Pelecehan Seksual ?

“kemarin malam, waktu mau pulang saya ketemu pak CW di parkiran. Tau ndak ?, dia ngajakin short time, hiiyyy…ngeri deh..”

“Hah ?, dia bilang begitu ?. Trus, kamu jawab apa ?”.

“ ya aku bilang aja; ih, sembarangan..saya ada yang nunggu di rumah..”

“hanya itu ?”

“iyya…”

Itu sepotong obrolan saya dengan seorang teman cewek-YY- di kantor saya suatu hari. Terus terang, obrolan itu bikin saya bergidik dan kemudian menetap cukup lama di kepala saya hingga menjadi sebuah pertanyaan. Saya menganggap kejadian di tempat parkir di suatu malam itu adalah sebuah bentuk pelecehan seksual terhadap wanita, dan di sisi lain saya merasa cukup sedih melihat reaksi teman saya YY yang-menurut saya-sangat lembek dalam menghadapi kasus pelecehan seksual seperti itu.

Teman saya YY adalah seorang wanita berusia 25 tahun, dari segi penampilan dia cukup lumayan. YY ini adalah ibu muda, punya anak usia 1 tahun lebih dengan usia perkawinan 2 tahun lebih. Suaminya kebetulan bekerja di sebuah proyek yang lokasinya di luar kota Makassar, sehingga frekuensi pertemuan mereka cukup jarang. Anak-anak mengistlahkannya SMS-Sabtu Minggu Setor.

Nah, keadaan si YY ini kemudian menimbulkan asumsi pada beberapa orang rekan kantor kami bahwa dia kesepian. Parahnya lagi, YY termasuk wanita yang suka blak-blakan bila bicara tentang kehidupan seksual. Bahkan sepertinya dia cukup bersemangat untuk berkumpul dalam sebuah “majelis” yang asyik membahas hal-hal pribadi seperti itu. Terkadang saya suka risih sendiri dibuatnya. Tak heran bila kemudian muncul reaksi berlebihan dari beberapa teman kantor (yang semuanya adalah lelaki beristri) untuk menggoda YY. Sebagian besar sih berupa godaan secara verbal (saya belum pernah melihat ada yang menggodanya secara fisik) dari mulai guyonan jorok, pertanyaan jorok hingga ajakan-ajakan seperti yang saya ceritakan di atas.

Saya menilai kalau teman saya ini cukup permisif pada para pelaku pelecehan tersebut. Bahkan pada kasus terakhir, saat saya mencoba menyarankan kepadanya untuk lebih tegas dan menunjukkan reaksi yang lebih keras kepada para pelaku untuk menunjukkan kalau dia tidak nyaman diperlakukan seperti itu, YY hanya berkata; “ ah, kau terlalu serius menanggapinya Pul. Bapak-bapak itu kan hanya bercanda, mereka memang suka usil”. Saya jadi gregetan sendiri dibuatnya.

Entah komentar ini lahir karena YY memang menikmati menjadi objek, atau karena pemahaman yang sangat kurang tentang pelecehan seksual pada wanita ?. Tapi dari penuturannya, dia sepertinya merasa tidak nyaman juga terkadang diperlakukan sebagai objek. Jadi saya mengambil kesimpulan kalau YY memang masih kurang paham tentang pelecehan seksual terhadap wanita, sehingga hal-hal seperti di atas yang di negara maju bisa mengakibatkan si pelaku diseret ke pengadilan hanya dianggapnya sebagai candaan biasa. Sayang sekali.

Saya sendiri sebenarnya tidak tahu banyak tentang gesture atau ungkapan verbal seperti apa yang bisa digolongkan sebagai pelecehan seksual. Sebagian besar saya hanya menggunakan intuisi tentang tindakan apa saja yang kira-kira bisa membuat seorang wanita menjadi tidak nyaman dan kemudian bisa dianggap sebagai bentuk pelecehan seksual.

Dulu, sebelum menikah saya juga menikmati obrolan-obrolan beraroma seks yang melibatkan kaum wanita. Rasanya memang ada sensasi tersendiri apabila mereka (kaum wanita itu) terlihat bersemangat menanggapi ocehan para lelaki seputar hubungan seks, meskipun itu hanya berupa joke-joke ringan. Namun, setelah menikah rasanya hal-hal seperti itu tidak menarik lagi. Saya seringkali merasa risih apabila dalam sebuah keramaian yang di dalamnya juga terlibat kaum wanita, perbincangan sudah mulai menyerempet masalah seks, apalagi bila bahasa yang digunakan sudah mulai tidak sopan. Saya mungkin masih bisa bertahan bila topiknya saya anggap masih bisa digolongkan sebagai edukasi atau pelurusan mitos. Tentu saja dengan pemilihan kata-kata yang lebih sopan.

Sayangnya saya melihat bahwa sebagian besar wanita di kantor saya masih sangat permisif pada hal-hal seperti ini. Mereka masih menganggap kalau joke-joke seputar seks meskipun itu melibatkan mereka sebagai objek adalah murni guyonan dan tidak perlu dianggap serius. Padahal tanpa mereka sadari, pada beberapa orang pelaku hal tersebut seakan membuka pintu baru untuk melakukan hal-hal yang lebih dalam dan kemudian lebih jelas menjurus ke arah pelecehan seksual.

Masalah terbesarnya mungkin ada di edukasi tentang pelecehan seksual itu sendiri. Sebagian besar teman-teman saya nampaknya belum paham benar tentang apa-apa saja yang bisa digolongkan sebagai pelecehan seksual, sehingga kemudian bersikap permisif. Berbeda dengan perempuan-perempuan di negara maju yang sudah paham betul tentang bentuk-bentuk pelecehan seksual.

Saya menilai kalau edukasi tentang bentuk-bentuk pelecehan seksual (utamanya di lingkungan kerja) masih menempati urutan kesekian dalam kehidupan kaum wanita di Indonesia. Masih banyak hal lain yang lebih menuntut prioritas untuk dipikirkan. Sementara hal-hal tersebut terus saja terjadi di sekitar mereka dan bahkan menjadikan mereka sebagai obyek.

Saya bukannya mau munafik. Saya juga belum terlalu alim hingga kemudian selalu menundukkan pandangan bila bertemu wanita. Hanya saja, saya memang selalu mencoba untuk lebih menghormati wanita. Yah, walaupun sampai sekarang saya akui kalau saya masih sering menyakiti hati seorang wanita (baca: istri saya) tapi jauh dalam lubuk hati saya, saya terus berusaha untuk sedapat mungkin menempatkan wanita di tempat tertinggi. Dan ini juga yang sering membuat saya agak tidak nyaman berada dalam lingkungan yang sangat permisif pada praktek-praktek pelecehan seksual. Tapi yah, inilah Indonesia..

Dan satu lagi, sayangnya saya tidak atau belum bisa berbuat banyak untuk mencegah hal-hal seperti ini terjadi di lingkungan saya. Sebuah edukasi ringan yang coba saya lakukan kemudian dianggap sebagai reaksi berlebihan. Saya jadi bingung, harusnya ada sebuah langkah konkrit untuk masalah-masalah seperti ini. Atau, masalah ini hanyalah masalah kecil yang tidak perlu terlalu dianggap terlalu serius seperti seriusnya kita menanggapi masalah-masalah lain yang lebih berat..?, ah rasanya koq saya tak rela bila masalah seperti dianggap tidak serius…

Entahlah…ah, betul-betul sebuah tulisan yang tak memberi solusi…maafkan saya..

About The Author

3 Comments

  1. khie
    28/02/2008
  2. Ipul
    29/02/2008
  3. yani
    01/03/2008

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: