Orang Bugis Bukan Pelaut

Perahu pinisi yang masih sementara dikerjakan di Bulukumba

Pelaut atau bukan, toh orang Bugis sudah dilekatkan pada laut, kapal dan aksi melintas samudra. Bahkan sudah jadi ikon di banyak tempat di kota Makassar.

MASIH INGAT KEHEBOHAN DI NEGERI SEBERANG beberapa bulan lalu? Mungkin ada yang ingat, tapi mungkin juga tidak. Maklum, kehebohan itu jauh di negeri seberang dan di Indonesia masih banyak stok kehebohan lain yang menuntut perhatian lebih.

Tapi bagi orang Sulawesi Selatan, kehebohan di negeri seberang itu menarik perhatian karena membawa-bawa nama suku Bugis, salah satu suku terbesar di jazirah Sulawesi.

Pasalnya, mantan perdana menteri Malaysia Mahathir Muhammad menuduh perdana menteri Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak sebagai keturunan Bugis perompak. Yah sontak saja tuduhan tersebut direspon banyak pihak, baik mereka yang berdarah Bugis maupun yang bukan. Bahkan wakil presiden Indonesia Jusuf Kalla yang berdarah Bugis asli juga sampai angkat bicara dan memprotes pernyataan Mahathir Muhammad itu.

Kalau menyebut orang Bugis, satu hal yang terlintas di kepala banyak orang adalah para pelaut ulung. Kapal pinisi (kadang juga ditulis phinisi) dianggap sebagai salah satu kapal tradisional terbaik yang bisa menjelajah lautan bahkan sampai ke Afrika dan Australia. Kapal itu kebanyakan dibuat oleh perajin kapal di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Nakhoda dan awaknya pun kebanyakan orang Bugis.

Tapi, benarkah orang Bugis memang pelaut (dan sebagian menjadi perompak atau penyamun)?

Christian Pelras, seorang etnolog berdarah Perancis yang mangkat 19 Juli 2014 lalu pernah menerbitkan sebuah buku yang mengupas tentang suku Bugis. Judulnya The Bugis, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Manusia Bugis. Di buku ini ada satu pernyataan Pelras yang cukup mengangetkan.

Intinya dia bilang kalau orang Bugis (dan Makassar) sebenarnya bukan pelaut. Orang Bugis-Makassar aslinya adalah petani dan pedagang. Tanah mereka subur dan jadi muasal dari banyak hasil bumi yang berlimpah. Di darah mereka mengalir darah pedagang dan naluri mereka adalah naluri pedagang.

Dua hal ini berkelindan dan menjadi salah satu pendorong utama orang Bugis-Makassar menyeberang lautan dan samudra, mencari tempat-tempat baru untuk memasarkan hasil bumi mereka. Menjadi pedagang yang sesungguhnya.

Mereka bukan orang-orang yang dengan sengaja menyeberang lautan, mencari daratan baru untuk ditaklukkan seperti orang-orang berkulit putih dari daratan Eropa. Perjalanan melintas lautan orang Bugis-Makassar lebih banyak karena dagang, dan karenanya hubungan yang terjalin dengan penghuni daratan-daratan baru itupun menjadi hubungan yang akrab, penuh persaudaraan dan bukan hubungan majikan-bawahan, apalagi hubungan penjajah-terjajah.

Cerita-cerita tentang hubungan manis itu paling mudah ditemukan di buku Voyage to Marege (ditulis oleh C.C. Macknight). Buku ini menceritakan manisnya hubungan pedagang sekaligus pelaut Bugis-Makassar dengan bangsa Aborigin di Australia. Mereka sangat akrab, menjadi rekanan bisnis sekaligus sahabat dekat.  Itu jauh sebelum Thomas Cook mendarat di Australia dan mengubah sejarah benua itu.

Perahu Makassar di Selat Raffles (buku: A Voyage to Marege)

Perahu Makassar di Australia (buku A Voyage to Marege)

Di buku lain yang berjudul Diaspora Bugis di Alam Melayu Nusantara (disusun oleh Andi Faisal Bakti) juga termaktub banyak cerita bagaimana orang Bugis – Makassar berasimilasi dengan berbagai suku di Nusantara. Sebagian besarnya dengan cara damai, tanpa kekerasan dan tanpa harus menumpahkan darah.

Pelaut Atau Bukan, Orang Bugis Senang di Laut.


Perdebatan soal apakah orang Bugis itu bisa disebut pelaut atau bukan tentu akan jadi perdebatan panjang. Tidak peduli orang sekelas Christian Pelras sudah menerbitkan buku yang adalah hasil penelitian panjang, orang akan tetap berdebat tentang itu.

Jadi sia-sia saja meneruskan debat itu. Kecuali kalau memang Anda senang berdebat.

Bagi saya, orang Bugis-Makassar pelaut atau bukan tidak terlalu penting. Pelaut atau bukan, lautan sudah menjadi bagian dari sejarah panjang orang Bugis-Makassar. Lautan dan kapal-kapalnya sudah menghiasi banyak cerita sejarah dua suku ini, melintasi abad demi abad dalam sejarah panjang Indonesia.

Itu juga yang menjadi alasan laut dan kapal menjadi ikon kota Makassar. Di lambang kota Makassar, perahu pinisi yang kondang dipakai pedagang Bugis-Makassar jaman dulu disematkan. Sebagai romantisme akan keberanian para pedagang Bugis-Makassar jaman dulu melintasi samudra hingga ke benua jauh.

Di satu bagian kota Makassar, ketangguhan pedagang sekaligus pelaut Bugis-Makassar itu jadi inspirasi untuk menghadirkan satu arena bermain air. Bugis Waterpark namanya.

bugis waterpark

Suasana bagian dalam Bugis Waterpark

Arena bermain yang dibangun di lahan seluas 5 Ha ini mengadopsi banyak cerita sejarah orang Bugis yang melintasi lautan. Dari nama arena sampai jenis-jenis permainannya. Salah satu yang dihadirkan adalah permainan air berbentuk perahu pinisi, perahu kebanggaan orang Bugis-Makassar.

Sejak hadir tahun 2012 lalu, Bugis Waterpark sudah langsung menyedot banyak perhatian warga Makassar dan kota-kota lain di Sulawesi Selatan. Setiap hari libur, wahana yang berada di dalam sebuah perumahan ini pasti sesak oleh pengunjung. Mahalnya tiket masuk tidak jadi halangan bagi banyak orang untuk berwisata, menikmati beragam permainan air yang bagi sebagian orang mendekatkan pada romantisme para pedagang pelaut Bugis-Makassar jaman dulu.

Sekali waktu bahkan Bugis Waterpark pernah sampai kebanjiran pengunjung, 2000 orang lebih dalam sehari! Bisa dibayangkan kan padatnya?

Kepadatan itu bisa dimulai dari antrian panjang di depan loket pembelian tiket. Anggaplah 100 orang datang bersamaan dan mengantri di depan tiket. Betapa padat dan betapa banyak waktu yang terbuang untuk antri.

Ini juga kadang yang menjadi bikin saya agak malas, membayangkan antrian panjang dan yah saya tidak bohong; harga yang lumayan mencekik. Untuk satu orang di hari libur satu tiket dihargai Rp.200.000,- per orang. Jadi kalau misalnya satu keluarga ada empat orang (ibu, bapak dan dua anak) maka angka minimal yang harus dikeluarkan adalah Rp.800.000,- belum termasuk pengeluaran lain lagi di dalam area wahana.

Sungguh angka yang lumayan, bukan?

Untung Bisa Beli Lewat Traveloka.


“Deh lumayan nah, saya beli lewat Traveloka. Dapatnya Rp.160.000,-“ kata seorang kawan yang saya temui di suatu hari libur selepas lebaran.

Kawan ini menggiring keluarga besarnya menikmati Bugis Waterpark di kala suasana libur lebaran masih terasa. Waktu itu harga yang dipatok pengelola Bugis Waterpark adalah Rp. 200.000,- per orang karena masih terhitung hari libur. Dengan potongan harga 20% atau Rp.40.000,- per orang maka mereka bisa berhemat banyak. Misalnya mereka masuk berenam, berarti mereka sudah menghemat Rp.240.000,-. Wow! Lumayan kan?

“Oh, bisa beli lewat Traveloka?” Waktu itu saya baru tahu kalau Traveloka juga menyediakan fitur pembelian tiket tempat wisata. Fitur itu memang baru diluncurkan Juni 2017, menyusul fitur-fitur lain dari Traveloka.

Halaman pembelian tiket rekreasi di Traveloka

Karena penasaran, saya coba mencari tahu tentang fitur pembelian tiket tempat rekreasi di Traveloka ini. Apa sih kelebihannya?

Dari hasil bertanya-tanya dan mencari sendiri jawabannya, satu hal terpenting yang jadi pembeda adalah kenyamanan. Nyaman karena membeli tiket tempat rekreasi di Traveloka berarti kita tidak harus mengantri di depan loket. Pun, kita bisa bebas memilih hari mana yang akan kita gunakan, tanpa harus ke tempat rekreasi itu untuk memesan tiket. Di atas ranjang dengan baju tidur pun bisa, asal ada koneksi internet tentu saja.

Nyaman kedua karena, kita bisa mendapatkan harga yang lebih murah. Contoh di Bugis Waterpark yang saya ceritakan di atas. Kalau beli langsung, kita akan dikenakan biaya Rp.200.000,- per tiket, tapi beli di Traveloka hanya Rp.160.000,-. Sungguh angka yang bikin kantong nyaman, apalagi kalau kita beli dalam jumlah banyak.

Kenyamanan lainnya apa coba? Segera setelah transaksi diselesaikan dengan melakukan pembayaran sesuai tagihan, e-ticket akan dikirimkan ke email. Tiket itu tidak perlu dicetak dan dibawa kelak ke tempat rekreasi, cukup ditunjukkan saja ke petugas jaga. Hemat kertas dan sekali lagi, nyaman.

Iyye kak, nda perlu ji diprint. Kasih liat saja nanti petugas loket itu tiket ta’ yang dikirim di email,” kata Irfan, seorang karyawan Bugis Waterpark ketika saya konfirmasi soal e-ticket ini.

Saya sengaja mengonfirmasinya karena takutnya tiket yang dibeli lewat Traveloka harus dicetak dulu, terus dibawa ke loket untuk ditukar tiket fisik. Kalau harus seperti itu yaa berarti sama juga bohong kan? Kembali lagi harus antri di loket. Tapi syukurlah karena ternyata tidak begitu.

Serius! Saya baru memperhatikan fitur ini di Traveloka. Selama ini kalau mendengar Traveloka saya hanya kepikiran tiket pesawat, voucher hotel dan tiket kereta. Makin lama, Traveloka ini memang makin membesar, lengkap dengan beragam fitur-fitur barunya. Luar biasalah pokoknya.

Keuntungan membeli tiket rekreasi di Traveloka

Nah, kembali ke tema awal soal perdebatan apakah orang Bugis itu pelaut atau bukan.

Sebagai penutup saya sekali lagi bilang kalau tidak perlulah hal itu diperdebatkan lagi. Mau pelaut atau bukan, toh orang Bugis-Makassar sudah menuliskan kisah mereka dalam sejarah panjang Nusantara. Sudah melanglang buana sampai ke benua jauh, menjalin persahabatan dengan orang-orang lain di benua jauh. Mereka adalah pedagang tangguh yang sekaligus juga pelaut terampil. Dua keahlian dalam satu darah.

Hal yang lebih penting untuk didebatkan sekarang adalah: mau liburan di mana?

Tapi jawabannya buat saya adalah: terserah mau liburan di mana, tapi jangan lupa kalau mau masuk ke tempat rekreasi, beli tiketnya di Traveloka saja. Ada ratusan tempat rekreasi di Indonesia yang bekerjasama dengan Traveloka saat ini, menawarkan kenyamanan buat kita-kita yang haus liburan.

All aboard! Let’s sail! [dG]

 

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

7 Comments

  1. Eryvia Maronie
    03/12/2017
  2. Eryvia Maronie
    03/12/2017
    • Daeng Ipul
      03/12/2017
  3. Mugniar
    03/12/2017
  4. Nasirullah Sitam
    04/12/2017
    • Daeng Ipul
      10/12/2017

Add Comment