PLN, Saatnya Lebih Mendengarkan!

Tower PLN

Tower PLN

Pernah membayangkan hidup di millenium kedua tanpa listrik? Kita bisa melakukannya untuk melewati satu tantangan kuis misalnya, atau mencari sesuatu yang di masa sekarang disebut sebagai eksotisme, menikmati sesuatu yang berbeda dengan keseharian. Mungkin hanya dua itu alasan kita bisa hidup di jaman sekarang tanpa listrik karena akuilah, hidup tanpa listrik adalah sesuatu yang sulit?kita bayangkan bukan?

Negeri kita punya banyak potensi alam yang bisa diolah untuk menjadi tenaga listrik. Mulai dari arus, uap, tenaga air, angin, batu bara dan lain-lain. Bahkan seandainya kita bisa menemukan cara untuk membangun pembangkit listrik tenaga dalam maka Indonesia jelas punya banyak cadangan bahan bakunya.

Listrik di negeri ini secara umum hanya dikelola oleh satu perusahaan, Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sebagai satu-satunya perusahaan penyedia listrik, PLN jadi tumpuan orang Indonesia untuk menikmati hidup dengan listrik yang terang benderang. Tapi, sebagai satu-satunya penyedia layanan listrik, PLN juga jadi satu-satunya perusahaan yang disoroti ketika masih banyak orang yang tidak bisa menikmati listrik.

PLN memang masih kesulitan memenuhi kebutuhan listrik ratusan juta orang Indonesia. Masalahnya mulai dari pengadaan listrik yang belum sempurna, penyambungan listrik yang masih bermasalah sampai layanan keluhan yang masih belum terpenuhi dengan baik. Memang, PLN sudah banyak melakukan perbaikan. Saya sendiri sudah merasakannya, termasuk transparansi di beberapa bidang. Tender tak lagi dilakukan sembunyi-sembunyi tapi dilakukan secara daring yang memungkinkan semua orang tahu dan melihat prosesnya.

Oh jangan lupa juga soal petugas yang tak mau memungut biaya tak jelas dari pelanggan, atau petugas pelayanan yang bergegas pergi setelah menyelesaikan tugasnya, alih-alih menunggu salam tempel. Saya sudah pernah membuktikannya berkali-kali, dulu di masa kelam PLN saya pernah ikut dalam bagian beberapa tender pengadaan dan saya tahu bagaimana proses tender ketika itu. Plus, saya sudah beberapa kali mendapat pelayanan dari petugas PLN yang sama sekali tak memungut bayaran ilegal atau bahkan sekadar menunggu salam tempel selepas tugas mereka selesai. Salut untuk bagian ini.

Pemberdayaan Warga.

Bagaimana dengan pengadaan listrik atau ketercukupan daya? Masih banyak daerah di Indonesia yang masih berada dalam masa gelap gulita dan belum bisa menikmati layanan listrik. Masalahnya mungkin ada di infrastruktur, di mana beberapa daerah memang berada jauh dari keramaian dan PLN sulit untuk menjangkau dengan layanannya.

Tapi ada juga daerah yang ironis karena terletak di sekitar pusat energi, dikelilingi perusahaan tambang tapi masih juga akrab dengan kekurangan daya listrik. Pemadaman bergilir jadi makanan mereka sehari-hari, kadang sampai 6 jam sehari. Beberapa kawan di Kalimantan mengaku sudah kenyang dengan pengalaman itu, dan mereka hanya bisa pasrah sambil tentu saja mengomel karena kesal.

Orang pintar di negeri ini sangat banyak, mereka pastinya sudah pernah membuat penelitian tentang bagaimana memanfaatkan sumber energi baru untuk menghadirkan listrik bagi warga. Saya juga yakin PLN dipenuhi orang-orang pintar yang punya kapasitas untuk merencanakan cara memenuhi kebutuhan lebih banyak orang akan listrik, termasuk mencari sumber energi baru tentunya. Jadi rasanya akan sia-sia kalau saya kembali mengulang cerita soal teknis yang sejujurnya juga tidak saya kuasai.

Mungkin akan lebih elok bila memberi ide kepada PLN untuk lebih banyak mencari dan mendukung usaha warga yang menyediakan listrik sendiri saat PLN kesulitan menyediakan listrik buat mereka. Di Indonesia ada banyak warga yang melakukan praktik cerdas menghadirkan listrik di rumah mereka dengan usaha sendiri. Di Desa Kasintuwu, Kecamatan Mangkutana, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, warga yang kesulitan mendapatkan layanan listrik dari PLN memutar otak untuk membangun pembangkit listrik sendiri. Warga desa yang dikomandoi pak Abu akhirnya berhasil membangun pembangkit listrik dengan memanfaatkan arus sungai yang memang mengalir deras di desa mereka. (sumber)

Hal yang sama juga dilakukan warga di Desa Ngroto, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Mereka juga membangun pembangkit listrik sendiri dengan memanfaatkan karbon. Mereka menyebutnya pembangkit listrik tenaga hampa. (sumber)

Dua cerita di atas mungkin hanya sedikit dari banyak sekali praktik cerdas warga yang mengalirkan listrik selagi PLN belum mampu bertamu ke rumah mereka. Akan sangat menyenangkan kalau PLN bisa membantu praktik-praktik cerdas seperti ini. Meluangkan waktu, tenaga dan biaya untuk mendukung praktik cerdas seperti ini tentu akan sangat berarti bagi warga yang belum menikmati layanan listrik PLN. PLN bisa memberikan saran, masukan atau bantuan biaya untuk pengembangan listrik mandiri ini. Anggaplah sebagai bagian dari CSR mereka.

Oke, secara bisnis ini mungkin tidak sehat. Terlihat seperti memelihara harimau yang jika besar bisa memakan tuannya sendiri. Tapi sepertinya tidak, toh warga memutar otak membangun pembangkit listrik sendiri bukan untuk tujuan komersil. Mereka melakukannya karena mereka belum bisa menikmati listrik dari PLN. Di satu sisi PLN juga harus mengakui kalau mereka masih punya kekurangan dan untuk menutupi kekurangan itu mereka dengan besar hati membantu warga yang ingin membangun pembangkit listrik sendiri. Yakinlah, nama baik PLN akan sangat terbantu dengan niat baik ini.

Toh semua yang dimulai dengan niat baik pada ujungnya akan mendatangkan kebaikan juga.

Dengarkan Lewat Media Sosial.

Masalah lain yang masih sering ditemui PLN adalah soal pelayanan dan keluhan. Ketika listrik mati orang-orang yang hidup di jaman ketika media sosial dan internet jadi bagian hidup ini berbondong-bondong memuntahkan kekesalan mereka. Jadilah terkadang mereka saling bersahut-sahutan di media sosial, khususnya di Twitter. Bagaimana dengan PLN? Akun @pln_123 lebih banyak berfungsi seperti robot. Hanya menanyakan nama lengkap, alamat lengkap dan lain-lain. Persis seperti rekaman suara yang diputar terus menerus ketika ada yang bertanya.

Pola ini harus diubah, sudah saatnya PLN lebih mendengarkan keluhan utamanya di media sosial. Kami yang tinggal di kota Makassar dan sekitarnya sudah merasakan hal positif dari niat baik PLN mendengarkan keluhan. Di Makassar, akun Twitter @PLN_Makassar termasuk akun yang paling ramah dan tabah mendengar keluhan. Ketika satu kejadian luar biasa terjadi – misalnya pemadaman – akun ini dengan cepat memberikan informasi pemadaman terjadi di daerah mana saja, penyebabnya apa dan kira-kira waktu yang dibutuhkan berapa lama sebelum normal kembali. Akun @PLN_Makassar juga dengan sabar menjawab satu persatu kicauan yang masuk ke akunnya, berusaha menjelaskan sebaik-baiknya tentang apa yang terjadi meski beberapa kicauan sudah mengikutsertakan umpatan kasar dan nama binatang.

Apa hasil positif dari ketabahan dan kesabaran akun @PLN_Makassar ini? Memang, kicauannya tidak serta merta membuat listrik normal kembali tapi setidaknya mereka yang kesal merasa sedikit dihargai dan ditanggapi. Energi negatif sudah terbuang, merekapun bisa rileks kembali. Di sisi lain, akun @PLN_Makassar makin mendapatkan simpati dari pengguna Twitter lainnya. Ketika ada masalah dengan pengadaan listrik banyak pengguna Twitter lain yang ikut membantu akun @PLN_Makassar untuk memberi penjelasan atau menenangkan mereka yang marah-marah. Sekali lagi, niat baik akan ditanggapi baik oleh orang lain dan seperti gelombang dia akan kembali dengan penuh kebaikan juga.

Kicauan akun @PLN_Makassar

Kicauan akun @PLN_Makassar

Belajar dari situ saya membayangkan kalau saja PLN mau lebih mengoptimalkan media sosial untuk pelayanan dan keluhan maka mungkin saja akan lebih banyak masalah yang terurai. Bayangkan kalau tiap kota punya akun Twitter, punya Facebook Pages dan bahkan punya blog. Ketika ada masalah, pengguna media sosial tinggal berurusan dengan akun Twitter atau akun Facebook di kota mereka, tak perlu semua ditimpakan ke akun @pln_123.

Blog juga bisa berfungsi untuk meng-update informasi terbaru dari PLN, termasuk informasi-informasi teknik yang dikelola oleh staff di daerah tertentu. Intinya, tiap daerah bisa memberdayakan diri mereka sendiri dan membangun relasi dengan pelanggan atau calon pelanggan dengan memanfaatkan media sosial sebagai penghubung. Internet makin lama akan makin jamak dan makin ramai digunakan orang, saatnya PLN ikut ambil bagian dalam arus perkembangan ini.

PLN memang belum sempurna dalam memberi layanan dan memenuhi kebutuhan listrik orang Indonesia, tapi bila melihat dari satu sisi yang lain harus kita akui kalau PLN sudah ada perubahan. Pun mereka sudah mau membuka diri dengan menyerap ide-ide dari warga, alih-alih menutup diri dan mencoba menyelesaikan semuanya sendirian.

Mimpi kita semua sama, agar negeri ini diterangi cahaya lampu dan dialiri listrik. Dari Sabang sampai Merauke, dari Timor sampai Talaud. [dG]

 

About The Author

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: