, apalagi yang bisa dipercaya ?

Saya sudah lupa kapan terakhir kalinya mengumpat dengan kalimat TA****O, itu umpatan yang cukup kasar untuk orang Bugis-Makassar, dan saya ? umpatan itu biasanya hanya keluar kalau saya benar-benar emosi. Seperti sore itu.

Sontak saya kalut luar biasa, gabungan antara emosi dan bingung membuat saya nyaris tidak bisa berpikir. Hancur sudah rundown acara yang sudah kami susun sejak seminggu sebelumnya karena ulah band kampungan itu.

Sejatinya band itu akan tampil secara akustik di tiga sesi. Sesi awal sebagai pembuka, kemudian sesi bridge antara sesi advetorial dari Indosat menuju sesi puncak bersama dua engineer Mozilla serta tentu saja pada sesi terakhir. Total waktunya sekitar 1 jam untuk penampilan band yang rencananya akan tampil akustik.

Nah kalau mereka tiba-tiba batal, apa yang akan kami lakukan..? Apa yang harus kami isi untuk satu jam itu ? Membiarkan panggung kosong dan audiens bengong ? Pertanyaan itu yang bikin saya bingung.

Tapi, sekali lagi Tuhan kadang punya rencana yang tidak kita duga sebelumnya.

Di pagi harinya bersama Rara saya menjemput seorang teman, namanya Dimas. Saya pertama ketemu dengan lelaki setengah gondrong itu di Jakarta pada pagelaran Pesta Blogger tahun lalu. hanya sekejap sih, tapi setelah itu dunia maya lumayan membuat kami akrab.

Rara sendiri menyembunyikan identitas Dimas dan sejak malam harinya hanya menyebut kalau ada seorang lelaki yang ikut dia ke Makassar. Kami menyebutnya mistery man karena sampai perjalanan ke bandara kami belum tahu pasti siapa tamu yang disebut Rara itu. Meski sudah bisa mengira tapi saya belum bisa yakin 100% sebelum melihat dengan jelas kalau memang Dimas yang dimaksud Rara.

Saya dan teman-teman Anging Mammiri sama sekali tidak pernah menyangka kalau keputusan Rara “menculik” Dimas ke Makassar adalah keputusan yang sangat kami syukuri. Dimas menjadi penyelamat acara. Yah, dia menyelamatkan muka kami semua ketika saya sudah bingung dan emosi tingkat tinggi mendengar pembatalan sepihak dari band kampungan itu.

Dimas, sukses menuntun acara dari belakang layar

Dimas muncul menawarkan diri menjadi DJ. Bersama Rara, dia meyakinkan saya untuk tenang karena dia bersedia mengisi slot kosong tersebut dengan pilihan playlist dari MacBook-nya. Entah kenapa saya langsung percaya pada Dimas. Hanya dalam hitungan menit saya mulai tenang meski terus terang masih ada kekhawatiran soal slot kosong yang ditinggal band itu. Tapi Dimas, Rara dan Iqko terus menenangkan saya sehingga kemudian saya meninggalkan mereka dan mengurus hal lain yang masih harus diurus.

Ketika tiba di venue menjelang acara, Dimas sudah siap di belakang MacBook-nya dengan beberapa kabel yang terjuntai. Saya tidak terlalu paham apa yang dia kerjakan karena saya juga sibuk membagi pikiran berkoordinasi dengan teman-teman yang lain. Setahu saya Dimas mengerahkan semua kemampuannya malam itu. Dan setahu saya, acara berjalan lancar dan meriah salah satunya adalah karena ulah Dimas yang menjadi man behind the scene yang sesungguhnya.

Dimas merangkai dengan tepat lagu yang diputar, dia menjamin presentasi para pemateri tampil sesuai keinginan. Di tangan Dimaslah, slot kosong yang saya kuatirkan akan membuat acara garing itu ternyata sama sekali tidak terbukti. Dimas dan Iqko, dua tulang punggung acara kami malam itu. Dimas di belakang layar dan Iqko di depan layar. Pfyiuhhh, saya tidak bisa membayangkan bagaimana garingnya acara itu tanpa mereka berdua.

Yah, kita memang berencana tapi Tuhan yang menentukan. Terkadang Tuhan menentukan rencana yang berbeda dan malah lebih indah dari yang kita rencakanan. Seperti yang terjadi malam itu. Kehadiran Dimas membuat kami sadar kalau kami sama sekali tidak membutuhkan band kampungan itu yang mungkin malah akan membuat rundown jadi kacau dan molor.

Ahh..Tuhan kadang memang punya rencana yang indah buat kita hambanya. Terima kasih buat Dimas dan semua teman-teman yang sudah bekerja keras untuk kesuksesan Firefox 4 Launching Party. Karena Dimas juga saya jadi batal untuk lompat dari lantai 8 Hotel Shantika..hehehe.

I love you all, guys..!!

Cerita lain soal #Fx4PartyMks bisa dibaca di sini.

Foto-foto acara #Fx4PartyMks bisa dilihat salah satunya di facebook saya

Para panitia yang sudah bekerja keras demi kelancaran acara

 


About The Author

23 Comments

  1. ofi
    09/05/2011
    • ipul
      09/05/2011
  2. rara
    09/05/2011
    • ipul
      09/05/2011
  3. niQue
    09/05/2011
    • niQue
      09/05/2011
    • ipul
      09/05/2011
      • niQue
        10/05/2011
        • ipul
          10/05/2011
  4. erwin
    09/05/2011
    • ipul
      10/05/2011
  5. gie
    09/05/2011
    • niQue
      10/05/2011
    • ipul
      10/05/2011
  6. aRuL
    10/05/2011
    • ipul
      10/05/2011
  7. Cipu
    10/05/2011
    • ipul
      10/05/2011
  8. didut
    11/05/2011
    • ipul
      11/05/2011
  9. anugrha13
    11/05/2011
    • ipul
      11/05/2011
  10. fachrie lantera
    13/05/2011

Add Comment