Pete-Pete, si Biru yang menguasai Makassar


pete-pete, moda transportasi utama di Makassar

tulisan ini juga dimuat di sini

Di Makassar tidak ada angkot, yang ada hanya pete-pete. Demikianlah anekdot tentang salah satu moda transportasi di kota Makassar. Lalu, apa beda antara angkot dan pete-pete ?. Sebenarnya tidak ada, karena pete-pete juga adalah istilah lain untuk angkot dalam bahasa sehari-hari penduduk kota Makassar atau Sulawesi Selatan pada umumnya.

Tidak ada catatan resmi tentang asal-usul penyebutan nama pete-pete untuk angkot di kota Makassar. Ada cerita kalau pete-pete adalah penyebutan untuk singkatan dalam bahasa asing, Public Transportation (PT). Karena jumlahnya yang banyak maka pengucapan PT diulang sebagai mana umumnya pengucapan benda jamak dalam bahasa Indonesia, maka jadilah nama pete-pete disematkan kepada angkot di kota Makassar.

Pete-pete berupa mobil penumpang ber-merk Suzuki atau Mitshubishi yang sudah dirubah fungsi seperti umumnya angkot di kota-kota lain di Indonesia. di Makassar, pete-pete diseragamkan dengan warna biru langit dan di bagian body diberi strip yang warnanya berbeda-beda sesuai dengan trayek pete-pete yang bersangkutan.

Pete-pete adalah tulang punggung utama transportasi penduduk kota Makassar dan Sulawesi Selatan. Bus kota hanya melayani satu jalur, itupun dengan kondisi yang kurang nyaman. Beberapa tahun lalu jalur bus kota masih ada 3 buah, tapi pengaruh “kekuatan” pete-pete tampaknya sangat kuat sehingga bus kota kemudian tergusur dan hanya menyisakan satu jalur saja.

Menurut data Jaringan Pekerja Penataan Transportasi Perkotaan (JKPT), jumlah pete-pete di Makassar sebanyak 5.111 unit yang melayani 13 rute. Dengan rata-rata penumpang 514 ribu perhari jumlah pete-pete seharusnya hanya sekitar 4000-an unit. Rasio antara pete-pete dan penumpang yang tidak berimbang ini membuat persaingan antara pete-pete menjadi sangat ketat. Sangat jarang kita temui pete-pete yang penuh oleh penumpang, kecuali pada beberapa jalur khusus.

Pete-pete kemudian saling berlomba-lomba mempercantik diri untuk menarik minat penumpang. Berbeda dengan angkot di kota-kota besar di Jawa di mana penampilannya cenderung standar saja, pete-pete di Makassar cenderung lebih modis. Berbagai assesories melengkapi penampilan mereka. Dari pemilihan ban dan velg yang menyerupai mobil-mobil mewah hingga perlengkapan jok dan audio yang sangat nyaman.

Biasanya di bawah deretan kursi penumpang pete-pete diisi dengan speaker yang mampu mengeluarkan suara yang kualitasnya hampir sama dengan diskotik. Bahkan saya pernah mendapati ada pete-pete yang sekalian melengkapi kabin penumpangnya dengan lampu-lampu hias khas diskotik. Yang lebih hebat lagi, ada pete-pete yang melengkapi penampilannya dengan TV kecil di kabin penumpangnya.

Faktor penampilan pete-pete kemudian menjadi pilihan utama bagi para penumpang yang sedang tidak terburu-buru, apalagi bagi anak sekolahan atau anak kuliahan. Pete-pete dengan tampilan mentereng dan kualitas audio yang nyaman pasti akan langsung jadi pilihan utama. Tak heran para pemilik pete-pete yang berkantong tebal saling berlomba-lomba untuk menghiasi pete-pete mereka.


Secara umum perilaku berlalu lintas para supir pete-pete agak memprihatinkan. Mereka dituding sebagai penyebab utama kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas kota Makassar. Pete-pete bisa seenaknya pindah jalur, menurunkan dan menaikkan penumpang di tempat-tempat yang tidak seharusnya atau berzig-zag dengan cueknya di jalan raya. Karakter umum supir angkot di Indonesia. Alasan mereka adalah mengejar setoran, walaupun sayangnya hal ini seringkali malah merugikan pengguna jalan lainnya.

Mungkin bila dilakukan pemutihan SIM dan para sopir itu disuruh mengurus ulang SIM dengan mengikuti aturan yang sebenarnya, maka jumlah yang lulus tidak akan lebih dari 10%.

Baru-baru Pemerintah Kota Makassar mengajukan usulan untuk membuat seragam dan ID Card khusus untuk para sopir pete-pete. Maksudnya agar para sopit tersebut bisa didata dan ditertibkan dengan baik, utamanya untuk membedakan sopir asli dan sopir tembak. Apalagi beberapa kali terjadi tindak kriminal kepada penumpang yang dilakukan oleh sopir pete-pete. Terakhir,aksi percobaan pemerkosaan atas mahasiswa sebuah PTN di Makassar yang membuat mahasiswa sempat marah dan mencari sendiri pelaku tindak percobaan pemerkosaan itu.

Ada keunikan tersendiri dari pete-pete di kota Makassar. Pada beberapa trayek, pete-pete tidak memiliki jalur yang standar. Artinya mereka bisa melaui jalur-jalur yang berbeda dalam satu kawasan. Trayek Sentral-Perumnas misalnya. Untuk sampai ke daerah Toddopuli pete-pete kadang melalui jalur Tamalate tapi bisa juga melalui jalur Hertasning. Untuk orang yang baru dan tidak paham, perubahan-perubahan jalur seperti ini kadang membingungkan. Tipsnya adalah sebelum naik anda harus memberitahukan sopir terlebih dahulu daerah tujuan anda sehingga yakin kalau tujuan anda tidak akan terlewatkan.

Itulah sedikit gambaran tentang pete-pete di kota Makassar. Secara umum pete-pete atau angkot di Makassar cukup nyaman dan aman, tapi bagaimanapun juga kewaspaan tetap harus kita miliki mengingat karakter umum kota-kota besar di Indonesia yang kadang semakin tidak manusiawi untuk para penghuninya. Jadi, kalau ke Makassar jangan lupa untuk menyempatkan waktu menumpang pete-pete, kalau bisa carilah pete-pete dengan kualitas audio yang nyaman, syukur-syukur kalau bisa dapat pete-pete yang dilengkapi TV.

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

5 Comments

  1. isnuansa
    13/11/2007
  2. Ifool
    14/11/2007
  3. Mohammad Helman Taofani
    15/11/2007
  4. Ifool
    15/11/2007
  5. Suwito
    28/11/2007

Add Comment